logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Disway

Hady Alan

Lukman Husain by Lukman Husain
Monday, 26 January 2026
in Disway
0
--

--

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Oleh:
Dahlan Iskan

 

IRI. Umur segitu masih sangat sehat. Wajahnya masih halus –tanpa keriput. Ia anak nomor enam dari tujuh bersaudara. Berarti kakak-kakaknya jauh di atas 75 tahun.

Pun orang tua. Juga bisa saling iri. Ia juga iri pada kondisi badan saya. Kami seumur, hanya beda shio. Juga beda nasib –nasibnya jauh lebih baik. Ups, bukan nasib. Tapi kecerdasan. Kecerdasannya lebih baik. Terutama dalam memilih jenis bisnis.

Related Post

Sel Janin

Bagi Hasil

Perjudian Besar

Kanan Dalam

Saya memilih bisnis yang ternyata mati lebih cepat dari perkiraan: koran. Ia pilih bisnis di bidang distribusi dan logistik. Nama orang itu: Hady Karyono. Nama perusahaannya: PT Borwita.

Pun produsen sebesar P&G dan Philips percaya pada Borwita –untuk mendistribusikan produk  mereka. Sudah sejak puluhan tahun lalu.

Seperti juga pendirinya Borwita berumur panjang. Pekan lalu Borwita genap 50 tahun. Hady, pendiri dan pemilik Borwita, genap 75 tahun –tiga hari sebelumnya. Perkawinan mereka berusia 54 tahun.

Bisnis koran mati. Bisnis distribusi justru berkembang. Pun tahun lalu: ketika banyak orang mengeluh ekonomi sedang sulit. Borwita tumbuh pesat.

Salah satu manajer Borwita pun bertanya kepada saya: bagaimana masa depan bisnis distribusi. Apakah bisa mati.

“Yang jelas tidak akan seperti koran,” jawab saya. Ada kecualinya: sampai di suatu saat barang sudah bisa dikirim pakai email.

Sekitar 250 manajer Borwita kumpul di hari ulang tahun itu. Dari seluruh Indonesia. Hady, istri, dan dua putrinya ikut hadir. Satu-satunya anak laki-lakinya, Alan Karyono, lagi ke Jakarta. Tapi istri Alan hadir.

Mereka pun saya ajak berkhayal. Sayangnya tidak ada manajer yang berlatar belakang pendidikan fisika. Padahal saya ingin tahu jawaban dari pertanyaan ini: “apakah benda terkecil di dunia?”

Ada yang mencoba menjawab: “atom”. Pasti itu jawaban dari pelajaran sekolah zaman dulu. Belakangan sudah ditemukan benda lebih kecil dari atom. Lalu ditemukan lagi yang lebih kecil lagi.

Akhirnya disepakati bahwa benda terkecil itu masih bisa dibelah lagi menjadi lebih kecil: disebut gelombang.

Begitulah penjelasan seorang ahli fisika kepada saya. Saya percaya pada keilmuannya. Bagi yang tidak percaya bisa membantahnya.

Kalau saja informasi itu benar, maka suatu saat kelak benda-benda yang perlu didistribusikan Borwita bisa diurai menjadi gelombang. Lalu ditransmisikan lewat email. Sampai di tujuan sana gelombang-gelombang itu disatukan lagi. Jadi benda aslinya lagi.

Mungkin itu belum akan terjadi ketika semua orang masih waras. Namanya saja berkhayal. Kalau pun teknologi akan sampai di sana Borwita mungkin tetap bisa memanfaatkannya. Sekarang pun Borwita sudah memanfaatkan teknologi terbaru: artificial intelligence. Borwita punya layanan AI, sangat mirip ChatGPT.

Namanya Bowie.

Bowie adalah nickname yang keren untuk Borwita.

Produsen yang mempercayakan distribusi barangnya ke Borwita bisa masuk ke aplikasi Bowie. Bisa bertanya apa saja mengenai status barang mereka. Sampai ke perkembangan penjualannya. Termasuk agen mana saja yang berkembang dan yang tidak berkembang.

Di resepsi ulang tahun ke 50 Borwita –dua hari sebelum diskusi dengan saya itu– Bowie diluncurkan. Resepsi ulang tahun itu sendiri megah-meriah. Gemerlap.

