logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Persepsi

Guru Merdeka (di) Gorontalo

Lukman Husain by Lukman Husain
Tuesday, 15 November 2022
in Persepsi
0
Generasi (Terbaik) Gorontalo

Basri Amin

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Related Post

Indrawati Gobel dan Ujian Politik NasDem Gorontalo

Pertumbuhan Ekonomi Gorontalo: Apakah Sudah Inklusif?

Ketika Minyak Mahal

Sintesis Tradisi dan Disrupsi: Peran Strategis Pemuda Gorontalo dalam Inovasi Estetika Karawo Kontemporer

Oleh

Basri Amin

Bagi mereka yang tidak (pernah) punya Guru, mereka tidak akan pernah sungguh-sungguh mengenal “hari esok”. Jika ada pekerjaan yang hendak menjawab semua harapan kita tentang hari esok, maka itulah pekerjaan seorang Guru. Gurulah yang “menggenggam” semua cita-cita sebuah bangsa dan membawanya di dalam ruang-ruang kelas mereka. Hampir semua bahasa harapan, keluhuran hidup, dan kebaikan menghidupi kerja-kerja mereka sehari-hari.

Begitulah yang saya rasakan setelah hadir dalam dialog “Literasi Poros Pendidikan” yang digerakkan oleh Balai Guru Penggerak (BGP) provinsi Gorontalo pada hari Ahad 13 November 2022. Kepala BGP, Pak Eky A. Punu, Kepala Kantor Bahasa Provinsi Gorontalo, Ibu Armiati Rasyid, beberapa penulis muda-terpilih Gorontalo dan “Isal Gorapu” berhasil menegaskan bahwa daerah ini butuh banyak aktor, komunitas, dan penggerakliterasi di sektor pendidikannya. “Kondisi kita tidak sedang baik-baik saja!”. Sebuah percakapan pendidikan yang hidup, terbuka, dan bertenaga.

Pada akhir abad ke-13, kata Guru atau “teacher’ dalam bahasa Inggris sudah dikenal dengan pengertian yang unik. Kata ini bahkan bersumber dari bahasa klasik Jerman. Dengan kata “teacher”itu, yang dituju adalah: “seseorang yang mengajak dan yang memengaruhi; kegiatan menampilkan sesuatu: melatih, menguji, mengarahkan, dan menandai. Sejak awal abad ke-19, pengertiannya semakin identik dengan “seorang yang mengajar di sekolah…” (Harper, 2001-2022).

Guru demikiandekatdengan “keabadian” tertentukarenadariperannyalahkemanusiaankitadankehidupan yang kitajalanimenyuguhkanarti-artitertentu yang terusbertambah. Di tahapawal, kesadarankitatentangtahudantidaktahu, tentanglatihandanpercobaan, tentangkesalahandankebenaran, tentangprosesdanpencapaian, semuanyahadirsambung-menyambung. Di tengah-tengahnyakitamembangunpengalaman, mengoleksipengetahuandanmendayagunakanminat-bakatkita. Terkadanghasilnyamenakjubkan. Seoranganak yang tadinyakelihatanpolosternyataadalahmanusia multi-talenta yang luarbiasa. Sering pula kitasaksikanbagaimanadayamanusiademikiankaya, dalamhal: membaca, menghitung, menulis, menggambar, olah-ragawi, dst.

Proses pendidikanlah yang membuatmanusia “berbedanasibnya”.Pendidikanlah yang membuatsekolahdidirikan. Dalam faktanya, tidaklah otomatisbahwa pendidikanbermutu terselenggaraparipurna di sekolah. Dalam banyak keadaan, maaf, justru sekolah yang secara tidak langsung “menyingkirkan” maknapendidikanitusendiri, yakniketikaanakdidikhanyabolehmemilihsatukondisi –yaknihanya “diajar” dengancara-carasepihak. Padahal, merekamestinyaharuslebihmembutuhkanruangmerdekadalamperkara “belajar”.

