logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Disway

Ivanka Lincoln

Jitro Paputungan by Jitro Paputungan
Wednesday, 28 October 2020
in Disway
0
Ivanka Lincoln
Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Oleh:DahlanIskan

 

PENYAKIT ini disebut ”Trauma 2016”.

Penyakit itulah yang sekarang melanda pendukung Partai Demokrat Amerika Serikat. Waktu itu jelas, semua survei mengunggulkan Hillary Clinton. Dan itu benar. Hillary pun menang. Perolehan suaranyi 6 juta lebih banyak dari Donald Trump. Tapi nyatanya Trump-lah yang jadi presiden.

Related Post

Da Yunhe

Halo Wani

Juara Dunia

Hidup QRIS

Itulah trauma terbesar sekarang ini di sana. Apalagi satu-satunya lembaga survei yang dulu mengunggulkan Trump kali ini juga masih sama. (Disway kemarin).

Mengapa seperti itu?

Dulu itu, kata mantan Presiden Barack Obama, Demokrat terlalu merasa di atas angin. Akhirnya banyak orang yang tidak mau ke TPS. Perasaan mereka: kan sudah pasti menang.

“Kali ini tidak boleh begitu. Jangan lagi. Kali ini saja,” ujar Obama yang akhir minggu lalu ikut kampanye mendukung Joe Biden —yang dulu menjabat wakil presidennya itu.

Gara-gara kemalasan dulu itu, katanya, kita akhirnya punya presiden yang tiap hari bikin bingung.

“Bagaimana seorang presiden Amerika Serikat tiap hari me-retweet teori konspirasi,” ujar Obama. Kok bisa. Seorang presiden lho. Presiden Amerika lho.

Ketika menggambarkan itu Obama begitu atraktifnya. Mimik sewotnya bikin geregetan. Melihat pidatonya itu saya sampai tertawa seorang diri.

Obama tidak habis pikir. Kok ada presiden seperti itu. Ibaratnya, kalau di Indonesia, kata saya, seorang doktor bisa  percaya ada orang mampumenggandakan uang.

Kampanye itu sendiri dilakukan secara drive in. Yakni di satu tanah lapang di Pennsylvania, tempat kelahiran Biden. Yang hadir tetap di dalam mobil masing-masing. Kalau ada bagian pidato yang menarik mereka membunyikan klakson.

Cara itu dilakukan karena ada pandemi Covid-19.

Itu yang membedakan dengan kampanye Trump yang konvensional.

Trump mengejek kampanye Biden sepi. Tidak ada yang tertarik datang.

Biden mengejek Trump sebagai superspreader penyebar  Covid-19.

Empat tahun lalu, Trump menang tipis di basis Demokrat ini. Kali ini Biden tidak mau kalah di kampungnya sendiri.  Kali ini Biden memang bukan Hillary. Waktu itu Amerika masih sulit menerima presiden perempuan. Maka sudah betul bahwa kalau Megawati ingin jadi presidennya di Indonesia.

Dulu kelompok laki-laki tua anti Hillary. Kini memihak Biden.

Dulu hanya sedikit tokoh Republik yang berani terang-terangan memihak Hillary. Kini terlalu banyak orang Republik yang mendukung Biden.

Bahkan yang ikut mati-matian “jangan sampai Trump terpilih lagi” adalah satu organisasi yang didirikan oleh para aktivis Republik. Namanya: Lincoln Project.

Apa saja yang ganjil dari Trump dibuat meme oleh Lincoln Project. Tiada hari tanpa meme yang memojokkan Trump.

Lincoln Project ini berbentuk PAC (political action committee). Di Amerika  banyak sekali organisasi berbentuk PAC seperti itu. Ada yang sementara, ada yang permanen. Ada PAC yang mendukung Trump, ada pula yang mendukung Biden. Bahkan lebih banyak lagi PAC yang mendukung calon-calon anggota kongres atau senat. Masih ada lagi PAC yang mendukung calon gubernur atau calon walikota.

Semua PAC boleh menerima sumbangan dari masyarakat. Tapi PAC tidak tergabung dalam tim sukses masing-masing calon.

Biden misalnya, tidak bisa mengintervensi PAC Lincoln Project. Mereka mendukung Biden tapi bukan tim Biden. Mereka tidak perlu berkoordinasi dengan calon yang didukung.

Lincoln Project baru didirikan 17 Desember tahun lalu. Delapan orang pendirinya, semuanya, aktivis Partai Republik. Salah satunya Anda sudah kenal: George Conway yang terkenal itu. Ia suami  Kellyanne yang menjadi manajer kampanye Donald Trump.

Suami-istri ini akhirnya ambil putusan yang mengharukan. George mundur dari Lincoln Project. Kellyanne mundur dari manajer kampanye Trump. Itu demi putri mereka yang sudah menginjak remaja. Sang putri begitu terjepit di antara bapak-ibunyi yang bertempur keras di dua kubu yang berseberangan.

“Kami sendiri tidak pernah mendukung Capres dari Demokrat. Tapi kali ini kami tidak mau Trump,” ujar George yang juga seorang pengacara itu.

Lincoln Project diambil dari nama Presiden Abraham Lincoln. Yakni presiden yang kembali menyatukan Amerika Serikat –lewat Perang Sipil.

Trump mereka anggap sebagai pemecah belah rakyat Amerika. Lincoln Project ingin rakyat Amerika bersatu kembali dengan cara jangan sampai Trump menjadi presiden lagi.

