logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
Pemkot Gorontalo

Biomasa
Home Disway

Low 100 Kilo

Lukman Husain by Lukman Husain
Thursday, 9 June 2022
in Disway
0
Bencana Sapura

DISWAY

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

KELIHATANNYA seperti mustahil. Tapi inilah langkah besar Datuk Low Tuck Kwong berikutnya. Di usianya yang 74 tahun: meningkatkan produksi batu bara menjadi 60 juta ton setahun.

Angka itu hampir dua kali lipat dari produksi grup Bayan Resources tahun lalu. Mustahil? Ia punya akal –akalnya orang kaya: ia bangun jalan baru. Sepanjang 100 km.

Jalan baru itu langsung ke arah sungai Mahakam. Lebih besar dan dalam. Bisa angkut batu bara lebih banyak – -dibanding hanya lewat sungai Belayan dan Senyiur seperti selama ini.

Ujung jalan baru itu memang di Muara Wahau. Jauh di hulu Mahakam. Di pedalaman sekali. Lebih hulu dari Kotabangun. Bahkan lebih hulu lagi dari Muara Muntai. Berarti lebih hulu dari dua danau besar di sungai itu: Danau Melintang dan Danau Semayang.

Related Post

Serangan Fajar

Bela Khamenei

Tujuan IsAm

Krisis Bahlil

Lebih jauh tapi lebih menguntungkan.

Jalan baru itu bukan baru akan dibangun, tapi sedang dibangun. Anggaran pembangunannya Rp 3 triliun lebih. Harus membangun pula tujuh jembatan –salah satunya jembatan besar melintasi sungai Belayan.

Saya menelusuri jalan itu. Di bagian yang sudah jadi. Besar. Lebar. Lurus. Kuat. Kelak, kalau pecah perang, misalnya, jalan ini bisa untuk landasan pesawat tempur. Kelas apa pun.

Jembatan sungai Belayan itu juga  sudah selesai. Akan diserahkan ke masyarakat. Bayan memang membangun dua jembatan sungai Belayan. Bersebelahan. Yang satu untuk umum. Satunya lagi khusus untuk batu bara –sedang dalam pengerjaan.

Jembatan untuk umum itu bisa disebut jembatan masa depan. Belum ada sambungan jalan di sebelah ”sono’-nya. Tidak ada juga desa atau  kota lain di ”sono”. Yang ada kebun sawit melulu.

Jalan umum itu juga dibangun oleh Bayan. Juga sepanjang 100 km. Akan diserahkan ke masyarakat juga. Letak jalan umum ini juga di sebelah jalan batu bara.

Jadi, di samping membangun ”landasan pesawat” sepanjang 100 km, Bayan juga membangun jalan masyarakat sepanjang itu pula.

Itu melebihi Jakarta-Subang. Atau Surabaya-Malang. Hampir sama dengan Medan ke Danau Toba. Atau, ini dia: lebih panjang dari panjangnya pulau Singapura. Tanah Singapura itu, dari pantai timur ke pantai barat hanya 50 Km. Dari utara ke selatan lebih pendek lagi: 35 km.

Jadi, masyarakat mana yang akan melewati jalan 100 km itu nanti? Bukankah hampir tidak ada penduduk di kawasan itu? Mungkin justru truk pengangkut sawit yang akan lebih banyak melewatinya. Sawit rakyat dan sawit perusahaan lain.

Dalam perjalanan itu saya ikut mobil yang dikemudikan Pak Yudiansyah. Ia asli kampung Gunungsari, di pinggir sungai Belayan. Ia sudah turun temurun tinggal di situ. Sukunya Kutai. Ia punya kebun sawit lebih 100 hektare. Sawit itu sudah berumur 18 tahun. Sudah bisa jadi sumber penghidupan. “Sekarang orang Dayak pun sudah banyak yang punya kebun sawit,” ujar Yudi.

Saya diajak keliling tambang. Lalu menyeberangi sungai Belayan dengan feri. Mobil Pak Yudiansyah  ikut naik feri: Pajero Sport. Feri itu ternyata miliknya sendiri. Ia punya lima kapal feri. Yakni jenis yang bisa untuk angkut 5 mobil. Salah satu ferinya terbuat dari kayu: bisa untuk dua mobil.

