logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
Pemkot Gorontalo

Home Persepsi

Menguji Kemampuan Keuangan Daerah sebagai Syarat Penganggaran atau Syarat Pembayaran

Lukman Husain by Lukman Husain
Tuesday, 30 January 2024
in Persepsi
0
Yusran Lapananda-

Yusran Lapananda-

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Oleh:
Yusran Lapananda
Penulis adalah Ahli Keuangan Daerah

 

Frasa Kemampuan Keuangan Daerah (KKD) menghiasi beberapa peraturan perundang-undangan (PPU) Indonesia. Bukan itu saja KKD menjadi bahan diskusi diberbagai ruang publik baik ruang akademis, ruang “pokrol”, ruang-ruang pemerintahan daerah, ruang sidang pengadilan hingga ruang-ruang publik milik masyarakat. KKD didiskusikan akibat ketidakmampuan Pemda-Pemda dalam menganggarkan TPP (Tambahan Penghasilan Pegawai ASN) & ketidakmampuan Pemda-Pemda membayar TPP.

Dalam berbagai referensi PPU, frasa KKD menyebar dibebarapa PPU, namun hanya beberapa PPU terkait yang dijadikan dasar dalam memaknai KKD dalam TPP. PPU tersebut yakni UU 1 Thn 2022 ttg Hubungan Keuangan antara Pemerintahan Pusat & Pemerintah Daerah, PP 12 Thn 2019 ttg Pengelolaan Keuangan Daerah, PP 18 Thn 2017 ttg Hak Keuangan & Administratif Pimpinan & Anggota DPRD & Permendagri 62 Thn 2017 ttg Pengelompokan KKD serta Pelaksanaan & Pertanggungjawaban Dana Operasional.

Related Post

Isra Mi’raj dan Pembangunan Masjid Raya

Dari Street Justice menuju Digital Justice

Pemilihan Kepala Daerah dan Arah Demokrasi Kita

Bupati-Bupati Kita

Pemda-Pemda salah kaprah dalam memaknai KKD. Pemda-Pemda menonjolkan & menggunakan makna KKD kala akan membayar TPP. Pemda-Pemda tak mampu bayar atau tak akan membayar TPP dengan alasan karena KKD tak mampu. Padahal makna KKD itu bukan pada saat membayar TPP & kewajiban daerah lainnya, tapi makna KKD digunakan saat penganggaran atau penyusunan APBD.

Pemda-Pemda memaknai KKD dalam TPP dari rumusan Pasal 58 PP 12 Thn 2019 yang menerangkan, Pemda dapat memberikan TPP dengan memperhatikan KKD. Sesungguhnya rumusan Pasal ini tak relevan lagi dengan rumusan dalam UU 1 Thn 2022 yang menjelaskan, TPP sebagai belanja pegawai berupa kompensasi kepada ASN sudah termasuk dalam alokasi TKD (Transfer Ke Daerah) seperti DAU & DBH yang ditransfer oleh pemerintahan pusat setiap bulan kedaerah-daerah melalui RKUD (Rekening Kas Umum Daerah).

Sehingga tak ada alasan apapun bagi Pemda-Pemda untuk tidak menganggarkan TPP dalam APBD dengan alasan KKD. Tak ada alasan bagi Pemda-Pemda tak memabayar atau menunda pembayaran TPP karena alasan KKD.

TAFSIR KKD SEBAGAI SYARAT PENGANGGARAN

Dengan menggunakan metode interpretasi atau penafsiran komparatif/perbandingan maupun penafsiran atau interpretasi sistematis/logis, maka makna KKD secara jelas diatur dalam PP 18 Thn 2017 & Permendagri 62 Thn 2017. Pada Pasal 1 angka 4 Permendagri 62 Thn 2017, KKD diartikan sebagai klasifikasi suatu daerah untuk menentukan kelompok KKD yang ditetapkan berdasarkan formula sebagai dasar penghitungan besaran TKI (Tunjangan Komunikasi Intensif), TR (Tunjangan Reses) & DO (Dana Operasional) Pimpinan DPRD.

