logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
Pemkot Gorontalo

Home Headline

Suatu Hari… di Jawa Pos

Lukman Husain by Lukman Husain
Friday, 11 July 2025
in Headline, Persepsi
0
Suatu Hari… di Jawa Pos

ilustrasi (harian disway)

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp
Oleh:
Djono W. Oesman

Orang paling kubenci pada 1984 itu bernama Dahlan Iskan. Waktu itu saya wartawan Jawa Pos. Masuk per 1 Agustus 1984. Dahlan pemimpin redaksi Jawa Pos.

Hampir semua penugasan jurnalistik darinya, bukan dari redaktur. Itu tidak struktural.

Related Post

Pilkada Langsung dan Makna Kedaulatan Rakyat

Mahasiswa Merdeka

Pemprov Gorontalo Memperingati Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW, Gubernur Gusnar Ismail Canangkan Gerakan ASN Pemprov Mengaji

Kantor Wali Kota Baru, Adhan Targetkan Rampung Sebelum 2029

Tugasnya pun kejam-kejam. Saya benci.

MASAK, di suatu kasus pembunuhan di Surabaya waktu itu, saya ditugasi wawancara mendalam dengan keluarga pelaku? Keluarga kan malu. Mereka pasti ngumpet (pikirku sebelum melaksanakannya).

Apalagi, Dahlan memberikan perincian tugas: pelaku (pria usia 24 tahun, baru saja ditahan polisi, motif dendam) harus dideskripsikan lengkap. Antara lain:

Kisah saat ia lahir dulu bagaimana? Menyusahkan ortu, tidak? Misalnya, apakah ia lahir sungsang atau normal? Ceritakan.

Semasa ia bayi bagaimana? Waktu balita bagaimana (di sini banyak pertanyaan detail). Apakah ia pernah dipukul anggota keluarga karena nakal, misalnya? Atau suka diejek, dihina, bertujuan memotivasinya?

Saat sekolah ia bagaimana? Saat remaja bagaimana? Saat dewasa bagaimana? Hari-hari sebelum ia membunuh, ceritanya bagaimana? Dan, jangan lupa: Teori 5W plus 1H di setiap detail segmen.

Bukan cuma di keseluruhan cerita. ”Di tiap detail. Oke?” ujar Dahlan.

Saya manggut-manggut. Refleks, manggut-manggut. Pikirku: ”Ajur… iki.”

Hal itu sesungguhnya riset kriminologi. Saya memang sarjana (S-1) sosiologi, yang antara lain diajari kriminologi. Tapi, riset kriminologi dilaksanakan tim ahli. Berbulan-bulan. Bukan cuma saya sendirian. Dengan deadline hari itu juga pukul 17.00. Atau, sekitar enam jam kemudian.

Saya benci Dahlan. Aslinya, sebenarnya saya takut melaksanakan tugas itu. Bukan takut kepada keluarga pembunuh. Bukan. Saya, kan wartawan Republik Indonesia. Mesti berani. Melainkan, takut gagal.

Sebagai wartawan Jawa Pos yang baru masuk, saya sudah menyelidik, kalau gagal tugas, langsung goodbye. Tidak layak Jawa Pos. Sudah beberapa senior saya yang goodbye.

Yang senior sekali, tapi gagal dalam tugas, dibuang ke bidang yang tidak ia sukai. Supaya goodbye sendirinya.

Mau tidak mau, saya laksanakan tugas. Grogi, pasti. Namun, harus maju. Atau goodbye.

Alamat pelaku saya dapat dari polisi. Di Surabaya Utara. Berangkat saya ke sana dengan motor Suzuki A100 tangki kates (pepaya).

Matahari di langit Surabaya tersenyum ceria. Panasnya menyengat kulit. Lalu lintas? Jangan tanya. Macet. Campuran antara mobil, bemo, motor, sepeda, becak, aneka gerobak ditarik orang. Tumplek di jalan raya.

Ketemulah rumah itu. Di anak gang. Ada gang sempit, masuk lagi ke gang yang lebih sempit. Sebuah rumah papan kayu sangat kecil. Cat hijau tua. Kusam. Rumah kosong. Pintunya terbuka, kosong.

Ketika saya masuk anak gang itu, warga mengamati saya. Ketat. Mereka, pelan-pelan, berkerumun.

Beberapa pemuda mengikuti saya. Antusias. Ada yang tanya: ”Mas polisi, ya?”

”Bukan. Saya Djono, wartawan Jawa Pos.”

”Oh… sejak anaknya ditangkap kemarin, orang tuanya (tuan rumah) pindah, tadi pagi.”

”Pindah ke mana?

Ia menoleh ke teman-teman di sekelilingnya. Lalu, di antara teman, muncul pemuda menyeruak maju.

