logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Persepsi

Empati yang Hilang

Jitro Paputungan by Jitro Paputungan
Tuesday, 14 March 2023
in Persepsi
0
Anakmu Bukan Milikmu

Basri Amin

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Related Post

Batas-Batas Pengobatan

Epistemologi dan Ontologi Sadaka: Analisis Historis, Teologis, dan Sosiokultural  

Dana Abadi Rakyat Gorontalo: Menghidupkan Kembali Semangat Serambi Madinah Melalui Wakaf Produktif

Profesi-Profesi Hebat

Oleh :
Basri Amin

Empati kepada sesama sepertinya mengalami guncangan dalam pergaulan sehari-hari kita. Perangai saling menyakiti melalui kekerasan wacana atau pun dengan modus “menyebar cerita” tentang orang lain, cenderung menjadi kebiasaan.

Persepsi lintas pribadi tidak lagi dibangun melalui “pengalaman bersama”, melainkan dengan mendayagunakan jalur-jalur “intipan” sepihak di media sosial. Anda dengan mudah membangun persepsi –yang cenderung Anda duga dengan meyakinkan—hanya dengan mengikuti pola bahasa, lingkaran pertemanan, dan variasi kegiatan yang ditampilkan seseorang di akun FB-nya.

Sebagiannya bisa dibenarkan. Bahwa profil seseorang bisa kita cermati di media sosial yang terbuka dan bebas dipakainya sebagai ruang display akan dirinya. Di dalamnya bukan hanya berisi bahasa, tapi juga berita bergambar, sejumlah ungkapan pilihan, visualitas yang dimodifikasi, perkumpulan atau asosiasi, atau sejenis perangai yang dicitrakan.

Di sela-sela itu semua, ungkapan “emosi”, “copy”an dan “cuitan” yang disertai dengan bahasa yang “menggantung” arti dan tafsir –-baik berupa bahasa yang kabur rujukan dan konotasinya, maupun dengan sejumlah tanda-tanda bahasa yang terbuka-bebas jawabannya—kesemuanya bisa hadir sekaligus. Anda bisa membacanya dengan aktif. Setiap saat.

Kita bersyukur di zaman ini karena dampak ledakan informasi demikian nyata. Meski tak semuanya layak ditakar dengan nilai positif. Siapa saja bisa meledakkan (peristiwa) tertentu dan selanjutnya dengan informasi tertentu juga mampu meledakkan (orang atau kelompok) tertentu.

Kekacauan informasi berlangsung intensif, terkadang lepas kendali, dan kalaupun bisa dikontrol oleh negara (bidang informatika), tetapi sekali sebuah peristiwa atau informasi (terlanjur) tertanam “di benak” orang maka tak ada satu kuasa pun yang mampu menjamin bahwa hal itu bisa sepenuhnya “normal” kembali. Dalam istilah lain, “jejak digital” adalah sebuah jejak yang bekas-bekasnya tak mudah dihapus.

Ingatan kita dan kapasitas otak yang kita punyai masihkah cukup memorinya di abad ini? Pendapat kita, termasuk para pakar, pastilah terbelah. Sebagian besar orang percaya bahwa manusia punya kemampuan besar. Ia akan selalu punya cara membuat “memori buatan” –sebagaimana tampak dalam keseharian kita: disk, memory card, chip, dst. Kecerdasan buatan juga semakin laku sekarang. Tak aneh lagi, teknologi robotik sudah berlaku di arena bisnis, kesehatan, manufaktur, teknik sipil, ekspedisi, peperangan, pendidikan, dst.

Mental kita akan semakin sehat dengan teknologi? Bisa ya, bisa tidak. Hakikatnya, teknologi akan selalu potensial kita tundukkan kalau kita tetap berada di alam kesadaran dan kewajaran kemanusiaan kita. Agensi kita sebagai manusia terletak di alam “kesadaran” itu dan melalui kapasitas kita yang lain: rasa, kreativitas, yakin kepada keajaiban, nalar yang dinamis, intuisi perubahan, nalar bawah sadar, nurani, nilai-nilai, dst.