TKI diberikan setiap bulan untuk peningkatan kinerja kepada pimpinan & Anggota DPRD, sedangkan TR diberikan setiap melaksanakan reses kepada Pimpinan & Anggota DPRD. TKI & TR diberilkan sesuai dengan KKD. KKD ditentukan berdasarkan hasil perhitungan atas besaran pendapatan umum daerah dikurangi dengan belanja pegawai ASN. Pendapatan umum daerah terdiri atas PAD, DBH, & DAU. DBH merupakan DBH yang bersumber dari TKD, sehingga tidak termasuk pendapatan daerah pada kelompok pendapatan lain-lain, pendapatan daerah yang sah, seperti dana bagi hasil pajak dari provinsi kepada kabupaten/kota, serta dana penyesuaian & otsus. Belanja pegawai terdiri atas belanja gaji & tunjangan serta TPP. Belanja gaji & tunjangan ASN seperti gaji Pokok ASN, Tunjangan Keluarga, Jabatan, Fungsional, Fungsional Umum, Beras, PPh/Khusus, Pembulatan Gaji, luran BPJS Kesehatan & Jaminan Kecelakaan Kerja/Kematian, Tunjangan Profesi Guru, Tambahan Penghasilan Guru, & Tunjangan Khusus Guru sesuai dengan PPU.

KKD dikelompokkan dalam 3 kelompok, yaitu tinggi, sedang, & rendah. Pemberian TKI & TR dilakukan dengan ketentuan, untuk kelompok KKD: (a). tinggi, paling banyak 7 (tujuh) kali; (b). sedang, paling banyak 5 (Iima) kali; & rendah, paling banyak 3 (tiga) kali; dari uang representasi ketua DPRD.

Data yang digunakan sebagai dasar penghitungan KKD merupakan data realisasi APBD 2 TA sebelumnya dari TA yang direncanakan. Penghitungan KKD dilakukan oleh TAPD. Selanjutnya, Besaran TKI & TR bagi Pimpinan DPRD & Anggota DPRD serta DO ketua DPRD & wakil Ketua DPRD ditetapkan dengan Perkada.

Dari hasil penafsiran atau interpretasi komparatif/perbandingan maupun penafsiran atau interpretasi sistematis/logis maka KKD dimaknai digunakan & menjadi syarat perhitungan dalam penganggaran atau penyusunan APBD untuk TKI & TR, bukan sebagai syarat pembayaran TKI & TR, termasuk belanja termasul belanja pegawai.

 MAKNA KKD DALAM TPP

Jika dilihat dari dasar hukum pemberian TPP yakni Pasal 58 PP 12 Thn 2019, maka tidak ditemui makna sesunggguhnya dari frasa KKD. Hanya dinyatakan, Pemda dapat memberikan TPP dengan memperhatikan KKD & memperoleh persetujuan DPRD sesuai dengan ketentuan PPU. TPP diberikan berdasarkan pertimbangan beban kerja, tempat bertugas, kondisi kerja, kelangkaan profesi, prestasi kerja, dan/atau pertimbangan objektif lainnya. Pemberian TPP ditetapkan dengan Perkada dengan berpedoman pada PP. PP dimaksud tak kunjung terbit sebagai opsionalnya adalah beroleh persetujuan Mendagri setelah beroleh pertimbangan dari Menkeu.

Namun, demikian makna KKD dapat dimaknai dari konstruksi rumusan PP 12 Thn 2019, apakah KKD dalam TPP bermakna sebagai syarat penganggaran atau sebagai syarat pembayaran. Sistimaka PP 12 Thn 2019 disusun dengan konstruksi: (a). Bab I Ketentuan Umum; (b). Bab II Pengelola Keuangan Daerah; (c). Bab III Struktur APBD; (d). Bab IV Penyusunan RAPBD; (e). Bab V Penetapan APBD; (f). Bab VI Pelaksanaan & Penatausahaan; (g). Bab VII Laporan Realisasi Semester Pertama APBD & Perubahan APBD; (h). Bab VIII Akuntansi & Pelaporan Keuangan Pemerintah Daerah; (i). Bab IX Penyusunan Rancangan Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD; (j). Bab X BLUD; (k). Bab XI Kekayaan Daerah & Utang Daerah; (l). Bab XII Penyelesaian Kerugian Keungan Daerah; (m). Bab XIII Informasi Keuangan Daerah; (n). Bab XIV Pembinaan & Pengawasan; (o). Bab XV Ketentuan Penutup.