”Kami tidak tahu. Kalau Sampean bukan polisi, jangan cari-cari masalah,” katanya, melotot.

Saya kaget dengan ancaman itu. Saya tidak siap. Lalu, saya jawab begini:

Saya wartawan Republik Indonesia. Saya melaksanakan tugas negara ke sini. Bukan cari masalah.”

Ternyata mata pemuda itu meredup. Pelan-pelan. Gesturnya berubah, tidak lagi mengancam. Mungkin, karena tambahan kata-kata ”Republik Indonesia” itu, ia jadi redup.

Mungkin, ia terbayang kata ”Angkatan Bersenjata Republik Indonesia” (waktu itu, ABRI). Mungkin, ia anggap dua hal itu beda-beda tipis. Mungkin.

Tapi, ia tampak masih emosional. ”Kami di sini tidak tahu alamat barunya,” ujarnya, sambil menjauh.

Saya terus menggali. Berakrab-akrab dengan para pemuda itu. Tapi, nihil. Mereka semua takut kepada pemuda yang pergi tadi. Saya pun mencari cara lain.

Singkat cerita, saya sukses tugas. Target tercapai. Lengkap, 5W plus 1H di tiap detail. Juga, pastinya 5W plus 1H di struktur cerita.

Tiba di kantor Jawa Pos, Jalan Kembang Jepun 167, saya langsung dicegat Dahlan. Di ujung tangga yang menuju ruang redaksi. Ia tidak cuma menunggu saya, tapi juga menunggu semua wartawan Jawa Pos lainnya yang baru tiba di kantor.

Dahlan ke saya cuma berucap satu kata: “Bagaimana?”

“Beres dan lengkap, Pak,” jawab saya.

Dahlan tersenyum lebar. Ia menepuk-nepuk pundak saya. Kemudian, ia berteriak kepada puluhan wartawan dan redaktur di ruang redaksi yang terbuka tanpa sekat itu: ”Pengumuman… Headline sedang diketik DWO.” DWO adalah kode jurnalistik saya.

Tulisan ini bukan tentang bagaimana cara saya meliput berita. Bukan. Melainkan, tentang isi koran Jawa Pos di zaman itu. Dan, siapa yang memimpin. Serta, bagaimana cara kepemimpinannya.

Anda sudah baca, koran Jawa Pos sebelum tahun 1982 tidak laku. Dibagikan gratis oleh asongan di perempatan jalan-jalan di Surabaya yang panas pun, orang tidak mau mengambil. Ada pemotor yang mengambil, lalu dibuang lagi. Mengotori jalanan.

Sejak 1982 koran itu dibeli PT Grafiti Pers (pemilik majalah Tempo). Dahlan Iskan yang semula wartawan Tempo dengan jabatan kepala Biro Jatim ditunjuk sebagai pemimpin redaksi Jawa Pos.

Dahlan memimpin dengan cara tersebut di atas. Hasilnya luar biasa. Ketika koran-koran memuat berita kriminal dari rilis polisi, Jawa Pos melakukan riset kriminologi. Riset dilakukan dalam beberapa jam.

Itu baru di satu berita. Padahal, setiap hari ada puluhan berita. Kualitas puluhan berita itu setara dengan berita yang ditugaskan ke saya. Semua atas penugasan dari Dahlan.

Itu baru satu hari. Sedangkan, Dahlan memimpin Jawa Pos sampai dengan ia ditunjuk negara jadi direktur utama PLN pada 2009. Atau, 27 tahun ia memimpin Jawa Pos. Dengan cara yang konsisten seperti itu.

Hasilnya, Jawa Pos menjadi perusahaan pers raksasa. Total aset puluhan triliun rupiah. Dahlan Iskan dijadikan tersangka oleh Polda Jatim karena laporan salah seorang HRD Jawa Pos sekarang.

Dari tulisan Dahlan Iskan yang dimuat di Disway kemarin, saya baru tahu. Bahwa takeover Jawa Pos pada 1982 dari pemilik lama The Chung Shen oleh PT Grafiti Pers, uang pembeliannya diminta lagi oleh Dirut PT Grafiti Pers (saat itu) Eric Samola. Pada 1984. Uangnya dikembalikan Eric ke kas PT Grafiti Pers lagi.

Uang itu dari hasil usaha Jawa Pos selama dua tahun sejak takeover. Dari koran tidak laku sebelum 1982 menjadi pembayar pengembalian dana takeover pada 1984. Sudah lunas. Sudah impas. Artinya, Grafiti sudah tidak bermodal duit lagi. Nol.

Maka, jika disebut bahwa Jawa Pos adalah Dahlan Iskan, sudah selayaknya disebut begitu. Kini orang di perusahaan yang dibesarkan Dahlan itu membikin Dahlan jadi tersangka kriminal.