Perusahaan-perusahaan yang mendistribusikan barang lewat Borwita diundang. Mereka boleh naik panggung mencoba aplikasi Bowie.

Seorang produsen, wanita, naik pentas. Layar digital memenuhi semua dinding ballroom. Ke mana pun hadirin menghadap bisa menyaksikannya.

Si produsen menanyakan penjualan produknyi di wilayah Sulawesi. Dalam hitungan detik, di layar lebar, muncul angka-angka hasil penjualan di kota-kota di seluruh Sulawesi.

Si produsen lantas bertanya lebih dalam lagi: agen mana saja yang penjualannya naik. Tidak sampai lima detik di layar muncul nama agen, nama kota dan angka pencapaiannya.

Tak terbayangkan perusahaan distribusi pun sudah melakukan modernisasi sejauh itu.

“Semua itu hasil kerja anak laki-laki saya,” ujar Hady. Dari tiga anak, Hady punya satu yang laki-laki: Alan Karyono. Ia lulusan Amerika Serikat. Jabatan Alan: managing director di Borwita.

Jabatan Dirut memang masih di pegang sang pendiri. “Tapi semua hal sudah Alan yang menangani,” ujar Hady.

Hady sendiri mulai belajar kerja sejak putus sekolah: SMA Xinzhong ditutup ketika Hady baru setahun sekolah di situ.

Tahun itu seluruh sekolah Tionghoa di Indonesia harus tutup. Hady pun pilih langsung  bekerja. Yakni di toko obat milik pamannya.

Tugas pertama Hadi di gudang. Pekerjaannya bungkus-bungkus obat yang akan dikirim ke pemesan. Kalau kebetulan karyawan di bagian pengiriman tidak masuk Hady yang kirim barang. Pakai sepeda.

Papanya sendiri punya toko obat: di Pasar Atom lama. Ia ingin toko papanya maju. Ia usulkan banyak perubahan. Papanya tidak setuju. “Akhirnya saya bikin toko sendiri,” kata Hady.

Hadi pun kerja keras. Usahanya maju. Sampai bisa mendirikan PBF –Pedagang Besar Farmasi. Sampai punya pabrik tetes mata yang Anda sudah pakai: Aito. Sampai menjadikan Borwita seperti sekarang ini.

Alan masih akan mengembangkan Borwita ke bisnis makanan siap saji. Yakni makanan khas Indonesia. Ups…bukan baru “akan”. Alan sudah memulainya. Dimulai dari rendang. Lalu kare. Lalu lain-lainnya.

Yang menarik, makanan itu tidak perlu dipanasi dulu. Bisa langsung dimakan.

Di usianya sekarang ternyata Hady punya kegemaran yang sama dengan saya: olahraga pagi. Satu jam. Bedanya, saya di halaman terbuka di Rumah Gadang, ia di gym hotel berbintang.

Bedanya lagi: ia sudah melakukan itu sejak muda. Sejak hotel itu masih bernama Hyatt. Sedang saya baru hijrah 12 tahun terakhir. (*)

Tags: Catatan Harian DahlanDahlan IskanDiswayHarian Dahlanharian diswayTulisan Dahlan

Related Posts

--

Sel Janin

Monday, 15 June 2026
--

Bagi Hasil

Monday, 15 June 2026
Ilustrasi pertaruhan masa depan ekonomi Indonesia di antara berbagai sistem ekonomi.--