Kita membutuhkan Guru sejati! Edukator ternama, Dr. Montessori, menegaskan bahwa guru harus memihak kepada kepentingan tumbuh dan “kepentingan belajar” yang hakiki bagi anak-anaknya,yakni ruang-ruang bagi hidupnya spontanitas, percobaan, pengulangan-pengulangan, dankegembiraan yang tak pernah berhenti dan lelah (Standing, 1957).

Guru terlahirdari “rahimkebudayaan” sebuahbangsa. Selanjutnya, derajatkepahlawananGurusangatditentukanolehmasyarakatdimanaiamengabdidanbagaimanaiamenanamkancita-citakepadaanak-anakbangsanya. Seorang guru bahkan terkadang tidakmemulaipekerjaannyadengan “mengisi” otakdanhatianak-anaknyadengantumpukan ‘matapelajaran’,melainkandengan terlebihdahulumenemukan “derita” terpendam yang melilitdan “harapan” yang mengurungkehidupannya.Selanjutnya, seorang guru –masih menurut Montessori—, kemudian meletakkan ruang “tumbuh” bagi anak-anaknya di setiap keadaan.

Guru seperti itukah yang kita lahirkan dan saksikan dewasa ini? Jawaban bisa beragam, bahkan tak sedikit yang menyakitkan dan memilukan kita. Memuliakan pendidikan bukankah pekerjaan yang mudah. Hampir semua publikasi internasional, hingga kini, masih menempatkan mutu pendidikan kita di ‘papan bawah’.

Kita bisa marah dan kesal, tapi langkah nyata jangan terbiasa berhenti di retorika media dan pasal-pasal kebijakan yang rutin di meja-meja birokrasi (pendidikan) kita. Kita mudah menghasilkan beragam konsep dan jargon yang indah setinggi langit, tetapi rentan kehilangandaya gebrakdi alam nyata. Kita pernah akrab dengan jargon revolusi mentaltetapi kita cenderung lemas membangun “mental revolusi” dalam dunia pendidikan kita.

Sebelumperkara (mutu) pendidikanbangsadiuraiujung-pangkalnya, padakapasitasgurulahpercakapanserius mestinyadimulai. Jikaurusananakbangsa tidakbisa lepas dari tanggungjawabmasyarakat, tetapiuntukurusan guru, pembahasannyatidak akan pernah sederhana. Iaharusbenar-benardiletakkandalamspektrum yangmendasar, yaknitentangpemahamandantindakankita yang utuhdalammenghadapiseluk-belukkapasitas tumbuh manusia.Tanpapandangan yang jernihtentangmanusia cita Indonesia, kitaakankehilanganarahdanakantersesatberulang-ulangdalammencerdaskan(kehidupan)bangsa.

Di depankelasdandisekolah, gurucenderung dikepungbanyakpengaturan, hirarki, teknologi, dan administrasi. Pergaulandenganmurid-muridnyanyarishanyatampakdidalamkelas–denganpolainstruksional-pedagogis–. Selebihnya, keadaan yang banyak melilit kemerdekaannya adalahpengaturan-pengaturanrutin dan kepungan administrasi yang meminggirkanfaktor-faktorkontekstualdalam menghasilkan interaksi pembelajaranyang mencerahkan dan yang mengisi aspirasi-aspirasi otentik murid-muridnya.

Bobot“percakapan” dan “pemahaman” tentangmanusia yang tengahtumbuh (baca: murid) dengankegairahan yang meluap-luapmasih jarangdijembatanidan dipacu perkembangannyadengankonsistensitinggi. Ruanguntukpencapaianitubahkandisederhanakanmelaluiruang-ruangujian (reguler) saja, sesekalidalambentukpertandingan, misalnyaolimpiadedankompetisi-kompetisilainnya. Semuainitentutidaksalah, tetapibelumutuhmenegaskanarah yang menjanjikan.

