logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
Pemkot Gorontalo

Biomasa
Home Disway

Tahun Komitmen

Jitro Paputungan by Jitro Paputungan
Friday, 31 December 2021
in Disway
0
Tahun Komitmen
Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Related Post

Serangan Fajar

Bela Khamenei

Tujuan IsAm

Krisis Bahlil

Oleh:
Dahlan Iskan

——————

Ini seperti terperosok ke lubang –yang saya sendiri penggalinya.

Saya bisa memaklumi keluhan pembaca: bagaimana bisa membaca ulang lebih 350 Disway untuk bisa memilih yang terbaik selama tahun 2021. Apalagi waktu yang disediakan hanya setengah hari.

Karena itu saya begitu terharu melihat banyak juga yang telah mengerjakannya: N. Ikawijaya, BitrikSulaiman, Robba Batang, Budi, MasrurohRuroh, Disway Reader, AryoMbediun, Parikesit, Dinan Terang, Leong Putu, Syaiful M, Yea Aina, Iqbal SafirulBarqi, ThamrinDahlanIbnuaffan, Ma’roef M, SupriAjee, Emji, ChAn Reader, Johan, MirzaMirwan, Hendri 18081545Maruf, HeiruddinArafah, Mbah Mars, Disway1808672, RAMPunjabs, BunBayu, mama e bocah Reader, Disway 18081057, Aji Muhammad Yusuf, rid kc, Amat…

Total hampir 40 orang. Saya sampai kelelahan membaca semuanya. Apalagi waktu yang tersedia hanya 2 jam. Maka hari ini tidak cukup waktu untuk memilih komentar pilihan.

Dari 35 pemilih itu ternyata hanya 3 orang yang pilihannya sama: soal DiswayPilihan. Dua orang memilih soal 2T. Selebihnya, memilih topik yang berbeda-beda. Betapa beragam minat, misi, keinginan orang.

Saya bersyukur bisa menutup Disway tahun 2021 dengan tanpa bolong-bolong. Pun di saat saya harus masuk rumah sakit –terkena Covid-19 di awal tahun: saya masih bisa terus menulis.

Apakah itu berarti hobi saya adalah menulis –seperti yang disangkakan Prof Pry di komentar Disway dua hari lalu? Hobi sebagai wartawan purnatugas?

Kalau saja menulis itu sekadar hobi, alangkah celakanya saya:  punya hobi saja yang menyiksa diri. Sampai dimarahi  istri karena hanya bisa menjawab hmm hmm saat dia curhat. Dan tetap hmm hmm sambil mendengarkan dia marah.

Juga, untuk apa punya hobi  harus membaca komentar Anda yang sering sampai 400 lebih itu?

Hobi tentu suatu kegiatan yang kalau dikerjakan menimbulkan kesenangan. Dari sudut ini benar: saya memang senang membaca komentar-komentar itu. Sering terhibur. Tersenyum-senyum. Kadang sampai tertawa. “Tuh, kai mu sudah gila,” celetuk istri saya pada cucunyi.

Tapi yang namanya hobi tentu baru dikerjakan kalau lagi mau mengerjakan. Dari kriteria yang satu ini menulis Disway sama sekali tidak bisa disebut hobi.

Bayangkan: saya harus tetap menulis di saat paling suntuk sekalipun. Kalau suntuknya masih pagi saya masih bisa bilang ke diri sendiri: nanti saja. Kalau sampai siang masih suntuk saya masih bisa bilang: nanti sore saja. Pun ketika sudah sore: nanti saja menjelang magrib.

Kalau menjelang magrib itu tiba tidak ada lagi ruang untuk berkelit. Harus menulis. Pun ketika belum punya ide. Pun ketika suntuknya meningkat. Pun ketika mendadak ada urusan –sampai harus menulis sambil di perjalanan.

Coba, hobi macam mana itu.

Itu sama sekali bukan hobi.

Itu siksa.

Siksa dunia.