Lalu saya diajak ke jembatan baru yang sedang dibangun Bayan itu. Yang lokasinya jauh di hulu dari  jalur penyeberangan ferinya. “Jembatan ini tidak mengganggu feri saya. Terlalu jauh, lebih 6 km,” katanya.

Ikan besar harus didapat dengan kail besar. Investasi jalan Rp 3 triliun agar bisa angkut batu bara lebih banyak. Tapi investasi Rp 3 triliun itu mungkin hanya akan dimanfaatkan selama 25 tahun. Habis itu jalan tersebut ditinggalkan. Batu bara habis.  Maka perencanaan wilayah masa depan di pedalaman Kaltim bisa memanfaatkan aset berharga ini. Yakni jalan peninggalan Bayan sepanjang 100 km. Apalagi jalan itu  nyambung dengan jalan menuju sungai Senyiur yang 70 km.

Tapi belum tahu kapan batu bara di situ akan habis. Pun dengan produksi yang dipacu seperti itu.

Mungkin pula Bayan tidak akan menggunakannya sampai 25 tahun. Datuk Low Tuck Kwong kini  punya ide yang lain lagi. Yang lebih out of the box: membangun rel kereta api dari Tabang ke laut Selat Makassar di Sangatta.

Itu berarti dari hulu sungai Belayan, melintasi hulu sungai Senyiur, terus ke atasnya Bontang, berakhir di laut Selat Makassar. Panjang rel itu sekitar 100 km juga. Biayanya bisa sampai Rp 5 triliun. “Lebih mahal bikin jalur kereta api daripada jalan raya,” ujar Haji Aseng yang membawa saya ke kawasan ini (lihat Disway edisi Minggu lalu).

Jalan kereta api itu bukan rencana di awang-awang. Bayan sudah mengurus izinnya. Sudah selesai. Ini sebenarnya rencana lama Bayan. Lama sekali. Sebelum keputusan membangun jalan raksasa 100 km menuju Muara Wahau dibuat.

Ide jalan kereta api tersebut sempat diambil alih pemerintah daerah. Lalu ditawarkan ke investor asing: Rusia. Serius sekali. Beberapa mahasiswa Kaltim sudah disekolahkan ke Rusia.

Setelah lebih 10 tahun tertunda, Rusianya mundur. Maka Bayan maju lagi. Tanpa investor asing. Dibiayai sendiri.

Mungkin Bayan menyesal telanjur membangun jalan raksasa 100 km ke arah Muara Wahau. Kenapa tidak sekalian jalan kereta api itu saja. Bisa hemat Rp 3 triliun. Tapi Bayan tidak mau menyalahkan Rusia. Pun Pemda.

Yang jelas, jalan raksasa itu kelak akan jadi kekayaan pedalaman Kaltim. Bayan tidak bisa membawanya ke Jakarta atau ke Singapura.

Di lain pihak tidak mungkin mengharapkan pemerintah mau membangun jalan di jalur itu, sepanjang itu, sekokoh itu. Membangun jalan Samarinda-Balikpapan saja –90 km– perlu waktu 20 tahun. Padahal urgensinya jelas tinggi.

Bayan tentu sudah berhitung. Membangun jalan itu habis Rp 3 triliun. Tapi batu bara yang bisa lewat di atasnya lebih 30 juta ton setahun. Dengan harga batu bara USD 400/ton saat ini angka-angka di atas hanyalah angka.

Pun kalau juga harus membangun rel kereta api ke arah Sangatta. Batu bara yang bisa diangkut menjadi 60 juta ton/tahun. Tanpa biaya tongkang lagi. Tanpa biaya transhipment –memindah batu bara dari tongkang ke kapal besar di tengah laut.

Dengan kereta api batu bara bisa langsung ke pelabuhan laut. Batu baranya bisa dikucurkan langsung dari conveyor ke perut kapal. Masa tunggu kapalnya pun bisa lebih pendek. Lebih efisien lagi.

