logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Persepsi

Sang “Aku” di Ketinggian  

Jitro Paputungan by Jitro Paputungan
Sunday, 6 June 2021
in Persepsi
0
Negeri yang Ke(gemuk)an   

Basri Amin

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Related Post

TGR, Kini Mengikat dan Didahulukan

Sehat yang Sesat

Tambang Emas Pohuwato, Berkah atau Kutukan Sumber Daya Alam? Dari Enclave Ekonomi ke Pengukit Pertanian dan UMKM

Transformasi Manajemen Sekolah di Era Kecerdasan Buatan

 

Oleh
Basri Amin

— 

Keterlaluan bila tak bisa merenung! Di atas ketinggian tiga puluh lima ribu kaki, saya mengarahkan perhatian keluar jendela Airbus yang (terasa) lincah itu. Sudah sekitar sejam meninggalkan pulau Sulawesi. Kecanggihan teknologi aeronautika membuat takjub, tapi sekaligus memberi “rasa ngeri” ketika ingatan kepada banyak peristiwa mulai hadir di pikiran. Semua rencana dan semua yang tertinggal dengan mudah “dirindukan”. Bayang-bayang ketidakpastian menjadi nyata. Siapa “Aku?” Bukan siapa-siapa!

Semesta yang banyak kita bicarakan lebih banyak kita sikapi dengan congkak. Tak heran kalau kerusakan mencuat di mana-mana. Mikrokosmos (manusia) cenderung memisahkan kediriannya satu-sama lain, padahal ia adalah satuan mikro di antara mikro-mikro yang lain. Tak diragukan olehnya bahwa, “ia” pada hakikatnya adalah bagian besar dari kesatuan mikro-organisme yang takdirnya bisa “melampaui” banyak keadaan. Di dalam jiwa-ruhani manusia, terpampang samudera penciptaan yang mampu mengantarkannya “menembus” banyak jalan dan lapisan. Sekali ia sadar, ia tak mengenal lagi ketegori “tinggi” dan “rendah”, demarkasi “di sini” dan “di sana”; distingsi antara “kita” dan “mereka”.

Beberapa tahun lalu (2018), sudah pernah ditandaskan di Spektrum ini bahwa kita sedang mengalami krisis manusiawi. Contohnya sederhana saja, meski tak seluruhnya bisa dipastikan. Perhatikanlah, di berbagai sudut di kota-kota negeri ini, tokoh-tokoh publik sepertinya ramai-ramai merayakan “senyuman”. Hal serupa sudah menyebar hingga di desa-desa. Menarik! Tapi sekaligus menyisahkan hal penting: ada apa dengan senyum? Tanya serupa bisa juga diungkapkan: mengapa harus senyum?

Satu hal yang mulai hilang ketika manusia beranjak “dewasa” adalah mengecilnya spontanitas. Hampir semua yang dikerjakan tak bisa lepas dari “rencana” tertentu, termasuk dalam hal ini berhubungan dengan target tertentu. Hidup serba rencana dan bertujuan tentulah baik, tapi jika proses yang serba rasional dan penuh hitungan tak dihayati, ia akan hilang maknanya. Tak sedikit pencapaian manusia (modern) yang menyisahkan keterasingan dan kehampaan. Sebuah paradoks hidup terbentuk, persis di saat status dan keberlimpahan (material) hadir di tengah-tengah kita.

Menjadi “manusia otentik” berarti menjadi manusia yang selalu bisa “kembali” pada keberadaan hakikinya. Itulah sebabnya, tindakan manusia bisa kelihatan sama, setidaknya dalam kategori bahasa, tapi maknanya akan selalu berbeda. Ambillah contoh sederhana, ketika menggoda seorang bayi dan bermain dengannya, sang bayi kemudian tersenyum, maka senyum bayi tersebut nilainya sangat “lain”. Kita amat merasakan bedanya dengan senyuman sehari-hari yang kita lakukan kepada orang lain dan senyuman yang kita terima dari orang lain. Di dunia orang dewasa bahkan dikenal dengan istilah/praktik “senyuman sinis”.

