logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Persepsi

Indonesia Raya “Lahir” di Sulawesi

Lukman Husain by Lukman Husain
Monday, 10 August 2026
in Persepsi
0
Basri Amin

Basri Amin

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Oleh:
Basri Amin

 

PENCIPTA “Indonesia Raya,” W.R. Supratman (1903—1938) menjalani masa muda-kreatifnya di Makassar sejak tahun 1914. Dua tahun sepeninggal ibunda tercintanya.

Tak lama setelah ia menamatkan Normaal School di Makassar, W.R. Supratman menjadi Guru di Sekolah Dasar. Dengan cerita ini saja, sangat jelas bahwa sejarah Makassar adalah bagian utama dari sejarah hidup W.R. Supratman, begitulah pula selanjutnya: bahwa W.R. Supratman adalah bagian dari memori kolektif Sulawesi dan Jawa. Bagaimanalah mungkin jejak ini dipandang sepele!. Bukanlah ketertarikan Wage (Rudolf) Supratman remaja kepada alat musik Biola justru memuncak pada sepanjang perjalanannya dari Batavia menuju Makassar pada tahun 1914.

Related Post

UNG Kampus Kerakyatan, Berdampak Untuk Semua

Menenun Indonesia Emas 2045 dari Pesisir Teluk Tomini

Berorganisasi Harus Taat Asas/Norma Bukan Sekadar Foto-foto

Prestise Bahasa, Inferioritas Simbolik, dan Kekeliruan Memahami Modernitas

Di usianya yang masih muda itu, tensi estetiknya mulai menanjak dan terwadahi kreatif ketika ia menjadi anggota  Black-White Jazz Band –yang ketika itu banyak manggung di  (klub) Societeit Makassar. Grup musik ini dikelola oleh kakak iparnya Van Eldik. Ia adalah suami dari kakak sulungnya, Rukiyem Supratiyah van Eldik, yang pada tahun 1914 pindah dari Batavia ke Makassar dalam posisinya sebagai Sersan KNIL. Di tahun itulah Wage diajak ke Makassar dengan kapal “van der Wijk” (Sularso, 1983: 76-88).

Wage adalah nama awalnya yang diberikan oleh ibundanya. Ayahnya, yang adalah seorang  Sersan KNIL, dikemudian hari menambahkan namanya dengan Supratman. Uniknya, ketia ia tiba di Makassar, namanya ditambah dengan sisipan “Rudolf”. Rupanya, dengan nama itu maka ia (Wage remaja) menjadi bagian dari citra besar “Barat” (Belanda) di kota ini.

Dengan ‘nama baru’ itulah pula ia dikondisikan layak memasuki sekolah yang didominasi oleh anak-anak Eropa, Europese Lagere School (ELS). Selama di Makassar, dia tercatat “giat belajar bahasa Bugis”. Sampai tahun 1922, W.R. Supratman sudah menguasai Bahasa Bugis, Belanda, Inggris, Jerman dan Perancis (AR, Selecta, 1982: 2,73).

Di kota Makassar, nama Wage “Rudolf’ Supratman naik daun dan bahkan terkenal di antara anggota Societeit.  Ia dipanggil “Meneer Supratman…”. Penghasilannya lumayan dan ia pun banyak bergaul dengan gadis-gadis Indo dan banyak bersenang-senang.

Tak lama setelah itu, W.R. Supratman disarankan kakaknya untuk berhenti jadi Guru mengingat keluarga kakaknya akan segera pindah ke daerah pedalaman, tepatnya di Sengkang (1923). Sejak itu, kakaknya sangat meragukan keselamatannya dan menyarakan agar berhenti menjadi “pegawai negeri”, agar ia fokus dengan talenta musiknya.

Tahun 1922 adalah momen menentukan, tepat ketika W.R. Supratman mengenal pertama kali lagu La Marseilles –lagu kebangsaan Perancis ciptaan Rouget de L’isle. Sejak itu, mekarlah di hatinya bahwa: “…suatu saat bisa menciptakan lagu kebangsaan…”. Sejak 1924, kesadaran politiknya mulai muncul, antara lain karena membaca koran Sin Po. Di masa itu, W.R. Supratman sangat aktif mengikuti berita-berita politik, terutama dengan membaca koran Pemberita Makassar. Di masa itulah pula ia tertarik di bidang jurnalistik.

