logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Persepsi

Orang Muda Kita

Lukman Husain by Lukman Husain
Monday, 19 May 2025
in Persepsi
0
Basri Amin

Basri Amin

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Oleh:
Basri Amin

 

SEBUAH harapan dan penyaksian. Dalam sebuah penerbangan dari kota Manado menuju Gorontalo beberapa tahun lalu. Wajah-wajah yang cerah. Lincah, efektif gerak-geriknya dan tampak profesional.

Saya duga, mereka rata-rata di usia 30-an tahun. Sepertinya mereka bekerja di sebuah instansi berkinerja tinggi. Saya menyaksikan gesture dan bahasa mereka dalam penerbangan singkat ini.

Related Post

Pertumbuhan Ekonomi Melesat Menuju Proses Crowding Out

TGR, Kini Mengikat dan Didahulukan

Sehat yang Sesat

Tambang Emas Pohuwato, Berkah atau Kutukan Sumber Daya Alam? Dari Enclave Ekonomi ke Pengukit Pertanian dan UMKM

Saya bangga melihat mereka. Tergambar wajah anak-anak bangsa yang sibuk bekerja untuk kejayaan negeri ini. Di ketinggian lima belas ribu kaki di jalur utara pulau Sulawesi, generasi baru Indonesia, menikmati kemerdekaan negerinya.

Tapi, apakah mereka adalah para pembaru dan pejuang heroik sebagaimana citra kaum muda Indonesia sejak tahun 1908, 1928, 1966 atau 1998? Kita sekian lama sepakat: riwayat pembaruan di negeri ini sangat identik dengan orang muda. Di jaman pergolakan, kita bahkan pernah memiliki kelompok pejuang fisik yang militan bernama Tentara Pelajar.

Zaman berubah cepat. Generasi silih-berganti. Tapi keindonesiaan adalah ikatan bersama. Dengan Indonesia kita menjadi “ada!” dan berarti. Dengan Indonesia, kita membayangkan sebuah kebesaran, sebuah bentangan cita-cita dan sebuah keragaman tiada tanding. Lalu, apakah arti semua itu terbenam sama di sanubari setiap warga bangsa?

Kini kita menyaksikan membesarnya “generasi net” yang mungkin tidak tertarik dengan heroisme “bambu runcing” para Pahlawan fisik. Bisa jadi pula mereka tidak lagi menikmati upacara bendera yang seru. Tetapi, kita tak pantas meragukan nasionalisme mereka. Justru di tangan dan dari kepala merekalah “daya saing” bangsa kita pertaruhkan.

Generasi baru Indonesia! Spontanitas yang mereka miliki adalah bagian dari energi kreatif yang membutuhkan ruang artikulasi. Hal ini dilandasi oleh naluri mencoba dan menguji-coba sesuatu yang tinggi.

Banyak penemuan besar di dunia dihasilkan oleh kalangan muda karena faktor keberanian mereka memulai sesuatu. Tak jarang, terutama di bidang teknologi, sport, dan seni, kita sering tercengang dengan pencapaian mereka.

Jiwa-jiwa merdeka mereka bergolak untuk merambah jalan-jalan baru dalam pemikiran dan penciptaan. Mereka tak mengenal lelah dan kalah…

Meski demikian, dalam situasi yang serba kreatif dan mengalir saat ini, tak jarang kalangan muda dilabeli dengan sesuatu yang agak bertolak belakang dengan pencapaian mereka. Masih sering kita mendengar tentang label “kekurangmatangan”, “kekurangdewasaan”, “masih hijau”, dst kepada kaum muda.

Ketika musim persaingan datang, masih sering terungkap dikotomi senior-yunior; yang “berpengalaman” dan yang “masih lagi!”. Jelas sekali bahwa ukuran umur adalah persoalan tersendiri bagi kaum muda.

Bukan karena “angka umur” itu sendiri yang jadi soal, melainkan nilai atau penilaian yang ter/di-tanam oleh setiap kelompok masyarakat dalam membangun pengetahuannya tentang apa dan siapa kaum muda itu. Dengan itu, takaran kiprah dan kepantasannya dalam memerankan diri kemudian dikonstruk secara sepihak.

