logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Disway

GeNose Tak Terkatakan

Jitro Paputungan by Jitro Paputungan
Wednesday, 17 February 2021
in Disway
0
GeNose Tak Terkatakan
Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Related Post

Perjudian Besar

Kanan Dalam

Neo Pop

Lewat Pasrah

Oleh:
Dahlan Iskan

AKHIRNYA GeNose dipakai di tempat-tempat umum. Awalnya di tiga stasiun kereta api: Senen, Jakarta; Gambir, Jakarta; dan Tugu, Jogja. Lalu ditambah lagi Bandung, Solo Balapan, SemarangTawang, Cirebon, dan Surabaya Pasar Turi.

“Tiga rumah sakit di Jogja juga sudah menggunakannya,” ujar Dr dr Dian K. Nurputra. Dian adalah dokter yang bersama penemu GeNose, Prof Dr Kuwat Triyono mengembangkan alat pendeteksi baru Covid-19 itu.

Keduanya sama-sama dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Prof Kuwat dari MIPA, Dian dari kedokteran.

Setelah lebih dua minggu dipakai di tempat umum, Dian berkesimpulan bahwa tingkat ketertularan adalah 3 persen. Artinya, dari semua calon penumpang yang dites, lewat GeNose, tiga persen terdeteksi positif Covid-19. Itu sama dengan standar di mana-mana.

Calon penumpang ternyata lebih suka dites lewat GeNose. “Sampai membeludak,” ujar Dr Dian.

Maka, seperti yang di stasiun Senen, Jakarta, GeNose-nya harus ditambah. Semula lima unit menjadi 10 unit.

Tentu, saya pun, seandainya akan naik kereta, akan pilih dites lewat GeNose. Begitu sederhana. Tinggal meniupkan napas dari mulut ke sebuah kantong plastik. Lalu udara yang kantong plastik tersebut dimasukkan alat GeNose. Dalam tiga menit hasilnya sudah bisa keluar.

Tapi di stasiun-stasiun tersebut juga disediakan alat tes antigen. Terserah penumpang, pilih yang mana. Bahkan kalau penumpang mau PCR di klinik atau di RS juga diizinkan. Yang penting ketika datang ke stasiun membawa hasil PCR  yang masih valid.

“Sebenarnya bandara-bandara juga sudah minta,” ujar Dr Dian, ahli penyakit anak yang menyukai dunia penelitian. Tapi baru kira-kira lima minggu lagi bisa dilakukan. Sayang sekali masih begitu lamanya.

Tentu pemesanan akan GeNose membanjir. Apalagi harganya begitu murah: Rp 70 juta/unit. Sudah termasuk pelatihan. Bandingkan dengan PCR yang di atas Rp 700 juta. Bahkan sampai Rp 1,2 miliar. Saya pun sudah memesan 10 buah. Sudah sejak tiga minggu lalu. Belum dapat kabar kapan bisa mendapatkannya.

Kalau hasilnya memang sudah begitu meyakinkan, baiknya soal modal harus diatasi bersama. Memang zaman sekarang ini semua pembelian harus kontan. Bahkan harus bayar di depan. Saya menangkap kesan, di soal modal ini GeNose ada masalah. Itu terlihat dari gejala kurang lancarnya produksi.

Memang untuk memesan komponen dari luar negeri, harus bayar di depan. Kalau kita mau cepat. Seperti sensor dan artificial intelligence itu. Yang harus dibeli dari Jepang.

Maka baiknya pemerintah segera menangkap keinginan yang tidak terkatakan oleh UGM ini. Tentu saya setuju agar mereka jangan dibantu modal. Harus tetap lewat mekanisme bisnis.

Tapi ada cara. Toh dana Covid ratusan triliun rupiah. Pasti ada jalan untuk UGM –apalagi presiden kita alumnus UGM. Cara yang paling aman adalah cara bisnis: pemerintah membeli GeNose dalam jumlah yang cukup. Dengan bayar di depan. Dengan demikian transaksinya jelas dan sah. Agar para peneliti di UGM tidak terkena masalah hukum di kemudian hari.

Presiden (waktu itu) Donald Trump pernah melakukannya. Kalau tidak, vaksin tidak bisa segera ditemukan.

Demikian juga Perdana Menteri Inggris Boris Johnson. Ambil keputusan cepat.