Semoga mengurangi siksa kubur.

Tapi mengapa saya melakukan itu –memaksakan diri menulis setiap hari?

Saya teringat ayah. Almarhum.

Hari itu keluarga kami seperti mau kiamat. Kakak sulung saya –satu-satunya yang punya penghasilan tetap sebagai guru madrasah– harus pergi ke Kalimamtan: Samarinda.

Ibu sudah lama meninggal. Sawah sejengkal sudah terjual. Meja, kursi, dipan, lemari sudah jadi nasi. Tikar mendong sudah bolong-bolong.

Kakak harus pergi. Tak terkirakan jauhnya –untuk ukuran saat itu.

Ayah tahu: anak wanitanya itu harus pergi. Saya tidak tahu –kecuali setelah dewasa: saat itu kakak lagi patah hati yang sangat berat. Calon suami pilihannyi dilarang menikahinyi: masih sepupu. Dia memilih pergi –dengan tekad tidak akan pernah kembali. Dia tinggalkan gajinyi untuk kami –lewat surat kuasa untuk mengambil gaji. Dia sudah siap menderita di rantau–daripada hancur di kampungnyi.

Pada jam keberangkatannyi seluruh keluarga, tetangga, kerabat berkumpul di halaman. Mereka menangis-nangis. Terutama ketika sado yang menjemputnyi tiba. Untuk membawanyi ke kota –dari Kota Madiun akan naik kereta api ke Surabaya, lalu naik kapal laut ke Samarinda. Pak kusir membantu kakak saya menaiki sadonya.

Berangkat.

Tidak ada lagi bunyi sepatu kuda. Tidak ada suara apa-apa. Sedu dan sedan sudah lama mengeringkan air mata.

Sado pergi.

Kakak pergi.

Tetangga pergi.

Kerabat pergi.

Yang tinggal hanya sepi.

Ayah mengajak saya duduk di emper. Di atas balai-balai bambu –amben. Lantai tanah masih basah, bekas kebanyakan disiram air agar tidak berdebu.

“Dakelan… ,” kata ayah saya membuka pembicaraan. Ia tidak bisa mengucapkan ”h” yang berat di nama Dahlan. “Tahukah kamu kenapa ketika semua orang tadi menangis ayah tidak menangis?”

Saya diam.

“Sebetulnya ayah tadi juga ingin menangis. Tapi ayah ingat pesan guru. Harus bisa  mengikhlaskan apa saja,” katanya.

Saya masih diam.

“Ayah tadi tidak menangis karena sedang berlatih ikhlas. Ikhlas itu harus dilatih,” tuturnya. “Agar kelak, ketika kita menghadapi sakaratul maut, meregang nyawa, kita sudah terlatih untuk ikhlas.”

Ayah begitu fasih menirukan kata-kata gurunya. Guru yang dimaksud ayah adalah dalam pengertian guru spiritual: guru tarekat Syatariyah.

“Ayah khawatir, kalau kehilangan mbakyumu saja tidak ikhlas bagaimana kehilangan nyawa kelak,” ujar ayah.

Ikhlas harus dilatih. Latihan ikhlas harus dilakukan.

Kata-kata ayah itu terus terngiang sampai saya besar. Sampai sekarang.

Berarti bersabar juga harus dilatih. Tersenyum juga harus dilatih. Mengucapkan terima kasih harus dilatih.

Latihan seumur hidup. Untuk menghadapi sakaratul maut kelak.

Komitmen juga harus dilatih.

Menulis di Disway setiap hari adalah latihan bagi saya untuk terus bisa memegang komitmen.

Banyak yang suka mengingkari komitmen dengan berbagai alasan –yang kadang memang masuk akal. Saya mencoba berlatih dengan cara yang keras: mengikatkan diri pada beberapa komitmen. Ada yang besar, ada yang kecil.

Menulis di Disway setiap hari adalah komitmen kecil. Karena itu harus saya jaga. Apa pun halangannya.

