logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Persepsi

Wali Kota yang Menyejarah

Lukman Husain by Lukman Husain
Monday, 28 March 2022
in Persepsi
0
Anakmu Bukan Milikmu

Basri Amin

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Related Post

Batas-Batas Pengobatan

Epistemologi dan Ontologi Sadaka: Analisis Historis, Teologis, dan Sosiokultural  

Dana Abadi Rakyat Gorontalo: Menghidupkan Kembali Semangat Serambi Madinah Melalui Wakaf Produktif

Profesi-Profesi Hebat

Oleh

Basri Amin

Ini adalah tentang seorang Wali Kota yang (pantas) dicatat oleh sejarah. Otaknya cerdas! Imajinasinya efektif bekerja di alam nyata. Kata-kata dan perbuatannya sejalan. Ia membangun dengan keramahan, kepekaan, dan tanggap dengan keinginan warganya.

Wali Kota ini mengurus kota-nya “seperti mengurus halaman rumahnya sendiri…”. Ia amat mengetahui kontur setiap jengkal kotanya dengan jeli. Ia tiap pagi sarapan dengan koran dan memastikan denyut keluhan warganya. Hampir semua pemuka masyarakat respek dengan sang Wali Kota.

Sebuah peristiwa terjadi. Seorang murid sekolah mengalami kecelakaan di sebuah turunan jalan. Rem sepeda anak sekolah ini blong dan ia pun meluncur dan menabrak sebuah Monumen Pahlawan yang terletak di simpang jalan. Murid itu pun akhirnya meninggal.

Mengetaui kejadian ini, sang Wali Kota pun langsung memerintahkan untuk membongkar Monumen (pahlawan) tersebut untuk dialihkan ke pinggir jalan. Sang Wali Kota berkata: “biar monumen pahlawan, tapi ia tidak berhak mencabut nyawa seorang anak!”.

Wali Kota Bandung ini demikian gesit dan tegas bertindak. Sikapnya amat “terang” dengan harapan warga kotanya. Itulah dasar mengapa ia berhasil melahirkan “karya besar” yang nyata-menyejarah. Inilah sebagian kecil dari kisah dan warisan Wali Kota (burgemeester) Bandung pertama, Tuan B.Coops (1913-1921), yang dilanjutkan oleh Ir. J.E.A. Von Wolzogen Kuhr (1928-1934), seorang dosen dan mahaguru dari Technische Hoogeschool (TH) Bandung. Pada periode 1921-1934 inilah Bandung secara mendasar amat giat membangun dan mengukuhkan rancang-bangun tata kotanya, hingga mencapai puncaknya sebagai “Parijs van Java” yang terkenal itu.

Pada periode akhir abad ke-19, wilayah Bandung dipimpin oleh seorang asisten residen yang hebat pula. Ia seorang budayawan, pekerja keras, aktif dan kaya inisiatif. Ia berhasil membangun Bandung sesuai lanskap alamnya berkat kemampuannya menggerakkan “partisipasi” masyarakat.

Ia membuat sejumlah perkumpulan (vereeniging). Sejumlah tuan tanah, pemilik perkebunan teh dan gula, pengusaha susu, seniman dan sastrawan, botanikus, filantopis, dan pemuka-pemuka masyarakat amat mendukung penguasa kota Bandung untuk tampil kreatif dan membangun. Ini terjadi sejak “pelopor” kota Bandung merancang basis (partisipasi) masyarakat untuk kota ini. Orang ini tiada lain adalah Pieter Sijthoff yang berkarya penting antara 1882 hingga sekitar 1896 di Bandung.

Dari segi bangunan fisik dan gagasan “menjadi kota” modern, Bandung dikatakan berdiri pada tahun 1898, melalui sebuah perjumpaan yang dahsyat antara lanskap alam, kehadiran para pemuka ekonomi dan perkumpulan masyarakat (societiet) dan peran penguasa kolonial di itu.

Dengan begitu, kota ini tak lepas dari imajinasi Barat yang modern di satu sisi, tapi juga terdapat faktor dukungan pemuka-pemuka ekonomi yang filantropis dan kalangan profesional (botanis, seniman, dll) yang mendukung imajinasi kebudayaan dalam kemajuan kota Bandung di sisi lain.

Bandung menjadi Kota yang sesungguhnya, secara legal, ketika disebut statusnya sebagai “Gemeente” (Kota) yang otonom pada 1906. Melalu buku klasik Haryoto Kunto, “Wajah Bandoeng Tempo Doeloe” (Granesia, 1984, 384 halaman), saya menyelami Bandung yang sebenarnya dan bagaimana kepemimpinan kota berproses dan menempa titik pijaknya.

Sangat jelas, Bandung bukanlah kota yang memaksa dirinya untuk (sekadar) latah disebut “kota tua” dan menyandang status itu tanpa jejak. Sangat terbalik dengan beberapa kota di negeri ini yang acapkali bernafsu menentukan usia kotanya yang tua, tapi tanpa kesadaran dan pengetahuan yang cukup dan konsisten. Bahkan tidak pernah diikuti oleh sebuah tekad agar mampu “membuat sejarah”.

Tampilan yang terus disuguhkan dari waktu ke waktu adalah seremoni biasa yang berulang. Sehingga, yang ditampilkan adalah kegembiraan jangka pendek yang kosong. Pidato dan baliho memang banyak, tapi isinya lebih banyak pembenaran yang terpisah dari alam nyata dan visi fundamental untuk perbaikan berkelanjutan.

