Oleh:
Hendri Cahyo Dwi Safitri, SST, MSE
Development as addressing the “various types of unfreedoms that leave people with little choice and little opportunity of exercising their reasoned agency.”Amartya Sen.
Pertumbuhan ekonomi seringkali menjadi salah satu angka yang paling ditunggu. Ketika angka pertumbuhan meningkat, muncul optimisme bahwa perekonomian sedang bergerak ke arah yang lebih baik.Namun, ada satu pertanyaan yang tidak kalah penting: apakah pertumbuhan ekonomi tersebut benar-benar dirasakan oleh masyarakat?
Pertanyaan ini menjadi relevan ketika melihat perkembangan ekonomi Provinsi Gorontalo pada Triwulan II 2026. Perekonomian Provinsi Gorontalo tumbuh 6,20 persen secara year-on-year (y-on-y) dibandingkan Triwulan II 2025. Sementara itu, secara kumulatif (c-to-c), perekonomian Gorontalo pada semester I 2026 tumbuh 6,94 persen.
Capaian pertumbuhan ekonomi secara c-to-c tersebut menempatkan Provinsi Gorontalo pada urutan ke-4 tertinggi dari 38 provinsi di Indonesia, setelah Maluku Utara yang tumbuh 17,43 persen, Nusa Tenggara Barat 10,42 persen, dan Kepulauan Riau 7,02 persen.
Jika angka provinsi dilihat lebih dalam, terdapat cerita yang menarik pada tingkat kabupaten/kota di Provinsi Gorontalo. Pada Triwulan II 2026,seluruh kabupaten/kota di Provinsi Gorontalo mencatat pertumbuhan positif, tetapi dengan besaran yang berbeda. Pohuwato menjadi yang tertinggi dengan pertumbuhan 12,61 persen secara y-on-y dan 11,57 persen secara c-to-c, sementara daerah lainnya tumbuh pada kisaran 4–6 persen.
Kabupaten Gorontalo Utara tumbuh 5,47 persen (y-on-y)dan 6,46 persen (c-to-c). Kota Gorontalo tumbuh 5,83 persen (y-on-y)dan 6,48 persen (c-to-c). Kabupaten Bone Bolango mencatat pertumbuhan 5,23 persen (y-on-y)dan 5,92 persen (c-to-c). Sementara itu, Kabupaten Boalemo tumbuh 4,79 persen (y-on-y)dan 5,36 persen (c-to-c), sedangkan Kabupaten Gorontalo tumbuh 4,15 persen (y-on-y)dan 5,92 persen (c-to-c).
Gambaran tersebut memperlihatkan bahwa pertumbuhan ekonomi di Provinsi Gorontalo memiliki karakter yang berbeda antarwilayah. Perbedaan tersebut tidak terlepas dari struktur ekonomi masing-masing daerah, perkembangan sektor unggulan, serta faktor musiman seperti periode panen pada sektor pertanian.
Kabupaten Pohuwato menjadi contoh yang paling menonjol. Pertumbuhan ekonomi dua digit di daerah tersebut menunjukkan peningkatan aktivitas ekonomi yang signifikan. Perkembangan sektor pertambangan menjadi salah satu bagian penting dalam cerita pertumbuhan tersebut.
Dengan pertumbuhan 12,61 persen(y-on-y), Kabupaten Pohuwato bahkan menduduki peringkat ke-6 tertinggi di antara seluruh kabupaten/kota di Indonesia. Di atasnya terdapat Kabupaten Sumbawa Barat dengan pertumbuhan 28,34 persen, Halmahera Tengah 23,53 persen, Halmahera Selatan 16,36 persen, Konawe 14,94 persen, dan Halmahera Barat 12,73 persen.
Angka-angka tersebut tentu merupakan kabar baik. Pertumbuhan ekonomi menunjukkan adanya peningkatan aktivitas produksi dan nilai tambah yang dihasilkan perekonomian. Namun, pertumbuhan ekonomi pada dasarnya merupakan indikator penting untuk melihat perkembangan aktivitas ekonomi, bukan satu-satunya ukuran keberhasilan pembangunan.
Di sinilah pertanyaan mengenai kualitas pertumbuhan menjadi penting. Pertumbuhan yang tinggi perlu diterjemahkan menjadi peningkatan kesempatan, pendapatan, dan kualitas hidup masyarakat. Dengan kata lain, tantangan pembangunan bukan sekadar mempertahankan pertumbuhan di atas rata-rata nasional, tetapi memastikan agar pertumbuhan tersebut menghasilkan multiplier effect yang lebih luas dan tidak berhenti pada peningkatan angka PDRB semata.
Pertumbuhan ekonomi inklusifadalah pertumbuhan ekonomi yang menciptakan kesempatan untuk semua golongan masyarakat untuk ikut menikmati peningkatan kesejahteraan (OECD, 2013).Pertumbuhan yang inklusif setidaknya perlu dilihat dari empat sisi. Pro-growth: apakah ekonomi terus memperbesar kapasitas produksi? Pro-poor: apakah kelompok masyarakat terbawah ikut menikmati hasilnya? Pro-job: apakah pertumbuhan menciptakan pekerjaan yang layak dan luas? Dan pro-environment: apakah pertumbuhan hari ini tidak mengorbankan sumber daya dan kualitas lingkungan bagi generasi mendatang?Konsep ini sejalan dengan four-track strategy yang mencakup pro-growth, pro-poor, pro-job, dan pro-environment (Ali & Zhuang, 2007).
Pada akhirnya, pembangunan bukan semata-mata tentang seberapa besar ekonomi tumbuh, tetapi tentang seberapa besar pertumbuhan tersebut memperluas pilihan dan kesempatan hidup masyarakat.Sebagaimana pemikiran Amartya Sen, pembangunan tidak hanya berkaitan dengan peningkatan pendapatan atau kekayaan, tetapi juga dengan memperluas kebebasan manusia untuk menentukan kehidupan yang lebih berharga.
Dengan perspektif tersebut, pertumbuhan ekonomi menjadi penting bukan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai sarana untuk menciptakan masyarakat yang memiliki lebih banyak kesempatan, lebih banyak pilihan, dan lebih besar kemampuan untuk menentukan masa depan.
Oleh karena itu, tantangan Provinsi Gorontalo bukan hanya menjaga pertumbuhan tetap tinggi, tetapi memastikan agar manfaat pertumbuhan tersebut semakin luas dan dirasakan oleh masyarakat.Semoga kita bisa menjadi bagian dari pihak yang turut serta melakukan langkah strategis untuk Gorontalo yang lebih baik. (*)
Penulis adalah Statistisi pada
Badan Pusat Statistik Provinsi Gorontalo












Discussion about this post