Perjudian Besar

Wednesday, 10 June 2026
Saya pikir itu rumor lama yang di-posting ulang di medsos: Chatib Basri akan jadi menteri keuangan menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa. Ternyata beda. Di rumor lama hanya berhenti sampai Chatib Basri jadi menkeu. Yang beredar sekarang ini ada lanjutannya: Purbaya dapat tugas baru sebagai gubernur Bank Indonesia. Tentu saya tahu Chatib Basri: Ia pernah jadi menteri keuangan di akhir masa jabatan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Saya juga mengikuti banyak karya tulisnya. Ia ekonom tulen. Ia hampir sama dengan Sri Mulyani tapi ada bedanya. Mereka sama-sama ekonom Universitas Indonesia tapi punya jalan berbeda setelah itu. Sri Mulyani produk Amerika. Chatib Basri ekonom lulusan Australia (the Australian National University, sebuah kampus riset di Canberra). Tulisan yang paling menyentak dari Chatib Basri diterbitkan di Kompas di akhir masa jabatan Presiden Jokowi. Sebenarnya cara Chatib menulis sudah sangat hati-hati tapi kejujuran yang muncul dari tulisan itu sangat menyentak: selama 10 tahun terakhir jumlah kelas menengah Indonesia mengalami penurunan sebanyak delapan juta orang. Itulah kali pertama ada ekonom yang melihat bahwa gemerlap ekonomi selama pemerintahan Jokowi ternyata menyimpan kenyataan pahit seperti itu. Pertumbuhan lima persen per tahun ternyata tidak membuat pendapatan per kapita rakyat Indonesia bisa mencapai angka USD5.000. Merosotnya jumlah kelas menengah itu sekaligus mengungkapkan sisi gelap pertumbuhan: siapa yang tumbuh. Kalau benar Chatib Basri akan menjadi menteri keuangan, sebenarnya seirama saja dengan misi Presiden Prabowo yang tampak sekarang. Sebenarnya banyak juga yang bimbang: biar pun pertumbuhan pendapatan per kapita kita amat-amat lambat, ekonomi Indonesia masih tergolong baik. Setidaknya lumayan. Lalu mengapa Presiden Prabowo berani mengubah yang sudah lumayan itu sampai membuat ekonomi terguncang begini berat –khususnya di kurs rupiah dan bursa saham? Salah satu jawabannya adalah tulisan Chatib Basri itu tadi: jumlah kelas menengah tidak boleh turun. Justru harus naik. Pendapatan per kapita tidak boleh berhenti di USD5.000. Itu bisa membuat Indonesia terjebak seperti diuraikan dalam teori "jebakan kelas menengah". Hanya saja sudah sangat jelas bahwa Chatib Basri adalah ekonom pro-pasar bebas. Ia belajar mendalam teori ekonomi seperti Keynesian, Monetarist, maupun Austrian School. Tapi ia bukan 100 persen pengikut aliran itu. Chatib masih percaya bahwa negara harus ikut campur dan mengarahkan. Maka kalau pun Chatib Basri itu tergolong aliran kanan, ia seorang pemain kanan dalam –bukan kanan luar murni seperti David Beckham atau Luis Vigo. Chatib itu seperti Johan Cruyff di tim juara dunia Belanda entah tahun berapa itu. Masalahnya: apakah Chatib Basri mau seandainya ditawari jabatan itu. Sebagai ekonom kanan, Chatib pastilah penganut disiplin fiskal yang ketat. Harus disiplin anggaran. Apakah Chatib bisa berada di bawah Presiden Prabowo yang begitu banyak punya keinginan dan semua keinginannya itu memakan biaya sangat besar. Sebelum ia mau menerima jabatan, apakah orang kampus murni seperti Chatib berani minta waktu bertemu Presiden Prabowo. Bukan sekadar bertemu tapi berdiskusi. Sebenarnya saya ingin orang seperti Chatib tampil di pemerintahan. Terutama kalau Purbaya punya hambatan fisik –yang diberitakan kian kurus badannya. Chatib sudah punya pengalaman menjabat menteri keuangan. Ia tidak bisa lagi disebut orang kampus murni. Ilmunya pernah diterapkan di kebijakan. Ia ikut mengatasi krisis keuangan yang berat di tahun 2008-2009. Juga saat Amerika melakukan pengetatan moneter. Tapi memang harus terjadi diskusi dulu dengan Presiden Prabowo: apa saja yang akan ia lakukan, dan apakah itu bisa diterima oleh Presiden. Rasanya Presiden akan bisa menerima pemikiran baru karena beliau seorang intelektual --salah satu ciri intelektual adalah menjunjung tinggi kebenaran sejak dari berpikirnya. Apalagi kenyataan ekonomi yang dihadapi Presiden Prabowo sekarang sudah lebih buruk dari saat beliau menerima jabatan itu. Tentu dalam diskusi itu tidak harus ada yang kalah dan yang menang. Chatib Basri juga harus mendengar dasar-dasar pemikiran ekonomi presiden. Keduanya punya asumsi yang sama: sama-sama ingin ada perubahan agar Indonesia terhindar dari jebakan kelas menengah. Siapa tahu muncul ''kemenangan baru'': keinginan Presiden Prabowo tetap bisa terealisasikan tanpa harus terjadi keguncangan. Guncangan sudah telanjur terjadi. Tapi masih bisa diselamatkan. Saya termasuk yang ingin perubahan itu terjadi tapi juga tidak ingin terjadi guncangan yang berat. Dalam istilah saya di depan ribuan pengusaha di Batu, Malang, beberapa bulan lalu: Silakan pengusaha besar tidak perlu lagi dibantu tapi jangan diganggu. Saya berharap Chatib Basri mau menerima tawaran itu. Secara pribadi mungkin ia rugi. Terutama keluarganya. Apalagi risiko jadi pejabat publik di zaman ini amat berat. Clean saja tidak cukup. Harus clean and clear. Jabatan ini bisa membuat badan kurus, tidur sangat kurang, apalagi perhatian kepada keluarga. Tapi keluarga besar Indonesia menunggunya. Hanya jiwa pengabdian yang tinggi yang membuatnya mau –seperti seseorang dulu yang mati-matian tidak mau jadi dirut PLN sampai ada yang bilang: kelistrikan negara harus diselamatkan. Sekarang bukan hanya kelistrikan yang perlu diselamatkan. Tapi ekonomi seluruh negara.(