Mereka itu berhasil mengumpulkan dana sebesar 42 juta dolar. Sekitar Rp 700 miliar bukan?

Minggu lalu Lincoln Project pasang baliho besar di simpang empat teramai di pusat kota New York. Tepatnya di Time Square. Tempat inilah yang digelari sebagai simpang empat jagad raya. Keinginan terbesar orang kalau ke New York adalah mejeng di sini.

Suatu saat saya ajak teman saya, John Mohn, ke Time Square. Kami berangkat naik mobil. Perlu waktu dua hari dari kampungnya di pedalaman Kansas.

“Sebagai orang Amerika, saya pun merasa asing di tempat ini,” katanya.

Kenapa?

“Saya perhatikan semua orang  menggunakan bahasa asing yang berbeda-beda,” katanya. “Jarang sekali ada yang bicara dengan temannya dalam bahasa Inggris,” tambahnya.

Di situlah Lincoln Project mencuri perhatian. Terutama perhatian media masa.

Baliho yang disewa Lincoln Project itu tinggi dan besar. Di satu sisi dipasang foto putri Trump, Ivanka, dengan ekspresi tersenyum. Di sebelah foto itu ditulis angka jumlah orang yang mati akibat Covid-19 di New York.

Di sisi sebelahnya dipasang foto suami Ivanka, Jared Kushner, berikut kalimat yang pernah ia ucapkan. Bunyinya: “Itu urusan mereka sendiri”. Jared memang pernah mengucapkan kalimat itu tapi di acara yang lain.

Pengacara Ivanka langsung memberikan keterangan pers: akan memperkarakan Lincoln Project. Termasuk akan minta ganti rugi yang sepadan.

Yang akan diperkarakan ternyata balik menantang. Bahkan akan melakukan jenis kampanye seperti itu lebih nakal lagi. “Kalau pun itu dianggap menghina masih belum sepadan dengan hinaan yang sering dilancarkan Trump,” katanya.

Di Indonesia jenis kampanye seperti ini masih dikategorikan ”serangan udara”. Kurang efektif. Yang lebih diperlukan adalah ”serangan darat”. Bahkan serangan fajar.

Pun, serangan fajarnya sendiri tidak penting –warna isi amplopnya itu yang penting.(*)

 

Related Posts

Di depan rumah penulis buku Journey to the West.--

Da Yunhe

Friday, 24 April 2026
Wani Sabu saat menerima Lifetime Achievement Award di ajang Contact Center World 2025 di Bali.-Instagram Wani Sabu-

Halo Wani

Wednesday, 22 April 2026
Ilustrasi fitur-fitur di Halo BCA.--

Juara Dunia

Tuesday, 21 April 2026
Ilustrasi penggunaan QRIS di Tiongkok yang banyak membantu WNI.-Dibuat dengan bantuan AI-

Hidup QRIS

Monday, 20 April 2026
Salah seorang jurnalis asing mengabadikan gambar sebuah kerusakan akibat serangan udara AS yang menyasar sebuah perkampungan di wilayah Fardis, Barat kota Tehran, Iran.-Vahid Salemi-Association Press

Yossi Cohen

Friday, 17 April 2026
Bupati Tulungagung Gatut Sunu Wibowo terjaring OTT KPK, dengan total kekayaan tercatat Rp20,3 miliar.--Instagram gatutsunu

Tulung Agung

Thursday, 16 April 2026
Next Post
Sumpah Pemuda, Menpora Ingatkan Bonus Demografi

Sumpah Pemuda, Menpora Ingatkan Bonus Demografi

Discussion about this post

Rekomendasi

Kepala BBPOM di Gorontalo, Lintang Purba Jaya, bersama pihak Bea Cukai Gorontalo dan Polda Gorontalo saat konferensi terkait tindak peredaran kosmetik tanpa ijin edar, di aula BBPOM Gorontalo. Kamis (23/4) Foto : Natharahman/ Gorontalo Post.

Penjual Kosmetik Ilegal Ditangkap, Petugas Sita 1.819 Item Skin Care Tanpa Ijin Edar

Friday, 24 April 2026
Ilustrasi--

Sentuh Rp 17.301/USD, Rupiah Makin Terpuruk

Friday, 24 April 2026
Tiara Andini, salah satu pesohor yang sangat antusias berwisata di kawasan pantai Botubarani, Bone Bolango. (foto: istimewa)

Lonjakan Kunjungan Botubarani Picu Kekhawatiran

Friday, 24 April 2026
Epistemologi dan Ontologi Sadaka: Analisis Historis, Teologis, dan Sosiokultural   

Epistemologi dan Ontologi Sadaka: Analisis Historis, Teologis, dan Sosiokultural  

Monday, 20 April 2026

Pos Populer

  • Ilustrasi--

    Sentuh Rp 17.301/USD, Rupiah Makin Terpuruk

    556 shares
    Share 222 Tweet 139
  • Lonjakan Kunjungan Botubarani Picu Kekhawatiran

    761 shares
    Share 304 Tweet 190
  • Penjual Kosmetik Ilegal Ditangkap, Petugas Sita 1.819 Item Skin Care Tanpa Ijin Edar

    15 shares
    Share 6 Tweet 4
  • Pelantikan Pengurus APPINKA Gorontalo Periode 2026–2031, Dorong Inovasi Karawo ke Tingkat Nasional

    21 shares
    Share 8 Tweet 5
  • Tabrak Tronton Dua Remaja Tewas, Hilang Kendali Saat Tronton Terparkir di Tepi Jalan

    194 shares
    Share 78 Tweet 49
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 2 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.