Trump sudah berani membeli vaksin ke Pfizer dengan nilai tidak kepalang tanggung: 4  miliar dolar. Untuk pesanan 100 juta vaksin. Bayar di depan.

Padahal, waktu itu, Pfizer belum resmi menemukan vaksin Covid-19 tersebut. Pfizer baru menyanggupi untuk melakukan penelitian. Dan memberikan gambaran bahwa kelihatan itu akan bisa menemukannya.

Uni Eropa kelihatan ragu-ragu untuk membayar vaksin AstraZeneta di muka. Akhirnya membayar juga –telat. Ketika vaksin berhasil ditemukan Uni Eropa tidak diprioritaskan untuk dikirimi. Akibatnya parah. Inggris sudah melakukan vaksinasi sejak  tanggal 2 Desember. Eropa ketinggalan jauh. Rakyat Eropa marah.

Inggris yang baru keluar dari asosiasi Eropa ternyata  membuktikan ”berada di luar Eropa bisa lebih baik”.

Kembali ke soal GeNose. UGM memang ber-partner dengan lima perusahaan swasta –termasuk perusahaan perakitnya. Satu perusahaan mengerjakan satu bidang. Lalu dirakit oleh satu perusahaan berikutnya.

“Kemampuan produksi mereka bisa 3.000 unit/bulan,” ujar Dr Dian. Berarti sebenarnya tidak ada masalah. Maka saya membaca apa yang tidak bisa dibaca dari mulut Dr Dian: modal tadi.

Harga komponennya sendiri memang tidak mahal. Tapi jumlah pemesanan tidak bisa sedikit. Agar tidak menjadi mahal karena ongkos logistik. Itulah sebabnya tetap diperlukan uang besar.

Mungkin UGM tidak akan mengalami kesulitan ini kalau ber-partner dengan perusahaan raksasa. Tapi UGM kelihatannya tidak ingin jatuh ke kapitalisme besar. UGM memilih perusahaan kecil sebagai partner.

Saya terharu melihat idealisme UGM seperti itu. Pesanan saya yang hanya 10 unit itu pun semata karena keterharuan itu.

Tapi inilah momentum bagi UGM untuk memiliki usaha yang bisa langsung mendapat pasar yang besar. Tentu speed juga jadi faktor penentu dalam bisnis.

Meski bisnis ini sulit ditiru tetap saja kecepatan tidak boleh diabaikan. Tetap saja momentum adalah faktor  penentu. Kalau produksi GeNose ini tidak didukung bersama, bisa-bisa UGM kehilangan momentum.

GeNose adalah juga salah satu momentum bagi ilmuwan Indonesia. Untuk bisa menjadi tuan di negeri sendiri. Di bidang ini. Bahkan punya potensi bisa ekspor secara besar-besaran.

Pasangan Prof Kuwat dan dokter Dian sendiri sebenarnya  bukan pasangan baru. Bukan baru di GeNose. Keduanya sebenarnya sedang mengerjakan penelitian bidang sakit napas dan lumpuh layu. Tapi karena ada Covid penelitian pun dibelokkan dulu ke GeNose. Kebetulan masih satu garis. Hanya saja, kalau semula namanya e-Nose, kini menjadi GeNose –ditambah Gadjah Mada di depannya.

Dian sendiri lahir di Malang. SMA-nya di SMAN 1 Malang. Lalu masuk fakultas kedokteran Universitas Brawijaya, Malang.

Setelah ditugaskan di berbagai pelosok Nusantara (Aceh, Poso, Papua, dll) Dian masuk S-2 UGM. Lalu meneruskan S-3 di Kobe, Jepang.

Setelah mendapat gelar doktor, Dian dilarang pulang. Harus mengajar dulu di Jepang selama 2 tahun. Tidak masalah. Istrinya sudah ia bawa ke Jepang. Satu anaknya lahir di sana.

Tiba kembali di Jogja, Dian menghadiri presentasi Prof Kuwat. Yang lagi mencari partner penelitian.

