logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Disway

Dua Menit

Lukman Husain by Lukman Husain
Wednesday, 22 July 2026
in Disway
0
Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Oleh:
Dahlan Iskan

 

MENONTON sepak bola itu harus memihak. Itu baru asyik. Ada sedikit tegangnya. Tidak memihak tidak asyik sama sekali. Contohnya saya.

Mungkin itu karena saya mantan wartawan. Sudah terbiasa tidak memihak –kecuali yang bertanding klub yang satu itu. Tapi redaktur olahraga di koran saya dulu, tidak hanya memihak; ia fanatik tim Jerman. Namanya Johny Kwee –meninggal tiga tahun lalu.

Related Post

Burger Tempe

Paket Roaming

Isi Dompet

Cuci Uang

Ketika tim Jerman sudah ketinggalan gol pun ia begitu yakin pasti bisa membalas.

Johny keras sekali dalam memperlakukan wartawan olahraganya. Begitu naskah wartawan itu diserahkan kepadanya, si wartawan tidak boleh pergi. Harus menunggu sampai naskahnya ia baca.

Begitu ia temukan si wartawan salah eja dalam menulis nama pemain sepak bola tidak ada ampun: si wartawan diminta menulis nama pemain bola itu secara benar sampai seratus kali. Pakai tulisan tangan. Nama-nama pemain bola luar negeri kadang memang sulit dieja.

Di Piala Dunia 2026 ini saya tidak pernah sampai membatalkan perjalanan karena harus nonton siaran langsung. Pertandingannya memang sering antara pukul 12.00 atau pukul 16.00 waktu timur  Amerika-Kanada. Pada jam seperti itu biasanya saya sedang berkendara di perjalanan. Dari satu kota ke kota lain. Hanya ketika saya sudah tiba di Vladivostok, pertandingannya pagi waktu Rusia timur.

Meski Rusia diboikot dari Piala Dunia tapi saya yakin akan ada siaran sepak bola di TV Vladivistok. Memang sudah dua kali Piala Dunia Rusia dilarang ikut serta –sejak melakukan pengambilalihan wilayah Crimea dari Ukraina. Waktu itu Rusia sedang ikut babak penyisihan menuju Piala Dunia di Qatar.

Dari begitu banyak channel di TV di hotel itu saya temukan ada satu channel khusus  olahraga. Channel itu selalu menyiarkan potongan-potongan pertandingan Piala Dunia. Selalu juga memutar ulang pertandingan sehari sebelumnya; dengan komentator Rusia dalam bahasa setempat.

Berarti, besok pagi, di semifinal Maroko lawan Prancis akan disiarkan di channel ini, kata saya dalam hati. Maka channel itu pun saya biarkan hidup terus sepanjang harmal.

Paginya, menjelang jadwal semifinal saya sudah di depan TV. Isinya masih komentar-komentar mengenai Maroko v Prancis. Saya tidak tahu yang dibincangkan tiga komentator itu. Tidak mengerti itu baik agar saya tidak terpengaruh komentator.

Pukul 08.00 tiba. Kok belum pindah ke stadion di Amerika. Lewat tiga menit pun  masih tetap adu komentar. Jangan-jangan saya salah lihat jadwal. Saya pun buka internet: tidak salah. Pertandingan sudah dimulai. Sudah lima menit. Posisi masih kacamata.

Akhirnya saya pelototi layar TV itu. Kok tiga komentatornya seperti sedang membicarakan jalannya pertandingan. Dari raut wajah mereka saya ambil kesimpulan: tiga komentator itu menghadap layar TV yang sedang menayangkan semifinal Piala Dunia secara live. Lalu mengomentarinya untuk pemirsa.

Rupanya Rusia tidak hanya dilarang bermain di Piala Dunia bahkan dilarang siaran langsung. Atau, Putin kalah dengan Prabowo: berani bayar mahal untuk mendapat hak siar secara langsung agar rakyat Indonesia bisa menonton secara  gratis.

Gubernur Papua kelihatannya mendukung habis program Piala Dunia Prabowo. Sang gubernur Senin lalu meliburkan pegawai negeri di sana. Final Piala Dunia Spanyol-Argentina itu memang baru selesai pukul delapan pagi waktu Papua. Ups..ternyata berita ini hoax. Pemprov Papua sudah mengklarifikasi bahwa berita itu tidak benar.

Bagi saya sendiri pertandingan yang mengesankan adalah saat Jepang lawan Brasil. Lalu Inggris lawan Argentina –khusus di babak pertamanya.

Kali ini final Piala Dunia benar-benar ”kelas final”: paling menarik. Sering dalam event besar seperti Piala Dunia semifinalnya lebih menarik daripada final.

Tapi menonton tanpa memihak sangatlah tidak asyik. Maka saya lebih tertarik memperhatikan dua atraksi di Piala Dunia: atraksi tim Norwegia dan pertunjukan musik di final.

Setiap kali Norwegia menang, seluruh pemain duduk berjajar di tengah lapangan. Mereka membentuk formasi siap mendayung kapal. Sebuah tambur di depan mereka. Begitu tambur dipukul gerakan dayung serentak dilakukan.

Diikuti teriakan keras bersama. Gerakan itu diikuti oleh seluruh suporter Norwegia di tribun stadion. Kian lama pukulan tambur kian cepat. Negitu juga gerakan mendayung dan teriakan serentak itu: HUH !

Itulah atraksi Viking Clap. Atau disebut juga Viking War Chant. Di masa nan silam Norwegia memang dikenal sebagai bangsa Viking: dianggap selalu memenangkan pertempuran laut.

