logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
Pemkot Gorontalo

Home Disway

Pahlawan Mochtar

Jitro Paputungan by Jitro Paputungan
Tuesday, 8 June 2021
in Disway
0
Pahlawan Mochtar
Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Related Post

Rambo Batman

Omon Kenyataan

Amang Waron

Reflek Radjimin

Oleh:
Dahlan Iskan

—

SAYA pun sudah hampir lupa: begitu besar jasa beliau kepada Indonesia. Boleh dikata, beliaulah yang berhasil membuat luas wilayah Indonesia menjadi dua kali lipat. Tanpa perang. Tanpa pertumpahan darah.

Itulah beliau: Prof Dr Mochtar Kusuma atmadja. Yang meninggal dunia Ahad kemarin. Dalam usia 92 tahun.

Pak Mochtar adalah ahli hukum laut. Yang pertama dimiliki Indonesia. Yang amat langka pun di dunia –saat itu.

Berkat teori Pak Mochtar maka laut di antara dua pulau di suatu negara adalah termasuk wilayah negara itu.

Singkat kata, beliau berhasil mengegolkan satu bentuk baru sebuah negara: negara kepulauan. Yang itu berbeda dengan negara daratan. Main land. Da Lu.

Dunia pun lantas menerima adanya bentuk negara kepulauan itu. PBB juga mengesahkannya. Jadilah United Nation Convention of the Law of the Sea (UNCLOS).

Dari situ pula perundingan perbatasan laut antara Indonesia dan Australia disepakati. Padahal, sebelum itu, perundingan perbatasan tersebut sangat seret. Rumit. Diwarnai kepentingan ekonomi: ada sumber minyak di laut antara Indonesia dan Australia itu.

Indonesia akhirnya memenangkan perundingan itu. Indonesia pun mendapat separo ladang minyak itu –yang setelah TimTim merdeka menjadi bagian Timor Leste.

Saya tidak habis pikir:  bagaimana bisa seorang pribumi seperti Pak Mochtar, di tahun 1955, sudah bisa lulus S-2 dari Yale University, Amerika Serikat.  Untuk ilmu hukum. Berarti di tahun 1953 beliau sudah lulus sarjana hukum Universitas Indonesia (UI).

Keluarga jenis apakah beliau? Kok begitu mementingkan pendidikan?

“Generasi kakak saya itu memang istimewa,” ujar SarwonoKusumaatmadja, adik kandung pak Mochtar. “Kakak saya itu bergabung ke tentara pelajar. Tapi sekolahnya kok bisa selesai tepat waktu,” ujar Sarwono yang juga pernah menjadi menteri di zaman Pak Harto dan di zaman Gus Dur.

Sarwono adalah politikus besar: Sekjen Golkar yang sangat legendaris. Golkar tapi kritis. Kritis tapi Golkar.

Menurut Sarwono, ibundanya adalah keluarga pesantren Balerante di Cirebon. “Beliau orang pesantren pertama yang disekolahkan di sekolah Belanda,” ujar Sarwono. Sang ibu lantas menjadi guru SD di Sekolah Kartini.

Sedang ayahnya adalah pegawai di pemerintahan Belanda. “Ayah saya dari kalangan kleinambtenaartapi  profesi beliau asisten apoteker,” ujar Sarwono.

Sejak kecil Mochtarsudah terlihat pintar dan cerdas. “Kakak saya itu tergolong jenius,” ujar Sarwono mengutip pendapat banyak orang di sekitarnya. Kejeniusan itulah yang membuat ayah dan ibunya berbeda pendapat.

“Ibu saya minta agar Mochtar dibiayai untuk sekolah di luar negeri. Ayah saya tidak setuju. Menurut ayah, yang perlu dibantu adalah keluarga lain yang tidak mampu,” ujar Sarwono.

“Mochtar itu dibiarkan saja bisa jadi dengan sendirinya,” ujar sang ayah seperti ditirukan Sarwono.

Akhirnya Mochtar tidak diberi uang. Ia pilih sendiri untuk sekolah di UI. Lalu ke Amerika Serikat.

Memilih sekolah ke Amerika itu pun sudah menunjukkan ”keanehan” tersendiri. Pada zaman itu semua anak muda ingin sekolah ke Belanda. Apalagi untuk ilmu hukum. Mereka pasti memilih ke Leiden.

“Kakak saya juga punya bakat bisnis,” ujar Sarwono.

Ketika kuliah di UI, pamannya yang di Cirebon sering membawa makanan khas daerah. Mochtar-lah yang mengedarkan makanan itu ke warung-warung. “Saya kebagian pekerjaan bungkus-bungkus,” ujar Sarwono lantas tertawa.

Sarwono sendiri kini berumur 77 tahun. Bicaranya masih tangkas. “Pak Sarwono terlihat sehat sekali,” kata saya mendengar nada bicaranya yang tetap tangkas.

“Saya ini OTG,” jawabnya.

Saya sempat terpancing oleh singkatan itu.

“Saya juga OTG. Januari lalu,” kata saya.

Ternyata OTG yang ia maksud berbeda dengan OTG yang ada di pikiran saya.

“Saya itu Orang Tua Gembira,” tukasnya.

Kami pun tertawa.

Berbeda dengan masa kecil Mochtar, Sarwono kecil dianggap sebagai anak kurang normal. “Dokter mengatakan saya punya kelemahan syaraf motorik. Jangan terlalu banyak diharap,” ujar Sarwono mengenang masa kecilnya.

Dari gaya jalan kakinya saja sudah terlihat kelihatan tidak normal. “Banyak yang mengkhawatirkan saya,” katanya. Terutama kalau lagi jalan kaki berangkat sekolah.

