logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
Pemkot Gorontalo

Biomasa
Home Disway

Senjata Yubo

Lukman Husain by Lukman Husain
Tuesday, 31 May 2022
in Disway
0
Bencana Sapura

DISWAY

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

COBALAH sesekali kita pahami jalan pikiran orang yang tidak setuju dengan kita. Misalnya soal kepemilikan senjata itu.

“Kalau kepemilikan senjata dilarang, jumlah korban mati di tangan perampok akan lebih banyak,” ujar Ted Cruz, anggota DPR Partai Republik dari Texas.

Dengan memiliki senjata maka orang yang jadi sasaran rampok bisa membela diri. Mereka juga tidak mudah merampok karena tahu kita pasti punya senjata untuk melawan.

Maka orang seperti Presiden Donald Trump tetap kukuh membela hak warga memiliki senjata. “Sudah waktunya sekolah yang berubah. Guru harus dipersenjatai,” ujar Trump di acara Kongres Asosiasi Pemilik Senjata (NRA) di Texas dua hari lalu.

Related Post

Serangan Fajar

Bela Khamenei

Tujuan IsAm

Krisis Bahlil

Trump juga memberikan jalan keluar lain: pintu-pintu sekolah harus lebih kuat. Juga jendelanya. Dan pagar yang mengelilingi sekolah harus disesuaikan. Harus lebih kukuh. Agar tidak terjadi lagi orang bersenjata bisa masuk kompleks sekolah. “Juga harus pakai teknologi modern untuk mengamankan sekolah,” ujar Trump.

Awal mula kehebatan Amerika memang dari kehidupan individual penduduknya. Terutama yang kulit putih. Mereka bekerja keras. Sendiri. Bersama istri dan anak. Tidak ada yang membantu. Tidak juga pemerintah – -mereka benci pemerintah yang hanya mencampuri urusan pribadi. Karena itu mereka juga benci pajak.

Mereka harus mati-matian melindungi hasil kerja kerasnya itu. Sendirian. Mereka tidak rela hasil kerja keras itu dirampok orang begitu saja. Baik sesama kulit putih atau oleh ras lain. Mereka jaga kekayaan mereka dengan taruhan nyawa. Tanpa mengandalkan bantuan pemerintah. Atau polisi.

Mereka harus punya senjata. Suami punya satu pistol. Istri juga. Lalu suami punya lagi senjata laras panjang. Itulah peralatan standar rumah tangga mereka. Ibarat punya piring dan sendok. Seperti itu juga di rumah teman-teman saya di sana. Ditunjukkanlah kepada saya di mana menyimpan pistol. Di mana letak senjata laras panjang. Saya pernah juga diminta mencobanya. Di halaman belakang.

Di Kongres NRA itu juga dinyatakan bahwa tidak satu pun anggota NRA yang pernah terlibat penembakan masal seperti yang baru terjadi di kota kecil Uvalde, bagian barat daya Texas.

“Kami bukan teroris. Tangan kami tidak berlumur darah. Kami taat hukum Amerika. Kami hanya ingin menjaga diri dan keluarga kami. Kami bangga jadi anggota NRA,” bunyi publikasi resmi di NRA.

Berarti masyarakat Amerika tetap terbelah. Presiden Joe Biden yang kemarin ke Uvalde diteriaki sebagian masyarakat di sana. “Lakukanlah sesuatu agar tidak terjadi lagi peristiwa seperti ini,” teriak mereka seperti dilaporkan media di sana. “I will do,” balas Biden.

Apa maksud I will do kita tahu. Tapi bagaimana merealisasikannya itulah persoalan besarnya.

Sepuluh hari lalu Biden juga ”melayat” ke korban penembakan masal di Buffalo, bagian paling utara Amerika. Dan kini melayat serupa di bagian paling selatan negara itu. Bahkan di saat Biden ke Uvalde ini pun ada penembakan lainnya di Alabama.

Bisa jadi pekerjaan utama Biden nanti hanya melayat seperti itu. Dari utara ke selatan. Dari timur ke barat.

