logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Disway

HWW

Lukman Husain by Lukman Husain
Thursday, 22 January 2026
in Disway
0
---

---

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Oleh:
Dahlan Iskan

 

HWW –hospital without wall: lagi dicoba dilaksanakan di RSUP dr Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta. Kini sudah berjalan mencapai 30 persen –dua tahun lagi 100 persen.

HWW sendiri sudah lama berhasil dilaksanakan di –Anda sudah tahu: RSUD dr Iskak di Tulungagung, Jatim. RS itu selalu menjadi yang terbaik di Indonesia –dari kategori apa pun.

Related Post

Sel Janin

Bagi Hasil

Perjudian Besar

Kanan Dalam

Tokoh di balik penerapan HWW di dua rumah sakit itu sama: seorang dokter dengan nama satu kata, Supriyanto. Su=baik. Priya=laki-laki. Pria yang baik.

Waktu muda ia terpilih sebagai dokter teladan tingkat nasional. Kelak, dari keberhasilannya memimpin rumah sakit terbaik selama 10 tahun berturut-turut membuahkan loncatan jabatan sangat tinggi. Menteri Kesehatan Budi Sadikin mengangkatnya jadi dirut RSCM di Jakarta.

“Ini kapal besar. Untuk membelokkannya agak lambat,” katanya. Kemarin dr Supriyanto makan siang di rumah saya. Sajian yang disiapkan oleh menantu Pak Iskan tiga menu: sop buntut, lodeh ikan pe, dan brengkes tuna.

Anugerah lain: besok pagi dr Supriyanto meraih gelar doktor. Di Unair. Yakni doktor bidang manajemen kesehatan. Disertasinya mengenai HWW yang sudah dan sedang ia jalankan. Istimewanya: siapa tim penguji doktornya. Salah satunya: menteri kesehatan sendiri.

Saya sudah membaca disertasi itu. Kesimpulan saya: HWW sulit di-copy di tempat lain.

Kesimpulan saya itu tidak disetujui dr Supriyanto. Menurutnya HWW bisa diterapkan di rumah sakit lain.

Saya menyimpulkan lain berdasar disertasi itu sendiri: faktor sukses pelaksanaannya adalah adanya kepemimpinan transformasi di rumah sakit tersebut.

Dari pengalaman saya kepemimpinan transformasional sulit ditiru. Bisa tapi sulit. Apalagi di RSUD: keputusan tertingginya ada di tangan bupati atau wali kota. Sangat politis. Berbau transaksional –berorientasi mengembalikan investasi waktu pilkada.

Tapi Supriyanto berkeras bisa. Caranya: lewat pelatihan. Juga lewat sistem yang mapan. Yakni sistem IT yang sulit diintervensi oleh manusia –pun yang punya kuasa.

Supriyanto sendiri sudah dua tahun berhenti sebagai direktur RSUD dr Iskak. Nama ini adalah orang yang menyelamatkan rumah sakit tersebut di zaman perang kemerdekaan.

Anda pun tidak menyangka usia RSUD Tulungagung sudah 108 tahun. Dua tahun lebih tua dari RSUP dr Cipto Mangunkusumo.

Supriyanto 10 tahun memimpin rumah sakit dr Iskak. Setelah berhenti ia tergoda untuk maju menjadi calon bupati. Pendukung formalnya sudah 400.000 lebih –melebihi 60 persen suara di sana.

Ia batal maju. Menkes mengangkatnya jadi dirut RSCM. Targetnya: RSCM bisa menjadi HWW dalam skala besar.

Tidak mudah. Yang ia hadapi adalah orang-orang pusat dengan nama-nama besar. Ia harus lebih bijaksana. Tidak bisa seperti di Tulungagung dulu: di tahun pertamanya saja sudah memberhentikan tiga orang dokter yang tidak sejalan.

