logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
Pemkot Gorontalo

Home Persepsi

Jagung Gorontalo di Persimpangan Nilai Tambah

Lukman Husain by Lukman Husain
Wednesday, 11 February 2026
in Persepsi
0
Dr. Herwin Mopangga, S.E., M.Si.

Dr. Herwin Mopangga, S.E., M.Si.

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Related Post

Keputusan RUPS-BSG: Moga tak Lahirkan Buah yang “Tinasi”

Semesta Sulawesi

Sapi Alat Politik, Hilirisasi Tak Pernah Tumbuh

Kebenaran dan Keimanan Kokoh Karena Makanan?

Oleh:
Herwin Mopangga

JAGUNG adalah komoditas penting sebagai bahan pangan, pakan ternak dan sumber energi alternatif. Komoditas ini membuka lapangan kerja, sumber nafkah puluhan ribu rumah tangga, penopang kegiatan perdagangan antar-pulau, serta penentu dinamika harga bahan pangan strategis. Tidak berlebihan jika banyak pihak menyebut jagung sebagai “urat nadi” ekonomi daerah.

Bank Indonesia regional Sulawesi (Sulsel, Sulteng, Sulut dan Gorontalo) menangkap ini sebagai hal yang sangat urgen dalam kerangka hilirisasi dan industrialisasi, sehingga melaksanakan riset berjudul Karakteristik dan Struktur Rantai Nilai Jagung di Sulampua yang akan di diseminasikan pada Selasa 10 Februari di Ruang Otanaha lantai 4 Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Gorontalo.

Menggambarkan jagung sebagai urat nadi berarti kita berbicara tentang sistem peredaran nilai. Dalam perspektif ekonomi regional, nilai tidak otomatis tinggal di tempat ia diproduksi. Ia bergerak mengikuti struktur pasar, teknologi, dan organisasi produksi. Wilayah yang mampu mengendalikan lebih banyak tahapan setelah panen akan memperoleh bagian nilai tambah yang lebih besar. Sebaliknya, wilayah yang berhenti pada produksi primer cenderung melepaskan potensi pendapatan ke daerah lain.

Di sinilah relevansi pendekatan global value chain (GVC) menjadi penting. Teori ini menjelaskan bahwa kesejahteraan suatu wilayah sangat dipengaruhi oleh posisi yang ditempatinya dalam rantai produksi. Semakin dekat suatu pelaku dengan aktivitas bernilai tinggi seperti pengolahan, standardisasi, logistik terintegrasi, dan pengendalian pasar semakin besar nilai yang dapat ia tangkap. Sebaliknya, produsen bahan mentah biasanya memperoleh porsi paling kecil walaupun bekerja paling awal.

Jika kerangka ini kita terapkan pada jagung Gorontalo, maka pertanyaan kritisnya menjadi jelas: apakah kita masih berada pada simpul produksi primer, atau sudah bergerak menuju simpul pengendalian nilai?

Data produksi memberi gambaran bahwa kemampuan budidaya relatif kuat. Rilis Badan Pusat Statistik memperlihatkan luas panen 2025 mencapai sekitar 132,83 ribu hektare, naik dari 128,23 ribu hektare pada 2024. Produksi pun meningkat dari 625,97 ribu ton menjadi 647,76 ribu ton. Kenaikan sekitar 3,5 persen ini menunjukkan kapasitas petani bertahan bahkan dalam kondisi biaya dan iklim yang tidak selalu bersahabat.

Namun dalam logika GVC, produksi hanyalah pintu masuk. Pertarungan nilai justru terjadi setelah itu. Begitu jagung dipanen, ia memasuki tahapan yang lebih menentukan: pengeringan, sortasi, penyimpanan, pembiayaan, pengiriman, dan integrasi dengan kebutuhan industri pakan. Setiap tahap ini memerlukan modal, teknologi, serta kemampuan organisasi. Di sinilah perbedaan antara “penghasil” dan “pengendali” menjadi nyata.

Riset Bank Indonesia menunjukkan bahwa sebagian besar jagung Gorontalo masih bergerak melalui pola petani–pengepul–pemasok–industri di luar daerah. Ini berarti aktivitas dengan nilai tambah tinggi berada setelah komoditas meninggalkan wilayah. Kita menghasilkan, tetapi belum sepenuhnya mengendalikan.

