logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Disway

Hidup Fanatisme

Lukman Husain by Lukman Husain
Thursday, 6 October 2022
in Disway
0
Bencana Sapura

DISWAY

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Related Post

Sejarah Pertanda

Penyadapan Beneficial

Kerikil Subhan

Ya Tidak

Oleh

Dahlan Iskan

FANATISME itu bisa membuat hidup lebih hidup.

Lihatlah betapa hidupnya Stadion Kanjuruhan, Malang. Stadion Manahan, Solo. Stadion Gelora Bung Tomo dekat Gresik. Si Jalak Harupat Bandung. Juga almarhum stadion Mattoanging Makassar…

Hidup itu harus hidup. Urip iku urup. Menyala-nyala. Syeh Siti Jenar pernah mengatakan kita semua itu bangkai. Hanya saja ada bangkai yang masih bernyawa. Tapi bangkai.

Contoh hidup tanpa fanatisme adalah hidupnya pohon.

Ada ribuan jenis fanatisme. Keluarga kita adalah keluarga terbaik. Itu adalah fanatisme tingkat keluarga. Desa kita paling hebat adalah fanatisme tingkat desa. NKRI harga mati adalah fanatisme tingkat negara.

Sepanjang levelnya masih yang  ‘’paling hebat’’ kadar bahayanya tidak tinggi. Baru kalau level fanatisme itu meningkat ke ‘’yang paling benar’’ bahayanya muncul. Bahaya bagi publik.

Fanatisme membuat hidup lebih bergairah. Asal terkelola. Itulah sebabnya mengapa ada pengelola. Lalu ada pemimpin. Salah satu tugas pemimpin adalah mengelola fanatisme itu.

Mengelola bukan berarti mematikan. Juga bukan membiarkan. Pemimpin yang mematikan fanatisme sama dengan mengubah manusia jadi pohon. Pemimpin yang membiarkannya sama dengan menciptakan anarkhi.

Fanatisme harus ada pada level yang tepat. Jangan ketinggian, jangan kerendahan. Melarang sepakbola dan apa pun yang digemari masyarakat sama dengan menciptakan banyak pohon.

’’Level’’ yang tepat itulah seninya. Seni kepemimpinan.

Bupati, walikota, Kapolres adalah pemimpin tingkat lokal yang paling tahu bagaimana mengukur level fanatisme itu. Lengkap dengan kearifan lokalnya.

Kepentingan bupati/walikota adalah meningkatkan gairah masyarakatnya. Gairah yang bisa melahirkan jiwa partisipasi. Yakni partisipasi bagi pembangunan daerah. Bisa lewat apa saja: salah satunya sepakbola.

Maka bupati/walikota adalah gas. Ia perlu menginjak gas kuat-kuat agar gairah itu meluap-luap. Agar hidup lebih hidup. Pembangunan lebih semarak. Termasuk pembangunan di kota/kabupaten tersebut. Muaranya harus untuk pembangunan.

Kapolres/ta/tabes, adalah remnya. Ia harus menginjak rem itu ketika jalannya mobil sudah berbahaya. Tapi tidak bisa juga rem itu diinjak terus. Mobil tidak akan bisa berjalan. Untuk apa ada rem kalau mobilnya diniatkan untuk tidak berjalan.

Kadang mobil harus nyenggol pagar. Atau tiang. Itu masih normal. Jangan sedikit-sedikit harus injak rem.

Cara mengerem pun harus terukur. Rem yang terlalu mendadak bisa membuat mobil terguling –seperti di Kanjuruhan.

Menggairahkan warga lewat olahraga adalah resiko yang terendah. Daripada lewat fanatisme suku. Atau marga. Atau ras. Atau golongan. Apalagi agama.

Tapi mengelola olahraga tidak sama dengan mengelola ormas atau partai. Bahasa yang digunakan juga harus bahasa olahraga – -bahasa bola untuk sepakbola.

Bahayanya hanya satu. Untuk zaman sekarang: yakni kalau sudah ada yang pansos lewat sepakbola. Atau berusaha mempolitikkan sepakbola. Dan olahraga lainnya.

Rochland Yoseph punya pengamatan yang bagus. Soal fanatisme Aremania itu. Ia anak kiai di Malang. Bapaknya dulu Ketua Ansor. Nama sang ayah Suyanto. Bahwa ia memberi nama anaknya Yoseph itu karena bapaknya ’’usil’’ saja. Usil khas Malang.

