Gorontalopost.co.id, GORONTALO — Stroke masih menjadi penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 2020 menunjukkan lebih dari 357 ribu warga Indonesia meninggal akibat stroke setiap tahun, atau sekitar 21% dari total kematian nasional.
Angka ini menempatkan Indonesia di urutan ke-11 tertinggi di dunia. Sedangkan di Provinsi Gorontalo saat ini menempati posisi sepuluh besar penyakit tertinggi.
“Gorontalo dulu masuk tiga besar nasional kasus stroke dan sekarang turun menjadi sepuluh besar,”ungkap Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) wilayah Gorontalo Dr. dr. Isman Yusuf, Sp.N kepada Gorontalo Post baru-baru ini. dr Isman berharap keluar dari daftar itu.
Isman juga mengakui bahwa stroke kini juga menyerang anak-anak muda, bahkan dirinnya ungkap Isman pernah merawat pasien stroke usia 12 tahun. Menurutnya, faktor penyebab utama anak muda mudah terserang stroke karena jarang bergerak, banyak menggunakan gawai, fast food, dan duduk berjam-jam.
“Karena itu edukasi kami juga menyasar pemuda, pramuka, karang taruna, agar mereka tidak menjadi korban stroke di usia produktif.” tambahnya. Ia menjelaskan bahwa stroke masih menjadi penyakit dengan kematian dan kecacatan tinggi, sehingga fokus utama adalah pencegahan dan edukasi.
Sementara itu Ketua Yayasan Strok Indonesia (Yastroki) Gorontalo, dr. Irianto Dunda, Sp.N menyampaikan, selama ini banyak pasien datang terlambat melebihi waktu penanganan efektif. Ada yang datang setelah 4,5 jam, bahkan 1–2 hari karena lebih dulu ke mantri, dokter umum, atau pengobatan alternatif,” ujarnya.
Padahal, stroke memiliki waktu emas hanya dua sampai tiga ¹jam. Salah satu tindakan penting adalah trombolisis, yang sebenarnya sudah dilakukan di Jakarta sejak 15 tahun lalu tetapi di Gorontalo baru mulai berkembang.
“Sekitar 80 sampai 86 persen adalah stroke sumbatan, sisanya perdarahan. Menentukan jenisnya wajib lewat CT-scan. Bila datang cepat, hasilnya jauh lebih baik,” jelasnya
Menurut para ahli, tingginya angka kematian bukan hanya disebabkan oleh faktor risiko, tetapi juga karena sebagian besar pasien terlambat datang ke fasilitas kesehatan. Banyak orang masih menganggap gejala awal seperti pusing mendadak, mulut mencong, tangan lemas, atau penglihatan kabur sebagai kelelahan biasa
.”Setiap menit sangat berharga bagi pasien stroke. Ada golden period kurang dari 4,5 jam sejak gejala pertama muncul, bila pasien datang dalam periode ini, peluang pulih tanpa kecacatan meningkat jauh,” kata dr. Irianto.
Stroke diakui dr Irianto dapat menyerang siapa saja, meski risikonya meningkat pada usia lanjut dan pada mereka yang memiliki riwayat keluarga. Namun faktor risiko terbesar justru berasal dari kebiasaan dan kondisi yang bisa dikendalikan, seperti hipertensi, kolesterol tinggi, merokok,diabetes,obesitas, hingga pola makan yang tidak teratur. (roy)












Discussion about this post