Masalah mutu mempertegas posisi tersebut. Kadar air rata-rata di tingkat petani masih berada pada kisaran di atas kebutuhan industri. Dalam pendekatan GVC, kualitas adalah bahasa kontrak. Tanpa kesesuaian mutu, produsen sulit masuk ke segmen pasar yang lebih menguntungkan. Maka koreksi harga menjadi instrumen disiplin pasar.

Dalam situasi ini, petani menghadapi dua tekanan sekaligus, kebutuhan likuiditas yang mendorong penjualan cepat dan standar industri yang menuntut kualitas lebih tinggi. Tanpa dukungan infrastruktur pascapanen, petani akan terus memilih opsi pertama. Secara individual keputusan ini masuk akal, tetapi secara kolektif ia memperkuat posisi daerah sebagai pemasok bahan mentah.

Di sinilah muncul konsep upgrading dalam teori rantai nilai. Upgrading bukan semata menaikkan produksi, tetapi memperbaiki posisi dalam struktur. Ia dapat dilakukan melalui peningkatan proses (misalnya pengeringan lebih baik), peningkatan produk (mutu terstandar), peningkatan fungsi (mengambil alih logistik atau pemasaran), maupun pergeseran ke rantai baru yang lebih menguntungkan.

Bila Gorontalo ingin menangkap nilai lebih besar, maka upgrading harus terjadi. Salah satu pintu tercepat adalah pascapanen. Dengan dryer komunal, alat ukur kadar air, dan gudang konsolidasi, petani dapat masuk pada segmen pasar yang lebih dekat dengan kebutuhan industri. Jarak harga menyempit karena sebagian fungsi hilir mulai dilakukan di daerah. Nilai tambah yang sebelumnya dinikmati luar wilayah dapat tertahan lebih lama.

Namun manfaatnya tidak berhenti di situ. Dalam teori ekonomi regional, setiap tambahan pendapatan yang diterima petani akan menciptakan efek berganda (multiplier effect). Uang yang dibelanjakan kembali di desa akan menggerakkan sektor lain: perdagangan, jasa, transportasi, bahkan pendidikan dan kesehatan. Satu rupiah yang bertahan di wilayah dapat berputar beberapa kali sebelum keluar.

Sebaliknya, ketika margin terbesar berada di luar daerah, efek berganda lokal menjadi kecil. Ekonomi terlihat sibuk saat panen, tetapi cepat melemah setelah itu. Mari kita ilustrasikan secara sederhana. Jika melalui perbaikan mutu petani memperoleh tambahan harga Rp200 per kilogram saja, dengan produksi ratusan ribu ton, tambahan pendapatan regional dapat mencapai puluhan hingga ratusan miliar rupiah. Ketika uang ini dibelanjakan kembali, dampaknya pada pertumbuhan ekonomi desa akan signifikan. Ini adalah kekuatan multiplier.

Karena itu, perdebatan tentang kadar air bukan persoalan teknis semata. Ia adalah isu pembangunan wilayah. Konsolidasi melalui kelompok tani juga memiliki makna strategis dalam kerangka GVC. Industri cenderung bertransaksi dengan entitas yang mampu menjamin volume dan kualitas. Ketika petani bergerak sendiri-sendiri, biaya koordinasi menjadi tinggi. Dengan agregasi, negosiasi kontrak lebih mudah, akses pembiayaan terbuka, dan kepercayaan tumbuh.

Dalam banyak pengalaman internasional, keberhasilan wilayah pertanian naik kelas hampir selalu didahului oleh hadirnya organisasi kolektif yang kuat. Ia menjadi jembatan antara skala kecil produksi dan skala besar industri. Tentu perubahan ini tidak sederhana. Risiko iklim, fluktuasi harga, dan ancaman kontaminasi mutu tetap ada. Namun tanpa memulai upgrading, kita akan terus berada pada posisi yang sama dalam hierarki nilai.

Perlu ditegaskan pula bahwa permintaan jagung nasional sebenarnya memberikan peluang luar biasa. Industri pakan terus berkembang. Kebutuhan bahan baku meningkat. Ini adalah pasar yang menunggu, bukan pasar yang hilang. Tantangannya adalah bagaimana Gorontalo mampu memenuhi standar secara konsisten sehingga dipercaya sebagai mitra jangka panjang.

