logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
Pemkot Gorontalo

Home Persepsi

Kepalsuan di Kota-Kota Kita

Lukman Husain by Lukman Husain
Monday, 4 March 2024
in Persepsi
0
Basri Amin

Basri Amin

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Oleh:
Basri Amin
Parner di Voice-of-HaleHepu

 

BANYAK kota yang kelihatan sibuk tapi sesugguhnya dari waktu ke waktu tak punya arah dan jalan masa depan yang berjangka panjang. Banyak kota yang menampung banyak aparat, pejabat dan kapital, tapi selalu terkesan tidak beroleh “kepemimpinan” yang otentik memihak kepada gagasan perbaikan dan kerja-kerja bermakna bagi semua golongan masyarakat.

Kota sejatinya di bangun di atas sejarah, gagasan, aksi-aksi pembaruan yang berani, dan gerakan tertentu. Meski setiap kota tetaplah mempunyai semacam “luka” yang membutnya perih, entah itu sebuah luka di masa lalu dan/atau di masa kini, tapi kota tetaplah merupakan pencapaian kebudayaan manusia yang tinggi.

Related Post

Pilkada Langsung dan Makna Kedaulatan Rakyat

Mahasiswa Merdeka

Isra Mi’raj dan Pembangunan Masjid Raya

Dari Street Justice menuju Digital Justice

Tak heran kalau orang cenderung menyenangi kota dan berlomba-lomba untuk tinggal di kota, menjadi warga yang urbanized.

Kota yang jujur selalu menyadarkan tentang keaslian (perangai) kita. Begitu banyak harapan kepada setiap kota yang kita bangun. Demikian juga dengan daftar keluhan dan persoalan. Untuk memenuhi setiap harapan, sepertinya cara “menyicil” merupakan pilihan, agar kota-kota kita tidak sesak nafas dengan harapan-harapannya sendiri.

Beban yang terus membesar membutuhkan penyikapan, pelibatan dan penyesuaian tindakan dan cara bernalar. Jika tidak, yang kita bangun hanyalah sebuah kota yang berisi keramaian dan kerumunan. Kota seperti ini pada akhirnya hanya akan mewariskan “luka” yang terus menganga

Masa depan sebuah kota terlalu penting untuk hanya diserahkan kepada pemerintah. Apalagi, jika perangai yang dibangun oleh pemerintah kota lebih banyak memproduksi “kata-kata” dan “piagam-piagam” lencana, tapi tidak sepenuhnya memperlihatkan kerelaan cerdas untuk “belajar” dengan tuntas, agar lebih memahami yang rinci dan mampu memungut masukan-masukan dan jalan-jalan (keluar) yang kreatif atas setiap persoalan.

Tidak semua kota sukses memelihara modalnya yang unik, yakni keterbukaan dan kejujurannya dalam menemukan kesalahan. Ada kesan yang kuat, pemerintah kota-kota di negeri ini lebih sibuk menebar “tontonan” dan kesan-kesan yang dangkal –-termasuk beragam gaya seremoni— daripada sungguh-sungguh mengerahkan kemampuan tata-kelola terbaiknya dan dengan sikap itu pula ia rela berkeringat untuk perbaikan-perbaikan mendasar.

Kata-kata yang disertai angka-angka tentang kemajuan sebuah kota hanyalah lapisan luar dari apa-apa yang sesungguhnya terjadi dalam masyarakatnya. Tak perlu kita berbasa-basi bahwa kota-kota kita masih menampung angka kemiskinan yang lumayan; demikian juga dengan rentannya rasa aman dan nyaman di berbagai sudut.

Di luar itu, kriminalitas dan penggunaan narkoba sejak awal sudah menyasar berbagai segmen; belum lagi dengan premanisme dan beragam illegalitas lainnya. Dan pada saat yang sama roda pasar dan sektor perdagangan memaksa pemanfaatan ruang di perkotaan, tidak jarang membuahkan gesekan dan guncangan di sudut-sudut perparkiran, pertokoan, dan perumahan.

Setiap jengkal ruang kota hendaknya dipastikan status dan kontribusi (fungsionalnya) dalam pembangunan perkotaan kita. Dengan begitu, “tata ruang” tidak sekadar gincu dari motif kita yang sebenarnya, yakni “tata uang”.

Di kota, antara ruang dan uang sudah sangat tumpang-tindih. Di sinilah letaknya mengapa kuasa (pemerintah) mudah digeser oleh kuasa-kuasa “lain” di luar dirinya, terutama karena kepentingan penguasaan ruang merupakan kekuatan paling keras yang menekan (otoritas) negara di perkotaan. Jika ini tidak disadari sejak awal dengan memadai, maka sebuah kota tak lagi punya ruh dan identitas. Ia tak lebih sebagai tumpukan pemukiman, pertokoan, dan tempat hiburan saja yang disesaki dengan gedung, gudang dan gugusan komoditi, orang dan kendaraan yang lalu-lalang.

