logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Persepsi

Membakar Masa Depan

Jitro Paputungan by Jitro Paputungan
Monday, 25 September 2023
in Persepsi
0
Gorontalo 1942:  “Merdeka” Empat Bulan

Basri Amin

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Related Post

Demokrasi dan Kemanusiaan: Ketika Suara Rakyat Mengoreksi Kekuasaan

Padi Bertahan, Jagung Tumbang, Alarm Pangan Gorontalo di Tengah El Nino

Dari Percakapan dengan Suharso Monoarfa: Menata Ulang Jalan Ekonomi Gorontalo

Salam Gizi! Yth Kepala BGN Bapak ”Sudaryono” Program MBG: Penjajahan Permanen Rakyat Indonesia?

oleh : 
Basri Amin
Direktur PuSAR Indonesia

 

SENGKETA demi sengketa, hari-hari ini di negeri ini, sambung-menyambung mengisi tata pergaulan kemasyarakatan kita. Agenda Pemilu dan kesibukan (acara) elitis di ujung sana, tapi ketimpangan (nasib) orang-orang kebanyakan meraung di ujung sebelah sini.

Negara, yang selalu dipercaya kuat dan kuasa dengan aparatus dan teknologinya tidak bisa berbuat banyak dan tak kuasa tepat meredam kemarahan-kemarahan kelompok di banyak tempat di Republik (Hukum) berideologi Pancasila ini.

Kita adalah negeri pemarah yang suka pameran Pidato dan Seruan. Kita adalah negeri, yang dalam situasi buruk, barulah tampak kecerdasan-kecerdasan latennya dalam berkata-kata dan mendaftar kronologi peristiwa. Disertai janji baru dan kesedihan temporer di ruang media.

Kita adalah negeri yang, tampaknya, terlalu lamban untuk mampu “mengantisipasi” keadaan dan yang mampu “mengendalikan” momok-momok kemarahan –-yang sudah lama tumbuh dari jejaring kekalahan ekonomi dan ketidakadilan sosial— di masyarakat kita.

Kita, dalam banyak hal, “mudah bereaksi tapi abai mengantisipasi…”

Agama, Adat, dan Budaya selalu disebut setiap saat. Selalu diucapkan bahwa agama adalah penyatu kesadaran bersama dan “ketakutan bersama” atas kemarahan dariNya, tapi melalui perjalanan waktu pulalah yang akhirnya menyuguhkan gambaran yang lain dari itu semua: manusia yang rapuh, masyarakat yang retak-retak. Begitulah pula dengan nasib Adat dan Budaya, selalu dikata-katai tapi abai jadi rujukan bermakna yang kukuh dan dilembagakan nilai-nilai utama yang menempa perilaku kolektif.

Ketika sengketa demi sengketa terus menyeruak dan melilit seperti tak ada habisnya, semuanya jadi tontonan yang tak memberi simpul-simpul kebenaran dan penyadaran keadaan.

Semua keadaan jadi persoalan. Tak kenal lapisan atas atau pun bawah, tabiat membuat sengketa nyaris sudah rata di semua kalangan dan profesi. Kita bahkan semakin lincah menggunakan aturan dan regulasi untuk membuat sengketa. Nalar sehat pun jadi kisruh.

Formalisme keteraturan (social order) cenderung “diserahkan” kepada mekanisme yang sudah paten, yakni hokum dan regulasi. Sebagai akibatnya, kitab-kitab hukum dan administrasi yang menampung timbunan regulasi yang mengatur urusan-urusan manusia semakin tebal dan tersebar. Kita lalu menjadi spesies yang dikepung oleh aturan, tetapi rentan kehilangan kendali dalam ketaatan. Di sisi lain, kepercayaan yang keropos antara negara dan masyarakat masih tampak di mana-mana. Akar soalnya lebih kepada soal-soal integritas, kepemimpinan, dan keteladanan.

Karena negeri ini adalah republik modern, maka hukum dan tertib sosial adalah pegangan yang terus diproduksi. Di ruang edukasi dan regulasi-lah penampakannya yang paling nyata. Di dalam ruang itulah pula masyarakat kita beroleh sandaran (ideal) yang membuatnya mampu menuntut hak-haknya dan sewajarnya kukuh menghormati dan memercayai prosedur-prosedur bernegara yang wajar.

Di kala lain, masyarakat pun beroleh ruang setara untuk mempertanyakan pengabaian-pengabaian yang mereka alami. Relasi timbale-balik seperti ini menjadi tidak sederhana karena laku pengabaian, kisah kalah dan menang, terbela dan terhempas, serta yang terhukum dan yang terbebas, pada satu masa yang berulang pernah di alami oleh setiap individu dalam sebuah bangsa/masyarakat. Itulah sebabnya, dalam hemat saya, kekuatan hukum dalam sebuah bangsa tergambar dari konfigurasi cerita-cerita yang tumbuh di masyarakat tentang (praktik) hukum itu sendiri.

Tidak perlu semua orang menghapal pasal-pasal dalam kitab-kitab hukum. Yang dibutuhkan adalah tekad yang kuat untuk “tidak melanggar” hak-hak umum dan kepentingan orang lain.