Kadang muncul di perasaan untuk menyerah, tidak menulis –terutama ketika sangat suntuk. Lalu muncul perasaan tandingan: kalau untuk komitmen ringan ini saja mudah ingkar bagaimana dengan komitmen yang berat.

Perasaan tandingan itu yang selalu menang. Saya pun mulai memegang HP: menulis.

Komitmen seperti itu tentu berbeda dengan sekadar hobi wartawan purnabakti. Anda tahu itu. Bukan saja dalam menulis tapi juga dalam menjaga mutu.

Saya bersyukur bisa mengikatkan diri pada komitmen. Bahkan tidak hanya satu komitmen.

Saya tahu: Anda juga sudah mengikatkan diri pada komitmen pilihan Anda –saya tidak akan menghitung berapa komitmen yang Anda buat dan seberapa kuat talinya.

Selamat tahun baru.

Dengan komitmen lama. (*)

Tags: Catatan DahlanDahlan IskanDiswayTahun Komitmen

Related Posts

--

Serangan Fajar

Friday, 6 March 2026
--

Bela Khamenei

Friday, 6 March 2026
Ilustrasi strategi perang Israel-Amerika dalam menyerang Iran.--

Tujuan IsAm

Wednesday, 4 March 2026
Ilustrasi Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dan potensi krisis listrik dampak dari perang Israel vs Iran.--

Krisis Bahlil

Wednesday, 4 March 2026
Ilustrasi Joao Angelo de Sousa Mota dan misi besarnya untuk Koperasi Desa Merah Putih.--

Petir Agrinas

Monday, 2 March 2026
Ilustrasi penyerangan Israel-Amerika Serikat ke Iran.--

Bom Suci

Monday, 2 March 2026
Next Post
Kritik Anas, Pelantikan Pejabat Diwarnai Pemasangan Baliho “Mereka Belum Membayar Gaji”

Kritik Anas, Pelantikan Pejabat Diwarnai Pemasangan Baliho "Mereka Belum Membayar Gaji"

Discussion about this post

Rekomendasi

Direktur Reserse Kriminal Khusus (Dirreskrimsus) Polda Gorontalo, Maruly Pardede, saat memberikan keterangan pers. Rabu (04/02), di Mapolda Gorontalo.(Foto: Natharahman/ Gorontalo Post)

Polda Gorontalo: Transaksi Emas Tambang Ilegal Bisa Berujung Bui 5 Tahun

Thursday, 5 March 2026
Prof. Eduart Wolok

Studi Dokter Spesialis so Ada di UNG

Wednesday, 4 March 2026
Lapak pasar murah milik PT PG Gorontalo diserbu warga dengan penjualan gula murah Rp 16.000/kg. (Foto: Roy/Gorontalo Post).

Pabrik Gula Gorontalo Jual Gula Murah Stabilkan Harga Pasar

Friday, 6 March 2026
Pihak BRI Gorontalo saat melakukan pendaftaran perkara gugatan sederhana, di Kejari Kota Gorontalo. (F. Istimewa)

Ratusan ASN Kredit Macet, BRI Gandeng Kejaksaan Tempuh Jalur Hukum

Friday, 22 August 2025

Pos Populer

  • Prof. Eduart Wolok

    Studi Dokter Spesialis so Ada di UNG

    92 shares
    Share 37 Tweet 23
  • 10 Karyawan Perusahaan di Pohuwato Positif Narkoba

    61 shares
    Share 24 Tweet 15
  • Polda Gorontalo: Transaksi Emas Tambang Ilegal Bisa Berujung Bui 5 Tahun

    64 shares
    Share 26 Tweet 16
  • Audiensi Strategis: Investor Jepang Gali Informasi Legalitas dan Dampak Sosial PT BJA

    57 shares
    Share 23 Tweet 14
  • Menjembatani Visi-Misi Kepala Daerah dan Kerja Birokrasi

    55 shares
    Share 22 Tweet 14
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 2 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.