Gorontalopost.co.id, GORONTALO — Antrean kendaraan di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Tinaloga, Kelurahan Dulomo Selatan, Kota Utara, Kota Gorontalo cukup parah.
Bahkan, ratusan truk mengular dari Kota Gorontalo hingga kawasan Matobonebol atau malioboro Gorontalo Jl. Tengah Toto Selatan, Kabupaten Bone Bolango.
Ada dua jalur antrean yang mengular di sepanjang Jalan Tinaloga tersebut. Kemacetan pun tidak dapat dihindari. Sebab, jalan yang merupakan kompleks pemerintahan itu, cukup sempit. Mobil-mobil hampir menyita sepertiga badan jalan.
Pantauan Gorontalo Post, dari dalam SPBU truk yang mengantre Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar hingga dua jalur. Mengingat begitu banyaknya truk hingga mencapai ratusan membuat halaman SPBU tidak bisa menampung antrean.
Akibatnya antrean truk mengular hingga ke jalan raya mulai dari jalan depan SPBU kemudian mengular hingga simpang tiga antara jalan Jl. Tinaloga dan jalan tengah Toto Selatan, Kabupaten Bone Bolango.
Tak hanya itu, sambungan antrean kendaraan hingga mencapai gapura kawasan Matobonebol yang jaraknya dari SPBU sekitar 400 meter. Antrean semacam ini sebetulnya, menjadi pemandangan yang umum di hampir semua SPBU di Kota Gorontalo.
Banyak truk kecil maupun besar mengantre hanya bisa mengisi full tangkinya dengan solar. Penyebab utama fenomena ini diduga karena adanya pengurangan kuota solar ke SPBU.
Menurut warga setempat kondisi seperti ini terjadi setiap hari. Bahkan, ada kendaraan yang mengantri sejak malam hari hanya untuk mendapatkan antrian paling depan.
Antrian Kendaraan tersebut kerap mengakibatkan kemacetan arus lalu lintas karena antrian berada di jalan poros penghubung dua daerah yakni Kota Gorontalon dan Kabupaten Bone Bolango. Belum lagi di kawasan itu merupakan kawasan perkantoran Lembaga vertikal yang cukup padat kendaraan.
Diduga, solar saat ini tidak hanya digunakan untuk keperluan kendaraan pribadi saja, namun ada indikasi digunakan untuk keperluan pertambangan maupun kendaraan operasional yang digunakan di proyek proyek besar.
Sejumlah warga mengeluhkan antrean yang sudah bertahun-tahun tidak ada penertiban dari pihak terkait. Banyak pengendara yang akhirnya beralih membeli BBM nonsubsidi agar tidak menunggu terlalu lama.
“Terus terang kami sangat kesulitan dengan untuk mendapatkan solar subsidi dengan kondisi seperti ini. Kami minta pihak PERTAMINA untuk turun langsung ke lapangan guna melihat secara langsung kondisi masyarakat yang susah payah untuk mendapatkan solar bersubsidi,”tandas Kasman Ibrahim warga Kota Gorontalo ini. (roy)













Discussion about this post