logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
Pemkot Gorontalo

Home Persepsi

Tafsir Keliru dan Ujian Kerukunan di Gorontalo

Lukman Husain by Lukman Husain
Monday, 13 October 2025
in Persepsi
0
Muhammad Makmun Rasyid

Muhammad Makmun Rasyid

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Related Post

Dari Street Justice menuju Digital Justice

Pemilihan Kepala Daerah dan Arah Demokrasi Kita

Bupati-Bupati Kita

PETI di Boliyohuto Cs Semakin Marak, APH Apa Kabar?

Oleh:
Muhammad Makmun Rasyid

 

Peristiwa penangkapan RD (41), terduga pelaku pembakaran tiga masjid di Maros, Makassar, dan Pangkep, Sulawesi Selatan, menyisakan luka mendalam sekaligus keprihatinan serius. Bagaimana mungkin rumah Tuhan yang seharusnya menjadi tempat paling damai dan teduh justru dijadikan sasaran penghancuran? Lebih memilukan lagi, pelaku mengaku bahwa tindakannya dilatarbelakangi oleh keyakinan bahwa perempuan tidak boleh salat di masjid. Inilah bukti nyata bahwa tafsir agama yang sempit dan keliru dapat bertransformasi menjadi tindakan kriminal, bahkan menyerupai perilaku terorisme yang merusak sendi-sendi kerukunan umat.

Jika ditelaah lebih jauh, tindakan RD memperlihatkan pola yang sering ditemukan dalam studi tentang terorisme. Terorisme lahir bukan semata dari kebencian, melainkan dari keyakinan ideologis yang dibangun di atas tafsir keagamaan yang kaku, eksklusif, dan absolut. Mereka yang terjerat merasa memiliki legitimasi moral dan spiritual untuk memaksa kanpan dangannya kepada orang lain, bahkan melalui kekerasan.

RD membakar masjid bukan karena motif ekonomi atau dendam pribadi, melainkan karena sebuah keyakinan yang ia anggap sebagai kebenaran. Pola semacam ini mirip dengan apa yang dalam literature keamanan disebut sebagai lone actor terrorism, yakni aksi terror individu yang termotivasi oleh ideology tertentu tanpa harus menjadi bagian dari organisasi besar. Bahayanya justru lebih besar karena sulit terdeteksi sejak dini, sekaligus menegaskan bahwa radikalisasi bisa tumbuh dalam ruang-ruang sosial yang selama ini dianggap aman.

Yang lebih ironis, tafsir yang dipegang RD sama sekali tidak sejalan dengan khazanah fikih Islam. Tidak ada satu pun ulama besar dari empat mazhab yang mengharamkan secara mutlak kehadiran perempuan di masjid. Memang, para ulama berbeda pendapat dalam member penekanan.

Imam Syafi’i menegaskan bahwa salat di rumah lebih utama bagi perempuan, namun tetap membolehkan mereka datang ke masjid dengan menjaga adab. Imam Malik menilai kehadiran perempuan muda ke masjid kurang disukai, tetapi tidak melarang. Mazhab Hanafi juga membedakan hokum bagi perempuan tua dan muda, tetapi sekali lagi, tidak menutup pintu masjid secara total. Bahkan mazhab Hanbali memperbolehkan perempuan hadir bersama laki-laki selama tidak berhias berlebihan dan dengan izin suaminya.

Benang merah dari perbedaan itu jelas, yakni tidak ada pengharaman mutlak. Hadis sahih yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim menyebutkan: “Janganlah kalian larang hamba-hamba perempuan Allah dari masjid-masjid Allah.” Berdasarkan ini, para ulama menekankan bahwa larangan hanya berlaku dalam situasi tertentu yang rawan fitnah, bukan sebagai hukum universal. Klaim RD bahwa perempuan haram ke masjid jelas merupakan penyimpangan dari ajaran Islam yang sesungguhnya. Ia hanya mengutip sepotong riwayat dari Sayyidah Aisyah tanpa memahami konteks sosialnya, lalu menjadikannya sebagai legitimasi untuk bertindak secara ekstrem.