Di awal memimpin Tulungagung ia membangun aplikasi. Awalnya dibuka tender. Tidak ada yang berminat. Aplikasinya rumit. Khas kedokteran. Kalau bukan dokter akan sulit menyusun algoritmanya.

Akhirnya ia ajak seorang alumnus ITS bekerja sama. Secara teknis anak itu yang mengerjakan. Secara konsep dr Supriyanto yang menyusun.

Seluruh warga Tulungagung bisa menggunakan aplikasi itu. Yang merasa punya keluhan tidak harus langsung datang ke rumah sakit.

Mereka bisa buka aplikasi. Jenis-jenis tanda sakit ada di aplikasi itu.

Misalkan Anda tiba-tiba mengeluh nyeri. Lalu Anda masuk ke aplikasi dari rumah Anda. Klik: nyeri. Setelah itu muncul pilihan. Di bagian mana nyerinya. Katakanlah di dada. Klik. Muncul pilihan: dada kiri atau kanan. Misalnya Anda klik ”kanan”. Berarti itu pasti bukan sakit jantung. Maka muncul pilihan: apakah nyerinya sampai lengan. Klik. Dan seterusnya.

Dari berbagai pertanyaan itu bisa disimpulkan dugaan sakit apa. Lalu obatnya apa. Perlu ke rumah sakit atau tidak.

Di IGD rumah sakit itu sendiri ada tiga petugas yang menunggui aplikasi itu. Yang utama: seorang perawat terlatih. Lalu perawat lain yang mengecek lebih teliti. Orang ketiganya adalah dokter.

Pada ujung aplikasi, perawat terlatih menyimpulkan dugaan sakit apa. Lalu si PT bertanya: di rumah punya obat apa. Kalau obat itu cocok dengan keluhannya maka diminta minum obat tersebut. Tidak perlu beli obat. Tidak perlu datang ke rumah sakit.

“Saya dulu mengirim banyak perawat Tulungagung untuk belajar kedaruratan di Malaysia,” ujar Supriyanto.

Kalau si PT tidak mampu memberikan kesimpulan ia/dia bisa bertanya ke dokter jaga yang ada di sebelah.

Maka aplikasi tersebut menjadi IGD tanpa dinding. Siapa saja bisa masuk ke sana. Langsung ditangani. Baru yang benar-benar harus datang ke rumah sakit diminta datang.

Hebatnya IGD di sana tidak dijaga oleh dokter muda. Atau dokter yang baru lulus. Yang datang ke IGD adalah pasien yang sakitnya tidak sederhana. Yang sederhana sudah diselesaikan di rumah masing-masing.

Maka dokter jaga di IGD-nya Tulungagung adalah dokter spesialis. Yakni spesialis kedaruratan. Sudah agak lama ada program studi spesialis kedaruratan di banyak fakultas kedokteran.

Sistem aplikasi itu mengatur sampai ke pengadaan obatnya. Maka sulit diintervensi oleh kepentingan politik lokal.

Aplikasi itu juga terhubung ke Puskesmas di setiap kecamatan. Waktu jadi dokter teladan tingkat nasional dulu ia sudah menerapkan itu di Puskesmas di kabupaten Kerinci, Jambi.

Ia jarang terlihat di Puskesmas. Ia datang ke masyarakat: menerapkan penanganan kesehatan preventif. Orang yang sakit ditangani di rumah-rumah mereka.

“Puskesmas tidak boleh bangga karena banyak didatangi masyarakat. Itu berarti dokternya gagal menjalankan misi,” katanya. Tenaga di Puskesmas harus lebih banyak di lapangan. Menemui dan mendata penduduk dengan segala penyakit mereka.

Supriyanto lulus dokter dari Universitas Brawijaya, Malang. Waktu itu dokter yang baru lulus wajib kerja di daerah pedalaman. Ia dapat tugas di Kerinci.

Supriyanto bangga dengan kewajiban mengabdi di pedalaman seperti itu. Ia merasa karakter dan kepribadian seorang dokter terbentuk di situ.

