Gorontalopost.co.id, GORONTALO — Hulonthalo Art and Craft Festival (HARFEST) X Gorontalo Karnaval Karawo (GKK) 2026 tak sekadar menghadirkan keramaian. Festival yang berlangsung 11–13 September 2026 itu mencatat transaksi sekitar Rp5,6 miliar, melonjak 70,4 persen dibandingkan pelaksanaan tahun sebelumnya. Angka tersebut menjadi salah satu capaian utama HARFEST 2026 yang berlangsung di GPCC, Kota Gorontalo.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Gorontalo Bambang Setya Permana mengatakan, transaksi tersebut tercatat sejak tahap persiapan hingga pelaksanaan festival. Kenaikan transaksi berjalan seiring dengan meningkatnya jumlah pengunjung dan keterlibatan pelaku usaha. “Pelaksanaan HARFEST tahun ini mencatat peningkatan jumlah pengunjung, keterlibatan UMKM, serta transaksi dibandingkan dengan tahun sebelumnya,” kata Bambang.
Dari sisi pengunjung, HARFEST 2026 mencatat sekitar 13.200 orang, naik 38,9 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara pelaku usaha yang terlibat mencapai sekitar 450 UMKM, baik yang berjualan di dalam maupun di luar area utama festival, termasuk kawasan Jalan Andalas.
Dampak HARFEST bahkan berlanjut di luar transaksi selama festival. Bank Indonesia mempertemukan UMKM Gorontalo dengan sejumlah buyer nasional dari Jakarta dan Pulau Jawa melalui skema business matching. Hasilnya, tercatat potensi penjualan sebesar Rp820 juta. “Kita juga melakukan business matching antara UMKM dengan buyer nasional yang ada di Jakarta dan Jawa. Kita meraih penjualan sebesar Rp820 juta,” ujar Bambang.
Akses UMKM terhadap pembiayaan juga ikut terdorong. Business meeting dengan lembaga keuangan dan perbankan menghasilkan komitmen pembiayaan mencapai Rp2,91 miliar. Sementara itu, business matching untuk komoditas kopi Liberika asal Gorontalo Utara dengan buyer Jepang mencatat transaksi sebesar 5.680 dolar AS.
Bambang menilai capaian tersebut menunjukkan HARFEST X GKK 2026 mulai bergerak melampaui fungsi festival sebagai ruang promosi produk lokal. Event tersebut juga menjadi pintu masuk bagi UMKM untuk memperluas pasar dan mengakses pembiayaan.
Ia menyebut peningkatan transaksi dan partisipasi tahun ini tidak lepas dari kolaborasi Pemerintah Provinsi Gorontalo, Dekranasda, Bank Indonesia, mitra strategis, dan komunitas. Penutupan HARFEST X GKK 2026 turut dihadiri Wakil Gubernur Gorontalo Idah Syahidah Rusli Habibie, Sekretaris Daerah Provinsi Gorontalo Sofian Ibrahim.
Gorontalo Karnaval Karawo
Sementara itu, Gorontalo Karnaval Karawo (GKK) yang digelar secara kolaboratif oleh Pemerintah Provinsi Gorontalo bersama Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Gorontalo mampu menyedot perhatian pengunjung. Pantauan wartawan Gorontalo Post, sejak pukul 15.00 , puluhan peserta karnaval dari berbagai kontingen tampil memukau memperagakan busana rupa-rupa dengan paduan motif sulam karawo, Sabtu (12/9).
Uniknya, pada gelaran tahun ini desainer lokal mengusung eksplorasi konsep alat musik tradisional polopalo sebagai mahkota utama busana. Terlihat peserta nomor urut 16 yang melangkah anggun mengenakan gaun megah dominasi warna ungu dan emas, berhiaskan replika instrumen musik petik gambus dan polopalo.
Tidak kalah menarik, peserta bernomor urut 5 mencuri perhatian khalayak dengan kostum biru keemasan berkonsep polopali, mempertegas pesan pelestarian seni tradisional daerah di tengah kemajuan ekonomi kreatif. Sinar matahari sore Gorontalo yang cerah kian menambahs efek mengilap pada tiap detail jahitan dan ornamen yang dikenakan para model.
“Luar biasa sekali Karnaval Karawo tahun ini. Setiap tahun makin kreatif desainer lokal kita. Apalagi gabungan motif karawo dengan replika alat musik tradisional seperti gambus tadi, benar-benar bikin bangga jadi orang Gorontalo,” ungkap Rahmiyati (34), warga Kota Selatan yang sengaja memboyong keluarganya untuk menyaksikan GKK tersebut.
Pemerintah Provinsi Gorontalo memang menyiapkan GKK sebagai ruang pertemuan antara budaya, pariwisata, UMKM, dan industri kreatif.
GKK diarahkan bukan hanya sebagai panggung untuk memperlihatkan keindahan Karawo, tetapi sebagai etalase besar produk kreatif Gorontalo. Kepala Dinas Pariwisata Ekonomi Kreatif, Pemuda dan Olahraga Provinsi Gorontalo, Sultan Kalupe, menegaskan bahwa keberadaan GKK tidak boleh berhenti pada pertunjukan semata.
Menurutnya, kehadiran pengunjung harus memberi dampak langsung terhadap masyarakat, mulai dari pengrajin Karawo, pelaku UMKM, kuliner hingga sektor pariwisata. “Kami ingin saat tamu datang, mereka tidak hanya melihat karnaval, tapi juga belanja, makan, dan merasakan langsung budaya Gorontalo,” ujar Sultan.(tro/Tr-76)












Discussion about this post