Tentu ada yang selalu bisa disalahkan. Dalam kasus Uvalde, yang diincar adalah Pedro ”Pete” Arredondo. Umurnya 50 tahun. Ia adalah kepala polisi sekolah distrik Uvalde. Pete dianggap terlalu lambat mengambil keputusan. Kelak akan diungkap berapa dari 19 siswa yang tewas itu bisa selamat. Kalau saja Pete tidak lelet. Siapa tahu di antara 19 itu sebenarnya ada yang belum meninggal. Ia hanya terluka. Tapi terlalu lama tergeletak di lantai. Sekitar 1 jam. Sampai mati kehabisan darah.

Padahal doktrin keadaan krisis seperti itu tegas: lakukan ICE. Isolate, Catch, Evacuate. Pojokkan pelakunya. Ringkus pelakunya. Evakuasi korbannya.

Polisi sebenarnya sudah tiba di lokasi hanya beberapa menit dari peristiwa. Tapi yang didatangi pertama justru lokasi di depan rumah mayat. Di sebelah sekolah.

Dari situ memang ada pengaduan ke 911. Yakni ketika dua orang yang baru keluar dari rumah mayat ditembak Salvador Ramos remaja 18 tahun itu. Lokasi rumah mayat yang di sebelah sekolah menyebabkan polisi tidak mengira ada juga penembakan di sekolah. Yang justru lebih dahsyat. Dengan pelaku yang sama.

Polisi akhirnya juga ke sekolah itu. Tapi lebih banyak berkumpul di koridor. Tidak segera bertindak. Sampai ada orang tua siswa yang minta ke polisi agar memberikan senjata dan rompinya. Ia sendiri yang akan mendobrak masuk ke dalam kelas.

Di lain pihak, beberapa siswa yang tergeletak di lantai, sempat menelepon 911. Dengan ketakutan. Minta tolong. Agar dikirim segera polisi.

Siswa itu meraih HP milik guru mereka yang tergeletak tewas di sebelahnya. Itu berani mereka lakukan karena Ramos, Si pembawa senjata, lagi ke kelas sebelah. Mereka juga berani meraih darah dari lantai untuk diusapkan ke seluruh badan. Juga darah dari teman mereka yang sudah tewas. Lalu pura-pura sudah mati.

Komandan Pete berpikiran lain. Ia tetap menunggu kunci cadangan. Untuk bisa masuk ke kelas. Kunci itu masih diambil dari petugas pembawa kunci cadangan. Lama sekali. Ia tetap tidak mau mendobrak pintu atau jendela. Ia berpikir Ramos sedang berlindung dan siap menembak. Pikiran Pete lainnya: toh sudah tidak ada suara penembakan lagi. Itu ia anggap keadaan tidak membahayakan siswa lagi. Sama sekali tidak terpikirkan siapa tahu sudah banyak yang tertembak dan masih bisa diselamatkan.

Itulah yang akan jadi pusat penyelidikan atas Komandan Pete. Padahal ia sudah mengikuti pelatihan intensif keadaan seperti itu. Ia sudah 25 tahun mengabdi di kepolisian.

Pete juga tahu aturan baru menghadapi peristiwa seperti itu. Langsung dobrak. Aturan baru itu dibuat sebagai koreksi cara lama. Terutama setelah terjadi penembakan serupa di pantai timur 10 tahun lalu. Agar tidak terjadi lagi.

Ternyata berulang.

Bukan main kemarahan masyarakat Uvalde. Dan seluruh Amerika.

Rupanya perhatian Pete kini sudah terbagi ke bidang lain. Ia lagi ingin jadi politisi. Ia ikut Pilkada di Uvalde. Untuk menjadi anggota dewan kota. Sudah terpilih. Ia bisa segera berhenti dari jabatan komandan polisi di situ. Dengan pangkat kapten.

Latar belakang Ramos sendiri kian terkuak. Ternyata ia cukup aktif di medsos. Yakni di Yubo. Yang 90 persen anggotanya anak berumur 25 tahun ke bawah. Menurut Yobo ada 79 juta anak muda di medsos tersebut. Termasuk Ramos.