“Pas proses pemilihan Ketua Ansor ayah dikritik setengah guyon oleh teman-temannya. Ansor kok namanya Suyanto. Gak ada Arab-arabnya blas. Ayah saya tergelitik sehingga nama anak-anaknya malah dibikin unik. Saya Rochland Yoseph, aslinya dari nama Kakek (Yusuf) + lahir saya September,” katanya.

Yoseph sudah nonton Arema sejak tahun 1987, sejak Arema didirikan oleh Brigjen Acub Zaenal dan Kolonel Ebes Sugiyono, walikota Malang. Ia pernah ikut demo dan bentrok dengan suporter Persebaya. Tapi levelnya hanya seperti mobil nyerempet pohon.

“Sejak ada Aremania, fanatisme kampung beralih ke Arema. Tidak ada lagi perkelahian antara gang di kampung-kampung,” kata Yoseph.

Kini Yoseph sudah berumur 46 tahun. Ia kini berkelahi dengan pohon-pohon sawit di Kalimantan. Ia jadi manajer di perusahaan sawit yang cukup besar, sebagai business process improvement. Ia lagi mengembangkan drone untuk mengontrol kebun sawit. Fanatisme itu kini ia curahkan ke sawit.

Contoh dari Yoseph itulah yang saya maksud dengan bahwa fanatisme itu baik. Asal terkelola dengan benar. Mereka yang waktu mudanya bergairah itu, kelak akan bergairah juga ketika mendapat kesempatan di dunia kerja.

Hidup seperti pohon bukanlah hidup. Mobil mogok bukanlah mobil. (*)

Tags: Dahlan IskanDisway

Related Posts

Sejarah Pertanda

Sejarah Pertanda

Friday, 6 November 2026
Penyadapan Beneficial

Penyadapan Beneficial

Friday, 6 November 2026
Kerikil Subhan

Kerikil Subhan

Friday, 6 November 2026
Ya Tidak

Ya Tidak

Thursday, 22 October 2026
Jumat Keramat

Jumat Keramat

Monday, 19 October 2026
Iris Istri

Iris Istri

Saturday, 17 October 2026
Next Post
Gagang Cengkeh Basah Dihargai Rp4.500 per Kg, Harga Kering Bisa Mencapai Rp8 Ribu

Gagang Cengkeh Basah Dihargai Rp4.500 per Kg, Harga Kering Bisa Mencapai Rp8 Ribu

Discussion about this post

E-paper Gorontalo Post 30 Juli 2026

Rekomendasi

HK Cs Dilapor ke Polda, Terkait Dugaan Perusakan Fasilitas Perusahaan

HK Cs Dilapor ke Polda, Terkait Dugaan Perusakan Fasilitas Perusahaan

Thursday, 5 November 2026
Rampas Paksa Mobil Warga, Tiga Debt Colecktor Jadi Tersangka

Rampas Paksa Mobil Warga, Tiga Debt Colecktor Jadi Tersangka

Thursday, 5 November 2026
Oknum Pengusaha Diduga Jadi Mafia Tanah, Dilapor ke Polda Atas Dugaan Penggelapan Tanah Warga

Oknum Pengusaha Diduga Jadi Mafia Tanah, Dilapor ke Polda Atas Dugaan Penggelapan Tanah Warga

Friday, 30 October 2026
Sisir PETI di Pasir Putih, Polisi Tak Temukan Alat Berat

Sisir PETI di Pasir Putih, Polisi Tak Temukan Alat Berat

Thursday, 5 November 2026

Pos Populer

  • Basri Amin

    Kalender “Literasi” Gorontalo 

    57 shares
    Share 23 Tweet 14
  • HK Cs Dilapor ke Polda, Terkait Dugaan Perusakan Fasilitas Perusahaan

    48 shares
    Share 19 Tweet 12
  • Enam Bulan Buron, Oknum Notaris Ditangkap di Jakarta

    55 shares
    Share 22 Tweet 14
  • Penambang Ilegal Saripi Tebar Teror, Rusak Fasilitas Pabrik Gula, Karyawan Resah dan Ketakutan

    81 shares
    Share 32 Tweet 20
  • Mantan Aleg Deprov Diamankan Polda, Terkait Dugaan Pemalsuan Surat di Pertambangan Pohuwato

    33 shares
    Share 13 Tweet 8
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 4 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.