Gorontalopost.id – Peringatan Maulid Nabi Muhammad di Gorontalo selalu dinanti. Apalagi ada tradisi walima. Tradisi ini berupa sajian sejumlah kue tradisional yang dipajang pada tolangga, dan dibagi-bagikan usai tradisi dikili, yakni tradisi membacakan kisah nabi semalam suntuk. Kadang, walima menjadi rebutan warga yang hadir. Seiring perkembangan waktu, walima tak hanya dalam tolangga atau wadah kecil, tapi dibikin raksasa.
Seperti yang dapat dilihat di simpang tiga Isimu, Kecamatan Tibawa, Kabupaten Gorontalo, atau sekitar Masjid Baiturrhaman, Tibawa. Warga setempat menyulap tugu tani di bundaran simpang tiga itu menjadi tolangga raksasa, dipenuhi snack pabrikan dan kue tradisional. Tugu dengan tinggi tujuh meter dan dengan diameter tiga meter itu, dipersiapkan menjadi tolangga dalam lima hari.
Panitia penyelenggara, Abdul Akaseh (49), mengungkapkan perayaan maulid nabi, dengan mengubah tugu tani bundaran isimu, menjadi walima itu, merupakan simbol dakwah agar masyarakat sekitar, atau yang sekadar melintas di jalur trans sulawesi ituk, turut merayakan Maulid Nabi dan meramaikan masjid. “Secara tidak sengaja orang-orang yang melintasi tugu tani ini akan melihat, kemudian mencari tahu apa makna di balik tolangga ini,”katanya.
Ia menambahkan, kegiatan tersebut merupakan kerja sama takmirul masjid dengan rema muda Masjid Baiturrahman. Peringatan maulid nabi di Masjid Baiturahman Tibawa itu dihadiri langsung
Wakil Bupati Gorontalo, Hendra Hemeto. “Saya melihat begitu besar antusias masyarakat di Gorontalo dalam menyambut perayaan Maulid Nabi,” ucap Hendra. Hendra pun mengimbau kegiatan yang bertujuan untuk melestarikan budaya itu, terus dilakukan.
“Hal paling mendasar yang harus diambil contoh adalah bagaimana sifat baik Nabi Muhammad SAW itu dipraktikkan kepada diri sendiri. Kalau sifat itu berada dalam diri kita maka insya Allah mampu menjaga daerah ini bersama-sama,” kata Hendra. (tro)











Discussion about this post