logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Persepsi

Puasa dan Hekekat yang Tersirat    

Jitro Paputungan by Jitro Paputungan
Tuesday, 13 April 2021
in Persepsi
0
Guru, Insan Cendekia  dan Panggilan Pengabdian

Fory A Naway

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Related Post

Pertumbuhan Ekonomi Gorontalo: Apakah Sudah Inklusif?

Ketika Minyak Mahal

Sintesis Tradisi dan Disrupsi: Peran Strategis Pemuda Gorontalo dalam Inovasi Estetika Karawo Kontemporer

Melampaui Polemik Rumah Jawatan Kantor Pos

Oleh :
Fory Armin Naway
Dosen FIP UNG dan Ketua TP-PKK Kab. Gorontalo

Marhaban Yaa.. Ramadhan…Selamat Menunaikan Ibadah puasa di bulan suci Ramadhan 1442 Hijriah, Semoga amal ibadah kita menjadi  asbab turunnya Rahmat, Maghfirah atau Ampunan dari Allah SWT untuk segenap kita, khususnya ummat Islam di Jazirah Gorontalo. Saling mendoakan dalam kebaikan, apalagi pada bulan suci Ramadhan, selain menjadi bagian penting dari manifestasi keluhuran sosial kita, juga dapat mengikis secara perlahan berbagai penyakit hati yang terkadang datang dan pergi dalam diri kita, seperti rasa kebencian, dendam, iri hati dan dengki yang keberadaannya sudah pasti  memercikkan noda pada noktah putih hubungan antara sesama manusia.

Secara harfiah, kata Shaum dalam Bahasa Arab berarti menahan diri. Sementara dalam ilmu Fiqih, Shaum adalah menahan diri dari makan, minum dan segala sesuatu yang membatalkan puasa dari terbit fajar sampai terbenam matahari. Menahan diri memiliki makna yang sama dengan “Pengendalian  diri” atau Self Control dengan dua dimensi yang melingkupinya, yakni dimensi spiritual dan dimensi sosial.

Dimensi spiritual dalam puasa, sudah jelas terdapat begitu banyak dalil-dalil yang menjadi rujukan siapapun yang istiqomah yang secara konkrit, dimensi ini dapat terlihat dari beberapa indikator, antara lain membludaknya Mesjid saat Sholat tarwih, shalat wajib dan shalat Sunnah termasuk maraknya pengajian dan tadarussan. Sementara dimensi sosial puasa, nampaknya masih terdapat begitu banyak instrumen yang seakan  “salah kaprah” yang disadari atau tidak, turut juga mempengaruhi kualitas ibadah yang berdimensi spiritual.

Salah satu manifestasi “salah kaprah” kita, diantaranya dapat dilihat dari tingkat konsumsi bahan makanan yang dibutuhkan oleh setiap rumah tangga yang semestinya berkurang pada bulan puasa karena tidak makan-minum pada siang hari,  justru meningkat atau naik dua hingga tiga kali lipat. Salah satu akibatnya, harga-harga bahan makanan seperti beras, sayuran, buah-buahan, daging, ikan, rempah, rimpang  dan sebagainya cenderung mengalami kenaikan.

Ketika puasa mewajibkan ummat Islam untuk mengendalikan nafsu  agar tidak makan dan tidak minum pada siang hari, justru begitu tiba malam hari berbuka puasa, nafsu makan seakan dilepas dengan liarnya. Segala jenis makanan seakan ingin dilahap sebagai “balas dendam”. Jika demikian fenomenanya, lantas dimana hakekat “pengendalian diri”  yang diajarkan dalam puasa? Sebuah ironi sungguh tersaji secara vulgar. Bagaimanapun, indikator kemampuan seorang individu mampu mengendalikan diri adalah pada “makanan”.

Pengendalian diri, mampu mengendalikan diri “bukan pada saat yang dilarang” dan diperintahkan”, tapi rentang waktu hidup manusia adalah pengendalian diri sehingga patut untuk dilatih setiap tahunnya.  Karena sesungguhnya, nafsu manusia setiap detik dalam keadaan siap siaga untuk  menyingkirkan nalar dan nurani dalam setiap jiwa yang lengah.

Dengan begitu, pengendalian diri untuk tidak makan pada siang hari,  bukan hanya sekadar dipandang sebagai perintah dan kewajiban, namun juga dapat dipandang sebagai wahana untuk melatih diri dalam “mengendalikan diri” agar menjadi orang yang bertakwa. Hakekat Takwa adalah mampu mengendalikan diri sehingga berkemampuan yang tinggi meninggalkan segala bentuk larangan-laranganNya dan menjalankan segala perintah-perintahNya dalam 11 setelah puasa.

Sementara itu, entri point puasa bukan hanya sekadar menggugah kesadaran iman yang bersifat self-reflexive, tapi juga menggugah kepekaan kolektif untuk kembali kepada substansi puasa sebagai wahana melatih diri, mengendalikan diri sehingga tidak terjebak pada perilaku-perilaku yang justru memberi kesan yang tidak baik terhadap dunia Islam.