Tabiat “imitasi” dalam perkara membangun kota tidak akan pernah membuat perbaikan mendasar. Dasar pembangunan kota adalah “imajinasi yang berani dan kreatif”. Setiap kota harus mampu menyerap “energi zaman” yang melingkupinya dan harus berusaha keras “mencipta” jiwa baru yang memberi nafas bagi setiap ruang yang menopang penghidupan warga kotanya.

Identitas kota memang terletak sebagiannya di masa lalu, tapi identitas itu hanya mungkin menjadi identitas yang mewarnai dan berkelanjutan kalau dimensi kebudayaan (sebuah kota) sudah ditemukan dengan jelas. Dengan itulah ia tumbuh-berkelanjutan. Sayang sekali karena kesadaran ini cenderung lamban di kota-kota kita. Mengapa? Pembangunan kota-kota kita terlalu didikte oleh nafsu kekuasaan-jangka pendek, kepungan pasar, dan tabiat kolektif yang liar dan sok tahu.

Kepekaan atas masalah tertentu, kecermatan memahami kebiasaan-kebiasaan yang sangat spesifik dan kemampuan melibatkan warga di berbagai segmen, masih jarang diletakkan dalam sebuah kerangka pemahaman yang utuh. Tak heran kalau banyak sumberdaya (perbaikan) terbuang percuma.

Para penguasa kota dan institusi yang melingkarinya terbiasa “tak mau belajar”. Sehingga, yang berulang muncul adalah perkara-perkara elementer yang menyita waktu dan energi. Demikian juga dengan motif-motif jangka pendek yang terus mengepung (keseharian) pemeritahan kota. Keadaan ini sejak awal tidak pernah cermat di-diagnosa.

Beberapa waktu lalu saya berada di kota Bandung (“Parijss van Java, the Garden of Allah”). Sebelumnya sempat singgah di kota Malang (“Holland Tropische Stad”).

Bandung yang awalnya (hanya) dikenal sebagai “desa pegunungan kecil” (een kleini bergdessa), akhirnya mengalami masa keemasan mereka, sekitar dua puluh tahun di awal abad 20 dan berkat semangat dan pencapaian itulah, kota ini memeluk tradisi prestasinya dengan baik dan membangun aspirasi yang tak kenal henti hingga kini. Bagaimana dengan (kota) kita?.***

Penulis adalah Anggota Indonesia Social Justice Network (ISJN).

E-mail: basriamin@gmail.com

Tags: basri aminpersepsi

Related Posts

Basri Amin

Batas-Batas Pengobatan

Monday, 20 April 2026
Epistemologi dan Ontologi Sadaka: Analisis Historis, Teologis, dan Sosiokultural   

Epistemologi dan Ontologi Sadaka: Analisis Historis, Teologis, dan Sosiokultural  

Monday, 20 April 2026
Ridwan Monoarfa

Dana Abadi Rakyat Gorontalo: Menghidupkan Kembali Semangat Serambi Madinah Melalui Wakaf Produktif

Friday, 17 April 2026
Basri Amin

Profesi-Profesi Hebat

Monday, 13 April 2026
Ridwan Monoarfa

Dari Desa Andaleh ke Gorontalo: Mengakhiri Ilusi Peternakan Berbasis Bantuan

Saturday, 11 April 2026
Basri Amin

Kota Gorontalo, ‘298’ Tahun? (Catatan Terbuka kepada Wali Kota)  

Monday, 6 April 2026
Next Post
Kakanwil BPN Provinsi Gorontalo, Erry J. Pasoreh (Kanan) ketika melakukan foto bersama dengan Ketua Ombudsman Provinsi Gorontalo, Alim Niode (kiri) dan Kepala Kantor Pertanahan Kota Gorontalo, Sugeng Siswanto (Tengah), pada acara penyerahan penyampaian hasil penilaian kepatuhan Ombudsman RI Provinsi Gorontalo terhadap standar pelayanan publik tahun 2021, Senin (28/3) di Ball Room Hotel Aston.

Layanan Publik BPN Gorontalo, Tahun Depan Ditargetkan Masuk Zona Hijau

Discussion about this post

Rekomendasi

AKBP H. Busroni

Pidana Menanti Polisi Terlibat PETI, Janji Kapolres Pohuwato, Termasuk Sanksi Internal

Wednesday, 22 April 2026
Dua orang remaja meninggal dunia setelah menabrak sebuah mobil tronton yang terparkir di jalan Trans Sulawesi, Kecamatan Botumoito, Kabupaten Boalemo.

Tabrak Tronton Dua Remaja Tewas, Hilang Kendali Saat Tronton Terparkir di Tepi Jalan

Monday, 20 April 2026
Wardoyo Pongoliu

Izin Tambang, IPR Dengilo Tunggu Persetujuan Pemkab

Tuesday, 21 April 2026
Basri Amin

Batas-Batas Pengobatan

Monday, 20 April 2026

Pos Populer

  • Dua orang remaja meninggal dunia setelah menabrak sebuah mobil tronton yang terparkir di jalan Trans Sulawesi, Kecamatan Botumoito, Kabupaten Boalemo.

    Tabrak Tronton Dua Remaja Tewas, Hilang Kendali Saat Tronton Terparkir di Tepi Jalan

    181 shares
    Share 72 Tweet 45
  • Oknum ASN Diduga Palsukan Akta Kematian

    181 shares
    Share 72 Tweet 45
  • Epistemologi dan Ontologi Sadaka: Analisis Historis, Teologis, dan Sosiokultural  

    119 shares
    Share 48 Tweet 30
  • Batas-Batas Pengobatan

    83 shares
    Share 33 Tweet 21
  • Viral Siswi SMP di Kabgor Di-bully, Orang Tua Pelaku Justeru Minta Proses Hukum

    76 shares
    Share 30 Tweet 19
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 2 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.