Kanan Dalam

Tuesday, 9 June 2026
--

Neo Pop

Monday, 8 June 2026
Lewat Pasrah

Lewat Pasrah

Saturday, 6 June 2026
Next Post
Dedy Hamzah

Hari Ini Dedi Hamzah Dilantik, Formasi Banteng Deprov Lengkap

Discussion about this post

Rekomendasi

Polda Gorontalo akan memperketat pengamanan di wilayah, jelang pelaksanaan kegiatan PENAS Petani Nelayan ke-XVII.

Polda Gorontalo Perketat Pengamanan Daerah

Wednesday, 17 June 2026
Perwakilan ahli waris Kisman Tilameo saat menyampaikan dua tuntutan ke Walikota Adhan Dambea terkait pemindahan pekuburan di eks Terminal 42 Andalas. Tuntutan itu disampaikan saat Rakor dan diskusi bersama para ahli waris di Aula Rumah Jabatan Walikota Gorontalo, Selasa (16/6/2026). (Foto: Istimewa).

Dua Tuntutan Ahli Waris ke Walikota, Terkait Pemindahan Makam di Eks Terminal 42

Wednesday, 17 June 2026
SENSUS EKONOMI- Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail menyematkan tanda pengenal petugas lapangan Sensus Ekonomi 2026 pada apel siaga di halaman rumah jabatan gubernur, Senin (15/6). ( Foto : Dok-Pemprov/Valen)

Gubernur Gorontalo Ajak Warga Sukseskan Sensus Ekonomi 2026

Wednesday, 17 June 2026
Hebat! Brilli Kids Leadership Wakili Gorontalo ke Final Nasional DANCOW Indonesia Cerdas 2026

Hebat! Brilli Kids Leadership Wakili Gorontalo ke Final Nasional DANCOW Indonesia Cerdas 2026

Saturday, 13 June 2026

Pos Populer

  • Hebat! Brilli Kids Leadership Wakili Gorontalo ke Final Nasional DANCOW Indonesia Cerdas 2026

    Hebat! Brilli Kids Leadership Wakili Gorontalo ke Final Nasional DANCOW Indonesia Cerdas 2026

    23 shares
    Share 9 Tweet 6
  • Dukung Edukasi Jurnalis dan Pelajar, Dirreskrimsus Polda Gorontalo Kupas Tuntas UU ITE dan Hak Cipta

    14 shares
    Share 6 Tweet 4
  • Program MBG Bukan Implikasi Nilai-nilai Pancasila?

    40 shares
    Share 16 Tweet 10
  • Antusias Ikut PENAS XVII Gorontalo, Kontingen Jambi Tempuh Jalur Darat dan Laut

    46 shares
    Share 18 Tweet 12
  • Polda Gorontalo Perketat Pengamanan Daerah

    13 shares
    Share 5 Tweet 3
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 3 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.