Oleh:
Dahlan Iskan
HWW –hospital without wall: lagi dicoba dilaksanakan di RSUP dr Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta. Kini sudah berjalan mencapai 30 persen –dua tahun lagi 100 persen.
HWW sendiri sudah lama berhasil dilaksanakan di –Anda sudah tahu: RSUD dr Iskak di Tulungagung, Jatim. RS itu selalu menjadi yang terbaik di Indonesia –dari kategori apa pun.
Tokoh di balik penerapan HWW di dua rumah sakit itu sama: seorang dokter dengan nama satu kata, Supriyanto. Su=baik. Priya=laki-laki. Pria yang baik.
Waktu muda ia terpilih sebagai dokter teladan tingkat nasional. Kelak, dari keberhasilannya memimpin rumah sakit terbaik selama 10 tahun berturut-turut membuahkan loncatan jabatan sangat tinggi. Menteri Kesehatan Budi Sadikin mengangkatnya jadi dirut RSCM di Jakarta.
“Ini kapal besar. Untuk membelokkannya agak lambat,” katanya. Kemarin dr Supriyanto makan siang di rumah saya. Sajian yang disiapkan oleh menantu Pak Iskan tiga menu: sop buntut, lodeh ikan pe, dan brengkes tuna.
Anugerah lain: besok pagi dr Supriyanto meraih gelar doktor. Di Unair. Yakni doktor bidang manajemen kesehatan. Disertasinya mengenai HWW yang sudah dan sedang ia jalankan. Istimewanya: siapa tim penguji doktornya. Salah satunya: menteri kesehatan sendiri.
Saya sudah membaca disertasi itu. Kesimpulan saya: HWW sulit di-copy di tempat lain.
Kesimpulan saya itu tidak disetujui dr Supriyanto. Menurutnya HWW bisa diterapkan di rumah sakit lain.
Saya menyimpulkan lain berdasar disertasi itu sendiri: faktor sukses pelaksanaannya adalah adanya kepemimpinan transformasi di rumah sakit tersebut.
Dari pengalaman saya kepemimpinan transformasional sulit ditiru. Bisa tapi sulit. Apalagi di RSUD: keputusan tertingginya ada di tangan bupati atau wali kota. Sangat politis. Berbau transaksional –berorientasi mengembalikan investasi waktu pilkada.
Tapi Supriyanto berkeras bisa. Caranya: lewat pelatihan. Juga lewat sistem yang mapan. Yakni sistem IT yang sulit diintervensi oleh manusia –pun yang punya kuasa.
Supriyanto sendiri sudah dua tahun berhenti sebagai direktur RSUD dr Iskak. Nama ini adalah orang yang menyelamatkan rumah sakit tersebut di zaman perang kemerdekaan.
Anda pun tidak menyangka usia RSUD Tulungagung sudah 108 tahun. Dua tahun lebih tua dari RSUP dr Cipto Mangunkusumo.
Supriyanto 10 tahun memimpin rumah sakit dr Iskak. Setelah berhenti ia tergoda untuk maju menjadi calon bupati. Pendukung formalnya sudah 400.000 lebih –melebihi 60 persen suara di sana.
Ia batal maju. Menkes mengangkatnya jadi dirut RSCM. Targetnya: RSCM bisa menjadi HWW dalam skala besar.
Tidak mudah. Yang ia hadapi adalah orang-orang pusat dengan nama-nama besar. Ia harus lebih bijaksana. Tidak bisa seperti di Tulungagung dulu: di tahun pertamanya saja sudah memberhentikan tiga orang dokter yang tidak sejalan.
Di awal memimpin Tulungagung ia membangun aplikasi. Awalnya dibuka tender. Tidak ada yang berminat. Aplikasinya rumit. Khas kedokteran. Kalau bukan dokter akan sulit menyusun algoritmanya.
Akhirnya ia ajak seorang alumnus ITS bekerja sama. Secara teknis anak itu yang mengerjakan. Secara konsep dr Supriyanto yang menyusun.
Seluruh warga Tulungagung bisa menggunakan aplikasi itu. Yang merasa punya keluhan tidak harus langsung datang ke rumah sakit.
Mereka bisa buka aplikasi. Jenis-jenis tanda sakit ada di aplikasi itu.
Misalkan Anda tiba-tiba mengeluh nyeri. Lalu Anda masuk ke aplikasi dari rumah Anda. Klik: nyeri. Setelah itu muncul pilihan. Di bagian mana nyerinya. Katakanlah di dada. Klik. Muncul pilihan: dada kiri atau kanan. Misalnya Anda klik ”kanan”. Berarti itu pasti bukan sakit jantung. Maka muncul pilihan: apakah nyerinya sampai lengan. Klik. Dan seterusnya.
