logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Disway

Benih Sapujagat

Lukman Husain by Lukman Husain
Wednesday, 17 September 2025
in Disway
0
Bersama kawan mendatangi pusat riset benih padi Longping. Insert mendiang Prof Yuan Longping.--

Bersama kawan mendatangi pusat riset benih padi Longping. Insert mendiang Prof Yuan Longping.--

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Oleh:
Dahlan Iskan

 

ORANG Tiongkok itu masih di Jakarta. Orang Indonesia itu masih di Beijing. Mereka bikin janji: bertemu di Changsha, ibu kota provinsi Hunan.

Saya –orang Indonesia itu– bisa terbang langsung dari Beijing ke Changsha. Dua jam penerbangan.

Related Post

Yossi Cohen

Tulung Agung

Bertahan Menyerang

Cari Muka

Ia, orang Beijing itu, harus terbang dulu dari Jakarta ke Guangzhou. Lima jam. Transit. Lalu terbang lagi ke Changsha. Satu jam.

Dalam jadwal seperti itu saya bimbang. Naik pesawat atau naik kereta cepat. Saya sering bimbang seperti itu. Begitu juga umumnya orang di Tiongkok.

Akhirnya saya putuskan naik pesawat. Dua jam sampai. Saya akan tiba di Changsha sedikit lebih awal dari teman yang datang dari Jakarta. Kami sepakat saling tunggu di bandara –siapa yang tiba lebih dulu harus menunggu.

Ternyata saya tiba satu jam lebih lambat. Ia yang menunggu. Saya pun menyesal: kenapa tidak naik kereta cepat saja.

Jadwal kereta cepat boleh dikata tidak pernah terlambat. Menitnya pun tepat.

Sedang penerbangan dua jam itu praktiknya menjadi enam jam. Bahkan kalau dihitung dari hotel menjadi tujuh jam.

Memang saya bisa memanfaatkan waktu keterlambatan itu: mencari komentar pilihan pembaca Disway. Dua jam di pesawat untuk menulis Rujak Purbaya.

Bandara Beijing itu seperti Jakarta: antre terbangnya kadang lama. Jumlah penerbangan terlalu banyak. Padahal kini Beijing sudah punya dua bandara besar –satunya lagi di tenggara kota: Daxing.

Itu bandara baru. Kelak, kalau Anda ke kota baru yang didesain sebagai kota masa depan Tiongkok mendaratnya di sini.

Kota baru masa depan itu dibangun lima tahun lebih awal dari IKN-nya Indonesia. Sampai sekarang belum selesai –masih akan bertahun-tahun lagi.

Anda sudah tahu: kota baru itu dibangun di kota kecil sekali bernama Xiong An. Nama itu tetap dipertahankan. Saya sudah ke Xiong An sebelum ke IKN.

Pukul 20.00 saya mendarat di Changsha –ini kali ketiga saya ke ibu kota Hunan. Kali ini akan ke daerah pertanian –keesokan harinya. Yakni ke pusat riset benih padi yang namanya sudah terkenal di seluruh dunia: Long Ping.

Anda sudah tahu: ada penemu benih padi bernama Yuan Longping. Kelak ia jadi profesor. Juga terpilih sebagai salah satu ilmuwan terpenting Tiongkok.

Berkat penemuannya itu Tiongkok terhindar dari ancaman kekurangan pangan. Tanpa itu Tiongkok bisa dilanda kelaparan.

Maka Longping pun dinominasikan sebagai calon penerima hadiah Nobel. Tiap tahun usulan diajukan. Tidak pernah terpilih. Pun sampai Longping meninggal dunia tahun 2021 di usia 81 tahun.

Tiongkok menetapkan Longping menjadi ilmuwan luar biasa. Sampai hari ini baru ada sembilan ilmuwan Tiongkok yang mendapat penghargaan tertinggi negara seperti itu.

Lokasi riset benih padi sendiri sekitar 70 km di luar kota Changsha. Ke arah barat. Dalam perjalanan saya buka peta di HP: ingin tahu arahnya. Ternyata lokasi riset ini tidak jauh dari kota kecil bernama Yiyang.

“Yiyang di sebelah sana,” ujar salah satu ilmuwan yang menyertai saya di mobil. “Kenapa Anda tanya di mana Yiyang?” tanyanya.

Saya balik bertanya: “Anda sudah nonton film Wo Bu Shi Yao Sheng?”

“Sudah. Semua orang pernah nonton film itu,” katanya. “Apa hubungannya dengan Yiyang?” tanyanya.

“Bukankah yang sakit leukemia sampai menyelundupkan obat murah dari India itu orang Yiyang?” jawab saya (baca Disway 8 September 2025: Hasil Demo).

Obrolan soal film itu membuat perjalanan ke pusat riset tidak terasa jauh. Revolusi harga obat murah di Tiongkok dimulai dari Yiyang –setelah rakyat berdemo akibat mahalnya harga obat.

Kami pun tiba di tujuan. Sawah yang dijadikan pusat riset ini di dataran rendah. Sawahnya rata. Luasnya 100 hektare. Hamparan padinya lagi menguning –hampir siap panen. Berbagai jenis benih dicoba di situ: ratusan jenis.

Diteliti. Seberapa banyak hasilnya. Berapa hari jarak tanam sampai bisa panen. Seberapa kuat batangnya terhadap tiupan angin. Terhadap hama wereng. Terhadap perubahan cuaca. Terhadap jumlah air. Terhadap apa saja.