Kepercayaan inilah mata uang paling penting dalam rantai nilai modern. Jika kita berhasil membangun reputasi mutu, maka investasi akan mengikuti. Industri tidak lagi ragu mendekat. Ketika industri hadir lebih dekat, biaya logistik turun, kesempatan kerja baru tercipta, dan siklus multiplier semakin kuat.

Dalam konteks tersebut, riset Bank Indonesia memberikan fondasi yang sangat strategis. Ia menggeser diskusi dari keluhan harga menuju pembenahan struktur. Kita diajak melihat bahwa persoalan bukan semata perilaku pasar, melainkan posisi kita di dalamnya.

Kini pilihan ada di tangan kita. Tetap menjadi pemasok bahan mentah dengan margin terbatas, atau bergerak naik mengambil fungsi yang lebih bernilai. Jagung telah membuktikan kemampuannya menopang ekonomi Gorontalo. Tetapi masa depan kesejahteraan petani akan ditentukan oleh seberapa jauh kita berani mereformasi tata kelola setelah panen.

Jika upgrading berjalan, multiplier bekerja, dan nilai tambah bertahan lebih lama di desa, maka julukan urat nadi tidak lagi sekadar metafora. Ia menjadi kenyataan ekonomi yang dirasakan langsung oleh masyarakat. (*)

Penulis adalah Ekonom
Universitas Negeri Gorontalo

Tags: Harian PersepsiHerwin MopanggapersepsiTulisan Herwin Mopanggatulisan persepsi

Related Posts

Tauhid Arif

Keputusan RUPS-BSG: Moga tak Lahirkan Buah yang “Tinasi”

Wednesday, 11 February 2026
Basri Amin

Semesta Sulawesi

Monday, 9 February 2026
Ridwan Monoarfa

Sapi Alat Politik, Hilirisasi Tak Pernah Tumbuh

Monday, 9 February 2026
Arifasno Napu

Kebenaran dan Keimanan Kokoh Karena Makanan?

Friday, 6 February 2026
--

Ekonomi Komunal Lokal vs Elite Global

Wednesday, 4 February 2026
Basri Amin

Warisan Cinta

Monday, 2 February 2026
Next Post
--

Berpisah Istri

Discussion about this post

Rekomendasi

Pelayanan SIM Keliling Polda Gorontalo Hadir di Telaga, PNBP SIM C Hanya Rp 75 Ribu

Pelayanan SIM Keliling Polda Gorontalo Hadir di Telaga, PNBP SIM C Hanya Rp 75 Ribu

Wednesday, 11 February 2026
Adhan Dambea

RUPS Bank SulutGo, Penarikan Saham Pemkot Disetujui

Wednesday, 11 February 2026
Mahasiswa IAIN Gelar Aksi di Depan Kampus Empat UNG, Ternyata Ini yang Disuarakan

Mahasiswa IAIN Gelar Aksi di Depan Kampus Empat UNG, Ternyata Ini yang Disuarakan

Wednesday, 11 February 2026
TORANG PE BANK - Rania Riris Ismail, bersama jajaran komisaris dan direksi baru, Bank Sulut Gorontalo (BSG) hasil Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang berlangsung di Manado, Selasa (10/2). (foto: istimewa)

Gorontalo Akhirnya Dapat ‘Kursi’ Bos BSG, Menantu Gusnar Jabat Komisaris

Wednesday, 11 February 2026

Pos Populer

  • Pelayanan SIM Keliling Polda Gorontalo Hadir di Telaga, PNBP SIM C Hanya Rp 75 Ribu

    Pelayanan SIM Keliling Polda Gorontalo Hadir di Telaga, PNBP SIM C Hanya Rp 75 Ribu

    80 shares
    Share 32 Tweet 20
  • RUPS Bank SulutGo, Penarikan Saham Pemkot Disetujui

    84 shares
    Share 34 Tweet 21
  • Kisah Anak SD BunDir di NTT, Tak Mampu Beli Buku, Mama Pelit Sekali

    144 shares
    Share 58 Tweet 36
  • SK DPP Dianggap Ilegal, Kader PPP Tolak Ismet

    134 shares
    Share 54 Tweet 34
  • Mahasiswa IAIN Gelar Aksi di Depan Kampus Empat UNG, Ternyata Ini yang Disuarakan

    61 shares
    Share 24 Tweet 15
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 2 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.