logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Persepsi

Setan-Setan dalam Sejarah

Jitro Paputungan by Jitro Paputungan
Wednesday, 28 July 2021
in Persepsi
0
Negeri yang Ke(gemuk)an   

Basri Amin

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Related Post

Make Up School dan Kota sebagai Ruang Belajar: Jalan Kebudayaan Menuju Kota Jasa yang Beradab

Pancasila Jangan di “Bibir” Saja

Pertumbuhan Ekonomi Melesat Menuju Proses Crowding Out

TGR, Kini Mengikat dan Didahulukan

Oleh :
Basri Amin

—–

Tema ini terkesan keluar dari keakalsehatan. Tentu saja tidak. Telah lahir banyak penjelasan akademis tentang keberadaan “makhluk halus” dalam sejarah Indonesia. Tak perlu jauh ke belakang atau mengesankan bahwa keberadaan setan-setan dan kegaiban yang acak dalam sejarah manusia identik dengan kekolotan tertentu. Nils Bubandt, seorang Indonesianis dari Universitas Aarhus di Denmark telah menulis panjang lebar bagaimana gejala “roh jahat” berperan dalam politik Indonesia kontemporer (2016).

Jika menengok sedikit ke belakang, di Gorontalo pun, pembahasan tentang setan-setan dan roh jahat sudah dikerjakan oleh penulis Belanda J.G.F. Reidel tahun 1870. Selanjutnya, Maha Guru kajian Gorontalo, Prof.S.R. Nur juga menggambarkan hal serupa ketika menjelaskan kondisi (keagamaan) Gorontalo pra-Islam (FI, 1995). Di Gorontalo, pernah dikenal “sesembahan” lama –sebelum Islam datang dan sebagian masih dipercaya setelah (agama) Islam hadir dan dominan di Gorontalo. Telah dikenal sejenis “tuhan” atau “dewa” yang punya kedudukan tertentu, antara lain dipercaya berada di Gunung Tilongkabila dan di Gunung Boliohuto. Dewa/tuhan itu bernama Toguwata  dan Bulio lo Huto.

Di Minahasa, Opoisme dikaji dengan rinci oleh R.A.D. Siwu & David Tulaar, dkk (1993). Dalam literatur, tema ini tampaknya akan abadi karena formasinya yang unik dari zaman ke zaman, dari Afrika, Amerika, sampai di Asia. Bacalah Samanism karya Mircea Eliade (2004 [1951]).

Dalam catatan Riedel (1870), dewa baik di Gorontalo disebut dengan nama “Bunia”. Dunianya mengenal jenis kelamin. Bunia yang laki-laki bernama: Hana, Kobeha, Murutadi/Murotodi, Rokohe/Lokohe, Muluumi/Maluumi, Alamatulu. Bunia yang perempuan dikenal dengan panggilan nama-nama: Motoqai/Molotogai, Dulahu lo Oabu. Makhluk lain yang eksis dan terakui kehadirannya adalah Setan. Dalam sejarah (kosmologi) Gorontalo dikenal dengan panggilan “Lati”. Uniknya karena rupanya di dunia lati juga dikenal jenis kelamin. Bagi setan (jahat) laki-laki, yang populer, dikenal dengan nama-nama: Ti Tulalo Dehelo; Ti Pupato, Bongongo, Ti Tumayango, Ti Mananu, Ti tulalodehelo, Ti Bantatulia. Kontras dengan itu, rupanya kehadiran setan baik juga dikenal keberadaannya –dengan panggilan: Ti Bilalio, Ti Dingingo, Ti Tobo, PuPuto.

Pengakuan akan kehadiran, peran, dan interaksinya dengan (dunia) manusia dimediasi melalui sejumlah ritual dan ‘pesta’, terutama ditujukan agar manusia menegosiasi atau menolak bencana yang “disebabkan” oleh (kalangan) setan. Di sini di kenal dengan upacara Mobunito atau Towohu. Sebagai penyelenggara, bukanlah sembarang orang. Ia adalah seseorang yang punya reputasi khusus.

