logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Disway

Iri Masyaallah

Lukman Husain by Lukman Husain
Wednesday, 1 April 2026
in Disway
0
--

--

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Oleh:
Dahlan Iskan

 

SAAT saya di Yaman itu rupanya lagi musim kawin. Di semua negara Arab. Khususnya di Hadramaut, salah satu provinsi di Yaman.

Yang kawin adalah kurma.

Related Post

Patriot Sejati

Hujan Salat

Ahli Uang

Aset Berharga

Saya baru tahu itu ketika makan kambing bakar di Wadi Doan. Kambing bakar mathba –hanya ada di Wadi Doan. Itu sesuai dengan rekomendasi sahabat saya Kholid Bawazier, pengusaha besar dari Ampel Surabaya.

Anda sudah tahu: nenek moyang Kholid adalah orang dari Wadi Doan. Ia sering ke sana. Pemilik pabrik sarung Cap Mangga dan berbagai pabrik Indomie di Timur Tengah itu tahu di mana mathba terenak.

Di sebelah saya tiga orang Yaman juga lagi makan mathba. Mereka membawa tas kresek plastik. Isinya seperti akar kering. Itu bukan akar. Itu bunga kurma yang sudah dikeringkan.

“Ini bunga jantan,” katanya menjawab rasa penasaran saya. “Akan kami taburkan di atas kurma betina,” ujarnya. “Mumpung masih Februari, puncak rasa kurma betina harus kawin,” tambahnya.

Saya baru tahu: ada kurma jantan dan betina. Satu pohon kurma jantan mampu membuahi 50 pohon kurma betina. Maka petani kurma berusaha menanam satu kurma jantan di tengah 50 pohon kurma betina.

Itu belum cukup meyakinkan. Petani masih perlu mengumpulkan bunga kurma jantan untuk ditaburkan ke bunga betina. Agar buah kurmanya lebat.

Setelah kami lebih akrab saya diminta mengambil satu untai. Untuk apa? “Anda kunyah,” katanya.

Saya ragu. Ia tahu saya ragu. Ia pun  memberi contoh mengunyah satu tangkai. Saya ikuti caranya.

“Bagi orang Arab ini seperti viagra,” katanya. Saya men-jondil. Telanjur saya telan. Bagaimana kalau viagranya manjur.

Letak kota Wadi Doan ini unik. Tidak terlihat dari jalan raya poros utama Tarim–Mukalla. Di sepanjang perjalanan saya seperti tidak pernah melihat kota.

Ternyata kota-kotanya tersembunyi di bawah sana. Di dalam wadi. Wadinya sangat dalam. Jangankan rumah di situ, pepohonan di wadi pun tidak terlihat dari jalan raya.

Yang terlihat hanya permukaan pegunungan yang serba rata. Dari jalan raya itu ternyata banyak jalan kecil masuk ke wadi. Jalannya menurun. Berliku. Begitu sampai di kedalaman sekitar 100 meter baru terlihat banyak pohon. Banyak rumah.

Wadi itu memanjang panjang. Ratusan kilometer. Berlekuk-lekuk –mengikuti liukan sungai kering. Sungai itu baru ada airnya kalau terjadi hujan lebat. Setahun tiga atau empat kali saja.

Di salah satu bagian wadi itu disebut Wadi Doan. Itulah kota Wadi Doan, kampung nenek moyang Kholid Bawazir.

Di sepanjang pinggir sungai kering itu ada jalan raya kecil. Itulah yang menghubungkan satu wadi dengan wadi lainnya.

Kami mencoba menelusuri jalan wadi itu. Sampai satu jam. Tiba di kota wadi yang lain. Di situ ada satu masjid. Juga makam. Ternyata itu makam leluhur tokoh Arab di Jakarta –yang saya juga kenal baik dengannya.

Semua itu tidak terlihat dari jalan raya utama Mukalla-Tarim. Tapi, kalau Anda mau, mobil bisa Anda ajak keluar dari jalan raya. Masuk padang tanah. Offroad.

Ke arah satu celah di kejauhan sana. Anda akan sampai di pinggir jurang. Dari bibir jurang itu Anda bisa melongok jauh ke bawah: di sanalah kotanya.

Ternyata sudah ada seorang pengusaha Saudi membangun kawasan villa di bibir salah satu tebingnya. Saya pun diajak ke villa itu. Istirahat di situ. Bukan main pemandangannya: menakjubkan. Tak terpermanai. Kami bisa melongok ke dalam jurang wadi. Dramatis.

Jurang itu dalam sekali. Banyak pohon kurma di dalamnya.

Unik: di bawah sana ada beberapa bukit. Di atas bukit itu banyak rumah. Satu kampung itu di atas bukit. Jadi, kampung itu berada di ketinggian di bawah sana. Aneh, ada kota di atas gunung, tapi gunung itu di dalam jurang. Semua itu terlihat dari villa di atasnya.

Villanya sendiri sepi. Akibat perang. Hanya ada satu lelaki Polandia yang bermalam bersama pasangannya. Tiga malam di situ. Alangkah menakjubkannya suasana malam hari di padang pasir di tepi jurang –mirip Grand Kanyon di Amerika.

