logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Persepsi

Anak-Anak Kita

Jitro Paputungan by Jitro Paputungan
Monday, 18 September 2023
in Persepsi
0
Reposisi Gorontalo  (Bonus Demografi dan Basis Kepemimpinan)

Basri Amin

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Oleh :
Basri Amin

SUATU waktu, putri pertama kami kehilangan telpon genggamnya. Di hari itu, padat betul ujian sekolahnya. Jadinya kami “pusing tujuh keliling” mencarinya hingga larut malam. Titik “GPS” memandu –adiknya sendiri yang jadi operatornya–, tapi tetap saja tak mudah memastikan titik pastinya. Alhamdulillah, di esok harinya, orang baik memulangkannya.

Percakapan tentang “kehilangan” pun menjadi topik heroik. Di jam-jam yang sulit seperti itu, figur ibunda yang tenang amat dibutuhkan. Bersyukur karena kami di malam itu beroleh bantuan seorang adik yang semangat. Bersyukur pula karena “portal Gorontalo” membantu.

Setiap kita membutuhkan “tekanan” atau “cobaan” tertentu agar merasakan bagaimana nikmatnya kebersamaan. Pun seorang anak yang tumbuh, ia membutuhkan variasi pengalaman dan “tekanan”. Satu di antara sekian pengalaman penting yang mereka (butuh) alami adalah tentang kecewa, rasa bersalah, kekurangan, persaingan, dan kehilangan.

Bagi anak, di dalam dirinya, yang ia butuhkan adalah keyakinan mendalam tentang pekerti kemuliaan dan pertaruhan kehormatan, harapan dan syukur kepadaNya, disamping nalar yang terlatih, cita-cita yang rasional dan persisten, sehat jiwa-raga, dan sikap belajar sepanjang hidup. Harapannya, itulah semua yang akan ia bawa hingga besar dan menjadi manusia utuh dan dewasa.

Related Post

Negara Hadir, Guru Bermartabat

Pajak: Madu dan Racun Bagi Perekonomian  

Satu Huruf Salah di KTP, Urusan Publik Berantakan

Spanyol, Bola, dan Islam

Visi catatan ini adalah pengulangan dan penyegaran. Amat terasa, menyegarkan rasa cinta dan sayang di keluarga adalah tugas semua orang. Jika rumah dipahami sebagai bangunan dan susunan bebatuan, besi, pasir, semen, kerikil dan kayu-kayuan, yang kemudian kita indahkan dan mewahkan dengan cat, pagar, perabot dan fasilitas lainnya, maka rumah tak jauh berbeda dengan semua gedung/bangunan yang tampak di muka mata.

Tapi, jika rumah dipahami beyond dari itu semua, ia, rasanya, lebih tepat dipandang sebagai “tempat damai” yang (selalu) kita rindu untuk kembali. Rasa “rindu pulang” padanya, adalah hakikat rumah. Ia bukan tempat tidur, tempat makan dan bercakap saja, hal mana bisa digantikan setiap saat oleh restoran dan hotel-hotel. Ia dimiliki bukan karena pernah dibayar/dibeli dan bersertifikat, tapi karena ada “penyatuan hidup” yang terikrar dan tertagih sejak awal. Ia menuntut kesetiaan!

Rumah menjadi ramai, hidup dan bermakna karena anak. Sudah lama kita tahu ada ungkapan dari banyak orang: “saya tak mikir banyak lagi, yang penting anak-anak; apa yang kita cari ini semua karena anak-anak…Kita ini sudah sudah cukup”. Anak-anak kita adalah pertaruhan kita. Demi mereka, semua hal bisa kita lakukan.

Hampir semua mimpi kita, baik yang sudah terwujud maupun yang belum, semuanya kita “serahkan” ke pundak mereka. Ciri keberhasilan sebuah keluarga bahkan dengan mudah ditakar pada apa-apa yang terjadi pada anak-anak mereka. Sehingga, pepatah lama “buah jatuh tak jauh dari pohonnya” tak selamanya berlaku. Sudah terbukti, anak-anak desa yang terlahir dari keluarga petani, setelah puluhan tahun kemudian menjadi jenderal terpandang, menjadi menteri bahkan menjadi presiden.