Betapa pentingnya “senyum” Sang AKU itu sehingga ia menjadi bagian dari “marketing” di berbagai urusan saat ini. Di mana-mana kita melihat bagaimana “senyum” itu ditampilkan sedemikian rupa, terkadang bahkan perlu dilatih untuk selanjutnya dieksploitasi di ruang-ruang publik. Meskipun senyuman adalah bagian dari ekspresi manusiawi, senyum itu sendiri mengandung nilai ekspresi yang selalu potensial dimanipulasi, karena ia menjadi bagian dari “manajemen diri” yang terjual dan/atau dijual.

Baliho yang bertebaran di banyak tempat juga tak lepas dari pemasaran “senyum” itu. Sudah menjadi naluri umum bahwa orang yang murah senyum adalah orang baik. Dengan begitu ia pun mudah terterima oleh siapa saja. Faktanya, ada begitu banyak orang yang (kelihatan) berat dalam urusan senyum tapi orang tersebut pada dasarnya “murah hati” dan mudah empati dengan orang lain. Justru di balik wajahnya yang mungkin “berat”, terletak kemurahatian atau kerendahatian yang tinggi. Senyuman yang tidak hidup dari dalam justru akan sangat berbahaya. Dalam sebuah pepatah dikatakan, “menyimpan pisau di balik senyuman…”.

Setiap kita memang tak bisa lepas dari naluri memanipulasi apa yang sebenarnya “ada” dalam hati dan pikiran kita. Menjadi orang yang otentik dalam kepribadian bukanlah perkara mudah. Karena, pada dasarnya, manusia selalu menyimpang “misteri” dalam proses hidupnya. Terkadang jalan panjang hidup manusia berakhir dengan tragedi. Tak sedikit nama-nama harum berujung pada kehinaan. Kekuasaan dan kejayaan materi membuahkan kehampaan. Semuanya memang bisa dicapai, tapi rasa bahagia yang sesungguhnya masih menjauh. Dalam maknanya yang terdalam, “senyum” dan “tangis” dibutuhkan dalam hidup. Kuncinya terletak pada dua situasi: kepada siapa kita menangis dan bersama siapa kita tersenyum.

Apa yang kita rasakan melalui “senyuman” seorang bayi adalah sebuah jenis senyum yang amat otentik karena bayi mewujudkan “senyuman bersama” (smiling with) dengan kita. Kita hadir dalam kebersamaan yang dalam dengan senyuman-wajah yang ekspresif itu. Kesan yang melilit kita adalah sebuah senyuman yang mengesankan “keterbukaan” (openness) yang sangat maknawi. Seorang bayi yang tersenyum adalah sekaligus merupakan momen yang kita rasakan sebagai “ajakan bersama dan meng-ada” dengan sebuah senyuman bersama-sama, tanpa batas dan tafsiran. Inilah senyuman yang sangat personal dan sosial sekaligus (Hassan, 1974).

Apa yang saat ini tengah disulam dan terus dicoba diyakinkan –oleh kita semua– adalah bahwa kita hidup dalam “kebersamaan”. Kita semua, satu-sama lain, saling berusaha meyakinkan hal ini. Dalam faktanya, hukum hidup punya beberapa simpulan, bahwa ada manusia yang “untung” dan tak sedikit pula yang “buntung”. Selalu pasti bahwa dalam setiap bagian dari kehidupan manusia, ada yang berkuasa dan ada pula yang terpola dikuasai. Ada yang sengaja menipu dan ada pula yang mungkin tak sadar sedang ditipu atau diakali.

