Gorontalopost.id – Ketua DPR RI, Puan Maharani, mendapat kejutan ulang tahun saat rapat paripurna pada Selasa (6/9). Sontak suasana gedung DPR riuh, nyanyian selamat ulang tahun menggema, mereka berdiri sambil tepuk tangan dan bernyanyi.
Aksi para wakil rakyat itu mematik kritik keras dari banyak pihak, salah satunya lantaran di luar gedung, ribuan mahasiswa dan kalangan buruh, melakukan unjuk rasa, menentang kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM. Para pengunjuk rasa meminta lembaga yang dipimpin Puan Maharani itu peka dengan kondisi rakyat, dengan meminta pemerintah membatalkan kenaikan harga BBM.
“Rakyat sedang berpanas-panas memperjuangkan penolakan kenaikan harga BBM. Sedangkan DPR di ruangan dingin justru berleha-leha merayakan hari ulang tahun ketua DPRnya,”ujar peneliti Formappi Lucius Karus. Kata dia, kelakukan para wakil rakyat yang merayakan ulang tahun Puan itu merupakan sebuah ironi. Menurutnya, lakon para anggota DPR tersebut sangat jelas memperlihatkan seberapa serius komitmen mereka dalam mewakili kepentingan rakyat.
Jangankan berkomitmen memperjuangkan aspirasi, Lucius mengatakan sekedar menghargai kehadiran rakyat dengan menemui massa aksi saja tidak bisa diperlihatkan DPR. “Perayaan HUT Puan di paripurna di saat warga ingin bertemu mereka seolah-olah mengolok-olok rakyat yang menyampaikan aspirasi di gerbang DPR,” ucap Lucius.
Padahal sebagai Ketua DPR, Puan seharusnya menjadi juru bicara DPR dengan pihak luar, termasuk rakyat. Terlebih massa aksi berharap kehadiran Puan di tengah-tengah mereka. Lucius menganggap Puan seperti lupa diri dengan kegembiraannya menyambut ucapan selamat anggota di rapat paripurna, ketimbang menemui rakyat yang mau menyampaikan aspirasi.
Lucius juga menyoroti rapat paripurna yang dijadikan sebagai ajang perayaan ulang tahun. Dia mengatakan rapat paripurna itu bak panggung tertinggi untuk memperjuangkan nasib rakyat bukan diselipkan dengan urusan pribadi.
“Saking lupa diri, Paripurna yang merupakan forum resmi DPR dalam membicarakan kebijakan negara dan rakyat juga diremehkan ketika justru dipakai sebagai ajang hura-hura merayakan ulang tahun. Forum Paripurna itu mestinya merupakan panggung tertinggi bagi DPR untuk memperjuangkan nasib rakyat dan tak seharusnya urusan pribadi Ketua DPR menjadi agenda pengisinya. DPR menghina Paripurna ketika forum itu justru dimanfaatkan untuk urusan privat Ketua DPR,” ujarnya.
Namun Lucius bersatire wajar saja DPR menggunakan rapat paripurna untuk kepentingan pribadi. Menurutnya, DPR tidak bersikap peduli terhadap rakyat.
“Kembali lagi sih, DPR yang tidak mewakili rakyat memang terlihat tak peduli dengan rakyat. Karena itu mereka yang mestinya sedang bertemu di Paripurna bisa saja langsung merespons tuntutan publik yang sedang berdemonstrasi.
Tetapi mereka justru memilih mengabaikan massa rakyat untuk merayakan HUT Ketua DPR,” ujarnya.
Saat itu, di luar gedung DPR, massa aksi tak sama sekali ditemui oleh jajaran pimpinan DPR. Hanya anggota Komisi VII Fraksi PKS Mulyanto yang menemui massa aksi usai Fraksi PKS melakukan walk-out di tengah rapat paripurna.
Massa unjuk rasa buruh di depan kompleks parlemen mempertanyakan sikap Ketua DPR Puan Maharani terkait keputusan pemerintah yang telah kenaikan harga BBM. Mereka menyinggung sikap Puan yang sempat menolak kenaikan BBM di masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Menurut mereka, sikap Puan kala itu seolah-olah berpihak kepada rakyat. Koordinator Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) itu kini mempertanyakan sikap Puan yang seolah diam dan tak menunjukkan sikap serupa. Padahal, kenaikan harga BBM kali ini lebih tinggi.
“Dia nggak ada tanggapan keberpihakannya terhadap rakyat, hari ini kita cari, hari ini kita pengen minta statement-nya, apa statement-nya dia terhadap kenaikan BBM ini kepada rakyat, apakah akan nangis-nangis lagi atau gimana,” katanya. (net)











Discussion about this post