Meski sama-sama meraih gelar doktor di Jepang, tapi baru di forum itulah Dian berkenalan dengan Prof Kuwat. Jadilah mereka sepasang peneliti yang tangguh. Dengan karya yang ikut menentukan hasil penanganan pandemi di negeri ini. Kalau jadi. (*)

Tags: Dahlan IskanDiswayGeNose Tak Terkatakan

Related Posts

Ilustrasi pertaruhan masa depan ekonomi Indonesia di antara berbagai sistem ekonomi.--

Perjudian Besar

Wednesday, 10 June 2026
Saya pikir itu rumor lama yang di-posting ulang di medsos: Chatib Basri akan jadi menteri keuangan menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa. Ternyata beda. Di rumor lama hanya berhenti sampai Chatib Basri jadi menkeu. Yang beredar sekarang ini ada lanjutannya: Purbaya dapat tugas baru sebagai gubernur Bank Indonesia. Tentu saya tahu Chatib Basri: Ia pernah jadi menteri keuangan di akhir masa jabatan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Saya juga mengikuti banyak karya tulisnya. Ia ekonom tulen. Ia hampir sama dengan Sri Mulyani tapi ada bedanya. Mereka sama-sama ekonom Universitas Indonesia tapi punya jalan berbeda setelah itu. Sri Mulyani produk Amerika. Chatib Basri ekonom lulusan Australia (the Australian National University, sebuah kampus riset di Canberra). Tulisan yang paling menyentak dari Chatib Basri diterbitkan di Kompas di akhir masa jabatan Presiden Jokowi. Sebenarnya cara Chatib menulis sudah sangat hati-hati tapi kejujuran yang muncul dari tulisan itu sangat menyentak: selama 10 tahun terakhir jumlah kelas menengah Indonesia mengalami penurunan sebanyak delapan juta orang. Itulah kali pertama ada ekonom yang melihat bahwa gemerlap ekonomi selama pemerintahan Jokowi ternyata menyimpan kenyataan pahit seperti itu. Pertumbuhan lima persen per tahun ternyata tidak membuat pendapatan per kapita rakyat Indonesia bisa mencapai angka USD5.000. Merosotnya jumlah kelas menengah itu sekaligus mengungkapkan sisi gelap pertumbuhan: siapa yang tumbuh. Kalau benar Chatib Basri akan menjadi menteri keuangan, sebenarnya seirama saja dengan misi Presiden Prabowo yang tampak sekarang. Sebenarnya banyak juga yang bimbang: biar pun pertumbuhan pendapatan per kapita kita amat-amat lambat, ekonomi Indonesia masih tergolong baik. Setidaknya lumayan. Lalu mengapa Presiden Prabowo berani mengubah yang sudah lumayan itu sampai membuat ekonomi terguncang begini berat –khususnya di kurs rupiah dan bursa saham? Salah satu jawabannya adalah tulisan Chatib Basri itu tadi: jumlah kelas menengah tidak boleh turun. Justru harus naik. Pendapatan per kapita tidak boleh berhenti di USD5.000. Itu bisa membuat Indonesia terjebak seperti diuraikan dalam teori "jebakan kelas menengah". Hanya saja sudah sangat jelas bahwa Chatib Basri adalah ekonom pro-pasar bebas. Ia belajar mendalam teori ekonomi seperti Keynesian, Monetarist, maupun Austrian School. Tapi ia bukan 100 persen pengikut aliran itu. Chatib masih percaya bahwa negara harus ikut campur dan mengarahkan. Maka kalau pun Chatib Basri itu tergolong aliran kanan, ia seorang pemain kanan dalam –bukan kanan luar murni seperti David Beckham atau Luis Vigo. Chatib itu seperti Johan Cruyff di tim juara dunia Belanda entah tahun berapa itu. Masalahnya: apakah Chatib Basri mau seandainya ditawari jabatan itu. Sebagai ekonom kanan, Chatib pastilah penganut disiplin fiskal yang ketat. Harus disiplin anggaran. Apakah Chatib bisa berada di bawah Presiden Prabowo yang begitu banyak punya keinginan dan semua keinginannya itu memakan biaya sangat besar. Sebelum ia mau menerima jabatan, apakah orang kampus murni seperti Chatib berani minta waktu bertemu Presiden Prabowo. Bukan sekadar bertemu tapi berdiskusi. Sebenarnya saya ingin orang seperti Chatib tampil di pemerintahan. Terutama kalau Purbaya punya hambatan fisik –yang diberitakan kian kurus badannya. Chatib sudah punya pengalaman menjabat menteri keuangan. Ia tidak bisa lagi disebut orang kampus murni. Ilmunya pernah diterapkan di kebijakan. Ia ikut mengatasi krisis keuangan yang berat di tahun 2008-2009. Juga saat Amerika melakukan pengetatan moneter. Tapi memang harus terjadi diskusi dulu dengan Presiden Prabowo: apa saja yang akan ia lakukan, dan apakah itu bisa diterima oleh Presiden. Rasanya Presiden akan bisa menerima pemikiran baru karena beliau seorang intelektual --salah satu ciri intelektual adalah menjunjung tinggi kebenaran sejak dari berpikirnya. Apalagi kenyataan ekonomi yang dihadapi Presiden Prabowo sekarang sudah lebih buruk dari saat beliau menerima jabatan itu. Tentu dalam diskusi itu tidak harus ada yang kalah dan yang menang. Chatib Basri juga harus mendengar dasar-dasar pemikiran ekonomi presiden. Keduanya punya asumsi yang sama: sama-sama ingin ada perubahan agar Indonesia terhindar dari jebakan kelas menengah. Siapa tahu muncul ''kemenangan baru'': keinginan Presiden Prabowo tetap bisa terealisasikan tanpa harus terjadi keguncangan. Guncangan sudah telanjur terjadi. Tapi masih bisa diselamatkan. Saya termasuk yang ingin perubahan itu terjadi tapi juga tidak ingin terjadi guncangan yang berat. Dalam istilah saya di depan ribuan pengusaha di Batu, Malang, beberapa bulan lalu: Silakan pengusaha besar tidak perlu lagi dibantu tapi jangan diganggu. Saya berharap Chatib Basri mau menerima tawaran itu. Secara pribadi mungkin ia rugi. Terutama keluarganya. Apalagi risiko jadi pejabat publik di zaman ini amat berat. Clean saja tidak cukup. Harus clean and clear. Jabatan ini bisa membuat badan kurus, tidur sangat kurang, apalagi perhatian kepada keluarga. Tapi keluarga besar Indonesia menunggunya. Hanya jiwa pengabdian yang tinggi yang membuatnya mau –seperti seseorang dulu yang mati-matian tidak mau jadi dirut PLN sampai ada yang bilang: kelistrikan negara harus diselamatkan. Sekarang bukan hanya kelistrikan yang perlu diselamatkan. Tapi ekonomi seluruh negara.(

