Gorontalopost.co.id, GORONTALO — Dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus mendukung kesehatan ibu hamil, Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Gorontalo kembali menggelar kegiatan pengabdian kepada masyarakat.
Dengan tema Pemberdayaan Pensiunan Swasta untuk Pencegahan Hemoroid Ibu Hamil Melalui Budidaya Mahkota Dewa dengan Teknik Hidroponik Panel Surya, kegiatan diikuti sebanyak 30 orang pensiunan swasta yang berusia antara 60–69 tahun. Berlangsung pada Jumat (10/7) di Desa Dutohe Barat Kecamatan Kabila, Kabupaten Bone Bolango.
Program yang digagas Tim Dosen Poltekkes Kemenkes Gorontalo dalam kegiatan Tridharma Perguruan Tinggi Pengabdian Kepada Masyarakat tersebut dijalankan melalui skema Program Pengembangan Desa Mitra (PPDM) dan merupakan salah satu inovasi pemberdayaan masyarakat yang mengintegrasikan aspek sosial, ekonomi, kesehatan dan teknologi tepat guna.
Dipilihnya Desa Dutohe Barat sebagai tempat pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat, Ketua Tim Pengabdian Siti Choirul Dwi Astuti, M.Tr.Keb memiliki alasan tersendiri. Menurutnya, Desa Dutohe Barat menghadapai dua persoalan utama yang pertama, meningkatnya jumlah pensiunan pegawai swasta yang membutuhkan aktivitas produktif setelah memasuki masa pensiun. Kedua, masih ditemukannya masalah kesehatan ibu hamil yang mengalami hemoroid.
“Kondisi tersebut mendorong lahirnya program yang tidak hanya meningkatkan produktivitas masyarakat, tetapi juga memperkuat upaya promotif dan preventif dalam kesehatan ibu,”jelas Siti Choirul Dwi Astuti. Diapun menegaskan, melalui program ini, kelompok pensiunan swasta diberikan pelatihan membudidayakan tanaman Mahkota Dewa menggunakan sistem hidroponik berbasis panel surya.
Teknologi ini dipilih karena mampu mengatasi keterbatasan lahan sekaligus mengurangi biaya listrik untuk pengoperasian pompa air. Mahkota Dewa selanjutnya diproyeksikan menjadi bahan baku pembuatan supositoria herbal yang dimanfaatkan sebagai salah satu upaya pendukung pencegahan komplikasi hemoroid pada ibu hamil.
Capaian peningkatan kapasitas terlihat pada kader kesehatan. Sebelum pelatihan, sebanyak 75 persen kader memiliki tingkat pengetahuan yang masih rendah mengenai pencegahan komplikasi hemoroid pada ibu hamil. Setelah mengikuti pelatihan dan demonstrasi, seluruh kader atau 100 persen mencapai kategori pengetahuan baik.
Dari sisi keterampilan, sebagian besar kader telah mampu memberikan edukasi kepada ibu hamil mengenai pencegahan hemoroid melalui pemanfaatan Mahkota Dewa. Perubahan positif juga terjadi pada kelompok ibu hamil. Sebelum penyuluhan, 80 persen ibu hamil masih memiliki pengetahuan yang rendah mengenai penyebab dan bahaya komplikasi hemoroid.
Setelah mendapatkan edukasi, sebanyak 83,3 persen telah memiliki tingkat pengetahuan yang baik. Pendampingan penggunaan supositoria Mahkota Dewa juga menunjukkan tingkat kepatuhan yang tinggi, yaitu mencapai 90 persen, sementara 80 persen ibu hamil melaporkan berkurangnya keluhan hemoroid selama masa pendampingan.
Siti Choirul Dwi Astuti berharap, kedepannya, program ini akan terus dikembangkan melalui pendampingan berkelanjutan, penguatan kapasitas kader kesehatan, pembentukan kelompok budidaya tanaman obat keluarga, pengembangan media edukasi, serta publikasi ilmiah dan hilirisasi hasil kegiatan. Diharapkan Desa Dutohe Barat dapat menjadi desa percontohan dalam pemberdayaan masyarakat berbasis teknologi tepat guna untuk mendukung kesehatan ibu hamil dan menurunkan angka komplikasi hemoroid selama kehamilan. (ADV)













Discussion about this post