Manusia, satu sama lain, akan senantiasa memberi tanda-tanda di setiap zamannya. Cekcok di tempat lain akan memicu damai di sudut dunia yang lain. Persaingan oleh kelompok manusia yang satu akan menjadi sebab bagi kelompok yang lain membentuk solidaritas atau koalisi. Begitulah naluri dasar masyarakat manusia: selalu ada yang tetap di tengah-tengah perubahan yang banyak.

Jika ada yang harus kita khawatirkan, maka hal itu adalah egoisme dan keserakahan. Itulah pangkal kezaliman dan ketidakadilan. Di beberapa bagian dari sejarah kita, keserakahan dan kesombongan –karena klaim kebenaran tertentu—adalah dasar dari kerusakan atau keruntuhan derajat kemanusiaan kita. Dalam konteks ini, tak ada garis super ideal yang  bisa kita rujuk secara praktis.

Berbagi cerita atau perkisahan tentang idealitas hidup dengan mudah terhalangi oleh kekisruhan motif material dan status sosial yang kita bangun. Sistem modern memang meniscayakan keterasingan seperti itu. Tak perlu jauh-jauh, amatilah di sekitar Anda, betapa setiap hari kita banyak saksikan bagaimana kerenggangan pertemanan, rasa kesejawatan, dan kesetiakawanan dalam persahabatan, begitu mudah goyah, ambigu, dan hancur. Ada paradoks yang serius karena gejala ini bahkan sering dialami oleh mereka yang merasa hidup di lapisan “elite/pejabat”, “kelas menengah”; bahkan banyak di antara mereka adalah golongan terpelajar dan/atau yang mapan secara sosial dan finansial.

Empati tak lagi jadi pelajaran bersama yang diajarkan dengan benar. Kita krisis contoh dan keteladanan. Bahkan, jika kita mampu jujur, dalam organisasi pemerintah dan pendidikan pun, contoh-contoh terbaik dalam kesejawatan dan kesetiakawanan, terutama dalam “satunya kata dan perbuatan”, tak lagi jadi simpul nilai yang konsisten dipegang.

Persaingan demi persaingan, cekcok demi cekcok karena motif materi, aspirasi kuasa dan perburuan citra diri, nyaris sudah di atas segalanya. Demi itu semua, kuasa kebohongan dan kemunafikan dilembagakan.

Retorika makin subur-menjamur tapi logika dan etika tak pernah dengan konsisten ditumbuh-suburkan. Sebagai dampaknya, kita lebih sering menyaksikan orang-orang yang terlatih-tampan bicara di berbagai forum tapi kita sangat tak yakin dengan konsistensi kerjanya di alam nyata.

Pada beberapa kasus, begitu banyak tokoh yang tampak ketagihan memproduksi “omongan (judul) besar” tapi tak pernah betah berada di tengah-tengah orang biasa atau bersama warga yang dipimpinnya guna menemukan “agenda besar” yang besar dampaknya ke masa depan. Orang-orang seperti itu sesungguhnya menyimpan dendam tertentu atau “obsesi terselubung” di dalam dirinya.

Empati menjadi redup karena percakapan bermakna makin sempit peredarannya. Radius pembelajaran kita yang tumbuh dari kaidah-kaidah empati cenderung berhenti sebagai norma-norma tapi tak bergerak ke alam nyata. Jika toh kita mengajarkan empati, yang kita ciptakan adalah empati yang sudah dilembagakan. Anak-anak kita ajak ke panti-panti asuhan tetapi “volume cerita” hidup yang berhasil ditangkap, dihayati, dibandingkan dan selanjutnya “diolah” dalam pergulatan nalar sosial dan pertumbuhan nurani-spiritual mereka (masih) jarang dimediasi di ruang-ruang belajarnya.

Bagaimana dengan orang-orang yang sudah merasa/mengaku besar atau dewasa? Jika ukurannya adalah tindak kekerasan, perilaku menyimpang, egoisme yang merusak, mental korupsi dan hipokrisi, justru harus kita katakan bahwa penyakit utama kita terletak di kelompok ini. Bukankah Negara “dikelola” oleh mereka yang kita tempatkan sebagai orang dewasa atau manusia yang sudah matang?