Guru harus mampu melihatgambarbesarkehidupan (global) dewasa ini danmenempatkanduniaataubumiini -–dimana Indonesia kita yang besar ini beradadidalamnya—. Guru menentukanpembentukan posisi kesadaran dan peran kita -–sebagaibangsa—dalampetabesar tersebut.Di ruang belajar itulah, karakter, mentalitas, visi perbaikan, kemajuan, dan derajat “Guru Merdeka” digerakkan. Gorontalo tengah bergerak ke arah sana. ***

Penulis adalah Fellow

di Lembaga Kajian Sekolah & Masyarakat (LekSEMA).

Surel: basriamin@gmail.com

Tags: basri amin

Related Posts

Dr. Funco Tanipu., ST., M.A

Indrawati Gobel dan Ujian Politik NasDem Gorontalo

Wednesday, 16 September 2026
Hendri Cahyo Dwi Safitri

Pertumbuhan Ekonomi Gorontalo: Apakah Sudah Inklusif?

Tuesday, 15 September 2026
Muh. Amier Arham

Ketika Minyak Mahal

Tuesday, 15 September 2026
NU di Persimpangan Kepentingan: Membaca Arah Nahdlatul Ulama dalam Muktamar ke-35 Tahun 2026

Sintesis Tradisi dan Disrupsi: Peran Strategis Pemuda Gorontalo dalam Inovasi Estetika Karawo Kontemporer

Monday, 14 September 2026
Dr. Funco Tanipu., ST., M.A

Melampaui Polemik Rumah Jawatan Kantor Pos

Thursday, 10 September 2026
Politisi Bisa Berganti, Rakyat Tetap Berdaulat

Politisi Bisa Berganti, Rakyat Tetap Berdaulat

Wednesday, 9 September 2026
Next Post
Semangat Bersama AHASS, Kabar Baik, November ‘Hujan’ Promo

Semangat Bersama AHASS, Kabar Baik, November 'Hujan' Promo

Discussion about this post

E-paper Gorontalo Post 30 Juli 2026

Rekomendasi

Pegadaian Gorontalo Bekali Gen Z Jurus Kelola Keuangan dan Investasi Emas

Pegadaian Gorontalo Bekali Gen Z Jurus Kelola Keuangan dan Investasi Emas

Friday, 18 September 2026
Honda Rayakan Hari Pelanggan Nasional, Ajak Pelanggan Loyal dan Komunitas Rolling City

Honda Rayakan Hari Pelanggan Nasional, Ajak Pelanggan Loyal dan Komunitas Rolling City

Thursday, 17 September 2026
Hasil Pengawasan Bersih, Kanwil Kemenkum Gorontalo Diminta Jaga Tata Kelola

Hasil Pengawasan Bersih, Kanwil Kemenkum Gorontalo Diminta Jaga Tata Kelola

Thursday, 17 September 2026
PMI-BPBD, Polisi Turun Tangan, 48 KK di Tilongkabila Sulit Air Bersih

PMI-BPBD, Polisi Turun Tangan, 48 KK di Tilongkabila Sulit Air Bersih

Thursday, 17 September 2026

Pos Populer

  • Kapal Pertamina Patra Niaga Bantu Selamatkan 16 Korban KMP Virgo Transport 08

    Kapal Pertamina Patra Niaga Bantu Selamatkan 16 Korban KMP Virgo Transport 08

    16 shares
    Share 6 Tweet 4
  • Indrawati Gobel dan Ujian Politik NasDem Gorontalo

    16 shares
    Share 6 Tweet 4
  • Investasi Smelter Emas Masuk Gorontalo

    25 shares
    Share 10 Tweet 6
  • Karhutla Di Lombongo, Nyaris Merambat ke Permukiman

    16 shares
    Share 6 Tweet 4
  • Ketika Minyak Mahal

    18 shares
    Share 7 Tweet 5
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 3 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.