Kota Makassar membentuk banyak hal dalam diri W.R. Supratman. Gairah menciptanya terus menyala. Lagu perjuangan dan kebangsaan sudah tumbuh-besar dalam imajinasi bahasanya. Ia kemudian sangat sadar bahwa ia harus terlibat langsung dalam percaturan kebangsaan dan perjuangan. Setelah 10 tahun di Makassar, Supratman (merasa) harus kembali ke Jawa, tepatnya ke Bandung –-sebagai ‘pusat’ perjuangan kaum muda nasionalis. Ia sempat sejenak di Surabaya dan bergaul dengan Kelompok Studi Indonesia–.

Ketika Wage akhirnya kembali ke Jawa tahun 1924 itu, kepergiannya disertai “linangan air mata keluarga val Eldik di Makassar.” Tapi, ia tak lupa membawa “biola pemberian kakak iparnya” yang sudah menyatu dengan cita-cita hidupnya. Dengan biola itulah, ia menemukan Indonesia Raya yang sempurna pada tahun 28 Oktober 1928 di Kramat Raya 106 Jakarta Pusat.

Di Bandung, W.R. Supratman melamar menjadi wartawan pada koran nasionalis terkenal, Kaoem Moeda. Gajinya sebagai reporter jauh lebih rendah dari gajinya di Black-White Jazz Band di Makassar. Karena itu ia sempat berpikir kembali ke Makassar karena di sana pendapatannya lumayan baik sebagai musikus, tapi ia kemudian sadar bahwa pilihan itu akan menyulitkannya menjadi komposer lagu-lagu Perjuangan jika tidak terlibat berjuang-nasional di Jawa.

Ketika bekerja di Sin Po, Supratman meliput banyak berita di Batavia dan berkesempatan bertemu tokoh-tokoh nasionalis –dengan itulah akhirnya dia tahu bahwa akan ada Kongres Pemuda di Batavia/Jakarta. Ia ikuti bagaimana “organisasi pemuda kedaerahan menyatu untuk persatuan Indonesia…”.

Pada 15 Maret 1926, koran Sin Po sudah menulis kata “Indonesia” (Coppel, 2021). Penting dicatat bahwa Sin Po, tujuh tahun kemudian, adalah sebuah kekuatan politik dalam menegaskan nasionalisme keturunan Tionghoa dalam pergumulan nasionalisme (baru) di Hindia belanda (pra-Indonesia) ketika polemik kewargaan, pribumi, nasionalisme, dan kekerasan memasuki dinamikanya yang pelik (Suryadinata, 1979).

Dengan bukti ‘sederhana’ dari Sin Po, kita bisa menemukan pantulan ‘lain’ dari keIndonesian kita hari ini dan di masa depan. Begitu banyak “perjumpaan” yang melahirkan Indonesia sebagai negara-bangsa. Sebuah negara yang mewadahi begitu “banyak bangsa” dan teritori, dengan gelombang polemik politik dan aspirasi kebudayaan baru (Mihardja [1948], 1986).

W.R. Supratman melahirkan lagu (mars) pertamanya, Dari Barat sampai Timur. Tak lama setelah Kongres Pemuda I pada Mei 1926, terutama ketika bersua-jiwa dengan bahasa-Pidato M. Tabrani, W.R. Supratman pun melahirkan lagu berjudul Indonesia berirama 6/8. Ia gembira dengan gubahannya ini dan ia pun segera mengirim kabar gembiranya kepada kakak iparnya van Eldik di Makassar.