Apa yang harus diusahakan adalah kepekaan atas makna kebajikan (manusiawi) yang terkandung dalam (misi) lahirnya sebuah kebijakan. Dasar etis itu adalah penghargaan kepada tertib bersama dan usaha-usaha bersama mewujudkan tertib itu di berbagai arena hidup dan kesempatan. Perlu ditekankan di sini soal kesempatan karena dalam banyak hal kita cenderung lalai menggunakan kesempatan yang kita punyai untuk menegakkan “tertib hidup” itu dalam ukuran sehari-hari, dan di ruang-ruang hidup yang kita lakoni secara rutin.

Di jalan-jalan raya dan di tempat-tempat kerja dan organisasi-organisasi kita, “tertib hidup” hendaklah menjadi pegangan agar kepungan sengketa dalam bernalar dan dalam berhubungan tidak semakin menjalar kejenuhannya. Kebiasaan membahasakan harapan tidaklah harus ditimpali dengan nada-nada angkuh dan sok mengatur. Kebiasaan menutup-nutupi kegagapan dan kegagalan tidaklah harus dibenci dengan bahasa apatisme, melainkan dengan dialog dan keterbukaan.

Tak ada kepongahan yang bisa bertahan dengan penyumbatan atau penutupan –dengan kuasa dan bahasa apa pun–. Ia akan meledak melalui celah-celah kesadaran yang tumbuh dari dalam (jiwa) masyarakat itu sendiri. Pertentangan dengan mudah diciptakan, ditiru, ditebalkan, dan disirkulasi. Terlalu banyak sebab, urusan dan media yang memicu perangai sengketa.

Terpecahnya banyak kepentingan material, citra, dan status, serta tindakan-tindakan “antisipasi politis” di setiap momentum ekonomi —secara langsung dan laten— diam-diam tapi pasti telah membentuk (struktur) bernalar dan bertindak kita yang cenderung menghasilkan “peta kepentingan” yang tidak berkesudahan. Bahkan, selalu terbuka pilihan dan aspirasi baru dan yang jangka pendek untuk “saling menjebak” satu sama lain. Masa depan peradaban kita akan hangus berulang dengan puing-puing sosial-ekonomi yang setiap saat kita bakar bersama, mengelompok, atau dengan cara sendiri-sendiri.***

Penulis adalah Parner di Voice-of-HaleHepu;
Direktur PuSAR – Indonesia.
E–mail: basriamin@gmail.com

Tags: basri aminMembakar Masa DepanPancasilapersepsispektrum sosial

Related Posts

Ridwan Monoarfa

Demokrasi dan Kemanusiaan: Ketika Suara Rakyat Mengoreksi Kekuasaan

Friday, 6 November 2026
Padi Bertahan, Jagung Tumbang, Alarm Pangan Gorontalo di Tengah El Nino

Padi Bertahan, Jagung Tumbang, Alarm Pangan Gorontalo di Tengah El Nino

Friday, 6 November 2026
Ridwan Monoarfa

Dari Percakapan dengan Suharso Monoarfa: Menata Ulang Jalan Ekonomi Gorontalo

Wednesday, 4 November 2026
Salam Gizi! Yth, Presiden RI Jenderal (Pur.TNI) Prabowo Subianto 

Salam Gizi! Yth Kepala BGN Bapak ”Sudaryono” Program MBG: Penjajahan Permanen Rakyat Indonesia?

Tuesday, 3 November 2026
Basri Amin

Kalender “Literasi” Gorontalo 

Monday, 2 November 2026
Funco Talipu

Politik dan Produksi Elite Muda Gorontalo

Friday, 30 October 2026
Next Post
Paten Pasila

Paten Pasila

Discussion about this post

E-paper Gorontalo Post 30 Juli 2026

Rekomendasi

HK Cs Dilapor ke Polda, Terkait Dugaan Perusakan Fasilitas Perusahaan

HK Cs Dilapor ke Polda, Terkait Dugaan Perusakan Fasilitas Perusahaan

Thursday, 5 November 2026
Rampas Paksa Mobil Warga, Tiga Debt Colecktor Jadi Tersangka

Rampas Paksa Mobil Warga, Tiga Debt Colecktor Jadi Tersangka

Thursday, 5 November 2026
Oknum Pengusaha Diduga Jadi Mafia Tanah, Dilapor ke Polda Atas Dugaan Penggelapan Tanah Warga

Oknum Pengusaha Diduga Jadi Mafia Tanah, Dilapor ke Polda Atas Dugaan Penggelapan Tanah Warga

Friday, 30 October 2026
Sisir PETI di Pasir Putih, Polisi Tak Temukan Alat Berat

Sisir PETI di Pasir Putih, Polisi Tak Temukan Alat Berat

Thursday, 5 November 2026

Pos Populer

  • Basri Amin

    Kalender “Literasi” Gorontalo 

    57 shares
    Share 23 Tweet 14
  • HK Cs Dilapor ke Polda, Terkait Dugaan Perusakan Fasilitas Perusahaan

    48 shares
    Share 19 Tweet 12
  • Enam Bulan Buron, Oknum Notaris Ditangkap di Jakarta

    55 shares
    Share 22 Tweet 14
  • Penambang Ilegal Saripi Tebar Teror, Rusak Fasilitas Pabrik Gula, Karyawan Resah dan Ketakutan

    81 shares
    Share 32 Tweet 20
  • Mantan Aleg Deprov Diamankan Polda, Terkait Dugaan Pemalsuan Surat di Pertambangan Pohuwato

    33 shares
    Share 13 Tweet 8
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 4 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.