Batu bara milik perusahaan lain, dari lahan lain, juga bisa nunut di kereta api itu. Tinggal bayar tol ke Bayan.

Ke depan, Sungai Belayan menjadi bisa agak bernapas. Sungai Senyiur bisa bersiul-siul kembali. Dan sungai Mahakam bisa lebih teduh kembali. Siapa tahu ikan pesut, lumba-lumba air tawar itu,

bisa kembali bersenam dansa di sepanjang hulu Mahakam. Pun sampai Senyiur. Dan ikan patin, jelawat, tidak perlu di kebun binatang lagi.

Datuk Low Tuck Kwong, SMA-pun tidak tamat. Tapi begitu banyak keputusan besar ia ambil dalam hidupnya. Pun ketika sudah berumur 74 tahun.

Umurnya panjang. Uangnya banyak. Saya lihat ia tidak merokok. Juga tidak minum baijiu saat makan hari itu.

Ikan patin ikan jelawat

Ikan pesut kejar-kejaran

(… Please Pak Thamrin dan Aryo Mbediun meneruskannya).(Dahlan Iskan)

 

Tags: Dahlan IskanDisway

Related Posts

--

Serangan Fajar

Friday, 6 March 2026
--

Bela Khamenei

Friday, 6 March 2026
Ilustrasi strategi perang Israel-Amerika dalam menyerang Iran.--

Tujuan IsAm

Wednesday, 4 March 2026
Ilustrasi Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dan potensi krisis listrik dampak dari perang Israel vs Iran.--

Krisis Bahlil

Wednesday, 4 March 2026
Ilustrasi Joao Angelo de Sousa Mota dan misi besarnya untuk Koperasi Desa Merah Putih.--

Petir Agrinas

Monday, 2 March 2026
Ilustrasi penyerangan Israel-Amerika Serikat ke Iran.--

Bom Suci

Monday, 2 March 2026
Next Post
Menggiurkan, Omzet Jualan Buah Jutaan per Hari

Menggiurkan, Omzet Jualan Buah Jutaan per Hari

Discussion about this post

Rekomendasi

Direktur Reserse Kriminal Khusus (Dirreskrimsus) Polda Gorontalo, Maruly Pardede, saat memberikan keterangan pers. Rabu (04/02), di Mapolda Gorontalo.(Foto: Natharahman/ Gorontalo Post)

Polda Gorontalo: Transaksi Emas Tambang Ilegal Bisa Berujung Bui 5 Tahun

Thursday, 5 March 2026
Prof. Eduart Wolok

Studi Dokter Spesialis so Ada di UNG

Wednesday, 4 March 2026
Lapak pasar murah milik PT PG Gorontalo diserbu warga dengan penjualan gula murah Rp 16.000/kg. (Foto: Roy/Gorontalo Post).

Pabrik Gula Gorontalo Jual Gula Murah Stabilkan Harga Pasar

Friday, 6 March 2026
Pihak BRI Gorontalo saat melakukan pendaftaran perkara gugatan sederhana, di Kejari Kota Gorontalo. (F. Istimewa)

Ratusan ASN Kredit Macet, BRI Gandeng Kejaksaan Tempuh Jalur Hukum

Friday, 22 August 2025

Pos Populer

  • Prof. Eduart Wolok

    Studi Dokter Spesialis so Ada di UNG

    92 shares
    Share 37 Tweet 23
  • 10 Karyawan Perusahaan di Pohuwato Positif Narkoba

    61 shares
    Share 24 Tweet 15
  • Polda Gorontalo: Transaksi Emas Tambang Ilegal Bisa Berujung Bui 5 Tahun

    64 shares
    Share 26 Tweet 16
  • Audiensi Strategis: Investor Jepang Gali Informasi Legalitas dan Dampak Sosial PT BJA

    57 shares
    Share 23 Tweet 14
  • Menjembatani Visi-Misi Kepala Daerah dan Kerja Birokrasi

    55 shares
    Share 22 Tweet 14
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 2 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.