Oleh
Basri Amin
—
Keterlaluan bila tak bisa merenung! Di atas ketinggian tiga puluh lima ribu kaki, saya mengarahkan perhatian keluar jendela Airbus yang (terasa) lincah itu. Sudah sekitar sejam meninggalkan pulau Sulawesi. Kecanggihan teknologi aeronautika membuat takjub, tapi sekaligus memberi “rasa ngeri” ketika ingatan kepada banyak peristiwa mulai hadir di pikiran. Semua rencana dan semua yang tertinggal dengan mudah “dirindukan”. Bayang-bayang ketidakpastian menjadi nyata. Siapa “Aku?” Bukan siapa-siapa!
Semesta yang banyak kita bicarakan lebih banyak kita sikapi dengan congkak. Tak heran kalau kerusakan mencuat di mana-mana. Mikrokosmos (manusia) cenderung memisahkan kediriannya satu-sama lain, padahal ia adalah satuan mikro di antara mikro-mikro yang lain. Tak diragukan olehnya bahwa, “ia” pada hakikatnya adalah bagian besar dari kesatuan mikro-organisme yang takdirnya bisa “melampaui” banyak keadaan. Di dalam jiwa-ruhani manusia, terpampang samudera penciptaan yang mampu mengantarkannya “menembus” banyak jalan dan lapisan. Sekali ia sadar, ia tak mengenal lagi ketegori “tinggi” dan “rendah”, demarkasi “di sini” dan “di sana”; distingsi antara “kita” dan “mereka”.
Beberapa tahun lalu (2018), sudah pernah ditandaskan di Spektrum ini bahwa kita sedang mengalami krisis manusiawi. Contohnya sederhana saja, meski tak seluruhnya bisa dipastikan. Perhatikanlah, di berbagai sudut di kota-kota negeri ini, tokoh-tokoh publik sepertinya ramai-ramai merayakan “senyuman”. Hal serupa sudah menyebar hingga di desa-desa. Menarik! Tapi sekaligus menyisahkan hal penting: ada apa dengan senyum? Tanya serupa bisa juga diungkapkan: mengapa harus senyum?
Satu hal yang mulai hilang ketika manusia beranjak “dewasa” adalah mengecilnya spontanitas. Hampir semua yang dikerjakan tak bisa lepas dari “rencana” tertentu, termasuk dalam hal ini berhubungan dengan target tertentu. Hidup serba rencana dan bertujuan tentulah baik, tapi jika proses yang serba rasional dan penuh hitungan tak dihayati, ia akan hilang maknanya. Tak sedikit pencapaian manusia (modern) yang menyisahkan keterasingan dan kehampaan. Sebuah paradoks hidup terbentuk, persis di saat status dan keberlimpahan (material) hadir di tengah-tengah kita.
Menjadi “manusia otentik” berarti menjadi manusia yang selalu bisa “kembali” pada keberadaan hakikinya. Itulah sebabnya, tindakan manusia bisa kelihatan sama, setidaknya dalam kategori bahasa, tapi maknanya akan selalu berbeda. Ambillah contoh sederhana, ketika menggoda seorang bayi dan bermain dengannya, sang bayi kemudian tersenyum, maka senyum bayi tersebut nilainya sangat “lain”. Kita amat merasakan bedanya dengan senyuman sehari-hari yang kita lakukan kepada orang lain dan senyuman yang kita terima dari orang lain. Di dunia orang dewasa bahkan dikenal dengan istilah/praktik “senyuman sinis”.
Betapa pentingnya “senyum” Sang AKU itu sehingga ia menjadi bagian dari “marketing” di berbagai urusan saat ini. Di mana-mana kita melihat bagaimana “senyum” itu ditampilkan sedemikian rupa, terkadang bahkan perlu dilatih untuk selanjutnya dieksploitasi di ruang-ruang publik. Meskipun senyuman adalah bagian dari ekspresi manusiawi, senyum itu sendiri mengandung nilai ekspresi yang selalu potensial dimanipulasi, karena ia menjadi bagian dari “manajemen diri” yang terjual dan/atau dijual.