Pertumbuhan kota-kota baru di dunia, terutama di Asia, menjadi bukti nyata atas sejarah baru ini. Secara teknis, hanya dalam ukuran 15-20 tahun, sebuah wilayah yang tandus dan pinggiran, bisa menjadi kota yang subur dan aktif. Sekali arus manusia, barang, modal, informasi dan transportasi bergerak bersama, kota pun akan tumbuh dengan “otomatis”. Beberapa kota (pulau) di Asia misalnya, memperlihatkan gejala positif ini. Kota ibarat “gula” dan yang lainnya akan berposisi sebagai “semut” yang mengikuti.

Sekian kali saya berada di Yogyakarta, Bandung, dan Malang, menyaksikan dengan amat jelas betapa kota ini menjadi “magnet” besar yang unik di sektor pendidikan dan kebudayaan. Semua kita tahu, Yogyakarta misalnya, sudah sangat lama berperan sebagai kota pelajar. Atmosfir sosialnya sudah terbangun sejak awal. Tak heran kalau kota ini menjadi oase perjumpaan yang “istimewa” antara modernisme dan tradisi. Sehingga, antara yang mondial dan yang lokal bisa berbagi secara kreatif, sekaligus mengajak untuk saling mengajukan pertanyaan dan rencana-rencana.

Sebagai sebuah kota yang sudah “matang”, Yogya pun tentu saja tak pernah bebas dari “beban” baru yang terus bertambah dan mengepungnya. Tapi karena kematangan (identitas) kotanya, tak heran kalau setiap orang di Yogya -–dalam kesan umum saya–, sadar atau tidak, sepertinya terlatih mengemban tugas-tugas keindonesiaan di satu sisi, tapi juga mengerjakan diri melakoni amanah-amanah global-nya di sisi lain, yakni sebagai bagian dari dunia dan sebagai anak negeri yang datang dari ratusan daerah di negeri ini. Semua bekerja! Semua sibuk untuk maju!

Bagaimana dengan kota Anda?***

Penulis adalah
Anggota Indonesia Social Justice Network (ISJN)
E-mail: basriamin@gmail.com

Tags: basri aminParner di Voice-of-HaleHepupersepsispektrum sosialTulisan Basritulisan persepsi

Related Posts

Ridwan Monoarfa

Pilkada Langsung dan Makna Kedaulatan Rakyat

Monday, 19 January 2026
Basri Amin

Mahasiswa Merdeka

Monday, 19 January 2026
Isra Mi’raj dan Pembangunan Masjid Raya

Isra Mi’raj dan Pembangunan Masjid Raya

Sunday, 18 January 2026
Ahmad Zaenuri

Dari Street Justice menuju Digital Justice

Wednesday, 14 January 2026
Menelusuri Jejak Akomodasi Budaya dalam Simbolisme Masyarakat Gorontalo   

Menelusuri Jejak Akomodasi Budaya dalam Simbolisme Masyarakat Gorontalo  

Wednesday, 14 January 2026
Ridwan Monoarfa

Pemilihan Kepala Daerah dan Arah Demokrasi Kita

Monday, 12 January 2026
Next Post
Marten Taha

Jelang Bulan Suci Ramadhan, Pemkot Fokus Kendalikan Inflasi

Discussion about this post

Rekomendasi

Dari 21 wanita dan waria yang dilakukan pemeriksaan, dua diantaranya positif sifilis.

Terjaring Razia, Dua Orang Positif Sifilis

Monday, 19 January 2026
Tiga tersangka kasus dugaan PETI Hutino, diserahkan kepada pihak Kejaksaan beserta barang buktinya atau tahap dua oleh pihak penyidik Reskrim Polres Pohuwato.

Tiga Tersangka PETI di Hutino Segera Diadili

Monday, 19 January 2026
Ridwan Monoarfa

Pilkada Langsung dan Makna Kedaulatan Rakyat

Monday, 19 January 2026
Kajari Kota Gorontalo Bayu Pramesti, S.H., M.H., bersama jajarannya berpose di momen silaturahmi dengan rekan-rekan media/wartawan, jurnalis, aktivis, dan LSM, Rabu, (14/1/2026). (Foto: Istimewa)

Kejari Kota Tegas Perangi Korupsi, Gandeng Wartawan Dukung Informasi Penyimpangan Keuangan

Monday, 19 January 2026

Pos Populer

  • Ketua Yayasan Kumala Vaza Grup, Siti Fatimah Thaib, bersama pemilik dapur dan Kepala SPPG Pentadio Barat secara simbolis menyerahkan CSR kepada pihak SMP 1 Telaga Biru, Rabu (14/1/2026). (F. Diyanti/Gorontalo Post)

    Dukung Program Presiden, Yayasan Kumala Vaza Grup Salurkan CSR ke 20 Sekolah

    80 shares
    Share 32 Tweet 20
  • Terjaring Razia, Dua Orang Positif Sifilis

    76 shares
    Share 30 Tweet 19
  • Tiga Tersangka PETI di Hutino Segera Diadili

    59 shares
    Share 24 Tweet 15
  • Modus Pesta Miras, Tiga Pria di Bone Bolango Tega Rudapaksa Gadis Belia

    50 shares
    Share 20 Tweet 13
  • Kapolda Kaget PETI Dekat Mapolres, Picu Banjir di Pohuwato, Pastikan Penindakan

    36 shares
    Share 14 Tweet 9
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 2 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.