Tulisan ini bisa dianggap membela Dahlan Iskan. Memang begitu. Dimuat di Disway lagi, yang didirikan Dahlan. Seperti membela diri di kandang sendiri.

Ya, pasti begitu.

Seumpama dibalik. Tulisan ini saya kirimkan ke Jawa Pos, karena isi tulisan menyangkut kilasan kisah di balik proses liputan berita Jawa Pos oleh wartawan Jawa Pos saat itu. Ya… naskahnya langsung dibuang. Sampah.

Atau, seumpama tulisan ini saya kirimkan ke media massa lain. Netral. Maka, media massa lain itu mikir. Sebab, seandainya memuatnya, mereka berarti berkonfrontasi dengan Jawa Pos. Apakah mau?

Inti tulisan ini: Jawa Pos adalah Dahlan Iskan. Tidak pantas orang Jawa Pos memolisikan Dahlan yang membesarkannya. (*)

Tags: Dahlan adalah jawa posDahlan Iskanharian diswayJawa PosJawa Pos adalah dahlan

Related Posts

Ridwan Monoarfa

Pilkada Langsung dan Makna Kedaulatan Rakyat

Monday, 19 January 2026
Basri Amin

Mahasiswa Merdeka

Monday, 19 January 2026
Peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW yang dirangkaikan dengan pencanangan gerakan membaca Al-Qur’an di kalangan ASN oleh Gubernur Gusnar Ismail, bertempat di Aula Rumah Jabatan Gubernur, Jumat (16/1/2025). (Foto : Dok-Pemprov/Valen)

Pemprov Gorontalo Memperingati Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW, Gubernur Gusnar Ismail Canangkan Gerakan ASN Pemprov Mengaji

Monday, 19 January 2026
Wali Kota Gorontalo, Adhan Dambea tengah melihat denah tanah Terminal 42 yang akan dijadikan kantor wali kota, Kamis (15/1/2026). (Foto: Pemkot Gorontalo)

Kantor Wali Kota Baru, Adhan Targetkan Rampung Sebelum 2029

Monday, 19 January 2026
Isra Mi’raj dan Pembangunan Masjid Raya

Isra Mi’raj dan Pembangunan Masjid Raya

Sunday, 18 January 2026
Personel Brimob Polda Gorontalo dibantu oleh masyarakat sekitar, melakukan perbaikan jembatan yang putus di Dusun Mohulo, Desa Molalahu, Kecamatan Pulubala, Kabupaten Gorontalo.

Gerak Cepat, Brimob Perbaiki Jembatan Putus di Pulubala

Friday, 16 January 2026
Next Post
--

Bonek Bonita

Discussion about this post

Rekomendasi

Dari 21 wanita dan waria yang dilakukan pemeriksaan, dua diantaranya positif sifilis.

Terjaring Razia, Dua Orang Positif Sifilis

Monday, 19 January 2026
Tiga tersangka kasus dugaan PETI Hutino, diserahkan kepada pihak Kejaksaan beserta barang buktinya atau tahap dua oleh pihak penyidik Reskrim Polres Pohuwato.

Tiga Tersangka PETI di Hutino Segera Diadili

Monday, 19 January 2026
Kajari Kota Gorontalo Bayu Pramesti, S.H., M.H., bersama jajarannya berpose di momen silaturahmi dengan rekan-rekan media/wartawan, jurnalis, aktivis, dan LSM, Rabu, (14/1/2026). (Foto: Istimewa)

Kejari Kota Tegas Perangi Korupsi, Gandeng Wartawan Dukung Informasi Penyimpangan Keuangan

Monday, 19 January 2026
Isra Mi’raj dan Pembangunan Masjid Raya

Isra Mi’raj dan Pembangunan Masjid Raya

Sunday, 18 January 2026

Pos Populer

  • Ketua Yayasan Kumala Vaza Grup, Siti Fatimah Thaib, bersama pemilik dapur dan Kepala SPPG Pentadio Barat secara simbolis menyerahkan CSR kepada pihak SMP 1 Telaga Biru, Rabu (14/1/2026). (F. Diyanti/Gorontalo Post)

    Dukung Program Presiden, Yayasan Kumala Vaza Grup Salurkan CSR ke 20 Sekolah

    80 shares
    Share 32 Tweet 20
  • Terjaring Razia, Dua Orang Positif Sifilis

    54 shares
    Share 22 Tweet 14
  • Tiga Tersangka PETI di Hutino Segera Diadili

    37 shares
    Share 15 Tweet 9
  • Modus Pesta Miras, Tiga Pria di Bone Bolango Tega Rudapaksa Gadis Belia

    50 shares
    Share 20 Tweet 13
  • Kemendikdasmen Salurkan Laptop untuk Sekolah Dasar Dukung Digitalisasi Pembelajaran

    192 shares
    Share 77 Tweet 48
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 2 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.