Gorontalopost.co.id, GORONTALO –- Dalam dua hari berturut-turut tiga nyawa melayang akibat tenggelam saat mandi di sungai dan di laut. Korban pertama menimpa seorang wisatawan lokal Rizka Halid (25), alias Chika dinyatakan meninggal dunia setelah tenggelam saat mandi di pantai Pulau Bogisa, Kecamatan Ponelo Kepulauan Kabupaten Gorontalo Utara, Minggu (2/8).
Korban yang tercatat sebagai mahasiswi Pascasarjana Fakultas MIPA, Universitas Negeri Gorontalo (UNG) itu dievakuasi ke daratan oleh tim gabungan setelah dilakukan upaya penyelamatan. Informasi mengenai peristiwa tersebut pertama kali beredar melalui video yang diunggah akun Facebook Agus Kamba pada pukul 10.35 Wita.
Dalam video tersebut disebutkan insiden terjadi sekitar pukul 08.20 Wita. Berdasarkan keterangan saksi Agus Kamba dalam video, ia bersama seorang wisatawan asal Jerman baru sekitar 10 menit tiba di Pulau Bogisa. Saat itu saksi sedang menerbangkan drone, sementara wisatawan asing tersebut bersantai di tepi pantai.
Tidak lama kemudian terdengar teriakan meminta tolong dari arah tenda. Di lokasi kejadian terdapat lima orang yang sedang mandi di sekitar pulau dan mengalami kesulitan berenang di perairan.
Saksi bersama warga dan tim yang berada di lokasi segera melakukan upaya penyelamatan. Empat orang berhasil dievakuasi dalam keadaan selamat, sedangkan seorang korban ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa. Wisatawan asal Jerman yang berada di lokasi sempat memberikan pertolongan pertama kepada korban sesaat setelah dievakuasi.
Namun, upaya tersebut tidak berhasil menyelamatkan nyawa korban. Dalam video yang beredar juga terdengar laporan bahwa personel Pangkalan TNI Angkatan Laut (Lanal) Gorontalo bergerak cepat setelah menerima informasi adanya korban tenggelam. “Begitu ditelepon langsung datang. Fast response,” ujar agus Kamba perekam video.
Proses evakuasi dilakukan menggunakan kapal nelayan dan satu unit speedboat melalui kerja sama personel Lanal Gorontalo, pemilik kapal nelayan, serta masyarakat yang berada di lokasi. Setelah berhasil dibawa ke daratan, korban dinyatakan telah meninggal dunia.
Kepada wartawan Komandan Pos SAR (Danpos SAR) Kwandang, S. Alan Hasania,mengungkapkan, laporan kejadian diterima sekitar pukul 09.10 Wita. Saat dalam perjalanan ke lokasi kejadian, tim SAR berpapasan dengan perahu nelayan yang telah lebih dahulu mengevakuasi korban dari perairan Pulau Bogisa.
Korban yang telah dinyatakan tidak bernyawa langsung dibawa menuju RSUD Zainal Umar Sidiki Gorontalo Utara untuk menjalani proses identifikasi. Selanjutnya Jenazah Cika diberangkatkan ke rumah duka menggunakan ambulans untuk disemayamkan dan dimakamkan oleh pihak keluarga.
“Ya, nama korban yakni Rizka Halid alias Cika yang merupakan bagian dari rombongan wisatawan berjumlah sembilan orang,”kata Alan. Rombongan tersebut yang hendak berwisata dan bermalam di pulau tersebut sudah ada sejak Sabtu 01/08/2026. Keesokan paginya yakni Ahad (2/8/2026), pukul 07.00 Wita tiga orang dari rombongan berenang di sekitar pulau.
Sayangnya, ketiganya tidak mahir berenang dengan baik dan benar. Berselang beberapa menit berenang, Chika terhempas dengan arus laut mengarah ke luar Pulau Bogisa. Hal ini membuat Chika terseret ke perairan yang lebih dalam.
Sementara dua rekannya berhasil menyelamatkan diri setelah terbawa ke area patahan pasir yang dangkal. Delapan korban berhasil selamat sementara Chika dinyatakan meninggal dunia.
Dua Bocah Tewas Tenggelam di Sungai Bone

Sebelumnya dua bocah dilaporkan tewas tenggelam setelah terseret arus Sungai Bone di Desa Bulontala, Kecamatan Suwawa Selatan, Kabupaten Bone Bolango, Sabtu (1/8/2026). Kedua korban diketahui bernama Muhammad Ashar Pioke (14) dan Hajrin Hujuli (13).
Peristiwa nahas tersebut terjadi saat enam bocah sedang mandi dan bermain di Sungai Bone. Empat anak berhasil mencapai tepian sungai, sedangkan dua lainnya berada di bagian tengah sungai yang memiliki arus deras dan kedalaman yang berubah secara tiba-tiba.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, salah satu bocah sempat berusaha menolong temannya yang lebih dulu terseret arus. Namun upaya tersebut justru membuat keduanya ikut terbawa arus hingga tenggelam dan hilang dari pandangan.
Muhammad Ashar Pioke lebih dahulu ditemukan warga dalam kondisi meninggal dunia dan langsung dievakuasi ke rumah duka. Sementara Hajrin Hujuli dinyatakan hilang sehingga Kantor Pencarian dan Pertolongan (SAR) Gorontalo mengerahkan tim untuk melakukan pencarian.
Komandan Tim Pencarian SAR Gorontalo, Dio Danu Wardana, mengatakan, laporan kejadian diterima sekitar pukul 14.45 Wita. Tim SAR kemudian tiba di lokasi sekitar pukul 15.15 Wita dan langsung melakukan operasi pencarian menggunakan teknik penyelaman dengan dukungan peralatan selam serta personel gabungan.
Setelah dilakukan pencarian, Hajrin Hujuli akhirnya ditemukan dalam kondisi meninggal dunia di aliran Sungai Bone. Jenazah korban kemudian dievakuasi oleh Tim SAR Gorontalo dan diserahkan kepada pihak keluarga di rumah duka.
Dio menjelaskan, lokasi kejadian memiliki karakteristik sungai dengan kedalaman yang bervariasi, mulai dari bagian dangkal hingga titik-titik yang tiba-tiba menjadi sangat dalam. Kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan dalam proses pencarian sekaligus berpotensi membahayakan warga yang beraktivitas di sungai.
Dengan ditemukannya korban terakhir, operasi pencarian resmi ditutup. Tim SAR mengimbau masyarakat, khususnya para orang tua, agar meningkatkan pengawasan terhadap anak-anak saat bermain atau mandi di sungai, terutama di lokasi yang memiliki arus deras dan kedalaman yang tidak merata.
“Khusus untuk seluruh masyarakat baik yang dewasa atau anak-anak agar saat ini menghindari dulu mandi di pantai atau sungai, karena cuaca sangat ekstrim, cukup berbahaya bagi keselamatan,”tutupnya. (roy)














Discussion about this post