Di Kerinci, sebagai dokter teladan, ia bisa memilih dua hadiah dari beberapa pilihan yang diberikan: boleh menempuh spesialis, menjadi pegawai negeri, mau pilih ditempatkan di mana atau naik haji.

Supriyanto memilih dua: menjadi pegawai negeri dan mengambil spesialis. Awalnya ingin menjadi spesialis kandungan. Lalu batal. Ia pilih pulang kampung ke Tulungagung. Bekerja sebagai pegawai negeri di RSUD setempat.

Ia tidak memilih hadiah naik haji. “Naik haji kan bisa dilakukan kelak ketika sudah mampu,” katanya.

Ayahnya seorang petani di desa Tulungagung selatan. Tapi semua saudaranya jadi sarjana –dua di antaranya menjadi guru besar. Hanya satu yang jadi dokter: Supriyanto sendiri –atas permintaan ibunya.

Setelah dua tahun bertugas di kampung halaman ia tahu banyak: kemiskinan, penyakit mereka apa saja dan budaya masyarakatnya. Karena itu ia tidak jadi pilih spesialis kandungan. Ia pilih bedah umum –yang paling diperlukan di daerah.

Di kemudian hari kariernya sampai pada jabatan direktur RSUD Tulungagung. Ia membuat sejarah: melahirkan HWW di sana.

HWW telah membuat nama Supriyanto dan Tulungagung menasional –bahkan mendunia. Proses mewujudkannya tidak mudah –sampai ada ceritanya di Disway edisi besok.(*)

Tags: Catatan Harian DahlanDahlan IskanDiswayHarian Dahlanharian diswayTulisan Dahlan

Related Posts

--

Sel Janin

Monday, 15 June 2026
--

Bagi Hasil

Monday, 15 June 2026
Ilustrasi pertaruhan masa depan ekonomi Indonesia di antara berbagai sistem ekonomi.--