Perbedaan yang terjadi di masyarakat justru merupakan basis perubahan. Itulah sebabnya di masyarakat yang sehat kebudayaannya, yang diusahakan oleh negara dan masyarakatnya adalah sebuah “perbedaan” yang damai dan saling meng-inspirasi. Mereka membangun sistem agar keseimbangan terjadi dan kesenjangan dipersempit. Memang mustahil menciptakan suatu masyarakat yang “sama-rasa-sama-rata”, sebab setiap manusia mempunyai potensi dan interes, dan di ujung semua itu adalah persaingan dan pencapaian. Daya cipta manusia meski tak terbatas tapi bukan berarti setiap orang akan mencapai hal serupa dan setara.***

 Penulis adalah
Parner di Voice-of-HaleHepu;
Anggota Indonesia Social Justice Network (ISJN)
E-mail: basriamin@gmail.com

 

 

 

Tags: basri aminSang “Aku” di Ketinggianspektrum sosial

Related Posts

Yusran Lapananda

TGR, Kini Mengikat dan Didahulukan

Tuesday, 26 May 2026
Basri Amin

Sehat yang Sesat

Monday, 25 May 2026
Tambang Emas Pohuwato, Berkah atau Kutukan Sumber Daya Alam?  Dari Enclave Ekonomi ke Pengukit Pertanian dan UMKM

Tambang Emas Pohuwato, Berkah atau Kutukan Sumber Daya Alam? Dari Enclave Ekonomi ke Pengukit Pertanian dan UMKM

Saturday, 23 May 2026
Optimalisasi Manajemen SDM Pendidikan: Mitigasi Burnout Tenaga Pendidik di Tengah Arus Digitalisasi

Optimalisasi Manajemen SDM Pendidikan: Mitigasi Burnout Tenaga Pendidik di Tengah Arus Digitalisasi

Saturday, 23 May 2026
Transformasi Manajemen Sekolah di Era Kecerdasan Buatan

Transformasi Manajemen Sekolah di Era Kecerdasan Buatan

Saturday, 23 May 2026
Dari Kapur ke Kecerdasan Buatan: Revolusi Manajemen Pendidikan Masa Kini

Dari Kapur ke Kecerdasan Buatan: Revolusi Manajemen Pendidikan Masa Kini

Saturday, 23 May 2026
Next Post
Dipanggil Kejati,  Eks Kepala BPN Gorontalo Mangkir

Dipanggil Kejati, Eks Kepala BPN Gorontalo Mangkir

Discussion about this post

Rekomendasi

Longsor Jalan Trans Sulawesi di Desa Bakti Mulai Ditangani, Warga Masih Diliputi Kekhawatiran

Longsor Jalan Trans Sulawesi di Desa Bakti Mulai Ditangani, Warga Masih Diliputi Kekhawatiran

Saturday, 30 May 2026
Dinilai Sukses Kendalikan Inflasi, Kemendari Suntik Pemprov Gorontalo Rp 3 Miliar

Dinilai Sukses Kendalikan Inflasi, Kemendari Suntik Pemprov Gorontalo Rp 3 Miliar

Saturday, 30 May 2026
Pemprov Gorontalo Pacu Penerbitan IPR, Baru Satu Izin Terbit dari 10 Blok WPR Lengkap di Pohuwato

Pemprov Gorontalo Pacu Penerbitan IPR, Baru Satu Izin Terbit dari 10 Blok WPR Lengkap di Pohuwato

Saturday, 30 May 2026
Pet Byar

Pet Byar

Saturday, 30 May 2026

Pos Populer

  • Presiden Sumbang Sapi Kurban untuk Gorontalo, Bobotnya 1.130 Kg dari Peternak Lokal  

    Presiden Sumbang Sapi Kurban untuk Gorontalo, Bobotnya 1.130 Kg dari Peternak Lokal  

    22 shares
    Share 9 Tweet 6
  • AHM Hadirkan TEFA Astra Honda di SMK Mitra Binaan, Fasilitas Pendidikan Tambah Lengkap

    15 shares
    Share 6 Tweet 4
  • Tiga Excavator Ditemukan di Lokasi PETI Bulangita, Dua Operator Melarikan Diri, Polisi Buru Pemilik Alat Hingga Pemodal

    18 shares
    Share 7 Tweet 5
  • Banjir Bandang Hantam Gorut, KAT Didingga Porak-poranda

    22 shares
    Share 9 Tweet 6
  • BI Gorontalo Gelar High Level Meeting Bersama TPID Siapkan Langkah Strategis Sambut Iduladha dan PENAS 2026

    15 shares
    Share 6 Tweet 4
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 3 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.