Mendampingi kedua putri kami, dengan jarak usia keduanya yang cukup jauh, kami harus menyusun pola komunikasi berbeda. Selain karena mobilitas keseharian mereka berbeda, keduanya juga sepertinya punya karakter berbeda. Yang kakak mudah mengalah karena yang adik mudah meminta; mereka terkadang –bersaing ketika menerima “pemberian” secara berbeda. Meski keduanya terbiasa berbagai cerita dari apa yang mereka alami setiap harinya, tapi debat keduanya juga sering terjadi, dan kami sering repot menjadi moderator-nya.

Kami sering melatih mereka menjadi reporter yang aktif dari kejadian sehari-sehari, semata-mata dengan harapan agar mereka bisa/terbiasa “menyusun cerita” dengan (lebih) rasional dan dikerjakan –meskipun masih acak–, tapi haruslah menghormati sudut pandang yang beragam.

Kami berharap, dengan sama-sama melatih diri untuk “menyusun cerita” maka mereka beroleh ruang-ruang baru dan mengisi relung-relung pengalaman-tumbuh mereka dengan empati hidup, rasionalitas, nilai-nilai luhur, dan pilihan-pilihan yang tidak tunggal.

Anak-anak kita punya cerita yang amat kaya. Bukan hanya bersumber dari konstruksi mereka sendiri, mereka pun bisa dengan mudah meng-copy banyak kejadian, ungkapan bahasa, kata-kata baru, pola pergaulan, kesedihan, keberlebih-lebihan, rasa duka, egoisme, kecongkakan, kejujuran, kepedulian dan ketidaknyamanan. Dari semua itulah, mereka jadi tumbuh sehari-hari sambil “menampung” banyak cerita dan pengalaman dari tempat-tempat lain dan dari orang yang berbeda-beda.

Anak-anak kita adalah “recorder” yang aktif atas hidup ini. Mereka aktif menjadi konsumen dan sekaligus produsen di lingkungan pergaulannya mengenai hidup ini. Mereka punya persepsi sendiri yang seringkali mengejutkan kita, dan tentu saja sering pula menghawatirkan kita atas dunia mereka dewasa ini.

Goncangan hidup sehari-sehari tak bisa lagi disikapi dengan sepenuhnya mengandalkanrujukan normatif. Sandaran agama sebagai misal, meskipun ia kita tempatkan di tingkatan tertinggi, pada akhirnya ia ditentukan praktiknya dalam “kesadaran” kita masing-masing. Menyandarkan diri dan hanya berserah kepada-Nya membawa konsekuensi di tingkat individu. Karena, semua bentuk “penyerahan diri”tak bisa diklaim pencapaiannya tanpa melewati jalan-jalan “ujian hidup”.

Dalam berbuat salah dan mengakui kesalahan; dalam hal berbeda pendapat dan harus jujur dengan pandangan berbeda; dan dalam hal tegas dan kokoh kepada nilai-nilai prinsipil, percontohan diri sendiri, adalah proyek hidup yang tak pernah selesai. Untuk itu semua, hidup adalah sebuah jalan panjang, penuh belokan nan licin.

Semua orang berpotensi tergelincir setiap saat. Sekali kita hidup, tugas pertama yang butuh dihidupi sepanjang hayat adalah pertumbuhan yang sadar bahwa kita “dihidupi” oleh yang Maha Hidup.

Perhatian kita pada “ujian hidup”, saya rasa, adalah pangkal pengetahuan untuk semua urusan. Dalam konteks tulisan ini, meletakkan anak-anak kita sebagai “ujian” bagi diri sendiri, keluarga dan bahkan masyarakat, merupakan ikatan moral yang melampaui naluri-naluri dasar kita dalam hal ‘kepemilikan biologis’ terhadap anak, yang seringkali membawa kita pada sikap-sikap berlebihan.

Tak jarang, terhadap anak-anak kita, berbagai bentuk display hidup kita timpakan kepada mereka. Kita ingin agar mereka menjadi “wakil paripurna” dari keberadaan kita. Dalam beberapa kasus, status sosial yang (mungkin) kita rasa sebagai pencapaian hidup –-baik dalam arti posisi di masyarakat ataukah dalam arti citra kekayaan material yang diperoleh—kita pelihara sedemikian rupa melalui penampilan anak-anak kita.

