Gorontalopost.id – Jelang Idul Adha 1443 Hijriah, harga cabai rawit (rica,red) di Gorontalo makin ‘pedas’, mencapai Rp 100 ribu per kg dari harga normal Rp 30-35 ribu per kg. Bawang merah pun demikian, meroket gila-gilaan, dari Rp 40 ribu kini menyentuh angka Rp 90 ribu per kg. Rica dan bawang merah termasuk dalam komoditas volatile foods pemicu utama inflasi di Gorontalo.
Bank Indonesia Provinsi Gorontalo mencatat, tinkat inflasi di Gorontalo pada Juni 2022 relatif lebih tinggi dari nasional, dan kawasan regional Sulawesi Maluku dan Papua (Sulampua). Inflasi ini didominasi komoditas komoditas volatile foods, seperti cabai rawit, tomat, dan bawang merah.
“Tingkat inflasi secara bulanan (mtm) dan tahunan (yoy) pada bulan Juni 2022 lalu sudah mendekati batas atas dari sasaran inflasi tahunan Bank Indonesia yang mencapai 4,35 % (yoy). Tingkat inflasi Gorontalo pada Juni 2022 relatif lebih tinggi dari nasional dan Sulampua,”ujar Kepala Perwakilan Bank Indonesia Gorontalo, Rony Widijarto Purubaskoro, dalam pertemuan Hight Level Meeting tim pengendalian inflasi daerah (TPID) Provinsi Gorontalo, yang berlangsung di kantor BI Gorontalo, Selasa (5/7).
Pertemuan itu termasuk bentuk quick response TPID dalam mengantisipasi kenaikan harga beberapa komoditas utama menjelang Idul Adha 1443 H.Berdasarkan monitoring perkembangan harga pada pusat informasi harga pangan strategis (PIHPS) yang dilakukan Bank Indonesia, mulai dari pasar tradisional, pasar modern, danpedagang besar dimana inflasi di pasar tradisional saat ini relatif lebih tinggi jika dibandingkan dengan di pasar modern. Kenaikan harga dari tiga komoditas dari responden tersebut selama tiga tahun terakhir ini dapat dikatakan cukup tinggi.
Untuk itu, Bank Indonesia telah berperan dalam membantu ketersediaan pasokan pangan melalui klaster-klaster panganbinaan, dalam hal ini adalah UMKM binaan. Selain itu, dimungkinkan juga kepada masyarakat untuk dapat menanam cabai melalui media seperti lorong cabai.
Sejak tahun 2020, Provinsi Gorontalo merupakan kategori daerah surplus cabai sehingga dapat pemasok kebutuhan daerah lain yaitu di Sulawesi Utara dan Maluku Utara melalui mekanisme Kerjasama Antar Daerah (KAD). Seiring dengan kondisi saat ini, dimana harga cabai mengalami kenaikan yang cukup tinggi, salah satu penyebabnya adalah rantai pasokan berkurang, terjadinya gagal panen yang berkepanjangan di tengah kondisi cuaca yang tidak stabil, pemerintah provinsi berinisiatif untuk menggalakkan kembali gerakan menanam cabai di lingkungan Pemerintah sebagai startegi jangka pendek untuk meningkatkan produksi dan memenuhi kebutuhan masyarakat.
Pj. Gubernur Gorontalo Hamka Hendra Noer, dalam kesempatan itu mengatakan, menyikapi kondisi inflasi yang ada, harus secepatnya melakukan berbagai langkah sinergis, responsif dan tepat sasaran. Salah satu yang harus segera dilakukan dan menjadi keputusan pertemuan tersebut, adalah melaksanakan operasi pasar atau pasar murah secara intensif, terutama untuk komoditas bahan pokok yang rentan mengalami peningkatan harga seperti cabai rawit, bawang merah, daging ayam ras, dan telur ayam. Pasar murah dalam beperapa hari terakhir sudah digelar Pemprov Gorontalo, misalnya di wilayah Kecamatan Pulubala, dengan sasaran 1000 warga/keluarga yang dapat berbelanja kebutuhan bahan pangan murah.
Kegiatan pasar murah juga berlangsung di Kecamatan Tapa, Bone Bolango, Rabu (6/7) kemarin. Rencananya pasar murah besar-besaran akan digelar di Lapangan Taruna Remaja Kota Gorontalo, hari ini. Selain itu, khusus rica, Pj Gubernur Hamka meminta masyarakat untuk menanam mandiri, Meprov kata dia, siap memfasilitasi bantuan bibit rica.
“Mudah menanamnya, bisa di halaman rumah, depan atau samping rumah. Itu akan sangat membantu memenuhi kebutuhan cabai,”kata Hamka saat pasar murah di Tapa, kemarin. Selain pasar murah, upaya yang dilakukan dalam pengendalian inflasi adalah memperkuat pelaksanaan Kerjasama Antar Daerah (KAD) khususnya untuk komoditas yang rentan mengalami defisit pasokan di Gorontalo seperti cabai rawit dan bawang merah.
KAD yang telah ada yakni Gorontalo-Manado-Ternate, bisa dikembangkan juga untuk Gorontalo-Sulawesi Tengah. Termasuk upaya yang harus dilakukan adalah memperkuat ketahanan pangan domestik melalui perbaikan disisi budidaya (hulu) serta optimalisasi infrastruktur pendukung pertanian untuk meningkatkan produksi tanaman pangan. (tro)












Discussion about this post