Dari berbagai pertanyaan itu bisa disimpulkan dugaan sakit apa. Lalu obatnya apa. Perlu ke rumah sakit atau tidak.
Di IGD rumah sakit itu sendiri ada tiga petugas yang menunggui aplikasi itu. Yang utama: seorang perawat terlatih. Lalu perawat lain yang mengecek lebih teliti. Orang ketiganya adalah dokter.
Pada ujung aplikasi, perawat terlatih menyimpulkan dugaan sakit apa. Lalu si PT bertanya: di rumah punya obat apa. Kalau obat itu cocok dengan keluhannya maka diminta minum obat tersebut. Tidak perlu beli obat. Tidak perlu datang ke rumah sakit.
“Saya dulu mengirim banyak perawat Tulungagung untuk belajar kedaruratan di Malaysia,” ujar Supriyanto.
Kalau si PT tidak mampu memberikan kesimpulan ia/dia bisa bertanya ke dokter jaga yang ada di sebelah.
Maka aplikasi tersebut menjadi IGD tanpa dinding. Siapa saja bisa masuk ke sana. Langsung ditangani. Baru yang benar-benar harus datang ke rumah sakit diminta datang.
Hebatnya IGD di sana tidak dijaga oleh dokter muda. Atau dokter yang baru lulus. Yang datang ke IGD adalah pasien yang sakitnya tidak sederhana. Yang sederhana sudah diselesaikan di rumah masing-masing.
Maka dokter jaga di IGD-nya Tulungagung adalah dokter spesialis. Yakni spesialis kedaruratan. Sudah agak lama ada program studi spesialis kedaruratan di banyak fakultas kedokteran.
Sistem aplikasi itu mengatur sampai ke pengadaan obatnya. Maka sulit diintervensi oleh kepentingan politik lokal.
Aplikasi itu juga terhubung ke Puskesmas di setiap kecamatan. Waktu jadi dokter teladan tingkat nasional dulu ia sudah menerapkan itu di Puskesmas di kabupaten Kerinci, Jambi.
Ia jarang terlihat di Puskesmas. Ia datang ke masyarakat: menerapkan penanganan kesehatan preventif. Orang yang sakit ditangani di rumah-rumah mereka.
“Puskesmas tidak boleh bangga karena banyak didatangi masyarakat. Itu berarti dokternya gagal menjalankan misi,” katanya. Tenaga di Puskesmas harus lebih banyak di lapangan. Menemui dan mendata penduduk dengan segala penyakit mereka.
Supriyanto lulus dokter dari Universitas Brawijaya, Malang. Waktu itu dokter yang baru lulus wajib kerja di daerah pedalaman. Ia dapat tugas di Kerinci.
Supriyanto bangga dengan kewajiban mengabdi di pedalaman seperti itu. Ia merasa karakter dan kepribadian seorang dokter terbentuk di situ.
Di Kerinci, sebagai dokter teladan, ia bisa memilih dua hadiah dari beberapa pilihan yang diberikan: boleh menempuh spesialis, menjadi pegawai negeri, mau pilih ditempatkan di mana atau naik haji.
Supriyanto memilih dua: menjadi pegawai negeri dan mengambil spesialis. Awalnya ingin menjadi spesialis kandungan. Lalu batal. Ia pilih pulang kampung ke Tulungagung. Bekerja sebagai pegawai negeri di RSUD setempat.
Ia tidak memilih hadiah naik haji. “Naik haji kan bisa dilakukan kelak ketika sudah mampu,” katanya.
Ayahnya seorang petani di desa Tulungagung selatan. Tapi semua saudaranya jadi sarjana –dua di antaranya menjadi guru besar. Hanya satu yang jadi dokter: Supriyanto sendiri –atas permintaan ibunya.
Setelah dua tahun bertugas di kampung halaman ia tahu banyak: kemiskinan, penyakit mereka apa saja dan budaya masyarakatnya. Karena itu ia tidak jadi pilih spesialis kandungan. Ia pilih bedah umum –yang paling diperlukan di daerah.
Di kemudian hari kariernya sampai pada jabatan direktur RSUD Tulungagung. Ia membuat sejarah: melahirkan HWW di sana.
HWW telah membuat nama Supriyanto dan Tulungagung menasional –bahkan mendunia. Proses mewujudkannya tidak mudah –sampai ada ceritanya di Disway edisi besok.(*)












Discussion about this post