Dari konstruksi rumusan PP 12 Thn 2019, maka rumusan TPP yang diatur dalam Pasal 58 termasuk kedalam konstruksi Bab III Struktur APBD. Struktur APBD mendeskripsikan, pemberian TPP yang diatur dalam Pasal 58 merupakan bagian dari penganggaran, bukan pembayaran. Jika dalam konstruksi PP 12 Thn 2019, maka pembayaran belanja daerah termasuk TPP dirumuskan dalam Bab VI Pelaksanaan & Penatausahaan. Pada Bab VI tak ada rumusan ketentuan yang mengatur pembayaran TPP berdasarkan KKD. Olehnya, syarat KKD adalah syarat penganggaran TPP, bukan pembayaran TPP.

TPP DALAM PERDA APBD         

Sesungguhnya, ketika belanja TPP ASN sudah dianggarkan dalam belanja APBD pada kode 5.1.01.02 dengan uraian Belanja Tambahan Penghasilan ASN & disetujui DPRD melalui Keputusan DPRD ttg Pemberian TPP kepada Pegawai ASN, ditetapkan dalam APBD, sudah dievaluasi oleh Gubernur, telah beroleh persetujuan Mendagri setelah mendapatkan pertimbangan oleh Menkeu, maka belanja TPP dalam APBD sudah melewati pengujian KKD mampu, yang berarti Pemda-Pemda dalam memberikan TPP kondisi keuangan daerahnya sudah benar-benar mampu membayar TPP berdasarkan volume & besaran anggaran belanja pegawai pada APBD.

 MAKNA KKD DALAM UU 1 THN 2022

Sebenarnya dengan terbitnya UU 1 Thn 2022, maka frasa KKD telah hilang. Hal ini dimaknai dari penjelasan Pasal 146 ayat (1) UU 1 Thn 2022 “daerah mengalokasikan belanja pegawai daerah diluar tunjangan guru yang dialokasikan melalui TKD (Transfer Ke Daerah) seperti DAU & DBH maksimal 30% dari total APBD”. Kemudian dalam penjelasan Pasal diterangkan, “belanja pegawai daerah termasuk didalamnnya ASN, Kepala Daerah & anggota DPRD”. Pada Permendagri Pedoman Penyusunan APBD, dinyatakan, “belanja pegawai digunakan untuk menganggarkan kompensasi yang diberikan kepada kepala daerah, wakil kepala daerah, pimpinan & anggota DPRD, serta pegawai ASN. Kebijakan kompensasi antara lain: gaji pokok, tunjangan keluarga, tunjangan melekat, TPP, jaminan kesehatan, keselamatan kerja & kematian & belanja penerimaan lainnya bagi kepala daerah & wakil kepala daerah serta pimpinan & anggota DPRD.

Dari ketentuan dalam UU 1 Thn 2022 & Permendagri Pedoman Penyusunan APBD, maka sumber dana atau anggaran untuk membayar TPP bersumber dari APBN dari TKD seperti DAU & DBH dari Pemerintah Pusat yang ditransfer ke RKUD masing-masing daerah. Daerah tinggal membayarnya. Tak ada alasan apapun bagi daerah-daerah tak membayar TPP, apalagi tak menganggarkannya dalam APBD.

