Gorontalopost.id – Tradisi ketuk sahur perdana atau lebih dikenal dengan koko’o telah menjadi tradisi turun temurun yang dilakukan oleh sebagian warga Kota Gorontalo.
Utamanya dari beberapa kelurahan yaitu Talumolo, Bugis dan Tenda. Anggota Deprov dapil Kota Gorontalo, Fikram Salilama menilai tradisi yang hanya dilakukan sekali dalam setahun yaitu di hari pertama Ramadan, harus dipertahankan.
Karena menjadi tradisi unik di Gorontalo dan sangat potensial untuk dikembangkan menjadi event wisata religi yang potensial menarik wisatawan. Sama seperti tumbilotohe yang menjadi tradisi masyarakat di akhir Ramadan.
“Ketuk sahur ini sudah jadi tradisi yang harus dipertahankan. Dua tahun terakhir kita tidak laksanakan ke luar wilayah karena tingginya kasus Covid-19,” ungkap Fikram.
Dia mengakui, setiap daerah pasti memiliki cara atau tradisi tersendiri dalam membangunkan sahur. Tapi tradisi Koko’o di Kota Gorontalo punya kenunikan tersendiri dan paling meriah. Karena kegiatan ini dilakukan secara spontan oleh masyarakat.
“Warga begitu gembira menyambut bulan suci ramadhan. Bahkan bukan hanya remaja saja, tapi lansia juga ikut memeriahkan. Mudah-mudahan Koko’o berkesinambungan terus karena ini adalah budaya,” ujarnya.
Gubernur Gorontalo, Rusli Habibie mengakui jika tradisi tahunan ini merupakan hal yang positif bagi masyarakat saat datangnya bulan ramadhan. Olohnya harus dipertahankan tradisi yang sudah turun temurun.
“Apalagi warga sangat bergembira menyambut bulan puasa. Karena belum tentu kita bisa bertemu lagi dengan bulan yang suci ini lagi di tahun depan,” kata Gubernur Gorontalo Rusli Habibie. (rmb)












Discussion about this post