Sebagai tokoh kunci dalam “acara gaib”, “berpengalaman bergaul” dan “berbahasa” dengan proponen-proponen gaib di berbagai ruang dan situasi. Dia adalah seseorang yang berderajat Wombua (di Suwawa) atau Talenga (di Limboto). Dalam prosesinya, bahan-bahan alam dan benda-benda tertentu merupakan prasyarat pokoknya, antara lain untuk sesajen, berupa: Ulango, tabongo, Polohungo, damahu (damar), alama untuk bunia. Meski demikian, dalam hal ini pengakuan dan praktik-praktik interaktif dengan dunia bunia dan lati, tapi “Eya” adalah yang Tertinggi dan Berkuasa bagi segala urusan, kondisi, dan kehendak! Kekuasaan yang bersifat tunggal (tuau loo tuau lio).

Beberapa istilah seperti Doti, Opo-Opo, Fui-Fui, Tiup-Tiup, Huhemo, adalah simbolisme yang menyertai pengakuan manusia tentang dunia setan dan kawanannya. Dipercaya pula bahwa sebagian “manusia” adalah “hamba setan”. Ia telah kalah, ditundukkan, dan diperalat olehnya. Kejatuhan (derajat) manusia, indikasi utamanya justru karena kekalahannya menyikapi setan dan/atau iblis. Di sisi ini, iblis dan setan mempunyai “fungsi” yang unik. Terkesan kuat bahwa ia (berperan) sebagai data/fakta dan dengan itulah Malaikat “mencatat dosa” manusia: tentang kegagalannya menguatkan (panggilan) ketuhanan dalam jiwa dan pikirannya.

Di kala lain, kita juga mengenal beragam ekspresi bahasa yang merujuk keadaan tentang ke-gaib-ban. Terlebih ketika terjadi peristiwa tertentu yang di luar dugaan, tidak biasa, penyakit yang sulit disembuhkan dan dirasa penuh keanehan, maka di masyarakat tertentu cenderung menyikapinya dengan ungkapan: “ada orang yang kerja; ada ‘kiriman’ dari sesuatu atau dari si ‘anu’, “sms gratis”, dst.

Dalam ukuran sehari-hari, kita sebagai manusia sejak awal sudah sangat terbiasa dengan Jin, Setan, Iblis, Roh Jahat, dst. Kita selalu waswas dengan kehadirannya dan selalu membentengi diri dari pengaruh jahatnya. Padahal, kita juga tahu bahwa banyak pula manusia yang bisa memanfaatkan kapasitas (jahat) yang melekat pada mereka.

Begitu aktifnya kehadiran setan dalam dunia manusia –bahkan dalam perkara kesehariannya– dan terbahasakan sedemikian rupa secara rutin, sehingga di dunia bahasa pun akhirnya mengakui itu. Dalam KBBI misalnya, “setan” beroleh defenisi yang terang: “roh jahat yang selalu menggoda manusia supaya berlaku jahat”. Di bagian lain, KBBI juga mengartikan “kesetanan” dengan pernyataan tegas, yaitu: “kemasukan setan”. Dengan contoh sederhana seperti itu, kita jadi lebih paham (?) bahwa “setan” telah lama beroleh pengakuan yang unik dari manusia. Bahasa manusia “di-isi” oleh dunia setan. Di kamus resmi, tampak terbaca kata-kata: persetan, kesetanan, menyetan, mempersetan, mempersentankan, menyetan. Yang jelas, dalam bahasa Kamus, setan itu adalah iblis. Nama beda, tapi adanya sama. Ia adalah “roh jahat” (Poerwadarminta, BP, 1984; KBBI)

Tentu saja, terutama dalam konsepsi agama, setan pastilah berada di bawah kapasitas manusia. Manusia dipandang selalu (bisa) dekat dengan Tuhan dan dimenangkan kepentingannya oleh Tuhan. Tuhan pun memberi banyak “penjelasan” dan “cara” memahami dan menyikapi makhluk bernama “Setan” itu. Sejajar dengan Setan, kita juga mengenal Jin dan Iblis. Semuanya adalah “makhluk gaib” yang telah dijelaskan teks-teks agama-agama. Kehadirannya adalah kekayaaan khazanah pengetahuan di satu sisi, tapi sekaligus berfungsi sebagai sesuatu yang “lain” bagi dunia manusia dalam sejarahnya, termasuk dalam makna kiasan-nya: sesuatu yang setaniah, sesuatu yang seringkali terhubung dengan klenik/magis, sihir, nujum, arwah-arwah, dst.