 PENUTUP

Setelah melalui pengujian, apakah KKD sebagai syarat penganggaran TPP?, & apakah KKD sebagai syarat pembayaran TPP. Ternyata, KKD hanyalah syarat dalam penganggaran & penyusunan APBD, bukan syarat dalam pembayaran TPP. Mengapa Pemda-Pemda tak menganggarkan TPP dalam APBD & tak membayar TPP secara penuh selama 12 bln sebagaimana anggaran dalam APBD, padahal sumber dananya dari TKD DAU/DBH yang sudah ditransefer setiap bln ke RKUD.(*)

Tags: keuangan daerahpersepsitulisan persepsiTulisan Yusranyusran lapananda

Related Posts

Isra Mi’raj dan Pembangunan Masjid Raya

Isra Mi’raj dan Pembangunan Masjid Raya

Sunday, 18 January 2026
Ahmad Zaenuri

Dari Street Justice menuju Digital Justice

Wednesday, 14 January 2026
Menelusuri Jejak Akomodasi Budaya dalam Simbolisme Masyarakat Gorontalo   

Menelusuri Jejak Akomodasi Budaya dalam Simbolisme Masyarakat Gorontalo  

Wednesday, 14 January 2026
Ridwan Monoarfa

Pemilihan Kepala Daerah dan Arah Demokrasi Kita

Monday, 12 January 2026
Basri Amin

Bupati-Bupati Kita

Monday, 12 January 2026
PETI di Boliyohuto Cs Semakin Marak, APH Apa Kabar?

PETI di Boliyohuto Cs Semakin Marak, APH Apa Kabar?

Friday, 9 January 2026
Next Post
Mantan Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Boalemo, Salahudin Pakaya, menandatagani beritaacara pelantikan KPPS di Kota Gorontalo, Kamis (25/1) pekan lalu. (foto : istimewa)

Mantan Ketua KPU Boalemo Jadi KPPS

Discussion about this post

Rekomendasi

Tiga pelaku kekerasan seksual di amankan Polres Bone Bolango, Kamis (15/1/2026) Foto: Natharahman/ Gorontalo Post.

Modus Pesta Miras, Tiga Pria di Bone Bolango Tega Rudapaksa Gadis Belia

Friday, 16 January 2026
Irjen Pol Widodo

Kapolda Kaget PETI Dekat Mapolres, Picu Banjir di Pohuwato, Pastikan Penindakan

Thursday, 15 January 2026
Lodrik Dantene Kepala Desa Londoun, Kecamatan Popayato Timur, Kabupaten Pohuwato. Saat di wawancarai

Ekonomi Masyarakat Desa Londoun Meningkat, Tenaga Kerja Banyak Diserap PT BJA

Wednesday, 21 February 2024
Kapolda Gorontalo Irjen Pol. Widodo, S.H., M.H., didampingi Kapolres Pohuwato, AKBP H. Busroni,S.I.K.,M.H., Wakil Bupati Pohuwato, Iwan S. Adam dan sejumlah pejabat daerah serta PJU Polda Gorontalo, meresmikan layanan SIM dan Samsat Drive Thru.

Layanan SIM dan Samsat Drive Thru, Digagas Kapolres Pohuwato, Jadi yang Pertama di Gorontalo

Saturday, 17 January 2026

Pos Populer

  • Para pejabat pimpinan tinggi pratama di lingkungan Pemprov Gorontalo yang menajalani pelantikan, berlangsung di ruang dulohupa kantor gubernur, Senin (12/1). (foto: tangkapan layar)

    BREAKING NEWS: Gusnar Lantik 25 Pejabat Pemprov, Berikut Nama-namanya

    590 shares
    Share 236 Tweet 148
  • Dukung Program Presiden, Yayasan Kumala Vaza Grup Salurkan CSR ke 20 Sekolah

    79 shares
    Share 32 Tweet 20
  • Kemendikdasmen Salurkan Laptop untuk Sekolah Dasar Dukung Digitalisasi Pembelajaran

    188 shares
    Share 75 Tweet 47
  • Modus Pesta Miras, Tiga Pria di Bone Bolango Tega Rudapaksa Gadis Belia

    47 shares
    Share 19 Tweet 12
  • Bupati-Bupati Kita

    50 shares
    Share 20 Tweet 13
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 2 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.