GORONTALO – GP – Pipa berdiameter 6 inch dengan panjang 10 cm, disulap bak akuarium mini. Terdapat penggalan mirip batu karang kering, bunga plastik warna hijau, beragam perintilan warna-warni yang ditempelkan pada diding dalam pipa. Seorang perajin, bernama Ishak Said, begitu cekatan menempelkan perintilan-perintilan itu, ke dinding pipa menggunakan Gun Stick Listrik sebagai alat untuk merekatkan lem. “Harus pakai alat (gun stik listrik), kalau tidak, nggak bisa dilem,”kata Ishak, ditemui Minggu (28/1), di rumahnya di Desa Ilomata, Kecamatan Bulango Ulu, Bone Bolango.
Rumah Ishak Said, juga sebagai tempat usahanya, berupa bengkel seni, dan kios kelontong. Untuk datang ke tempat Eka, cukup mengundang andrenalie. Wilayah Kecamatan Bulango Ulu, merupakan salah satu wilayah terisolir di Bone Bolango. Butuh waktu tempuh kurang lebih dua jam dari Kota Gorontalo. Selain akses jalan yang sulit, listrik, dan akses telekomunikasi merupakan hal yang dirindukan puluhan tahun oleh masyarakat setempat. Energi listrik dari PLN baru masuk wilayah ini pada tahun 2017 yang lalu.

Kehadiran listrik, membuka isolir di wilayah yang kini sedang dibangun bendung raksasa itu, pemerintah menghadirkan jaringan listrik tegangan menengah sebesar 20 KV, dengan panjang sambungan 10,6 kilometer sirkuit (kms) di Desa Owata, dan Desa Mongiilo, Kecamatan Bulango Ulu di tahun 2017. Secara bertahap ketersediaan listrik di Bulango Ulu terus dipenuhi, hingga akhir tahun 2022, seluruh desa dan dusun di Bulango Ulu, sudah terjangkau listrik PLN. Terakhir, pada desember 2022, pemerintah melalui PLN menyelesaikan misi melistriki pelesok Bulango Ulu itu, hingga ke dusun III Desa Mongiilo Utara.
Di kampung Ishak Said, listrik hadir setahun setelah beberapa desa di Kecamatan Bulango Ulu dialiri listrik, yakni di awal tahun 2018, atau setelah Desa Owata, dan Desa Mongiilo tersambung listrik. Masyarakat begitu antusias, perubahan drastis terjadi di seluruh desa. “Alhamdulillah, perubahan sangat terasa. Kehadirkan listrik membuat desa kami tak lagi gelap, semua rumah sudah tersambung listrik PLN, sudah moderen,”kata Eka, sapaan Ishak Said.
Jebolan STM Gorontalo tahun 2005 ini mengatakan, dampak pertumbuhan ekonomi masyarakat yang begitu terasa. Misalnya yang ia alami sendiri. Sebagai desa yang tak punya listrik, warga desa kata dia nampak begitu tertinggal, informasi dan perkembangan teknologi praktis tak diperoleh. Yang dilakukanya, hanya bisa membuka kios kelontong dengan menjual bahan-bahan pokok kebutuhan harian ala kadarnya, itu cara dia menggerakkan ekonomi keluarganya, sebab ia tak memiliki keahlian untuk bertani seperti mayoritas warga di desanya.
Semua berubah saat 2018, energi berama listrik itu mulai masuk ke rumah-rumah di desanya. Bekal yang diperolehnya dari bangku STM mulai dimanfaatkannya, ia membuka bengkel cutting stiker, dan membuat beragam kerajinan tangan yang hanya bisa dikerjakan dengan bantuan energi listirik, termasuk mini akuarium yang berbahan pipa 6 inch itu. “Alhamdulillah, ada saja yang pesan (akuarium) dari luar kampung, sebagai hiasan di ruang tamu,”katanya. Termasuk bisnis cutting stiker yang ia jalankan, juga mendapat peminat.
