logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
Pemkot Gorontalo

Home Persepsi

Globalisasi dan Budaya Pop: Fenomena Trio Barbie

Jitro Paputungan by Jitro Paputungan
Friday, 3 May 2024
in Persepsi
0
Bunuh Diri, Agensi dan Kekuasaan

Samsi Pomalingo. (foto : dok/pribadi)

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Related Post

Dari Street Justice menuju Digital Justice

Pemilihan Kepala Daerah dan Arah Demokrasi Kita

Bupati-Bupati Kita

PETI di Boliyohuto Cs Semakin Marak, APH Apa Kabar?

Oleh :
Samsi Pomalingo

Tulisan menarik yang berjudul “Tri Barbie, Lalu Bagaimana” yang dimuat dalam MimozaTV, ditulis oleh seorang sosiolog ternama di Gorontalo berasal dari Universitas Negeri Gorontalo, Dr.FuncoTanipu, M.A. Tulisan ini menarik karena dari sekian banyak intelektual Gorontalo tak satu pun merespon fenomena Tri Barbie yang akhir-akhir ini mendapat sorotan dari berbagai pihak. Ada kelompok masyarakat yang pro dan ada pula yang kontra karena melihat “performance” Trio Barbie dianggap meresahkan.

Pertanyaannya, apa benar meresahkan? Dianggap meresahkan karena dinilai “offer confident“ dalam penampilan yang dianggap tidak etis. Nah tulisan ini bukan sebagai respon atas tulisan Dr.Funco Tanipu, melainkan sebagai keterpanggilan untuk melihat fenomena Trio Barbie dalam kajian studi budaya (cultural studie). Penulis tidak ingin terjebak dalam perspektif “hita-putih”, atau karena Gorontalo sebagai “Serambi Madinah” (yang tidak jelas indicator dan akar historisitasnya).  Apalagi sampai menghakimi Trio Barbie dengan labelisasi negatif, tapi seharusnya bagaimana kita bersikap secara arif dan bijaksana melihat dan membaca fenomena tersebut.

Fenomena Trio Berbie: Pendekatan Cultural Stuides

Fenomena Trio Barbie sebagai bagian dari Pop Culture atau budaya pop yang lahir dari globalisasi. Keberdaannya sama dengan Jappanesse Pop (J-POP), J-Rock, J-Hip Hop, K-POP, Hallyu atau Korean Wave dan kelompok musik lainnya yang berasal dari Jepang dan Korea. Walu pun tidak sekelas musik pop dari Jepang dan Korea, namun Trio Barbie lahir sebagai respon terhadap warna musik di Gorontalo (Glokalisasi). Mungkin saja keberadaan Trio Berbie sama dengan J-Pop dan K-Pop yang secara tegas menolak globalisasi-Amerikanisasi, ini hanya sekedar asumsi. Bisa saja salah.

Globalisasi telah memberikan dampak yang sangat besar terhadap berbagai aspek kehidupan di seluruh dunia. Hampir setiap negara di dunia saat ini pernah mengalami globalisasi. Korea Selatan, Amerika, Taiwan dan Jepang menjadi negara di dunia yang dapat memanfaatkan peluang dan peluang tersebut untuk memperkenalkan budayanya melalui globalisasi dan kemajuan teknologi.

Globalisasi juga tidak muncul secara tiba-tiba pada akhir abad ke-20, sebagai ancaman terhadap keragaman budaya yang disebabkan oleh kekuatan hegemoni modernitas yang didorong oleh pasar. Tekanan globalisasi selalu menghantui kita. Tidak mengherankan jika tidak ada hal baru di bawah matahari. Globalisasi telah terjadi sebelumnya. Misalnya saja Anak benua India telah menjadi penerima dan pemberi pengaruh internasional jauh sebelum Internet dan bursa saham mengikat kita semua dalam sebuah system intelektual, mungkin “pseudo-intelektual”, system ekonomi yang sering kali serakah, bersih atau bertautan.