Faktanya, moralitas publik banyak kempes di tangan mereka. Lancung di ujian! Negeri ini sangat gagal karena anak-anaknya telah lama menonton kebusukan perilaku “orang tua”nya di media: korupsi, manipulasi, pertikaian, dan percekcokan.

Jika demikian, empati yang memihak kepada anak-anak kita tidak semata dibangun di atas hamparan contoh-contoh ideal. Kita juga harus menempanya di masa-masa sulit seperti saat ini. Kita butuh percakapan yang intens, penjelasan yang berwibawa dan empatik, serta contoh-contoh yang membumi-terasa di setiap keadaan (Howe, 2015). Masih banyak ruang hidup yang membuat kepekaan, rasa cinta, persahabatan dan kedamaian bersemai di lingkungan terdekat dan di tempat-tempat kerja kita.***

Penulis adalah parner di Voice-of-HaleHepu.
E-mail: basriamin@gmail.com

Tags: basriaminEmpati yang Hilanggorontalogorontalopostpersepsispektrumsosial

Related Posts

Basri Amin

Batas-Batas Pengobatan

Monday, 20 April 2026
Epistemologi dan Ontologi Sadaka: Analisis Historis, Teologis, dan Sosiokultural   

Epistemologi dan Ontologi Sadaka: Analisis Historis, Teologis, dan Sosiokultural  

Monday, 20 April 2026
Ridwan Monoarfa

Dana Abadi Rakyat Gorontalo: Menghidupkan Kembali Semangat Serambi Madinah Melalui Wakaf Produktif

Friday, 17 April 2026
Basri Amin

Profesi-Profesi Hebat

Monday, 13 April 2026
Ridwan Monoarfa

Dari Desa Andaleh ke Gorontalo: Mengakhiri Ilusi Peternakan Berbasis Bantuan

Saturday, 11 April 2026
Basri Amin

Kota Gorontalo, ‘298’ Tahun? (Catatan Terbuka kepada Wali Kota)  

Monday, 6 April 2026
Next Post
Sekda Kota Gorontalo, Ismail Madjid ketika memberikan sambutan sekaligus membuka pelatihan DTS-GTA, Senin (13/3/2023).

Pelatihan DTS-GTA Tahun 2023

Discussion about this post

Rekomendasi

AKBP H. Busroni

Pidana Menanti Polisi Terlibat PETI, Janji Kapolres Pohuwato, Termasuk Sanksi Internal

Wednesday, 22 April 2026
Pohuwato The Gold of Celebes

Pohuwato The Gold of Celebes

Monday, 27 February 2023
Empat orang tersangka resmi ditahan oleh Satuan Reskrim Polres Pohuwato, terkait kasus dugaan penganiayaan.

Empat Tersangka Penganiayaan Ditahan, Lokasi Kejadian di Area PETI DAM Pohuwato

Thursday, 23 April 2026
Dua orang remaja meninggal dunia setelah menabrak sebuah mobil tronton yang terparkir di jalan Trans Sulawesi, Kecamatan Botumoito, Kabupaten Boalemo.

Tabrak Tronton Dua Remaja Tewas, Hilang Kendali Saat Tronton Terparkir di Tepi Jalan

Monday, 20 April 2026

Pos Populer

  • Dua orang remaja meninggal dunia setelah menabrak sebuah mobil tronton yang terparkir di jalan Trans Sulawesi, Kecamatan Botumoito, Kabupaten Boalemo.

    Tabrak Tronton Dua Remaja Tewas, Hilang Kendali Saat Tronton Terparkir di Tepi Jalan

    188 shares
    Share 75 Tweet 47
  • Oknum ASN Diduga Palsukan Akta Kematian

    182 shares
    Share 73 Tweet 46
  • Epistemologi dan Ontologi Sadaka: Analisis Historis, Teologis, dan Sosiokultural  

    135 shares
    Share 54 Tweet 34
  • Batas-Batas Pengobatan

    86 shares
    Share 34 Tweet 22
  • Viral Siswi SMP di Kabgor Di-bully, Orang Tua Pelaku Justeru Minta Proses Hukum

    77 shares
    Share 31 Tweet 19
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 2 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.