Perjudian Besar

Wednesday, 10 June 2026
Saya pikir itu rumor lama yang di-posting ulang di medsos: Chatib Basri akan jadi menteri keuangan menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa. Ternyata beda. Di rumor lama hanya berhenti sampai Chatib Basri jadi menkeu. Yang beredar sekarang ini ada lanjutannya: Purbaya dapat tugas baru sebagai gubernur Bank Indonesia. Tentu saya tahu Chatib Basri: Ia pernah jadi menteri keuangan di akhir masa jabatan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Saya juga mengikuti banyak karya tulisnya. Ia ekonom tulen. Ia hampir sama dengan Sri Mulyani tapi ada bedanya. Mereka sama-sama ekonom Universitas Indonesia tapi punya jalan berbeda setelah itu. Sri Mulyani produk Amerika. Chatib Basri ekonom lulusan Australia (the Australian National University, sebuah kampus riset di Canberra). Tulisan yang paling menyentak dari Chatib Basri diterbitkan di Kompas di akhir masa jabatan Presiden Jokowi. Sebenarnya cara Chatib menulis sudah sangat hati-hati tapi kejujuran yang muncul dari tulisan itu sangat menyentak: selama 10 tahun terakhir jumlah kelas menengah Indonesia mengalami penurunan sebanyak delapan juta orang. Itulah kali pertama ada ekonom yang melihat bahwa gemerlap ekonomi selama pemerintahan Jokowi ternyata menyimpan kenyataan pahit seperti itu. Pertumbuhan lima persen per tahun ternyata tidak membuat pendapatan per kapita rakyat Indonesia bisa mencapai angka USD5.000. Merosotnya jumlah kelas menengah itu sekaligus mengungkapkan sisi gelap pertumbuhan: siapa yang tumbuh. Kalau benar Chatib Basri akan menjadi menteri keuangan, sebenarnya seirama saja dengan misi Presiden Prabowo yang tampak sekarang. Sebenarnya banyak juga yang bimbang: biar pun pertumbuhan pendapatan per kapita kita amat-amat lambat, ekonomi Indonesia masih tergolong baik. Setidaknya lumayan. Lalu mengapa Presiden Prabowo berani mengubah yang sudah lumayan itu sampai membuat ekonomi terguncang begini berat –khususnya di kurs rupiah dan bursa saham? Salah satu jawabannya adalah tulisan Chatib Basri itu tadi: jumlah kelas menengah tidak boleh turun. Justru harus naik. Pendapatan per kapita tidak boleh berhenti di USD5.000. Itu bisa membuat Indonesia terjebak seperti diuraikan dalam teori "jebakan kelas menengah". Hanya saja sudah sangat jelas bahwa Chatib Basri adalah ekonom pro-pasar bebas. Ia belajar mendalam teori ekonomi seperti Keynesian, Monetarist, maupun Austrian School. Tapi ia bukan 100 persen pengikut aliran itu. Chatib masih percaya bahwa negara harus ikut campur dan mengarahkan. Maka kalau pun Chatib Basri itu tergolong aliran kanan, ia seorang pemain kanan dalam –bukan kanan luar murni seperti David Beckham atau Luis Vigo. Chatib itu seperti Johan Cruyff di tim juara dunia Belanda entah tahun berapa itu. Masalahnya: apakah Chatib Basri mau seandainya ditawari jabatan itu. Sebagai ekonom kanan, Chatib pastilah penganut disiplin fiskal yang ketat. Harus disiplin anggaran. Apakah Chatib bisa berada di bawah Presiden Prabowo yang begitu banyak punya keinginan dan semua keinginannya itu memakan biaya sangat besar. Sebelum ia mau menerima jabatan, apakah orang kampus murni seperti Chatib berani minta waktu bertemu Presiden Prabowo. Bukan sekadar bertemu tapi berdiskusi. Sebenarnya saya ingin orang seperti Chatib tampil di pemerintahan. Terutama kalau Purbaya punya hambatan fisik –yang diberitakan kian kurus badannya. Chatib sudah punya pengalaman menjabat menteri keuangan. Ia tidak bisa lagi disebut orang kampus murni. Ilmunya pernah diterapkan di kebijakan. Ia ikut mengatasi krisis keuangan yang berat di tahun 2008-2009. Juga saat Amerika melakukan pengetatan moneter. Tapi memang harus terjadi diskusi dulu dengan Presiden Prabowo: apa saja yang akan ia lakukan, dan apakah itu bisa diterima oleh Presiden. Rasanya Presiden akan bisa menerima pemikiran baru karena beliau seorang intelektual --salah satu ciri intelektual adalah menjunjung tinggi kebenaran sejak dari berpikirnya. Apalagi kenyataan ekonomi yang dihadapi Presiden Prabowo sekarang sudah lebih buruk dari saat beliau menerima jabatan itu. Tentu dalam diskusi itu tidak harus ada yang kalah dan yang menang. Chatib Basri juga harus mendengar dasar-dasar pemikiran ekonomi presiden. Keduanya punya asumsi yang sama: sama-sama ingin ada perubahan agar Indonesia terhindar dari jebakan kelas menengah. Siapa tahu muncul ''kemenangan baru'': keinginan Presiden Prabowo tetap bisa terealisasikan tanpa harus terjadi keguncangan. Guncangan sudah telanjur terjadi. Tapi masih bisa diselamatkan. Saya termasuk yang ingin perubahan itu terjadi tapi juga tidak ingin terjadi guncangan yang berat. Dalam istilah saya di depan ribuan pengusaha di Batu, Malang, beberapa bulan lalu: Silakan pengusaha besar tidak perlu lagi dibantu tapi jangan diganggu. Saya berharap Chatib Basri mau menerima tawaran itu. Secara pribadi mungkin ia rugi. Terutama keluarganya. Apalagi risiko jadi pejabat publik di zaman ini amat berat. Clean saja tidak cukup. Harus clean and clear. Jabatan ini bisa membuat badan kurus, tidur sangat kurang, apalagi perhatian kepada keluarga. Tapi keluarga besar Indonesia menunggunya. Hanya jiwa pengabdian yang tinggi yang membuatnya mau –seperti seseorang dulu yang mati-matian tidak mau jadi dirut PLN sampai ada yang bilang: kelistrikan negara harus diselamatkan. Sekarang bukan hanya kelistrikan yang perlu diselamatkan. Tapi ekonomi seluruh negara.(