Belum ada atraksi kemenangan serupa Norwegia di mana pun di dunia.

Tentu saya juga sangat terkesan dengan pertunjukan di waktu jeda pertandingan final. Sepak bola telah tunduk pada tradisi kuat Amerika. Seolah ada tekanan: Piala Dunia sepak bola boleh dilaksanakan di Amerika tapi harus menyerap tradisi setempat.

Tentu aslinya tidak seperti itu. Yang jelas tradisi sepak bola dunia ”ikut” tradisi sepak bola Amerika.

Puncak kompetisi sepak bola Amerika disebut Super Bowl. Semacam grand final. Di setiap kali Super Bowl publik Amerika selalu menunggu: apa atraksi yang akan ditampilkan di halftime-nya. Penyanyi-penyanyi top Amerika selalu tampil di acara tahunan seperti itu. Rating pemirsanya tertinggi. Harga iklan halftime-nya termahal di Amerika.

Tahun ini Super Bowl berlangsung Februari lalu. Harga iklan per 30 detiknya: Rp 140 miliar.

Bagi Piala Dunia, ini kali pertama ada pertunjukan halftime. Artis yang ditampilkan Anda sudah tahu: Justin Bieber, Madonna (Amerika), Shakira (Kolombia), dan Burna Boy (Nigeria-Afrika), BTS-nya Korea Asia, dan Cold Play dari Inggris Eropa.

Dua hari setelah atraksi itu hasil survei pasar sudah keluar: BTS yang ditonton terbanyak. Lewat lagunya: Dynamite. Lalu Shakira lewat lagunyi: Dai Dai. Anda sudah tahu apa arti bahasa Italia Dai Dai. Itu seruan penyemangat: Ayo! Atau ”Yo Ayo”.

Hampir semua kata searti disertakan dalam teks Dai Dai. “Dai Dai (Italia), Ikou! (Jepang), Dale! (Spanyol), Allez! (Prancis), Let’s Go! (Inggris)”, lantun Shakira dalam nada yang mudah diikuti siapa saja.

Itu mengingatkan pada tampilan Shakira di Piala Dunia di Afrika Selatan 2010 dengan lagunyi Waka Waka. Yakni ketika Shakira masih menjadi pasangan bintang  sepak bola Spanyol Gerard Pique.

Sepak bola kini sudah bergaya Amerika. Awalnya itu dianggap akan merusak sepak bola. Waktu istirahat yang baku 15 menit bisa menjadi 30 menit.

Ternyata sangat menarik. Juga tidak merusak. Jeda antara babak pertama dan kedua itu hanya molor dua menit.

Saya hanya sedikit protes: mengapa Dai Dai dalam bahasa Mandarin tidak disertakan: Jia You!

Mungkin karena Tiongkok tidak lolos Piala Dunia: Italia kali ini kan juga tidak? (*)

Tags: Catatan Harian DahlanDahlan IskanDiswayHarian Dahlanharian diswayTulisan Dahlan

Related Posts

Burger Tempe

Burger Tempe

Tuesday, 21 July 2026
Paket Roaming

Paket Roaming

Sunday, 19 July 2026
Isi Dompet

Isi Dompet

Sunday, 19 July 2026
Cuci Uang

Cuci Uang

Sunday, 19 July 2026
Adu Cepat

Adu Cepat

Thursday, 16 July 2026
Febrie Loblobly

Febrie Loblobly

Wednesday, 15 July 2026
Next Post
Selama 28 Hari Puskesmas Ilangata Sukses Salurkan Menu Sehat Balita Cegah Stunting

Selama 28 Hari Puskesmas Ilangata Sukses Salurkan Menu Sehat Balita Cegah Stunting

Discussion about this post

E-paper Gorontalo Post 22 Juli 2026

Rekomendasi

Kasus Penganiayaan Guru Dua Tahun Mandek. Kasatreskrim Pastikan Pekan Ini Berkasnya ke Kejaksaan

Kasus Penganiayaan Guru Dua Tahun Mandek. Kasatreskrim Pastikan Pekan Ini Berkasnya ke Kejaksaan

Wednesday, 22 July 2026
Selama 28 Hari Puskesmas Ilangata Sukses Salurkan Menu Sehat Balita Cegah Stunting

Selama 28 Hari Puskesmas Ilangata Sukses Salurkan Menu Sehat Balita Cegah Stunting

Wednesday, 22 July 2026
AHM Technical Skill Contest 2026, PT DAW Utus Dua Wakil Terbaik

AHM Technical Skill Contest 2026, PT DAW Utus Dua Wakil Terbaik

Wednesday, 22 July 2026
Miras Masih Beredar di Desa

Miras Masih Beredar di Desa

Wednesday, 22 July 2026

Pos Populer

  • APH di Gorontalo Solid, Kapolda, Kapolres Silaturahim ke Markas TNI-Kejaksaan

    APH di Gorontalo Solid, Kapolda, Kapolres Silaturahim ke Markas TNI-Kejaksaan

    15 shares
    Share 6 Tweet 4
  • Kasus Penganiayaan Guru Dua Tahun Mandek. Kasatreskrim Pastikan Pekan Ini Berkasnya ke Kejaksaan

    13 shares
    Share 5 Tweet 3
  • Gorontalo Siaga Kemarau, Gubernur Terbitkan Edaran, Waspada Krisis Air Bersih

    35 shares
    Share 14 Tweet 9
  • Wagub Gorontalo Idah Syahidah Hadiri Bahagia QRIS Fest 2026 di Limboto

    17 shares
    Share 7 Tweet 4
  • Spanyol, Bola, dan Islam

    33 shares
    Share 13 Tweet 8
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 3 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.