logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Disway

Buka Blak

Lukman Husain by Lukman Husain
Wednesday, 4 February 2026
in Disway
0
HARGA SAHAM yang memerah ditampilkan di Indonesia Stock Exchange (Bursa Efek Indonesia) Kamis,29 Januari 2026.-Yasuyoshi Chiba-AFP-

HARGA SAHAM yang memerah ditampilkan di Indonesia Stock Exchange (Bursa Efek Indonesia) Kamis,29 Januari 2026.-Yasuyoshi Chiba-AFP-

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Oleh:
Dahlan Iskan

 

SIAPA yang “kecopetan” terbanyak di krisis bursa saham belakangan ini?

Mungkin Boy Tohir bersaudara (bos Adaro). Atau Hartono bersaudara (bos Bank BCA). Yang sudah pasti: Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Related Post

Dapat Apa

Cinta Alwi

Klarifikasi Bukan

Dor! Dor!

Adaro dengan nama samaran ADMR kehilangan uang lebih Rp 10 triliun. Hanya dalam tiga hari: tanggal 28, 29, dan 30 Januari 2026. Lalu ditolong libur dua hari akhir pekan lalu.

Ketika pasar saham buka lagi di hari Senin tanggal 2 Februari, pencopetnya beraksi lagi: Adaro kecopetan lagi sekitar Rp 5 triliun.

Pasar global masih belum mau menerima berbagai langkah yang dilakukan OJK, BEI, dan Danantara. Padahal Danantara sampai membocorkan langkahnya: akan terus memborong saham di BEI.

Bank BCA kehilangan sekitar Rp 12 triliun. NKRI kehilangan lebih Rp 50 triliun –lewat bank di bawah Danantara dan perusahaan lainnya yang sudah go public.

Bedanya, di saat Adaro masih tergerus di hari Senin, Bank BCA mulai bersinar. Sahamnya yang turun tujuh persen di penutup bulan Januari naik tiga persen di hari Senin. Pencopet telah mengembalikan sebagian hasil copetannya ke Bank BCA.

Dalang “pencopetnya” Anda sudah tahu: MSCI —Morgan Stanley Capital International. Tapi bukan MSCI yang menikmati hasil copetan. Uang ratusan triliun rupiah itu seperti menguap begitu saja ke udara.

Adaro pun tidak benar-benar kehilangan –kalau saja harga sahamnya bisa naik lagi kapan nanti. Bahkan yang bertriliun-triliun itu sebenarnya juga bukan uang. Itu, bagi Anda, hanyalah angka dan angka.

Sampai hari Senin itu nilai market cap Adaro turun 10 persen. Dari Rp 82 triliun ke Rp 70 triliun. Bank BCA turun 7 persen. Dari Rp 922 triliun ke Rp 910 triliun.

Persentase yang hampir sama dialami Bank Mandiri. Sedang Bank BRI turun sekitar enam persen.

Hebatnya, ternyata ada sekitar 20 perusahaan yang harga sahamnya justru naik. Anda sudah tahu siapa juaranya: perusahaan asal Surabaya. Namanya: PT Pelayaran Nasional Ekalya Purnamasari Tbk. Kode sahamnya: ELPI. Yang punya: Eka Taniputra.

Eka sebenarnya putra Maluku. Tepatnya orang Ambon yang pindah ke Surabaya. Nilai perusahaannya kini menjadi Rp 10 triliun. Dalam tiga hari itu saham ELPI naik sampai 69 persen.

Perusahaan lain yang juga bernasib baik umumnya tidak begitu dikenal secara luas. Misalnya PT Eratex Jaya (+35 %), PT Ever Shine Tex (+34%), PT Nusantara Alzamia (+34%), PT Alfa Energi Investama (+33%).

Apakah saham ELPI masih naik lagi Senin kemarin? Tidak. Di hari Senin itu bursa menghentikan perdagangan saham ELPI –dianggap kenaikannya di tanggal 30 Januari terlalu tinggi.

Dengan demikian sepanjang hari Senin saham ELPI tidak diperdagangkan. Sedang di hari Selasa pagi WIB kemarin (saat saya menulis naskah ini) ELPI terkoreksi 4 persen –masih sangat bagus.

Sstttt….! Jangan ribut. Diam-diam GoTo termasuk yang sahamnya naik. Memang secara persentase naiknya tipis sekali, tapi nilai uangnya mencapai Rp 4 triliun.

Hanya saja di perdagangan hari Senin, saham GoTo anjlok lagi. Lebih dalam dari sebelum kenaikan akhir Januari.

Pun “juara” turun terdalamnya bukan perusahaan besar kelas Adaro atau Bank BCA. Yang turun terdalam Anda jarang dengar namanya, saking kecilnya di antara gajah-gajah itu: PT Artha Mahiya Investama. Turun 46 persen.

Apakah mereka yang turunnya terdalam itu dicurigai MSCI sebagai yang suka goreng saham lewat kecilnya saham yang free float? Ternyata bukan. Saham free float di Adaro cukup besar: 16 persen.

Kalau pun nanti OJK menaikkan persyaratan minimal free float menjadi 15 persen (dari 7,5 persen), Adaro sudah aman. Hanya saja angka 16 persen belum menarik bagi investor kelas dunia. Mereka menginginkan free float itu antara 20 sampai 25 persen.

Bank BCA sudah melebihinya: sudah 42 persen. Begitu juga Bank Mandiri dan Bank BRI. Emiten seperti BUMI sudah 32 persen.