Dari sinilah kita melihat betapa pentingnya literasi keagamaan yang sehat. Agama tidak boleh dipelintir hanya melalui potongan-potongan teks tanpa pengetahuan mendalam. Di sinilah peran ulama dan lembaga keagamaan menjadi sangat penting, yaitu untuk terus menghadirkan penjelasan yang komprehensif agar masyarakat tidak mudah terseret pada tafsir menyimpang. Agama, apabila dilepaskan dari otoritas keilmuan dan bimbingan ulama, berpotensi menjadi pisau bermata dua. Di satu sisi sebagai sumber kebaikan, namun di sisi lain dapat menjadi justifikasi bagi kekerasan.

Kasus RD juga menegaskan bahwa moderasi beragama bukan sekadar jargon, melainkan kebutuhan yang sangat mendesak. Moderasi beragama mengajarkan keseimbangan, menolak klaim kebenaran tunggal, menghindari kekerasan, dan menghormati keragaman. Di Indonesia, moderasi beragama berpijak pada empat indikator utama, yaitu komitmen kebangsaan, toleransi, anti-kekerasan, dan penerimaan terhadap tradisi. Jika nilai-nilai ini dijalankan secara konsisten, maka tafsir keliru seperti yang diyakini RD tidak akan menemukan ruang untuk tumbuh dan berkembang.

Negara pun tidak boleh absen. Aparat hukum harus menegakkan keadilan secara tegas dan transparan demi menumbuhkan kepercayaan publik. Namun penegakan hukum saja tidak cukup. Upaya itu harus berjalan beriringan dengan penguatan literasi keagamaan di masyarakat, baik melalui pendidikan formal mau pun non formal. Organisasi keagamaan seperti MUI dan ormas-ormas Islam perlu lebih proaktif dalam mengarusutamakan Islam yang moderat, seimbang, dan ramah terhadap perbedaan.

Di Gorontalo sendiri, tantangan terhadap kerukunan umat beragama masih menyisakan pekerjaan rumah. Misalnya, di Desa Tanjung Karang, Kecamatan Tomilito, Kabupaten Gorontalo Utara, terjadi ketegangan internal umat Gereja Protestan Bukit Kasih. Sekelompok umat mendirikan tempat ibadah sendiri karena jarak ke gereja induk dianggap terlalu jauh. Namun, mereka belum mendapatkan izin dari Sinode, sehingga memicu ketegangan internal yang belum tuntas. Di tempat lain, di Kabupaten Bone Bolango, dua paguyuban warga Sunda berselisih soal kepemilikan tanah yang telah bersertifikat. Persoalan ini telah masuk ke ranah hukum, dan sejumlah mediasi telah dilakukan oleh Kementerian Agama dan KUA. Kedua kasus ini menegaskan bahwa konflik sosial keagamaan dapat muncul dalam berbagai bentuk, bukan hanya dalam kekerasan ekstrem, tetapi juga dalam dinamika internal umat dan ketegangan antar organisasi.

Gambaran nasional juga menunjukkan hal serupa. Dalam pemetaan terakhir, tercatat 57 kasus gangguan kerukunan di Indonesia dalam berbagai skala. Bahkan meskipun semua kasus telah ditindaklanjuti, peristiwa serupa kerap berulang. Hal ini menandakan bahwa penyelesaian reaktif tidaklah cukup. Kita membutuhkan strategi preventif yang lebih terstruktur dan berjangka panjang. Edukasi lintas iman, literasi keagamaan, penguatan kapasitas tokoh lokal, serta rekayasa sosial berbasis kearifan local harus menjadi agenda prioritas. Tanpa itu, konflik keagamaan hanya akan menjadi siklus yang terus berulang.