Sebagai gambaran, fenomena ummat Islam yang cenderung “lupa substansi” atau lupa hakekat kesucian Ramadhan, biasanya sangat jelas terlihat pada 10 hari terakhir di bulan puasa. Mesjid mulai sepi ditinggalkan oleh jemaahnya, tadarusan tidak lagi ramai, justru yang mulai padat dan terlihat ramai adalah Mall, super market, pasa Senggol dan pusat perbelanjaan lainnya. Ibu-ibu, kaum remaja, bapak-bapak dan anak-anak sekalipun rela berdesak-desakan, berhimpit-himpitan hanya untuk sekadar berbelanja untuk perrsiapan hari raya, membuat kue, sibuk belanja gorden, perabot rumah tangga, baju baru, sepatu dan aksesories lainnya. Semua itu, menjadikan puasa 10 hari terakhir yang justru bermakna, berbalik 180 derajat, menjadi tidak bermakna.

Itulah wajah Islam di negeri ini. Momentum bulan suci Ramadhan yang dituntut menghadirkan sisi ideal, justru terkadang mempertontonan sisi yang kontradiktif, menghadirkan sudut-sudut yang nampak ironi dan ambigu, bahkan abu-abu dan remang-remang.  Bulan Ramadhan yang sejatinya menjadi wahana untuk melatih  pengendalian diri, justru kita mempertontonkan kevulgaran yang justru jauh dari kata pengendalian diri. Ketika 10 hari terakhir bulan puasa kita sejatinya memanfaatkannya dengan memohon syafaat pengampunan dari semua dosa-dosa, kita justru terperangkap dan terjebak dalam buaian godaan akan kemewahan yang kesemuanya perhiasan dunia semata.

Padahal, setiap kita  ummat Islam diwajibkan memperlihatkan wajah Islam yang elegan, Islam yang  Rahmatan lil ‘Alamin dan Islam yang sehat dengan pemikiran-pemikiran umatnya yang konstruktif. Memperlihatkan wajah Islam yang teguh, konsisten dan istiqomah adalah bagian dari manifestasi dakwah yang dianjurkan. Dalam aplikasinya di lapangan, konsep dakwah itu terdiri dari 3 alternatif, yakni Pertama, Dakwah bil lissan, (dakwah melalui lisan, ceramah dan sebagainya), Kedua,  dakwah bil hal, (dakwah melalui sikap, perilaku atau keteladanan) dan Ketiga, dakwah bil qalam atau dakwah melalui tulisan. (***)

Tags: Dosen FIPfory nawaygorontalogorontalo postkabupaten gorontalopersepsiPuasa dan Hekekat yang TersiratUNG

Related Posts

Hendri Cahyo Dwi Safitri

Pertumbuhan Ekonomi Gorontalo: Apakah Sudah Inklusif?

Tuesday, 15 September 2026
Muh. Amier Arham

Ketika Minyak Mahal

Tuesday, 15 September 2026
NU di Persimpangan Kepentingan: Membaca Arah Nahdlatul Ulama dalam Muktamar ke-35 Tahun 2026

Sintesis Tradisi dan Disrupsi: Peran Strategis Pemuda Gorontalo dalam Inovasi Estetika Karawo Kontemporer

Monday, 14 September 2026
Dr. Funco Tanipu., ST., M.A

Melampaui Polemik Rumah Jawatan Kantor Pos

Thursday, 10 September 2026
Politisi Bisa Berganti, Rakyat Tetap Berdaulat

Politisi Bisa Berganti, Rakyat Tetap Berdaulat

Wednesday, 9 September 2026
Dr. Funco Tanipu., ST., M.A

Mengukur Sisa Waktu Kepala Daerah

Wednesday, 9 September 2026
Next Post
Sudi Nusantara

Sudi Nusantara

Discussion about this post

E-paper Gorontalo Post 30 Juli 2026

Rekomendasi

PISA BBM

PISA BBM

Tuesday, 15 September 2026
Skutik hingga Motor Sport, Diskon Torang Honda Hingga Rp 2 Juta

Skutik hingga Motor Sport, Diskon Torang Honda Hingga Rp 2 Juta

Tuesday, 15 September 2026
Ekonomi Gorontalo Ditarget Tumbuh 6,7 Persen, Pemprov: Kemiskinan Ditekan di Bawah 11 Persen

Ekonomi Gorontalo Ditarget Tumbuh 6,7 Persen, Pemprov: Kemiskinan Ditekan di Bawah 11 Persen

Tuesday, 15 September 2026
Pelaku Pembunuhan di Randangan Berhasil Dibekuk

Pelaku Pembunuhan di Randangan Berhasil Dibekuk

Tuesday, 15 September 2026

Pos Populer

  • Kapal Pertamina Patra Niaga Bantu Selamatkan 16 Korban KMP Virgo Transport 08

    Kapal Pertamina Patra Niaga Bantu Selamatkan 16 Korban KMP Virgo Transport 08

    16 shares
    Share 6 Tweet 4
  • Harfest 2026, BI Buka Jalan UMKM Gorontalo Tembus Pasar Ekspor

    16 shares
    Share 6 Tweet 4
  • PISA BBM

    13 shares
    Share 5 Tweet 3
  • 300 Siswa Ikuti Mokarawo Kolosal di HARFEST 2026

    19 shares
    Share 8 Tweet 5
  • Dentuman Misterius Gegerkan Gorontalo, Dibarengi Kilatan Cahaya, Warga Rasakan Getaran

    16 shares
    Share 6 Tweet 4
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 3 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.