Gagasan World Wide Web adalah metafora modern untuk keterhubungan yang melekat pada semua makhluk hidup, roda Samsara terus berputar. Tidak mengherankan jika India sudah selangkah lebih maju dalam bidang teknologi informasi dengan simbol-simbolnya yang tidak asing.Tak heran ada yang demam india (musik dan tariannya), apalagi dengan mega bintangnya Shah Rukh Khan dan Kajol yang menjadi idola para pecinta musik dan tarian india.

Budaya popular melambangkan globalisasi. Homogenisasi dan diversifikasi budaya merupakan hasil globalisasi. Homogenisasi budaya adalah akibat dari imperialisme budaya di mana negara-negara dominan memaksakan keyakinan, nilai-nilai dan perilaku mereka kepada negara lain. Sebaliknya, globalisasi akan membawa budaya yang terdiversifikasi karena menawarkan peluang pertukaran budaya yang dapat membantu meningkatkan toleransi dan keberagaman.

Globalisasi budaya dapat mengakibatkan globalisasi yang dibayar atas kepercayaan, nilai-nilai dan perilaku. Hal ini mencakup hilangnya warisan budaya asli, memori budaya, kedaulatan budaya nasional, dan identitas budaya. Ini yang terjadi pada fenomena Trio Barbie. Tapi harus diingat, Ronghua (2004) percaya bahwa diversifikasi budaya pada akhirnya akan mendorong kemajuan masyarakat secara keseluruhan, sementara Hu (2000) mendalilkan bahwa konservasi warisan budaya berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi, meningkatkan efektivitas upaya pembangunan dan meningkatkan kualitas hidup warga negara dan kewarganegaraan.

Gambaran singkat soal globalisasi dan budaya pop, sangat jelas “mengingatkan” kita akan kehidupan saat ini yang berbeda dengan kehidupan di masa lampau. Globalisasi merupakan gambaran masa depan, dimana oleh Samuel Hantington (1927-2008) menggambarkan sebagai gejala kehidupan yang penuh dengan ketidakteraturan atau clash of civilization. Budaya senantiasa dibentur-benturkan dengan agama, dimana agama dan budaya seringkali diletakan dalam kerangka Vis a Vis. Agama dianggap sebagai instrument absolute dalam melegitimasi benar salah. Seakan kebenaran absolute hanya menjadi milik tunggal agama.

Saat ini tak satu pun negara atau masyarakat yang bisa menolak kehadiran globalisasi. Globalisasi jangan dilihat sebagai ancaman dalam kehidupan social atau agama. Globalisasi lahir sebagai “identitas” dari satu masyarakat modern dengan segala keunikannya. Salah satu keunikan itu ada pada kelompok musik Trio Berbie. Gelombang Korea dan Jepang dalam produksi music popnya banyak memengaruhi masyarakat Asia terutama Indonesia. Masih ingat goyang gangnam style dari Korea Selatan tahun 2012, yang mampu menghipnotis kebanyakan masyarakat Indonesia.

Trio Berbie dan Resistensi Gaya Hidup

Fenomena Trio Barbie di Gorontalo tidak lepas dari perkembangan musik di tanah air. Mereka tampil dengan identitas yang dinilai sebagai representasi dari trans gender. Terlepas dari pro dan kontra, penampilan mereka sebagai bentuk dari “kebebasan berekspresi” dimana hal itu dilindungi oleh Undang-undang. Walau pun disisi lain dianggap sebagai bentuk penyimpangan (sosial deviation).

Tapi disisi lain hal ini dianggap sebagai gaya hidup (life style). Budaya atau gaya hidup bisa dibilang sebagai resistensi pada sesuatu yang biologis. Misalnya saat orang mulai memikirkan pelbagai varian baru seperti pola seksualnya, atau mungkin menyisipkan hal-hal spiritual disana, kemudian berkecenderungan untuk mengeksplorasi ruang kenikmatan, justru disanalah ia mulai berbudaya. Hal yang sama juga dilakukan oleh Trio Berbie dengan segala kontroversialnya.

