Di balik megahnya gedung Rektorat Universitas Negeri Gorontalo, ada sepasang tangan yang tak pernah lelah mengayunkan sapu lidi sejak fajar menyingsing. Saleha Laiya, atau yang akrab disapa Tante Saleha, adalah potret nyata seorang ibu yang melipat gengsinya rapat-rapat demi memastikan dapur tetap mengepul dan harga diri keluarganya tetap terjaga.
Pukul 06.00 WITA, saat sebagian besar orang masih terlelap, Tante Saleha sudah berdiri tegak di pelataran kampus. Wanita kelahiran 1979 ini memulai harinya dengan debu dan guguran daun kering. Baginya, setiap sampah yang ia pungut adalah kepingan rezeki yang ia kumpulkan untuk suami dan anak-anaknya.
Tiga belas tahun bukanlah waktu yang singkat untuk setia pada satu profesi. Tante Saleha mengenang masa lalunya sebagai buruh cuci pakaian. Kala itu, upah yang ia terima sangat kecil, bahkan sering kali tidak cukup untuk sekadar menyambung lapar.
Namun, nasib membawanya ke koridor kampus ini, tempat di mana ia kini mengabdi sebagai tulang punggung utama. “Suami saya sekarang sering sakit-sakitan, tidak kuat lagi bekerja di sawah. Jadi sekarang saya yang harus berdiri paling depan,” ucapnya dengan nada tegar namun sarat beban.
Meski hanya mengantongi ijazah SDN 56 Libuo, Tante Saleha tidak pernah merasa kecil hati. Ia berhasil membuktikan bahwa keterbatasan pendidikan bukan penghalang untuk menjadi pahlawan bagi anak-anaknya. Melalui setiap bulir keringatnya, ia berhasil menyekolahkan kedua putranya hingga lulus SMA.
Ada binar kebahagiaan di matanya saat menceritakan putra sulungnya. Setelah sempat menganggur beberapa lama setelah lulus sekolah, kini sang anak telah bergabung bersamanya sebagai petugas kebersihan di kampus yang sama. “Baru dua bulan dia kerja di sini. Alhamdulillah, sekarang kami bisa berjuang bersama-sama,” tambahnya.
Tante Saleha tidak butuh kendaraan mewah untuk bekerja. Cukup dengan berjalan kaki selama tiga menit dari rumah sederhananya, ia sudah sampai di area tugasnya. Di sini, ia merasa dimanusiakan.
Di lingkungan para akademisi yang terdidik, ia merasa nyaman karena tidak pernah ada yang memandang rendah profesinya sebagai penyapu jalan. “Orang-orang di sini baik, mereka terdidik jadi tidak ada yang mencela saya. Itulah yang membuat saya betah sampai 13 tahun,” ungkapnya penuh syukur.
Setiap menjelang Idulfitri, selembar amplop THR dan bingkisan hari raya menjadi penghibur lara baginya dan ratusan rekan sejawat lainnya. Baginya, itu bukan sekadar bonus, melainkan pengakuan atas lelah yang ia curahkan sepanjang tahun.
Kisah Tante Saleha adalah pengingat bahwa pahlawan tidak selalu memakai jubah. Terkadang, mereka memakai seragam petugas kebersihan, menggenggam sapu lidi, dan berjalan dengan kepala tegak meski hanya lulusan SD. Di balik setiap sudut kampus yang bersih, ada cinta seorang ibu yang tak pernah gugur meski musim berganti. (MG-02)













Discussion about this post