Tafsir yang sangat “rasional” dalam khazanah Islam misalnya, dengan sangat elegan digambarkan oleh Muhammad Asad (Leopold Weiss) dalam The Message of the Quran (2017[1980]), di jilid III sangat terang bagaimana makhluk bernama Jinn diterjemahkan dengan kata-kata “makhluk yang tidak tampak”. Tentu dengan uraian yang jauh lebih kompleks dalam sejarah agama-agama.

Karena pentingnya makhluk ini, Asad bahkan menulis “tafsir jinn” yang, pada konteks sifatnya, sama dengan setan (tak punya eksistensi ragawi), dengan asal-usul dari api–dari angin yang sangat panas. Tafsir lain yang tak kalah rasionalnya adalah Muhammad Ali dalam The Holy Qur’an, setebal 1.682 halaman. Saya mengoleksi edisi 1995, terbitan Darul Kutubil Islamiyah. Dikatakan bahwa Jinn adalah makhluk halus seperti malaikat, tapi ia jahat, sementara Malaikat semuanya baik. Yang jelas, menurut Muhammad Ali, “jinn punya kaum sendiri”; “ia adalah roh jahat atau makhluk yang mengajak manusia ke arah kejahatan”. Penjelasan tentang Jinn lumayan kompleks dan pembaca bisa menelusuri lebih lanjut di banyak rujukan dan aliran pemahaman. Jangan-jangan “virus” adalah sejenis “setan” yang menyejarah juga? Entah!***

Penulis adalah Parner di Voice-of-HaleHepu;
Anggota Indonesia Social Justice Network (ISJN).
E-mail: basriamin@gmail.com

Tags: basri aminPerpsepsiSetan-Setan dalam Sejarahspektrum sosial

Related Posts

Husin Ali

Make Up School dan Kota sebagai Ruang Belajar: Jalan Kebudayaan Menuju Kota Jasa yang Beradab

Monday, 8 June 2026
Basri Amin

Pancasila Jangan di “Bibir” Saja

Monday, 8 June 2026
Muh. Amier Arham

Pertumbuhan Ekonomi Melesat Menuju Proses Crowding Out

Thursday, 4 June 2026
Yusran Lapananda

TGR, Kini Mengikat dan Didahulukan

Tuesday, 26 May 2026
Basri Amin

Sehat yang Sesat

Monday, 25 May 2026
Tambang Emas Pohuwato, Berkah atau Kutukan Sumber Daya Alam?  Dari Enclave Ekonomi ke Pengukit Pertanian dan UMKM

Tambang Emas Pohuwato, Berkah atau Kutukan Sumber Daya Alam? Dari Enclave Ekonomi ke Pengukit Pertanian dan UMKM

Saturday, 23 May 2026
Next Post
Tanpa Asap

Tanpa Asap

Discussion about this post

Rekomendasi

Basri Amin

Pancasila Jangan di “Bibir” Saja

Monday, 8 June 2026
Gubernur Gusnar Ismail pada peresmian Gorontalo menjadi tuan rumah Pekan Nasional (PENAS) Petani dan Nelayan. (foto: dok-pemprov)

PENAS Gorontalo Kamar Hotel Full Booking

Monday, 8 June 2026
Polsek Wonosari bergerak cepat menangani peristiwa meninggalnya seorang masyarakat yang diakibatkan tersengat aliran listrik.

Warga Wonosari Tewas Tersengat Listrik

Monday, 8 June 2026
Rapat persiapan Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan XVII Tahun 2026 di Aula Rumah Jabatan Gubernur, Jumat (5/6/2026). (Foto : Valen)

Gusnar-Idah Pimpin Rapat Evaluasi Persiapan PENAS XVII Gorontalo

Monday, 8 June 2026

Pos Populer

  • Basri Amin

    Pancasila Jangan di “Bibir” Saja

    13 shares
    Share 5 Tweet 3
  • PENAS Gorontalo Kamar Hotel Full Booking

    14 shares
    Share 6 Tweet 4
  • Warga Wonosari Tewas Tersengat Listrik

    16 shares
    Share 6 Tweet 4
  • Gusnar-Idah Pimpin Rapat Evaluasi Persiapan PENAS XVII Gorontalo

    15 shares
    Share 6 Tweet 4
  • In Memoriam Mohammad Kilat Wartabone, Pendiri Pondasi Bone Bolango

    23 shares
    Share 9 Tweet 6
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 3 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.