Pertanyaannya sekarang adalah apakah resistensi masih dimungkinkan di abad kedua puluh satu saat ini, saat gaya hidup manusia sejak dari makan sampai seks ditentukan oleh biro-biro iklan sebagai perpanjangan tangka kekuatan kapital. Masih adakah ruang bagi kita untuk berefleksi dan melakukan resistensi terencana. Sekilah ini sulit untuk dilakukan. Apalagi Ketika ruang dan waktu kita disesaki oleh simulasi media yang melumpuhkan indra pembeda kita. Gaya hidup menyembunyikan apa yang sesungguhnya berupa akumulasi modal, paling tidak modal budaya dan simbolik.

Lagi-lagi kita diperhadapkan dengan pertanyaan kritis tentang sedemikian sempitkah ruang resistensi atas dominasi gaya hidup yang disokong oleh sturuktur kapital. Para intekektual dan teoretikus Brimingham seperti Richard Hoggart dan Stuart Hall memandang dominasi gaya hidup tidak pernah total. Budaya atau gaya hidup popular bukan ajang “dominasi” melainkan“kontestasi”. Apa yang dilakukan oleh Trio Berbie, dalam perspektif cultural studies (kajianbudaya) sebagai bentuk kontestasi dalam produksi musik demi popularitas atas gaya hidup.

Fenomena Trio Berbiedengan performance yang dimilikinya bertujuan untuk membedakan diri, menunjukan sebuah pola konsumsi yang berdasarkan pada perlawanan terhadap arus mainstream. Pola konsumsi inilah yang dikenal dengan sebutan “alternatif”. Masyarakat Gorontalo sering disuguhkan dengan pola konsumsi music yang menoton. Trio Berbie tampil beda dengan penampilan music lainnya saat hajatan seperti pernikahan atau lainnya. Sangat jelas, apa yang dilakukan Trio Berbie sebagai perlawanan untuk menolak identifikasi yang sifatnya taken for granted pada identitas-identitas lainnya. Ungkapan “saya ada, maka saya bergaya”, sebagai pemaknaan diri melalui “identitas”. Mano Braco, Madam dan Kikan (Trio Berbie), menemukan identitas sebagai bentuk perlawanan terhadap struktur kapitalisme global, namun tidak sadar, mereka justru terjerat oleh kaki tangan globalisasi.

Lalu, Bagaimana Menyikapinya?

Fenomena Trio Berbie harus dilihat sebagai identitas“pop culture” (budaya pop) yang tengah bersaing (kontestasi dan kompetisi) dengan penyanyi lainnya di Gorontalo. Alasan bahwa Gorontalo sebagai “Serambi Madinah” yang menjadi salah satu variable dari beberapa variable lainnya seperti system nilai yang dimiliki oleh Gorontalo, yang kemudian dijadikan sebagai instrument untuk menjudge (mengadili atau menghukumi) penampilan Tri Berbie bukan sesuatu yang keliru.

Sebab hal itu diyakini sebagai modal sosial yang dijadikan sebagai postulat untuk menjaga keteraturan dalam masyarakat. Namun harus dingat bahwa kita harus bijak dan merata dalam mengadili setiap yang dapat menimbulkan keresahan di tengah masyarakat. Menghukumi Trio Berbie dengan kebencian, bullying, kekerasan verbal sebagai bentuk dari kekersan simbolik, juga tidak bisa diterima.

Dalam agama, pesan-pesan seperti ta’murunabilma’rufwatanhauna anil munkar (menyeru pada kebaikan dan mencegah kemungkaran) merupakan pesan teologis yang harus dipahami secara sistematik. Perintah “ta’murunabilma’ruf” lebih didahulukan ketimbang “tanhauna anil munkar”. Ini mengandung makna bahwa menyeru kebajikan itu harus didahulukan, seperti menasehati atau mengarahkan seseorang untuk melakukan banyak kebajikan.

Bukan sebaliknya mencegah kemungkaran dengan cara menghakimi, menghukumi, melakukan tindakan kekerasan (fisik dan verbal). Agama atau beragama tidak seperti itu. Menghakimi dan menghukumi atas sikap seseorang sebagai bentuk lemahnya intelektualitas dan spiritualitas seseorang. Bukan dengan cara itu, seyogyanya pendekatan humanistic harus digunakan dalam membaca dan menangani Trio Berbie. Memberikan penjelasan dan bimbingan akan lebih humanistic dari pada membully mereka.