Tengah hari di sawah teriknya luar biasa. Suhu musim panas Hunan belum beranjak turun –meski di Beijing sudah mulai sejuk. Matahari Hunan masih terasa rendah: suhu udara di sawah itu 38 derajat.

Saya pun diberi caping tani a-la Hunan. Caping yang terbuat dari batang padi –saya bawa pulang untuk kenangan: akan saya pajang di sebelah caping petani Mojokerto.

Pusat riset ini milik perusahaan. Milik PT Long Ping –diambil dari nama Yuan Longping. Yakni perusahaan yang berbisnis di bidang perbenihan. Prof Longping sebagai penemu benih unggulnya, mendapat saham lima persen di perusahaan itu.

Setelah Long Ping go public, nilai saham lima persen itu sudah triliunan rupiah.

Dari sawah kami kembali ke Changsha –ke kantor pusat perusahaan itu. Gedung Long Ping punya lobi besar. Di salah satu dindingnya foto Longping dipajang setinggi dan selebar dinding.

Hitam putih. Di dinding lain dipajang layar digital yang besar sekali: Longping bersama Presiden Xi Jinping. Yakni saat Longping mendapat medali ”ilmuwan tertinggi Tiongkok”.

Lobi itu dipenuhi display perjalanan Long Ping sampai menjadi seperti sekarang. Banyak rombongan dari luar negeri studi banding ke Long Ping. Saat saya di lobi, serombongan dari Uganda tiba. Sekitar 20 orang.

Di Tiongkok ilmu benih melahirkan perusahaan raksasa. Ilmuwan yang puluhan tahun bergelut lumpur di sawah bisa menjadi triliuner. (Baca Juga soal Longping: Andreas Longping).

Longping tentu tidak hafal doa sapujagat. Tapi ia selamat dunia akhirat. Di dunia ia jadi kaya. Di akhirat pahala menghindarkan ratusan juta orang dari kelaparan mestinya membuatnya masuk surga.

Apalagi Longping tidak bisa bahasa Arab. Ia tinggal geleng kepala ketika ditanya: man robbuka! (*)

Tags: Catatan Harian DahlanDahlan IskanDiswayHarian Dahlanharian diswayTulisan Dahlan

Related Posts

Salah seorang jurnalis asing mengabadikan gambar sebuah kerusakan akibat serangan udara AS yang menyasar sebuah perkampungan di wilayah Fardis, Barat kota Tehran, Iran.-Vahid Salemi-Association Press

Yossi Cohen

Friday, 17 April 2026
Bupati Tulungagung Gatut Sunu Wibowo terjaring OTT KPK, dengan total kekayaan tercatat Rp20,3 miliar.--Instagram gatutsunu

Tulung Agung

Thursday, 16 April 2026
--

Bertahan Menyerang

Wednesday, 15 April 2026

Cari Muka

Tuesday, 14 April 2026
Jubir Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei menyatakan perundingan Islamabad gagal, tapi jalur diplomatik tetap terbuka -Tasnim News Agency-

Jalan Baru

Monday, 13 April 2026
Drum Mesiu

Drum Mesiu

Saturday, 11 April 2026
Next Post
Pengurut DPC APTRI Gorontalo saat bertandang ke redaksi Gorontalo Post, Selasa (17/9/2025). (Foto: Elya/Gorontalo Post).

APTRI Setuju Pabrik Gula Terapkan Sistem Bagi Hasil

Discussion about this post

Rekomendasi

Penyidik Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Pohuwato resmi melaksanakan penyerahan tersangka dan barang bukti (Tahap II) dalam perkara dugaan pemalsuan surat kepada Kejaksaan Negeri Pohuwato, Senin (13/4/2026).

Oknum ASN Diduga Palsukan Akta Kematian

Thursday, 16 April 2026
Oknum Kades di Pohuwato saat diperiksa sebagai tersangka, dan dilakukan penahanan terkait dengan dugaan aktivitas PETI. (foto: istimewa)

Jadi Bos PETI Oknum Kades Dibui, Kerahkan Eskavator Keruk Material Tambang di Sungai Alamutu

Wednesday, 15 April 2026
Imran Rahman

Viral Siswi SMP di Kabgor Di-bully, Orang Tua Pelaku Justeru Minta Proses Hukum

Thursday, 16 April 2026
Tersangka dugaan penganiayaan ibu kadung diborgol polisi.

Miris, Anak Sayat Ibu Kandung Hingga Berdarah

Friday, 17 April 2026

Pos Populer

  • Penyidik Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Pohuwato resmi melaksanakan penyerahan tersangka dan barang bukti (Tahap II) dalam perkara dugaan pemalsuan surat kepada Kejaksaan Negeri Pohuwato, Senin (13/4/2026).

    Oknum ASN Diduga Palsukan Akta Kematian

    157 shares
    Share 63 Tweet 39
  • Profesi-Profesi Hebat

    126 shares
    Share 50 Tweet 32
  • Putra Gorontalo Calon Wali Kota Jaksel

    90 shares
    Share 36 Tweet 23
  • Jadi Bos PETI Oknum Kades Dibui, Kerahkan Eskavator Keruk Material Tambang di Sungai Alamutu

    61 shares
    Share 24 Tweet 15
  • Oknum Pegawai BSG Bobol Brankas, Kerugian Rp 13,1 Miliar, Termasuk Kuras Rekening Dormant

    51 shares
    Share 20 Tweet 13
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 2 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.