logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
Pemkot Gorontalo

Home Disway

Tegangan Tinggi

Lukman Husain by Lukman Husain
Monday, 29 September 2025
in Disway
0
Tegangan Tinggi
Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Saya mendekati seorang ibu dengan anak remaja putrinyi. “Bolehkah berfoto bersama?” tanya saya sesopan mungkin.

“Boleh,” jawab sang ibu.

Si ibu pakai kerudung. Si remaja tanpa penutup kepala.

Itulah gambaran wanita di Damaskus, ibu kota Syria. Memang masih lebih banyak yang berkerudung tapi tidak sedikit yang tanpanya.

Related Post

Amang Waron

Reflek Radjimin

Gagal Sukses

Jane Moses

Yang berkerudung pun umumnya bukan kerudung panjang. Juga bukan kerudung yang menutup bahu. Kerudung mereka menutup rambut tapi dililitkan di leher. Dengan demikian kerudung itu tidak menyembunyikan leher yang jenjang.

Cara umumnya wanita Syria berpakaian mirip muslimah di Indonesia. Pakai kerudung tapi atasannya bisa apa saja: kaus, jaket, blus, kemeja, berbunga, dan seterusnya. Terasa lebih modis dan santai.

Pun bawahan mereka. Apa saja. Jeans, celana ketat, rok panjang, atau celana komprang. Benar-benar seperti gaya muslimah di Indonesia. Apalagi postur badan mereka juga tidak banyak beda dengan ukuran wanita Indonesia. Bukan seperti di Arab Saudi.

Hanya saja hidung mereka tetap mancung. Mata agak kebiruan. Kulit mereka putih –ini Arab putih.

Ada juga wanita yang mendatangi Janet. Minta berfoto. Tumben. Di Indonesia tidak ada yang minta foto bersama Janet. Apalagi di Amerika.

“Mungkin saya dikira Korea,” kata Janet merendah.

“Mereka mengira Anda bintang film Korea,” sahut saya.

Gus Najih menjelaskan: di Suriah pun film drama Korea disukai. Mereka kecanduan. Seperti kita juga.

Wanita di Suriah juga bekerja. Seperti wanita Muslimah di Indonesia. Juga ber-make-up –lebih berani.

Ketika diskusi dengan pemilik sebuah perusahaan di Damaskus, yang menjelaskan teknis detailnya juga seorang staf wanita. Pakai kaus T-shirt, celana jeans, rambut terurai.

Hanya ketika ke masjid Muawiyah, Janet harus pakai baju panjang, lengan panjang. Bentuknya seperti jas hujan berpenutup kepala. Warna kainnya biru muda mencolok. Bagian depannya tidak harus dikancing. Sebelum masuk halaman masjid ada tempat persewaan baju seperti itu: untuk para turis.

Ornamen luar masjid Muawiyah bisa bicara: masjid ini dulunya gereja. Yang diperluas. Ornamen Romawiyahnya bertebaran di luarnya. Di salah satu pojok halaman itu: makam jenderal besar perang salib Salahudin Al Ayyubi. Di sebelah jauhnya disebut ”pojok Al Ghazali” –di situlah filsuf Imam Al Ghazali menyelesaikan penulisan buku Ikhya Ulumuddin.

Di depan makam itu kami mendongak ke atas: ke puncak menara tua. Kepercayaan yang pernah ada: kelak, Nabi Isa –Jesus– akan kembali turun ke bumi lewat menara itu.

Belum banyak turis yang masuk masjid ini. Waktu salat asar baru saja berlalu. Senja menjelang. Udara sejuk. Terlihat 10-an wanita berbaju biru-muda-mencolok di halaman masjid. Mereka masuk masjid lewat pintu yang berbeda dengan laki- laki. “Aturan ini berlaku sejak pemerintahan baru berkuasa,” ujar Gus Najih.

Ada plaza berlantai batu di samping masjid. Lebih ramai lagi. Plaza itu menghubungkan pintu samping masjid dengan gerbang pasar.

Kami masuk pasar itu. Ingatan saya: seperti ketika masuk pasar kuno di Xinjiang, Tiongkok. Hampir persis. Lengkung koridor utamanya, lorong-lorong percabangannya, cara menempatkan barang di tiap kiosnya.

Berarti kuat sekali pengaruh desain pasar di Syria masa silam ke pasar Xinjiang masa lalu. Pasti ini pengaruh perdagangan jalur sutera.

Di pedalaman pasar itu kami hanya beli satu barang: es krim. Es krim kuno. Icon di pasar itu. Icon di seluruh negara. Pun saya yang sudah tahunan tidak makan es krim harus merasakannya.

Porsinya besar. Pembelinya berjubel. Pembuatan es krimnya manual. Sampai ada empat lumpang pembuat es krim di kios itu. Lumpangnya stainless steel. Sebesar dandang. Alu kecilnya berkepala besar. Alu itu untuk menumbuk bahan di dalam lumpang.

Es krimnya fresh from the lumpang.

Azan magrib pun menggema keras di dalam pasar yang padat manusia ini –70 persennya  wanita. Tidak ada yang hirau. Semua tetap di kesibukan mereka. Tidak ada ekspresi wajah yang berubah.

Sampai malam pasar ini tetap ramai. Malam yang redup. Nyala listriknya seperti rembulan yang tertutup awan.

“Kita ke kampung Kristen dan Yahudi,” ajak Gus Najih.

“Di mana?” tanya saya.

“Di situ. Di depan masjid,” jawabnya. “Mepet dengan masjid,” tambahnya.

Itulah kampung Arab Kristen. Tidak pernah terganggu. Sepanjang masa. Pun di masa pemerintahan baru yang dipimpin mantan petinggi Taliban sekarang ini.