Kasus pembakaran masjid ini adalah alarm bagi kita semua. Ia menunjukkan bahwa bahaya tafsir keliru bisa mengancam rumah Tuhan kapan saja. Kita tidak boleh lengah, sebab benih ekstremisme seringkali tumbuh dari hal-hal kecil yang diabaikan. Tugas kita bersama adalah menjaga agar tafsir semacam ini tidak berkembang, dengan memperkuat moderasi beragama, memperluas literasi keislaman, dan memastikan penegakan hukum yang adil. Hanya dengan itu, masjid dan rumah ibadah lainnya akan tetap menjadi ruang suci untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, bukan menjadi tempat yang terbakar oleh kebencian dan kekeliruan yang merusak kemanusiaan. (*)

Penulis adalah Pimpinan Pusat Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama 2025-2030

Tags: Harian PersepsiMuhammad Makmun RasyidpersepsiTulisan Muhammad Makmun Rasyidtulisan persepsi

Related Posts

Ahmad Zaenuri

Dari Street Justice menuju Digital Justice

Wednesday, 14 January 2026
Menelusuri Jejak Akomodasi Budaya dalam Simbolisme Masyarakat Gorontalo   

Menelusuri Jejak Akomodasi Budaya dalam Simbolisme Masyarakat Gorontalo  

Wednesday, 14 January 2026
Ridwan Monoarfa

Pemilihan Kepala Daerah dan Arah Demokrasi Kita

Monday, 12 January 2026
Basri Amin

Bupati-Bupati Kita

Monday, 12 January 2026
PETI di Boliyohuto Cs Semakin Marak, APH Apa Kabar?

PETI di Boliyohuto Cs Semakin Marak, APH Apa Kabar?

Friday, 9 January 2026
Yusran Lapananda

Tahun Baru, KUHAP Baru & KUHP Baru

Tuesday, 6 January 2026
Next Post
MENUJU PERAN SAKA- Rapat koordinasi pimpinan satuan karya Pramuka tingkat daerah Gorontalo yang dipimpin Ketua Harian Kwarda Gorontalo, Susanto Liputo, di aula Kwarda Gorontalo baru-baru ini. (foto : dok/kwarda gorontalo)

Peran Saka Nasional Siap Digelar, Susanto: Ini Soal Harga Diri Nama Baik Daerah dan Pramuka

Discussion about this post

Rekomendasi

Ketua Yayasan Kumala Vaza Grup, Siti Fatimah Thaib, bersama pemilik dapur dan Kepala SPPG Pentadio Barat secara simbolis menyerahkan CSR kepada pihak SMP 1 Telaga Biru, Rabu (14/1/2026). (F. Diyanti/Gorontalo Post)

Dukung Program Presiden, Yayasan Kumala Vaza Grup Salurkan CSR ke 20 Sekolah

Wednesday, 14 January 2026
Irjen Pol Widodo

Kapolda Kaget PETI Dekat Mapolres, Picu Banjir di Pohuwato, Pastikan Penindakan

Thursday, 15 January 2026
Irjen Pol. Drs. Widodo, S.H., M.H

Kapolda Bakal Ratakan PETI di Pohuwato, Kaget Lihat Langsung Dampak Kerusakan Lingkungan

Thursday, 15 January 2026
Tiga pelaku kekerasan seksual di amankan Polres Bone Bolango, Kamis (15/1/2026) Foto: Natharahman/ Gorontalo Post.

Modus Pesta Miras, Tiga Pria di Bone Bolango Tega Rudapaksa Gadis Belia

Friday, 16 January 2026

Pos Populer

  • Para pejabat pimpinan tinggi pratama di lingkungan Pemprov Gorontalo yang menajalani pelantikan, berlangsung di ruang dulohupa kantor gubernur, Senin (12/1). (foto: tangkapan layar)

    BREAKING NEWS: Gusnar Lantik 25 Pejabat Pemprov, Berikut Nama-namanya

    587 shares
    Share 235 Tweet 147
  • Dukung Program Presiden, Yayasan Kumala Vaza Grup Salurkan CSR ke 20 Sekolah

    76 shares
    Share 30 Tweet 19
  • Kemendikdasmen Salurkan Laptop untuk Sekolah Dasar Dukung Digitalisasi Pembelajaran

    179 shares
    Share 72 Tweet 45
  • Excapator dan Ratusan Alat PETI Diamankan, Hasil Operasi Tim Gabungan Selama Enam Hari, Forkopimda Segera Lakukan Evaluasi

    40 shares
    Share 16 Tweet 10
  • Bupati-Bupati Kita

    46 shares
    Share 18 Tweet 12
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 2 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.