Gorontalopost.co.id, PAGUYAMAN – Kasus kematian sapi secara misterius bahkan diduga diracun, meresahkan petani dan warga di wilayah Paguyaman, Boalemo. Banyak sapi milik warga yang mati. Seperti pada Ahad (19/4) terdapat empat ekor sapi yang mati di Desa Saripi, Kecamatan Paguyaman. Menurut warga, kasus ini terus berulang, dan makin meresahkan.
Seorang pemilik sapi, Bejo Supriyanto kepada wartawan mengatakan, ia menemukan tiga ekor sapinya yang terikat di kebut mati dalam kondisi mengenaskan, mulutnya berbusa. “Perutnya membengkak ciri-ciri yang dicurigai sebagai keracunan,” kata Supriyanto.
Merasa sangat dirugikan, Suprityanto langsung melaporkan ke Polsek Paguyaman. “Saya berharap kasus ini diproses oleh pihak kepolisian,”ujarnya, dikutip dari kanal berita dulohupa.id. Ia sangat yakin, tiga sapinya yang mati itu karena diracun, ciri-ciri itu sangat kentara, yakni berut bengkak dan mulut sapi yang berbusa.
Kejadian ini bukan kali pertama, tapi sudah berulang kali sejak tahun 2016, warga bahkan memperkirakan ratusan ekor sapi yang mati diracun. Sebelumnya dalam sebuah video nampak seseorang menyemprotkan cairan ke arah mulut sapi.
Warga menduga kasus matinya sapi ini ada kaitanya dengan sebuah perusahaan yang beroperasi di wilayah itu. Kasus yang sudah berulang kali terjadi itu bahkan telah dilaporkan ke Kejaksaan Tinggi Gorontalo.
Dalam video yang dirilis kanal berita online dulohupa.id, pada laporan warga di Kejati Gorontalo itu disertakan bukti video percakapan seseorang terduga pelaku dengan seseorang yang diduga memberi perintah.
Dalam pengakuanya pelaku sengaja meracuni sapi yang ada di kawasan perkebunan itu dan mendapat imbalan Rp 100 ribu per sapi, dalam sehari ia melakukan aksinya untuk meracuni tiga ekor sapi, dan dibuktikan dengan video aksi meracuni sapi. Warga menduga ada pihak yang sengaja mangatur aksi meracuni sapi ini.
Sementara itu, Kapolres Boalemo AKBP Sigit Rahayudi,S.I.K kepada Gorontalo Post, Senin (20/10) kemarin, menjelaskan, pihaknya langsung bergerak setelah mendapati laporan adanya sejumlah sapi yang mati di wilayah Paguyaman.
Polres Boalemo kata dia langsung mengirimkan Tim Inafis Polres bersama tim Polsek Paguyaman untuk melakukan penyelidikan dan pemeriksaan lebih lanjut. “Kami segera tindaklanjuti peristiwa ini. Personel kami sudah mendatangi tempat kejadian perkara (TKP), melakukan pengecekan. Kami pun sedang berupaya untuk mencari dan memeriksa saksi-saksi serta pemilik sapi yang mati tersebut,” ungkapnya.
Alumnus Akpol 2005 ini, menyebutkan, terkait dengan indikasi diracuni oleh orang atau makan rumput yang beracun, hal tersebut masih membutuhkan pembuktian. Oleh karena itu, pihaknya telah mengambil sejumlah sampel untuk dilakukan pemeriksaan.
Meski demikian kata orang nomor satu di Polres Boalemo ini, penyidik reskrim saat ini masih mengalami kendala di lapangan. Hal tersebut dikarenakan hewan yang mati telah dijual oleh pemiliknya.
“Salah satu kesulitan yang dihadapi oleh penyidik adalah sapi yang mati tersebut sudah tidak ada lagi. Pemilik sapi telah menjualnya, sehingga membuat penyidik kesulitan untuk melakukan identifikasi,” terangnya.
Ia mengingatkan agar masyarakat yang mendapati sapi mati mendadak atau ada indikasi diracuni, untuk tidak menjual sapinya, karena hal tersebut berbahaya. Selain itu, pihak Kepolisian pula sulit untuk melakukan penyelidikan ketika sapi yang mati sudah tidak ada lagi.
“Kalau sapi yang mati mendadak dijual dan dagingnya itu berbahaya bagi masyarakat yang mengkonsumsi, tentu akan menimbulkan masalah baru lagi. Oleh karena itu, saya mengimbau kepada seluruh elemen masyarakat, agar kiranya tidak menjual hewan ternak yang mati mendadak atau ada indikasi diracuni,” harap mantan Kasubdit Tipidter Dit Reskrimsus Polda Gorontalo ini.
Sementara itu diwawancarai terpisah, Kapolsek Paguyaman, Iptu Juwari,S.H menambahkan, tempat ditemukannya sapi yang mati tersebut bukan berada di wilayah perkebunan tebu, tetapi di kebun milik masyarakat. Untuk penyebab matinya, saat ini masih sementara dalam proses penyelidikan.
“Kami dari pihak Polsek Paguyaman bersama Tim Inafis Polres Boalemo, telah mendatangi TKP. Kami pun sudah mengambil sampel rumput yang dimakan oleh sapi tersebut. Selanjutnya hal ini masih sementara dalam proses penyelidikan,” paparnya.
Selain itu kata Iptu Juwari, peristiwa seperti ini sempat terjadi sebelumnya. Namun dalam kurun waktu enam bulan belakangan ini, tidak ada lagi keluhan atau temuan masyarakat terkait dengan ternak mereka yang mati mendadak.
“Pada dasarnya peristiwa ini masih sementara dalam proses penyelidikan. Kami pun berharap kepada masyarakat, apabila ada informasi atau hal yang mencurigakan, tolong segera disampaikan kepada pihak Kepolisian, agar dapat ditindaklanjuti secepatnya,” harapnya. (kif)













Discussion about this post