Maka sebenarnya tidak terlalu menakutkan kalau persyaratan free float naik ke 15 persen –pun bila 20 persen. Karena itu Pjs Ketua OJK Friderica Widyasari Dewi langsung memutuskan: naik jadi 15 persen. Begitu cepat keputusan itu: tidak sampai 48 jam setelah pengangkatannyi sebagai Pjs Ketua OJK.

Kesimpulan saya: tidak ada bahaya besar kalau kita memenuhi persyaratan MSCI. Apalagi soal keterbukaan siapa di balik saham kecil-kecil itu.

Kiki, nama panggilan Friderica, sudah membuat keputusan cepat nan berani: pokoknya siapa sebenarnya di balik pemegang saham di atas satu persen akan dibuka. Tidak hanya yang lima persen ke atas.

Selama ini nama pemegang saham kecil itu “disembunyikan”. Pakai nama PT. Tidak pakai nama orang. Keterbukaannya hanya sampai pada penyebutan nama PT. Siapa di balik nama PT itu tidak wajib dibuka. Putus di situ. Toh hanya memegang saham lima persen.

Ibaratnya, keterbukaannya sampai “sudah buka baju”. Padahal sudah buka baju bukan berarti sudah bisa melihat semuanya. Masih ada bra dan CD.

MSCI minta tidak hanya sampai tahap “buka baju”. Harus buka semuanya. Apalagi saham-saham kecil yang disembunyikan di balik PT itu kalau disatukan besar juga. Apalagi kalau ternyata di balik PT-PT tersebut orangnya sama.

Praktik seperti itu yang MSCI tidak mau. Harus dibuka blak. Sampai bugil. Dibuka semua –mulai be-ha sampai ce-de-nya.

Tentu OJK tidak akan keberatan. BEI juga harus dipaksa untuk tidak keberatan. Ini untuk kebaikan bersama.

Walhasil ”dalam waktu secepat-cepatnya” seperti yang diucapkan Kiki Widyasari ternyata memang sangat cepat.

Semua reformasi kelihatannya bisa selesai sebelum Lebaran. Setidaknya sudah bisa sampai tahap buka “be-ha”. Sedang untuk sampai buka CD mungkin perlu menunggu setelah Lebaran.

Proses terlama rasanya ini: pembentukan PT BEI yang baru –yang tidak lagi dimiliki perusahaan broker semata. Apalagi “PT BEI Baru” itu harus pula mendaftar untuk IPO di BEI.

Ada jalan untuk bisa lebih cepat: kalau perlu IPO BEI lewat papan pengembangan dulu. Yang penting sudah mulai buka bra –soal tahap buka ce-de kan otomatis terjadi berikutnya.

Kalau keterbukaan bursa saham Indonesia sudah begitu telanjangnya, seharusnya sangat menarik. Kerugian-kerugian besar akhir Januari bisa segera dipulihkan kembali.

Kalau tidak: t e r l a l u ! (*)

Tags: Catatan Harian DahlanDahlan IskanDiswayHarian Dahlanharian diswayTulisan Dahlan

Related Posts

Dapat Apa

Dapat Apa

Monday, 25 May 2026
Cinta Alwi

Cinta Alwi

Saturday, 23 May 2026
Klarifikasi Bukan

Klarifikasi Bukan

Saturday, 23 May 2026
Dor! Dor!

Dor! Dor!

Saturday, 23 May 2026
--

Rujak Ambon

Thursday, 21 May 2026
--

Kenari Tua

Wednesday, 20 May 2026
Next Post
--

Ekonomi Komunal Lokal vs Elite Global

Discussion about this post

Rekomendasi

Ustad Abdul Somad Hadir di Kotamobagu, Masjid Al-Baitul Makmur jadi Lautan Manusia

Ustad Abdul Somad Hadir di Kotamobagu, Masjid Al-Baitul Makmur jadi Lautan Manusia

Saturday, 23 May 2026
AHM Hadirkan TEFA Astra Honda di SMK Mitra Binaan, Fasilitas Pendidikan Tambah Lengkap

AHM Hadirkan TEFA Astra Honda di SMK Mitra Binaan, Fasilitas Pendidikan Tambah Lengkap

Monday, 25 May 2026
Peduli, Honda DAW Gelar CSR Pendidikan di SD GMIM 22 Wangurer 

Peduli, Honda DAW Gelar CSR Pendidikan di SD GMIM 22 Wangurer 

Monday, 25 May 2026
Hasjrat Toyota Perkuat Ekosistem Fitur dan Layanan Lengkap

Hasjrat Toyota Perkuat Ekosistem Fitur dan Layanan Lengkap

Monday, 25 May 2026

Pos Populer

  • Tambang Emas Pohuwato, Berkah atau Kutukan Sumber Daya Alam?  Dari Enclave Ekonomi ke Pengukit Pertanian dan UMKM

    Tambang Emas Pohuwato, Berkah atau Kutukan Sumber Daya Alam? Dari Enclave Ekonomi ke Pengukit Pertanian dan UMKM

    17 shares
    Share 7 Tweet 4
  • Manajemen Pembelajaran Adaptif untuk Kelompok Disabilitas: Implementasi Teknologi Asistif dalam Ekosistem Pendidikan Inklusif

    15 shares
    Share 6 Tweet 4
  • PNM Siapkan Mental Wirausaha 2.700 Siswa SMK Se-Indonesia Lewat PNM Mengajar

    23 shares
    Share 9 Tweet 6
  • Jalan Roky Katili Mirip Kolam, Bahayakan Pengendara, Halaman Alfamart Jadi Alternatif

    22 shares
    Share 9 Tweet 6
  • Juara Baca Puisi, Rifat Monoarfa Waliki UNG di Peksimnas 2026

    18 shares
    Share 7 Tweet 5
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 3 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.