Di sepanjang jurang itu banyak kota kecil karena ada air di sana. Air adalah sumber kehidupan. Di samping banyak pohon kurma banyak juga pohon cedar. Daun cedar biasa digunakan untuk mengubur mayat. Tiap satu mayat ‘dibalut’ daun cedar satu karung.

Maka kota Wadi Doan adalah kota panjang yang tersembunyi di celah-celah pegunungan batu yang amat dalam. Dari atas pesawat celah itu lebarnya seperti hanya satu meter.

Seperti tidak ada apa-apa di celah itu. Setelah saya memasuki celah itu ternyata lebar celahnya sekitar 500 meter.

Kami mampir salat duhur-asar di salah satu masjid di celah itu. Air tidak masalah di situ. Air wudu maupun untuk mandi.  Berlimpah. Di depan masjid itu ada kubah-kubah.

Ternyata itu makam Habib Ali bin Hasan Al Atas –kakek Habib Abdurrahman Alatas Tebet, Jakarta, yang wafat empat bulan lalu.

Saya juga diajak mampir rumah orang terkaya di Wadi Duan. Meski empat lantai tetap tidak tampak dari jalan raya utama. Pintu utamanya sangat kokoh.

Di pintu itu ada dua alat ketok. Beda bunyi. Kalau yang atas yang diketokkan berarti tamunya laki-laki. Kalau alat ketok bawah yang diketokkan tamunya perempuan.

Banyak tokoh terkenal dari Wadi Doan ini. Pemilik bank Al Ahli di Saudi berasal dari sini. Konglomerat Saudi, Bin Laden, dari Wadi Doan. Pengusaha Saudi yang membangun vila di tebing celah tadi juga orang sini.

Saya iri kepada mereka yang punya waktu tiga hari tinggal di villa itu. Lalu saya buru-buru berucap masya-allah –agar rasa iri itu pergi.

Di Yaman saya melihat begitu banyak tulisan masya-allah. Di pintu pintu. Di pagar. Di kaca mobil.

Pemandangan yang sama pernah saya lihat di Pakistan. Waktu itu saya bertanya ke orang Pakistan: mengapa begitu banyak tulisan masya-allah. Tidak pernah mendapat jawaban yang memuaskan. Hanya kebiasaan saja, katanya.

Di Yaman saya menemukan jawabnya: mengucapkan masya-allah bisa menghilangkan rasa iri yang mulai berusaha muncul di hati. (*)

Tags: Catatan Harian DahlanDahlan IskanDiswayHarian Dahlanharian diswayTulisan Dahlan

Related Posts

Hujan Salat

Hujan Salat

Thursday, 3 September 2026
Patriot Sejati

Patriot Sejati

Thursday, 3 September 2026
Ahli Uang

Ahli Uang

Wednesday, 2 September 2026
Aset Berharga

Aset Berharga

Monday, 31 August 2026
Hakka Ngiau

Hakka Ngiau

Thursday, 27 August 2026
Geger Gowa

Geger Gowa

Monday, 24 August 2026
Next Post
Yusran Lapananda

Kemandirian Fiskal Daerah Sebuah Keharusan

Discussion about this post

E-paper Gorontalo Post 30 Juli 2026

Rekomendasi

Pengadaan MacBook Aleg Deprov, Femmy: Dengan Tegas Saya Menolak 

4 Kursi DPR RI untuk Gorontalo, Femmy: Dari Aspirasi Menjadi Agenda Kelembagaan

Thursday, 3 September 2026
Listrik Disiapkan Dukung Industri Gorontalo, PLN Pacu Infrastruktur hingga Desa

Listrik Disiapkan Dukung Industri Gorontalo, PLN Pacu Infrastruktur hingga Desa

Friday, 4 September 2026
Hujan Salat

Hujan Salat

Thursday, 3 September 2026
Curi Uang dan Perhiasan Emas, Dua Pria Diciduk

Curi Uang dan Perhiasan Emas, Dua Pria Diciduk

Friday, 4 September 2026

Pos Populer

  • Pengadaan MacBook Aleg Deprov, Femmy: Dengan Tegas Saya Menolak 

    4 Kursi DPR RI untuk Gorontalo, Femmy: Dari Aspirasi Menjadi Agenda Kelembagaan

    23 shares
    Share 9 Tweet 6
  • Rp 68,2 M Dana Asrama Haji Gorontalo Ditolak, Kemenhaj: Mepet Waktu, Beresiko

    29 shares
    Share 12 Tweet 7
  • Menenun Kembali Jati Diri Gorontalo: Wastra Lama, Harapan Baru bagi UMKM Gorontalo

    25 shares
    Share 10 Tweet 6
  • Listrik Disiapkan Dukung Industri Gorontalo, PLN Pacu Infrastruktur hingga Desa

    13 shares
    Share 5 Tweet 3
  • Hujan Salat

    14 shares
    Share 6 Tweet 4
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 3 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.