Saya pernah mendengar, bagaimana di sebuah sekolah ternama di sebuah kota, guru-gurunya dan bahkan kepala sekolahnya, dengan sengaja memberi “perlakukan khusus” kepada anak-anak tertentu karena mereka hendak menyenangkan orang tua mereka -–karena mereka punya jabatan terpandang dan punya kuasa birokratis di eksekutif atau legislatif di daerah itu–. Tak jarang, oleh mereka yang merasa punya kuasa, mereka seolah-olah bisa setiap saat menggertak, menekan atau “meneror” lembaga pendidikan (baca: Guru dan Kepala Sekolah) hanya karena (hendak) membela anak-anaknya yang tampaknya sok berulah di sekolah dan bisa jadi mereka pun tidak sepenuhnya unggul belajar di sekolahnya.

Jika demikian, terhadap anak-anak kita, yang kini barangkali kita butuhkan adalah sikap belajar bersama dan sikap (maksimal) menjadi contoh di berbagai arena hidup. Untuk perkara “menjadi contoh!”, ini adalah urusan yang amat tidak mudah. Ketika menulis kedua kata ini –-Menjadi Contoh!–, lima jari saya beserta nalar dan nurani saya, terarahkan kepada diri saya sendiri. Saya berkaca! ***

Penulis adalah Bekerja di Universitas Negeri Gorontalo
Anggota Indonesia Social Justice Network (ISJN)

Tags: Anak-Anak Kitabasri aminspektrum sosial

Related Posts

Husin Ali

Negara Hadir, Guru Bermartabat

Wednesday, 22 July 2026
Mewaspadai Lonjakan Harga Pangan: Menjaga Daya Beli dan Pertumbuhan Ekonomi Gorontalo

Pajak: Madu dan Racun Bagi Perekonomian  

Tuesday, 21 July 2026
Satu Huruf Salah di KTP, Urusan Publik Berantakan

Satu Huruf Salah di KTP, Urusan Publik Berantakan

Monday, 20 July 2026
Basri Amin

Spanyol, Bola, dan Islam

Monday, 20 July 2026
Muh. Amier Arham

Gorontalo Karnaval Karawo, Untuk Apa?

Sunday, 19 July 2026
Mewaspadai Lonjakan Harga Pangan: Menjaga Daya Beli dan Pertumbuhan Ekonomi Gorontalo

Mewaspadai Lonjakan Harga Pangan: Menjaga Daya Beli dan Pertumbuhan Ekonomi Gorontalo

Thursday, 16 July 2026
Next Post
Pj Gubernur Ismail Pakaya Dorong Bupati/Wali Kota Terus Dukung Pramuka 

Pj Gubernur Ismail Pakaya Dorong Bupati/Wali Kota Terus Dukung Pramuka 

Discussion about this post

E-paper Gorontalo Post 22 Juli 2026

Rekomendasi

11 WNA dan Dua Awak Kapal Hilang di Teluk Tomini, Tim SAR Sisir Jalur Pelayanan

11 WNA dan Dua Awak Kapal Hilang di Teluk Tomini, Tim SAR Sisir Jalur Pelayanan

Saturday, 25 July 2026
Febrie Ditahan Tanpa Diborgol dan Rompi Tahanan, Kejagung: Sudah Malam

Febrie Ditahan Tanpa Diborgol dan Rompi Tahanan, Kejagung: Sudah Malam

Saturday, 25 July 2026
11 WNA Ditemukan Selamat, Satu Awak Kapal Masih Hilang di Teluk Tomini

11 WNA Ditemukan Selamat, Satu Awak Kapal Masih Hilang di Teluk Tomini

Saturday, 25 July 2026
Sakit Jantung

Sakit Jantung

Saturday, 25 July 2026

Pos Populer

  • AHM Technical Skill Contest 2026, PT DAW Utus Dua Wakil Terbaik

    AHM Technical Skill Contest 2026, PT DAW Utus Dua Wakil Terbaik

    15 shares
    Share 6 Tweet 4
  • Kasus Penganiayaan Guru Dua Tahun Mandek. Kasatreskrim Pastikan Pekan Ini Berkasnya ke Kejaksaan

    34 shares
    Share 14 Tweet 9
  • Gorontalo Siaga Kemarau, Gubernur Terbitkan Edaran, Waspada Krisis Air Bersih

    39 shares
    Share 16 Tweet 10
  • Wagub Gorontalo Idah Syahidah Hadiri Bahagia QRIS Fest 2026 di Limboto

    20 shares
    Share 8 Tweet 5
  • Spanyol, Bola, dan Islam

    45 shares
    Share 18 Tweet 11
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 3 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.