Oleh:
Ridwan Monoarfa
Anggota DPRD Provinsi Gorontalo
DUNIA hari ini tidak sedang kekurangan hukum—ia kekurangan kejujuran. Kita kembali menyaksikan ironi lama: kekuatan sering menang lebih cepat daripada kebenaran. Perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran bukan sekadar konflik geopolitik. Ia adalah panggung terbuka yang memperlihatkan bagaimana standar ganda bekerja dalam sistem global—sebuah sistem yang, atas nama stabilitas, justru memelihara ketidakadilan.
Dalam kerangka realisme politik, situasi ini tampak logis. Negara bertindak untuk mempertahankan kepentingannya. Kekuatan adalah instrumen utama, dan dominasi menjadi cara untuk memastikan ketertiban. Amerika Serikat dan Israel menjalankan logika ini secara konsisten: menentukan siapa ancaman, kapan ancaman harus dihancurkan, dan bagaimana narasi global dibentuk untuk membenarkan tindakan tersebut.
Namun persoalannya bukan pada realisme itu sendiri, melainkan pada bagaimana ia dipraktikkan tanpa batas moral. Ketika satu tindakan disebut “pertahanan diri” oleh sebagian pihak, tetapi disebut “agresi” ketika dilakukan pihak lain, maka yang bekerja bukan lagi hukum, melainkan kekuasaan.
Standar Ganda dan Keruntuhan Moral Global
Fakta terbaru menunjukkan hal itu secara telanjang. Dewan Keamanan PBB pada Maret 2026 mengadopsi resolusi yang mengutuk serangan balasan Iran terhadap pangkalan militer Amerika Serikat dan Israel di Timur Tengah, serta menuntut penghentian segera tindakan tersebut.
Namun resolusi yang sama tidak memuat kecaman terhadap serangan awal Amerika Serikat dan Israel ke wilayah Iran, termasuk yang berujung pada terbunuhnya pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei serta hancurnya sekolah perempuan berakibat ratusan siswi meninggal dunia.
Resolusi ini disahkan dengan 13 suara setuju, sementara Rusia dan China memilih abstain karena menilai substansinya tidak seimbang. Ini bukan sekadar bias diplomatik—ini adalah legitimasi ketidakadilan yang dilembagakan.
Di sinilah wajah sesungguhnya dari apa yang sering disebut sebagai arsitektur hegemoni global menjadi jelas. Ia tidak hanya mengandalkan kekuatan militer, tetapi juga mengendalikan definisi—menentukan siapa korban, siapa pelaku, dan siapa yang berhak mendapat simpati dunia.
Namun kita juga tidak boleh terjebak dalam romantisme perlawanan. Idealisme moral tidak otomatis membuat satu pihak sepenuhnya benar. Setiap kekuatan yang membawa nama moralitas tetap harus diuji oleh tindakan nyata: apakah ia melindungi kehidupan, atau justru memperpanjang siklus kekerasan.
Yang menjadi persoalan utama adalah kegagalan komunitas global untuk bersikap jujur. Ketika pelanggaran dilakukan oleh sekutu, ia diredam. Ketika dilakukan oleh lawan, ia dikecam habis-habisan. Dalam situasi seperti ini, moralitas berubah menjadi alat politik, bukan lagi kompas etis.
Dari Realisme ke Absurditas Nuklir
Dalam logika realisme, setiap eskalasi selalu membuka ruang bagi eskalasi berikutnya. Dan dalam rantai eskalasi modern, ujungnya selalu sama: opsi yang dulu dianggap mustahil, perlahan menjadi mungkin.
Jika konflik ini terus bergerak tanpa kendali, maka realisme politik akan memasuki titik paling berbahaya: absurditas. Pada titik ini, logika kekuatan tidak lagi rasional, tetapi justru destruktif terhadap dirinya sendiri.
Dalam berbagai doktrin militer modern, opsi paling ekstrem selalu disimpan sebagai jalan terakhir. Kemungkinan penggunaan senjata nuklir—baik sebagai pencegah maupun sebagai pemutus akhir perang—tidak lagi sepenuhnya berada di wilayah imajinasi jika konflik ini berubah menjadi perang total.
Dan ketika itu terjadi, seluruh perdebatan tentang siapa benar dan siapa salah akan kehilangan maknanya. Karena nuklir tidak mengenal moralitas. Ia tidak membedakan kombatan dan sipil. Ia tidak tunduk pada hukum, dan tidak bisa dibenarkan oleh alasan apa pun.
Di titik inilah realisme yang kehilangan kendali moral berubah menjadi absurd. Tujuannya adalah menjaga keamanan, tetapi justru membuka kemungkinan kehancuran total kemanusiaan itu sendiri.
Jika kita kembali pada kisah Qabil dan Habil, maka yang kita saksikan hari ini bukan sekadar konflik antarnegara, tetapi pengulangan pilihan pertama manusia—dalam skala yang jauh lebih mengerikan.
Qabil tidak lagi hanya membawa batu, tetapi kini membawa potensi untuk mengakhiri peradaban. Dan di titik itu, peradaban tidak lagi diuji oleh kekuatan, tetapi oleh kemampuannya menahan diri.
Pertanyaannya menjadi jauh lebih mendesak: apakah manusia masih mampu menghentikan dirinya sendiri? Jika standar ganda terus dipertahankan, jika kekuatan terus dilepaskan tanpa kendali moral, maka perang ini bukan hanya tentang kemenangan satu negara atas negara lain. Ia adalah tentang kemungkinan hilangnya wajah kemanusiaan sebagaimana kita kenal hari ini.
Sejarah mungkin akan mencatat siapa yang unggul di medan perang, tetapi jika dunia terus memilih jalan Qabil, maka bisa jadi tidak akan ada lagi peradaban yang tersisa untuk membacanya.(*)










Discussion about this post