Rupanya, Eka tak saja memajang berbagai kerajinan itu di etalase kiosnya, untuk dijual, tapi juga menggunakan media sosial untuk menggaet pelanggan dari luar desa. “Saya posting di facebook, banyak yang pesan, makanya saya juga buat terus. Coba kalau belum ada listrik, tidak ada kerajinan ini, saya juga belum bikin facebook, Alhamdulillah, semua berjalan lancar berkat adanya listrik,”ujarnya. Kios kelontongnya juga sudah dilengkapi dengan mesin pendingin show case, bahkan kini ia bermitra dengan sebuah perusahaan distributor barang elektronik, untuk memasarkanya di wilayah bulango ulu. “Kalau dipersentasikan (peningkatan ekonomi) buat saya itu bisa 200 persen atau lebih. Saya merasakan betul manfaat listrik. Bukan hanya saya, masyarakat Bulango Ulu ini juga begitu,”kata Eka.
Sekarang kata dia, para tukang yang awalnya menggunakan sekap kayu tradisional, kini sudah beralih ke sekap kayu listrik, sehingga pekerjaan cepat tuntas. Kios-kios warga yang lainya, juga menjual es yang tak pernah ada sejak listrik belum masuk ke Bulango Ulu. “Ada yang jualan minuman es, hanya tekan tombol di mesin blender, minuman es-nya jadi, cepat sekali,”ujar Eka. Kini, lanjut Eka, jaringan komunikasi berupa saluran internet desa juga turut andil membuka isiloasi. “Warga sudah menggunakan televisi, ada juga jaringan wifi, sehingga saya juga bisa jualan lewat media sosial,”tandasnya. Bahkan, di desanya, ada glamping tepi sungai yang fenomenal. Wisata di tempat ini menawarkan keindahan alam, arung jeram, hingga kuliner khas desa. “Mulai dikenal setelah diviralkan lewat media sosial. Anak-anak muda desa yang mengelolanya,”kata Eka.
Kepala Desa Mongiilo Utara Mahmud Supu, juga mengaku perubahan drastis terjadi di desanya setelah listrik masuk desa. Roda perekonomian di desanya berputar cepat, sejumlah usaha mikro mengandalkan energi listrik tumbuh dengan pesat. “Alhamdulillah pak, kami sangat berterima kasih, sudah menghadirkan listrik di desa kami,”kata Kades Mahmud Supu.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memang terus menggenjot program elektrifikasi di seluruh Indonesia, tak terkecuali di Gorontalo. Secara nasional di tahun 2022, rasio elektrifikasi berada pada angka 99,67 persen, dan tahun ini meningkat hingga mencapai 99,83 persen. Bahkan ditargetkan, akhir tahun 2024, rasio elektrifikasi dan rasio desa berlistrik mencapai 100 persen. Pada tahun 2022 program elektrifikasi telah tuntas di Gorontalo, dimana sebanyak 26 desa/dusun yang belum menikmati listrik disaat itu, telah tertangani, dengan adanya pembangunan jaringan tegangan menengah sepanjang 32.71 Kms, jaringan tegangan tendah sepanjang 36.05 Kms, dan 28 unit gardu distrubusi kapasitas 1.450 KVA, dengan jumlah pelanggan tercatat kurang lebih 525 pelanggan dari total 876 calon pelanggan.
Manger UPPK PLN Provinsi Gorontalo, Anshar, mengatakan terlaksananya listrik menembus pelosok di Gorontalo, tak lepas dari dukungan pemerintah melalui Kementerian ESDM dan Pemerintah Daerah, dan peran serta langsung dari masyarakat sekitar ikut membantu PLN. Misalnya dalam hal merelakan pohon-pohon produktif atau tanaman hias milik warga dilewati jaringan listrik baru tersebut untuk dipangkas atau ditebang. “Dukungan masyarakat dan pemerintah daerah sangat membantu suksesnya program ini,”ungkap Anshar. Kini, energi punya semua, benar-benar dinikmati masyarakat. Listrik, tak hanya ada di kota, tapi semua pelosok di Gorontalo, telah menikmati manfaat energi. (tro)











Discussion about this post