Gorontalopost.co.id, GORONTALO –- Suara tabuhan pentungan yang ritmis kembali menggema di penjuru Kota Gorontalo pada Kamis (19/2) dini hari. Ribuan warga tumpah ruah ke jalan untuk meramaikan tradisi koko’o atau ketuk sahur. Sebuah warisan budaya lokal yang eksis sejak tahun 1962 guna menyambut bulan suci Ramadan 1477 Hijriah.
Perhelatan budaya ini secara resmi dimulai pada pukul 00.00 WITA hingga berakhir pukul 03.00 WITA. Massa yang membludak berkumpul di titik awal (start) Bundaran Saronde, Jalan Ahmad Yani, Kelurahan Heledulaa Selatan, Kecamatan Kota Timur, dan melakukan pawai hingga ke kawasan Markas Talumolo.
Ketua Panitia Pelaksana, Fiqram Idrus, menjelaskan bahwa penyelenggaraan tahun ini mengusung konsep yang lebih segar dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
“Setiap tahun kami terus melakukan pembaruan untuk Koko’o Gorontalo. Tahun ini, kami bermain pada desain panggung dan menambah beberapa item acara agar lebih menarik,” ujar Fiqram saat ditemui di lokasi kegiatan pada Rabu malam (18/02/2026).
Ia menambahkan bahwa antusiasme masyarakat pada tahun ini sangat luar biasa. Berdasarkan estimasi panitia, ribuan orang memadati Bundaran Saronde untuk ikut serta dalam euforia menyambut bulan suci ini.
Tradisi koko’o bukan sekadar ajang keramaian, melainkan upaya menjaga identitas daerah. “Kami hadir di sini untuk melestarikan dan memperkenalkan tradisi ini kepada seluruh masyarakat, khususnya generasi penerus, agar budaya asli Gorontalo tidak luntur dimakan zaman,” lanjut Fiqram.
Besarnya pengaruh tradisi ini juga mendapat apresiasi dari pemerintah daerah. Acara tersebut dibuka secara resmi oleh Asisten I Kota Gorontalo yang hadir mewakili Wali Kota Gorontalo.
Dukungan dari Pemerintah Kota Gorontalo ini diharapkan dapat mendorong tradisi koko’o menjadi agenda tahunan yang lebih besar dan terorganisasi di masa mendatang. (MG-02/Mg-04)











Discussion about this post