Ramos juga sering live di Yubo. Anak berumur 18 tahun ini sering bicara mesum di situ. Live. Juga sering mengancam lawan bicaranya. Khususnya wanita. Ia pernah mengancam si wanita untuk diperkosa dan dibunuh. CNN juga menulis Ramos pernah mengancam akan menembaki sekolah si wanita.

Dalam satu live Ramos pernah mengalihkan kamera HP ke senjata yang ia miliki. Sambil memberikan ancaman tersebut. Polisi akhirnya menemukan Ramos memiliki 60 magazine dengan peluru sebanyak 1.657 buah. Sebagian ditemukan di rumah Ramos.

Hannah, 18 tahun, juga anggota Yubo. Dia dari Ontario Kanada. Hannah pernah melaporkan tingkah Ramos seperti itu ke pengelola Yubo. Ramos sempat di-blacklist di Yubo. Tapi, kata Hannah, hanya sebentar. Lantas boleh aktif lagi

Ramos kini sudah tidak mikir apa-apa di kuburnya. Justru Pete yang sibuk menyelamatkan akhir karirnya.(Dahlan Iskan)

Tags: Dahlan IskanDisway

Related Posts

--

Serangan Fajar

Friday, 6 March 2026
--

Bela Khamenei

Friday, 6 March 2026
Ilustrasi strategi perang Israel-Amerika dalam menyerang Iran.--

Tujuan IsAm

Wednesday, 4 March 2026
Ilustrasi Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dan potensi krisis listrik dampak dari perang Israel vs Iran.--

Krisis Bahlil

Wednesday, 4 March 2026
Ilustrasi Joao Angelo de Sousa Mota dan misi besarnya untuk Koperasi Desa Merah Putih.--

Petir Agrinas

Monday, 2 March 2026
Ilustrasi penyerangan Israel-Amerika Serikat ke Iran.--

Bom Suci

Monday, 2 March 2026
Next Post
Harga Kelapa Anjlok

Harga Kelapa Anjlok

Discussion about this post

Rekomendasi

Direktur Reserse Kriminal Khusus (Dirreskrimsus) Polda Gorontalo, Maruly Pardede, saat memberikan keterangan pers. Rabu (04/02), di Mapolda Gorontalo.(Foto: Natharahman/ Gorontalo Post)

Polda Gorontalo: Transaksi Emas Tambang Ilegal Bisa Berujung Bui 5 Tahun

Thursday, 5 March 2026
Lapak pasar murah milik PT PG Gorontalo diserbu warga dengan penjualan gula murah Rp 16.000/kg. (Foto: Roy/Gorontalo Post).

Pabrik Gula Gorontalo Jual Gula Murah Stabilkan Harga Pasar

Friday, 6 March 2026
Prof. Eduart Wolok

Studi Dokter Spesialis so Ada di UNG

Wednesday, 4 March 2026
15 RAMADAN: Lapangan Batudaa, Kabupaten Gorontalo dipadati ribuan warga untuk berburu kacang dan pisang pada tradisi malam qunut, Kamis (5/3). Masyarakat setempat mengemasnya dalam bentuk festival. (foto: Aviva Dinanti Lambalano/ gorontalo post)

Malam Qunut, Tradisi Unik Berburu Kacang dan Pisang

Friday, 6 March 2026

Pos Populer

  • Prof. Eduart Wolok

    Studi Dokter Spesialis so Ada di UNG

    86 shares
    Share 34 Tweet 22
  • 10 Karyawan Perusahaan di Pohuwato Positif Narkoba

    60 shares
    Share 24 Tweet 15
  • Audiensi Strategis: Investor Jepang Gali Informasi Legalitas dan Dampak Sosial PT BJA

    57 shares
    Share 23 Tweet 14
  • Menjembatani Visi-Misi Kepala Daerah dan Kerja Birokrasi

    55 shares
    Share 22 Tweet 14
  • Polda Gorontalo: Transaksi Emas Tambang Ilegal Bisa Berujung Bui 5 Tahun

    50 shares
    Share 20 Tweet 13
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 2 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.