Agama dan budaya kita tidak menghendaki praktik-praktik yang tidak manusiawi. Pendekatan humanistic merupakan perwujudan dari konsep“gala’a atau“motolongala’a”dalam masyarakat Gorontalo. Sebagai system nilai, harusnya ini menjadi referensi dalam  menyelesaikan masalah, bukan dengan cara-cara yang justru menjauhkan Trio Berbie dari “gala’a. semoga. (*)

Penulis adalah tenaga pengajar di Universitas Negeri Gorontalo

Tags: fenomena trio berbieglobalisasigorontaloSerambi Madinahtransgendertrio berbietrio berbie viral

Related Posts

Ahmad Zaenuri

Dari Street Justice menuju Digital Justice

Wednesday, 14 January 2026
Menelusuri Jejak Akomodasi Budaya dalam Simbolisme Masyarakat Gorontalo   

Menelusuri Jejak Akomodasi Budaya dalam Simbolisme Masyarakat Gorontalo  

Wednesday, 14 January 2026
Ridwan Monoarfa

Pemilihan Kepala Daerah dan Arah Demokrasi Kita

Monday, 12 January 2026
Basri Amin

Bupati-Bupati Kita

Monday, 12 January 2026
PETI di Boliyohuto Cs Semakin Marak, APH Apa Kabar?

PETI di Boliyohuto Cs Semakin Marak, APH Apa Kabar?

Friday, 9 January 2026
Yusran Lapananda

Tahun Baru, KUHAP Baru & KUHP Baru

Tuesday, 6 January 2026
Next Post
Amran -Irwan Kompak Berkemeja Putih Daftar ke Nasdem

Amran -Irwan Kompak Berkemeja Putih Daftar ke Nasdem

Discussion about this post

Rekomendasi

Tiga pelaku kekerasan seksual di amankan Polres Bone Bolango, Kamis (15/1/2026) Foto: Natharahman/ Gorontalo Post.

Modus Pesta Miras, Tiga Pria di Bone Bolango Tega Rudapaksa Gadis Belia

Friday, 16 January 2026
Irjen Pol Widodo

Kapolda Kaget PETI Dekat Mapolres, Picu Banjir di Pohuwato, Pastikan Penindakan

Thursday, 15 January 2026
Lodrik Dantene Kepala Desa Londoun, Kecamatan Popayato Timur, Kabupaten Pohuwato. Saat di wawancarai

Ekonomi Masyarakat Desa Londoun Meningkat, Tenaga Kerja Banyak Diserap PT BJA

Wednesday, 21 February 2024
Kapolda Gorontalo Irjen Pol. Widodo, S.H., M.H., didampingi Kapolres Pohuwato, AKBP H. Busroni,S.I.K.,M.H., Wakil Bupati Pohuwato, Iwan S. Adam dan sejumlah pejabat daerah serta PJU Polda Gorontalo, meresmikan layanan SIM dan Samsat Drive Thru.

Layanan SIM dan Samsat Drive Thru, Digagas Kapolres Pohuwato, Jadi yang Pertama di Gorontalo

Saturday, 17 January 2026

Pos Populer

  • Para pejabat pimpinan tinggi pratama di lingkungan Pemprov Gorontalo yang menajalani pelantikan, berlangsung di ruang dulohupa kantor gubernur, Senin (12/1). (foto: tangkapan layar)

    BREAKING NEWS: Gusnar Lantik 25 Pejabat Pemprov, Berikut Nama-namanya

    590 shares
    Share 236 Tweet 148
  • Dukung Program Presiden, Yayasan Kumala Vaza Grup Salurkan CSR ke 20 Sekolah

    79 shares
    Share 32 Tweet 20
  • Kemendikdasmen Salurkan Laptop untuk Sekolah Dasar Dukung Digitalisasi Pembelajaran

    188 shares
    Share 75 Tweet 47
  • Modus Pesta Miras, Tiga Pria di Bone Bolango Tega Rudapaksa Gadis Belia

    47 shares
    Share 19 Tweet 12
  • Bupati-Bupati Kita

    50 shares
    Share 20 Tweet 13
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 2 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.