Kanan Dalam

Tuesday, 9 June 2026
--

Neo Pop

Monday, 8 June 2026
Lewat Pasrah

Lewat Pasrah

Saturday, 6 June 2026
Next Post
DISAKSIKAN DONALD TRUMP- Presiden RI Prabowo Subianto menjadi salah satu pemimpin negara yang menandatangani Board of Peace (BoP) Charter pada Kamis, 22 Januari 2026 di Davos, Swiss. (Foto: BPMI Setpres/Muchlis Jr)

Boarf of Peace Bentukan Trump, Demi Gaza, RI Ikut Gabung

Discussion about this post

Rekomendasi

Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail bersama Dirut Perum Bulog Letjen TNI (Purn) Ahmad Rizal Ramadhani, menyerahkan bantuan pangan di Desa Tabongo Timur, Kabupaten Gorontalo, Kamis (18/6). (foto: dok-pemprov)

Prabowo Kirim Bantuan Pangan untuk Gorontalo, Menyasar 170 Ribu Warga, Pemerintah Pastikan Stok Pangan Aman

Friday, 19 June 2026
Sebuah pohon berukuran besar tumbang dan menutup akses Jalan Husin Bilondatu yang menghubungkan Desa Mongolato dan Desa Bulila, Kecamatan Telaga, Kabupaten Gorontalo, Rabu (17/6/2026)

Tertimpa Pohon Tumbang, Booth Jualan dan Pagar SMANSA Telaga Rusak

Friday, 19 June 2026
Seorang lansia yang ditemukan warga hilang arah di wilayah Pentadio Barat Kabupaten Gorontalo diantarkan petugas kepolisian ke rumah keluargannya.

Warga Temukan Lansia Hilang Arah di Pentadio Barat

Friday, 19 June 2026
Pos Terpadu yang disediakan di Bandara Djalaluddin Gorontalo untuk pelayanan di gerbang utama kedatangan Peserta PENAS XVII.

Amankan Kedatangan Peserta PENAS XVII, Bandara Djalaluddin Siapkan Pos Terpadu

Friday, 19 June 2026

Pos Populer

  • Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail bersama saat menghadiri pelantikan pengurus Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai NasDem Provinsi Gorontalo yang dipimpin Rachmat Gobel di Grand Palace Convention Center, Rabu (17/6/2026).

    Dilantik Kembali Pimpin NasDem Gorontalo, Rachmat Gobel Ajak Kader Bergerak dan Berkarya

    20 shares
    Share 8 Tweet 5
  • Dukung Edukasi Jurnalis dan Pelajar, Dirreskrimsus Polda Gorontalo Kupas Tuntas UU ITE dan Hak Cipta

    15 shares
    Share 6 Tweet 4
  • Prabowo Kirim Bantuan Pangan untuk Gorontalo, Menyasar 170 Ribu Warga, Pemerintah Pastikan Stok Pangan Aman

    13 shares
    Share 5 Tweet 3
  • Tertimpa Pohon Tumbang, Booth Jualan dan Pagar SMANSA Telaga Rusak

    13 shares
    Share 5 Tweet 3
  • Warga Temukan Lansia Hilang Arah di Pentadio Barat

    13 shares
    Share 5 Tweet 3
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 3 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.