Simpulan tegas yang selamanya harus jadi pegangan kita bahwa, secara geneologis, “orang Indonesia” berasal dari “rahim banyak bangsa”. Hakikinya adalah kesetaraan dalam hak-hak kewargaan. Kendati begitu, kenangan bersama kita –ketika “menjadi Indonesia”– sudahlah pasti membenarkan banyaknya perbedaan dan keragaman. Kini kita butuh keindonesiaan yang lebih tegak dan menggema, sejiwa dengan kata-kata Mochtar Pabottingi:”…Indonesialah yang membuatku berarti dan berhak melangkah ke mana saja…”.

Ayo, mari merayakan Indonesia kita yang Merdeka jiwa – raganya! ***

Tags: basri aminCatatan basri aminHarian Persepsipersepsispektrum sosialtulisan basri amintulisan persepsi

Related Posts

Muh. Amier Arham

UNG Kampus Kerakyatan, Berdampak Untuk Semua

Monday, 10 August 2026
Ramadan, Embarkasi Haji Gorontalo, dan Ikhtiar Kepemimpinan

Menenun Indonesia Emas 2045 dari Pesisir Teluk Tomini

Saturday, 8 August 2026
Berorganisasi Harus Taat Asas/Norma Bukan Sekadar Foto-foto

Berorganisasi Harus Taat Asas/Norma Bukan Sekadar Foto-foto

Saturday, 8 August 2026
Prestise Bahasa, Inferioritas Simbolik, dan Kekeliruan Memahami Modernitas

Prestise Bahasa, Inferioritas Simbolik, dan Kekeliruan Memahami Modernitas

Friday, 7 August 2026
Dari Agromaritim ke Blue-Green-Gold Economy: Jalan Baru Gorontalo Menuju Pertumbuhan yang Inklusif dan Berkelanjutan

Dari Agromaritim ke Blue-Green-Gold Economy: Jalan Baru Gorontalo Menuju Pertumbuhan yang Inklusif dan Berkelanjutan

Wednesday, 5 August 2026
Basri Amin

Merdeka dari Janji-Janji Palsu

Monday, 3 August 2026
Next Post
Eks Aleg Deprov Ditahan Kejaksaan, Dugaan Penipuan Penyelenggaraan Ibadah Haji Khusus

Eks Aleg Deprov Ditahan Kejaksaan, Dugaan Penipuan Penyelenggaraan Ibadah Haji Khusus

Discussion about this post

E-paper Gorontalo Post 30 Juli 2026

Rekomendasi

Tersangka Kasus Korupsi BSG Segera Disidang

Tersangka Kasus Korupsi BSG Segera Disidang

Monday, 10 August 2026
Muh. Amier Arham

UNG Kampus Kerakyatan, Berdampak Untuk Semua

Monday, 10 August 2026
Eks Aleg Deprov Ditahan Kejaksaan, Dugaan Penipuan Penyelenggaraan Ibadah Haji Khusus

Eks Aleg Deprov Ditahan Kejaksaan, Dugaan Penipuan Penyelenggaraan Ibadah Haji Khusus

Monday, 10 August 2026
Gorontalo Ketambahan Duit Rp 207,26 M, Kanwil DJPb: Sudah Disalurkan ke RKUD Pemda

Gorontalo Ketambahan Duit Rp 207,26 M, Kanwil DJPb: Sudah Disalurkan ke RKUD Pemda

Monday, 10 August 2026

Pos Populer

  • Tersangka Kasus Korupsi BSG Segera Disidang

    Tersangka Kasus Korupsi BSG Segera Disidang

    13 shares
    Share 5 Tweet 3
  • Menenun Indonesia Emas 2045 dari Pesisir Teluk Tomini

    29 shares
    Share 12 Tweet 7
  • Berorganisasi Harus Taat Asas/Norma Bukan Sekadar Foto-foto

    21 shares
    Share 8 Tweet 5
  • Program Gusnar-Idah Tepat Sasaran, Kemiskinan Terus Menyusut, Nilai Tukar Petani Meningkat

    15 shares
    Share 6 Tweet 4
  • Indonesia Muslim Travel Index, Penuhi Standar ACES, Gorontalo Masuk 15 Besar

    14 shares
    Share 6 Tweet 4
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 3 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.