Baliho yang bertebaran di banyak tempat juga tak lepas dari pemasaran “senyum” itu. Sudah menjadi naluri umum bahwa orang yang murah senyum adalah orang baik. Dengan begitu ia pun mudah terterima oleh siapa saja. Faktanya, ada begitu banyak orang yang (kelihatan) berat dalam urusan senyum tapi orang tersebut pada dasarnya “murah hati” dan mudah empati dengan orang lain. Justru di balik wajahnya yang mungkin “berat”, terletak kemurahatian atau kerendahatian yang tinggi. Senyuman yang tidak hidup dari dalam justru akan sangat berbahaya. Dalam sebuah pepatah dikatakan, “menyimpan pisau di balik senyuman…”.
Setiap kita memang tak bisa lepas dari naluri memanipulasi apa yang sebenarnya “ada” dalam hati dan pikiran kita. Menjadi orang yang otentik dalam kepribadian bukanlah perkara mudah. Karena, pada dasarnya, manusia selalu menyimpang “misteri” dalam proses hidupnya. Terkadang jalan panjang hidup manusia berakhir dengan tragedi. Tak sedikit nama-nama harum berujung pada kehinaan. Kekuasaan dan kejayaan materi membuahkan kehampaan. Semuanya memang bisa dicapai, tapi rasa bahagia yang sesungguhnya masih menjauh. Dalam maknanya yang terdalam, “senyum” dan “tangis” dibutuhkan dalam hidup. Kuncinya terletak pada dua situasi: kepada siapa kita menangis dan bersama siapa kita tersenyum.
Apa yang kita rasakan melalui “senyuman” seorang bayi adalah sebuah jenis senyum yang amat otentik karena bayi mewujudkan “senyuman bersama” (smiling with) dengan kita. Kita hadir dalam kebersamaan yang dalam dengan senyuman-wajah yang ekspresif itu. Kesan yang melilit kita adalah sebuah senyuman yang mengesankan “keterbukaan” (openness) yang sangat maknawi. Seorang bayi yang tersenyum adalah sekaligus merupakan momen yang kita rasakan sebagai “ajakan bersama dan meng-ada” dengan sebuah senyuman bersama-sama, tanpa batas dan tafsiran. Inilah senyuman yang sangat personal dan sosial sekaligus (Hassan, 1974).
Apa yang saat ini tengah disulam dan terus dicoba diyakinkan –oleh kita semua– adalah bahwa kita hidup dalam “kebersamaan”. Kita semua, satu-sama lain, saling berusaha meyakinkan hal ini. Dalam faktanya, hukum hidup punya beberapa simpulan, bahwa ada manusia yang “untung” dan tak sedikit pula yang “buntung”. Selalu pasti bahwa dalam setiap bagian dari kehidupan manusia, ada yang berkuasa dan ada pula yang terpola dikuasai. Ada yang sengaja menipu dan ada pula yang mungkin tak sadar sedang ditipu atau diakali.
Perbedaan yang terjadi di masyarakat justru merupakan basis perubahan. Itulah sebabnya di masyarakat yang sehat kebudayaannya, yang diusahakan oleh negara dan masyarakatnya adalah sebuah “perbedaan” yang damai dan saling meng-inspirasi. Mereka membangun sistem agar keseimbangan terjadi dan kesenjangan dipersempit. Memang mustahil menciptakan suatu masyarakat yang “sama-rasa-sama-rata”, sebab setiap manusia mempunyai potensi dan interes, dan di ujung semua itu adalah persaingan dan pencapaian. Daya cipta manusia meski tak terbatas tapi bukan berarti setiap orang akan mencapai hal serupa dan setara.***
Penulis adalah
Parner di Voice-of-HaleHepu;
Anggota Indonesia Social Justice Network (ISJN)
E-mail: basriamin@gmail.com













Discussion about this post