Kemudaan, dengan demikian, adalah perkara pengetahuan dan pelembagaan praktik hidup. Di tahap tertentu, setidaknya bagi mereka yang berada di jalur usia yang kita kategorikan remaja dan yang berusia sekolah, mereka relatif pasif untuk kita defenisikan “profil” mereka dan nilai-nilai apa yang sepatutnya mereka jalani/terima.

Derajat ketergantungan mereka sangat menentukan tingkat “tekanan” yang mereka alami/terima atas nilai-nilai dan rujukan tertentu. Ikatan dengan rutinitas keluarga, ketergantungan finansial kepada orang tua, kegiatan persekolahan mereka, semuanya adalah penentu kondisional yang di satu sisi memberi “jaminan” dan “rasa aman”, tetapi di sisi lain mereka juga seringkali (merasa) terkekang dengan  potensialitas diri yang hendak mereka wujudkan.

Meski demikian, kita juga mustahil menutup mata bahwa banyak pula kaum muda kita –yang berada di tingkat remaja— yang lepas dari kekangan norma keluarga yang (dipandang) standar dan normal.

Mereka masuk dan terterima –-baik karena terpaksa atau karena pilihan ‘setengah’ sadar—di ruang-ruang pekerjaan informal (baca: pekerja anak), juga tak sedikit di antara mereka yang tercebur ke dalam jaringan kekerasan, terorisme, perdagangan manusia dan drugs, serta pekerja seksual komersial, dst.

Guncangan ikatan keluarga, tekanan hidup di perkotaan dan perdesaan, kejahatan siber dan jaringan radikalisme, afiliasi (praktik) keagamaan yang anti kamejemukan, semuanya campur-baur memberi dampak serius atas pilihan-pilihan atau pola-pola (hidup) kaum muda-remaja kita.

Hadiah demografi bagi Indonesia, hal mana secara sederhana dimaknai sebagai pembesaran usia produktif atau usia kerja secara siginifikan (15–64 tahun) pada periode tertentu, telah memberi tanda bahwa penduduk Indonesia adalah “modal utama” ke masa depan.

Hanya soalnya adalah bagaimana mengondisikan produktivitasnya dan mendayagunakan potensinya, agar berbuah kesejahteraan dan sekaligus sebagai kekuatan pembaruan yang berkelanjutan.

Menengok lapisan kaum muda kita yang lain, terutama yang kini sudah kita pandang sebagai “kelompok milenial”, sebagian besar “generasi X dan Z”, kemudian dengan cepat disusul dengan kecepatan generasi “Y” dan “Alpa”, kini mereka sebagian besar telah mengisi ruang-ruang pertarungan hidup yang mondial. Wajah-wajah mereka telah menghiasi media, memenangkan kompetisi-kompetisi hebat di tingkat dunia, membangun korporasi dan produk sendiri, berjejaring lintas bidang ilmu, bahkan lintas bangsa.

Dengan cara dan karakternya masing-masing, semua kluster generasi tersebut adalah kampion adopsi teknologi informasi dan komunikasi. Mereka adalah tulang punggung zaman “Internet of Things”. Sebagiannya bahkan sudah sangat mapan secara material dan demikian bernafsu menata dunia ini dengan “gaya”nya sendiri: lincah, spontan, acuh, instan, cair, informal, imajinatif, mobile, dst.

Kaum muda kita sewajarnya membangun tradisi keunggulannya berdasarkan prinspi ini. Tanpa itu, yang akan terjadi adalah membesarnya angka konsumsi (kolektif) kita dibandingkan dengan mentalitas produksi. Sesuai pengalaman keseharian kita, tabiat menjadi “penerima” atau “pembeli” amat terasa dibandingkan dengan girah kita menghasilkan sesuatu, apa pun itu bentuknya.