Kampung ini sudah sepi. Lorong-lorongnya gelap. Tapi tidak ada perasaan tidak aman berjalan malam di Damaskus. Apalagi sambil memegang es krim.

Di kota Aleppo, keesokan harinya, kami juga jalan-jalan malam. Menyusuri jalan-jalan kecil kota. Tidak ada perasaan takut. Atau waswas. Pun Janet. Bahkan di beberapa lokasi ada anak kecil yang menyapa Janet: ni hao!

Sampai matahari tenggelam pun toko-toko alat listrik di Aleppo masih buka. Begitu semangat mereka berjualan. Kian malam kian banyak kafe yang buka. Wanita yang ke kafe di Aleppo, 80 persen tanpa penutup kepala.

Pukul 21.00 kami kembali ke hotel. Sepanjang hari belum istirahat. Mulai terasa mengantuk.

Tiba di lobi hotel terlihat begitu banyak wanita Arab. Pakaian umumnya hitam. Pakaian pesta. Ternyata ada pengantin di hotel itu. Para wanita terus berdatangan. Naik ke ballroom di lantai dua.

Saya minta Gus Najih bertanya ke wanita 5i yang duduk di sofa di sebelah saya.

“Apakah pengantinnya sudah tiba?”

Kalau belum, kami ingin menunggu kedatangannya. Seperti apa.

“Belum. Pengantin baru tiba pukul 22.00 nanti,” jawabnyi.

Pengantin baru tiba jam 10 malam? Begitulah adatnya. Di dunia Arab. Malam itu pestanya hanya untuk wanita. Undangan laki-laki di lain hari.

Kami pun siap-siap tidak bisa tidur nyenyak. Pesta itu nanti akan full music. Sampai pukul dua malam. Mereka melepas pakaian luar warna hitam itu. Di dalamnya sudah dikenakan pakaian pesta untuk bersaing sesama wanita. Jilbab pun mereka lepas. Akan terlihat tatanan rambut aslinya. Termasuk catnya warna apa.

Saya ingin sekali mengintipnya. Tapi seandainya berhasil pun pandangan saya akan kabur. Mata ini seperti tinggal lima watt. Meski tegangan listrik di bawah tinggi, voltase tegangan atasnya payah.(

Tags: Catatan Harian DahlanDahlan IskanDiswayharian disway

Related Posts

--

Amang Waron

Tuesday, 13 January 2026
Ilustrasi kondisi seseorang vegetatif.--

Reflek Radjimin

Monday, 12 January 2026
Zohran Mamdani ke Bronx, menandatangani kebijakan di jalanan Sedgwick Avenue didampingi Tascha Van Auken.-crainsnewyork-

Gagal Sukses

Tuesday, 6 January 2026
Ilustrasi Robert Moses dan Jane Jacobs--Savingplaces

Jane Moses

Monday, 5 January 2026
Jumaane Williams (kiri) Zohran Mamdani dan Mark D. Levine.--

Tiga Serangkai

Sunday, 4 January 2026
--

Bintang 2025

Wednesday, 31 December 2025
Next Post
EKRAF - Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya, bersama Wakil Gubernur Idah Syahidah RH, melihat produk ekonomi kreatif, saat pembukaan HACF 2025 di GPCC Kota Gorontalo, Sabtu (27/9). (foto : dok/bi gorontalo)

HACF 2025, Komitmen BI Kembangkan Ekonomi Kreatif

Discussion about this post

Rekomendasi

Ketua Yayasan Kumala Vaza Grup, Siti Fatimah Thaib, bersama pemilik dapur dan Kepala SPPG Pentadio Barat secara simbolis menyerahkan CSR kepada pihak SMP 1 Telaga Biru, Rabu (14/1/2026). (F. Diyanti/Gorontalo Post)

Dukung Program Presiden, Yayasan Kumala Vaza Grup Salurkan CSR ke 20 Sekolah

Wednesday, 14 January 2026
Irjen Pol Widodo

Kapolda Kaget PETI Dekat Mapolres, Picu Banjir di Pohuwato, Pastikan Penindakan

Thursday, 15 January 2026
Irjen Pol. Drs. Widodo, S.H., M.H

Kapolda Bakal Ratakan PETI di Pohuwato, Kaget Lihat Langsung Dampak Kerusakan Lingkungan

Thursday, 15 January 2026
Tiga pelaku kekerasan seksual di amankan Polres Bone Bolango, Kamis (15/1/2026) Foto: Natharahman/ Gorontalo Post.

Modus Pesta Miras, Tiga Pria di Bone Bolango Tega Rudapaksa Gadis Belia

Friday, 16 January 2026

Pos Populer

  • Para pejabat pimpinan tinggi pratama di lingkungan Pemprov Gorontalo yang menajalani pelantikan, berlangsung di ruang dulohupa kantor gubernur, Senin (12/1). (foto: tangkapan layar)

    BREAKING NEWS: Gusnar Lantik 25 Pejabat Pemprov, Berikut Nama-namanya

    587 shares
    Share 235 Tweet 147
  • Dukung Program Presiden, Yayasan Kumala Vaza Grup Salurkan CSR ke 20 Sekolah

    76 shares
    Share 30 Tweet 19
  • Kemendikdasmen Salurkan Laptop untuk Sekolah Dasar Dukung Digitalisasi Pembelajaran

    179 shares
    Share 72 Tweet 45
  • Excapator dan Ratusan Alat PETI Diamankan, Hasil Operasi Tim Gabungan Selama Enam Hari, Forkopimda Segera Lakukan Evaluasi

    40 shares
    Share 16 Tweet 10
  • Bupati-Bupati Kita

    46 shares
    Share 18 Tweet 12
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 2 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.