“Tidak ada yang takut saya akan ditabrak mobil, justru saya yang dikhawatirkan akan menabrak mobil,” ujarnya.

Tapi pamannya melihat lain. Sarwono kecil itu dinilai punya banyak kelebihan. Hanya saja belum tahu di bidang apa kelebihan itu.

Maka ketika sang paman bertugas sebagai duta besar di Yugoslavia, Sarwono dibawa ke Eropa. Di umurnya yang 13 tahun.

Bahkan sang paman kemudian menyekolahkan Sarwono ke Inggris.

“Dari sama sekali tidak bisa bahasa Inggris menjadi lulus terbaik,” katanya.

Itu untuk tingkat SMP. Lalu Sarwono masuk SMA Katolik di Jakarta. Setelah itu masuk perguruan tinggi terbaik, ITB.

Di kampus Sarwono aktif di gerakan mahasiswa. Jadilah tokoh mahasiswa. Lalu jadi politikus.

Sarwono pun akhirnya menjadi menteri. Tiga kali pula: Menteri Kelautan, Menteri Lingkungan Hidup, dan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara.

MochtarKusumaatmadja sendiri juga tiga kali menjadi menteri. Yakni Menteri Kehakiman dan dua kali Menteri Luar Negeri.

Keluarga ini memang ”keluarga Menteri”. Putri Pak Mochtar, Prof DrArmidaAlisjahbana adalah Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas. Di era Presiden SBY. Satu angkatan dengan saya.

Tentu banyak yang kaget ketika nama Pak Mochtar tiba-tiba muncul di media: meninggal dunia Ahad lalu. Beliau memang sudah sangat lama tidak ”beredar” di pemberitaan. Yakni sejak beliau sakit: 1999.

“Awalnya beliau kebanyakan obat,” ujar Sarwono.

Dokter berikutnya lantas mengurangi obat. Tinggal dua jenis saja. Beliau pun sehat kembali. Tapi sudah terlambat. Beliau memang masih bisa berpikir, berbicara, dan mendengarkan, tapi tidak bisa lagi bicara.

Beliau juga bisa bergerak tapi lebih banyak di kursi roda.

Hampir 20 tahun Pak Mochtar dalam keadaan seperti itu. Mirip sekali dengan bos saya dulu, yang juga Bendahara Umum DPP Golkar: Eric Samola. Dari kebanyakan obat menjadi seperti itu.

Pak Mochtar akhirnya meninggal dunia. Dari jasa-jasanya pada negara tentu harus sekali Pak MochtarKusumaatmadja menjadi pahlawan nasional. (*)

Tags: Catatan DahlanDahlan IskanDiswayPahlawan Mochtar

Related Posts

Zohran Mamdani saat mengumumkan kebijakan barunya, kali ini soal ojek online di New York.--

Omon Kenyataan

Monday, 19 January 2026
--

Rambo Batman

Monday, 19 January 2026
--

Amang Waron

Tuesday, 13 January 2026
Ilustrasi kondisi seseorang vegetatif.--

Reflek Radjimin

Monday, 12 January 2026
Zohran Mamdani ke Bronx, menandatangani kebijakan di jalanan Sedgwick Avenue didampingi Tascha Van Auken.-crainsnewyork-

Gagal Sukses

Tuesday, 6 January 2026
Ilustrasi Robert Moses dan Jane Jacobs--Savingplaces

Jane Moses

Monday, 5 January 2026
Next Post
Hamim Beri Rindi Batalipu Beasiswa Gratis Kuliah

Hamim Beri Rindi Batalipu Beasiswa Gratis Kuliah

Discussion about this post

Rekomendasi

Dari 21 wanita dan waria yang dilakukan pemeriksaan, dua diantaranya positif sifilis.

Terjaring Razia, Dua Orang Positif Sifilis

Monday, 19 January 2026
Tiga tersangka kasus dugaan PETI Hutino, diserahkan kepada pihak Kejaksaan beserta barang buktinya atau tahap dua oleh pihak penyidik Reskrim Polres Pohuwato.

Tiga Tersangka PETI di Hutino Segera Diadili

Monday, 19 January 2026
Ridwan Monoarfa

Pilkada Langsung dan Makna Kedaulatan Rakyat

Monday, 19 January 2026
Kajari Kota Gorontalo Bayu Pramesti, S.H., M.H., bersama jajarannya berpose di momen silaturahmi dengan rekan-rekan media/wartawan, jurnalis, aktivis, dan LSM, Rabu, (14/1/2026). (Foto: Istimewa)

Kejari Kota Tegas Perangi Korupsi, Gandeng Wartawan Dukung Informasi Penyimpangan Keuangan

Monday, 19 January 2026

Pos Populer

  • Ketua Yayasan Kumala Vaza Grup, Siti Fatimah Thaib, bersama pemilik dapur dan Kepala SPPG Pentadio Barat secara simbolis menyerahkan CSR kepada pihak SMP 1 Telaga Biru, Rabu (14/1/2026). (F. Diyanti/Gorontalo Post)

    Dukung Program Presiden, Yayasan Kumala Vaza Grup Salurkan CSR ke 20 Sekolah

    80 shares
    Share 32 Tweet 20
  • Terjaring Razia, Dua Orang Positif Sifilis

    76 shares
    Share 30 Tweet 19
  • Tiga Tersangka PETI di Hutino Segera Diadili

    59 shares
    Share 24 Tweet 15
  • Modus Pesta Miras, Tiga Pria di Bone Bolango Tega Rudapaksa Gadis Belia

    50 shares
    Share 20 Tweet 13
  • Kemendikdasmen Salurkan Laptop untuk Sekolah Dasar Dukung Digitalisasi Pembelajaran

    194 shares
    Share 78 Tweet 49
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 2 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.