Di persekolahan kita, mental mencipta itu dibangun untuk sekadar menggugurkan daftar penugasan pelajaran. Sehingga, yang terjadi sesungguhnya hanyalah “mengerjakan” yang sudah ada, bukan “mencipta” yang baru (inovasi!), atau “mengolah yang sudah ada dengan cara-cara baru” (kreatif!). Cobalah perhatikan di sekitar kita.(*)

 

Penulis bekerja di Universitas Negeri Gorontal;
Lembaga Kajian Sekolah dan Masyarakat – LekSEMA
E-mail:
basriamin@gmail.com

Tags: basri aminHarian Persepsipersepsispektrum sosialtulisan basri amintulisan persepsi

Related Posts

Muh. Amier Arham

Pertumbuhan Ekonomi Melesat Menuju Proses Crowding Out

Thursday, 4 June 2026
Yusran Lapananda

TGR, Kini Mengikat dan Didahulukan

Tuesday, 26 May 2026
Basri Amin

Sehat yang Sesat

Monday, 25 May 2026
Tambang Emas Pohuwato, Berkah atau Kutukan Sumber Daya Alam?  Dari Enclave Ekonomi ke Pengukit Pertanian dan UMKM

Tambang Emas Pohuwato, Berkah atau Kutukan Sumber Daya Alam? Dari Enclave Ekonomi ke Pengukit Pertanian dan UMKM

Saturday, 23 May 2026
Optimalisasi Manajemen SDM Pendidikan: Mitigasi Burnout Tenaga Pendidik di Tengah Arus Digitalisasi

Optimalisasi Manajemen SDM Pendidikan: Mitigasi Burnout Tenaga Pendidik di Tengah Arus Digitalisasi

Saturday, 23 May 2026
Transformasi Manajemen Sekolah di Era Kecerdasan Buatan

Transformasi Manajemen Sekolah di Era Kecerdasan Buatan

Saturday, 23 May 2026
Next Post
Kuasa Hukum HH, saat memperlihatkan surat permohonan SP3 yang ditunjukkan ke Polda Gorontalo, kepada awak media, Ahad (18/5/2025) (Foto : . Natha/Gorontalo Post)

Kasus Dugaan Penipuan Mantan Pejabat Pemprov Diminta SP3

Discussion about this post

Rekomendasi

Pembukaan SPMB tahun 2026 tingkat Kota Gorontalo oleh Wali Kota Gorontalo, Adhan Dambea, Rabu (3/6/2026). (Foto: Prokopim)

SPMB Kota Gorontalo Dimulai, Adhan Tekankan Hapus Stigma Sekolah Favorit

Thursday, 4 June 2026
Muh. Amier Arham

Pertumbuhan Ekonomi Melesat Menuju Proses Crowding Out

Thursday, 4 June 2026
Rilis Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Gorontalo terkait NTP Gorontalo yang dipublikasikan pada 2 Juni 2026. (foto: tangkapan layar)

NTP Gorontalo Turun 3,06 Persen, Terdalam Diantara Provinsi di KTI

Thursday, 4 June 2026
Kapolda Gorontalo Irjen Pol. Drs. Widodo, S.H., M.H., menerima audiensi Wakil Ketua LPSK.

Kapolda Gorontalo Dukung Perlindungan Saksi-Korban

Thursday, 4 June 2026

Pos Populer

  • Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail semeja bersama para gubernur se sulawesi, dan Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, dalam kegiatan apresiasi Pemerintah Daerah di Kendari, Sulawesi Tenggara, baru-baru ini. (Foto : Istimewa)

    Gusnar Temui YSK Bahas Kredit ASN Pemkot, Pemotongan Gaji ASN Tetap Melalui Debit Otomatis

    43 shares
    Share 17 Tweet 11
  • Peringati Hari Lahir Pancasila, BRI BO Gorontalo Gelar Upacara, Tekankan Komitmen Melayani

    44 shares
    Share 18 Tweet 11
  • SPMB Kota Gorontalo Dimulai, Adhan Tekankan Hapus Stigma Sekolah Favorit

    13 shares
    Share 5 Tweet 3
  • Pertumbuhan Ekonomi Melesat Menuju Proses Crowding Out

    13 shares
    Share 5 Tweet 3
  • NTP Gorontalo Turun 3,06 Persen, Terdalam Diantara Provinsi di KTI

    13 shares
    Share 5 Tweet 3
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 3 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.