Kanan Dalam

Tuesday, 9 June 2026
--

Neo Pop

Monday, 8 June 2026
Lewat Pasrah

Lewat Pasrah

Saturday, 6 June 2026
--

Agus Deyang

Thursday, 4 June 2026
Bambang, tengah, usai makan malam.--

Jago Cimory

Thursday, 4 June 2026
Next Post
Odu’olo Pasisa

Odu'olo Pasisa

Discussion about this post

Rekomendasi

PENAS XVII: Dikbudprov Libatkan Masyarakat Siapkan Ribuan Polopalo, Aleg Deprov Femmy Udoki Beri Apresiasi

PENAS XVII: Dikbudprov Libatkan Masyarakat Siapkan Ribuan Polopalo, Aleg Deprov Femmy Udoki Beri Apresiasi

Wednesday, 10 June 2026
Ilustrasi--

Harga Pertamax Naik

Wednesday, 10 June 2026
BERGENGSI- Siswa memaparkan hasil inovasinya pada AHM Best Student 2025. Kegiatan ini kembali dibuka dan memberi kesempatan kepada semua siswa di Gorontalo. (foto: dok-ahm)

Pendaftaran AHM Best Student Dibuka, Ajak Pelajar Ubah Ide Jadi Inovasi untuk Negeri

Wednesday, 10 June 2026
Ilustrasi pertaruhan masa depan ekonomi Indonesia di antara berbagai sistem ekonomi.--

Perjudian Besar

Wednesday, 10 June 2026

Pos Populer

  • PENAS XVII: Dikbudprov Libatkan Masyarakat Siapkan Ribuan Polopalo, Aleg Deprov Femmy Udoki Beri Apresiasi

    PENAS XVII: Dikbudprov Libatkan Masyarakat Siapkan Ribuan Polopalo, Aleg Deprov Femmy Udoki Beri Apresiasi

    13 shares
    Share 5 Tweet 3
  • Harga Pertamax Naik

    13 shares
    Share 5 Tweet 3
  • Resahkan Warga, Pasutri Berantem Diamankan Polisi

    14 shares
    Share 6 Tweet 4
  • Pancasila Jangan di “Bibir” Saja

    15 shares
    Share 6 Tweet 4
  • PENAS Gorontalo Kamar Hotel Full Booking

    21 shares
    Share 8 Tweet 5
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 3 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.