logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
Pemkot Gorontalo

Home Persepsi

Demokrasi Semu

Lukman Husain by Lukman Husain
Tuesday, 8 July 2025
in Persepsi
0
Demokrasi Semu

Hamka Hendra Noer

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Related Post

Dari Street Justice menuju Digital Justice

Pemilihan Kepala Daerah dan Arah Demokrasi Kita

Bupati-Bupati Kita

PETI di Boliyohuto Cs Semakin Marak, APH Apa Kabar?

Oleh:
Hamka Hendra Noer

 

Di tengah arus globalisasi dan tuntutan akan keterbukaan, banyak negara berlomba-lomba mengklaim diri sebagai negara demokrasi. Demokrasi dipromosikan sebagai symbol kemajuan politik dan peradaban, seakan menjadi label wajib untuk memperoleh pengakuan internasional. Namun, di balik gemerlap slogan “demokrasi,” realitas yang terjadi tidak selalu seindah yang ditampilkan.

Sering kali, kita mendapati kebebasan politik bersifat kosmetik, hak-hak sipil  dikekang dan partisipasi publik hanya sekadar formalitas. Fenomena ini dikenal sebagai pseudo-democracy atau demokrasi semu—sebuah  sistem di permukaan tampak demokratis, tetapi pada dasarnya menyembunyikan praktik otoritarian dan manipulasi kekuasaan.

Demokrasi semu umumnya muncul sebagai strategi elite politik untuk mempertahankan legitimasi sambil mengontrol masyarakat. Rakyat hanya dijadikan “penonton” dalam panggung politik yang sudah diatur skenarionya, sehingga aspirasi public menjadi tumpul dan demokrasi kehilangan makna substansialnya.

Artikel ini akan mengulas secara mendalam bagaimana demokrasi semu muncul, bagaimana memanipulasi simbol dan prosedur demokrasi, serta dampaknya terhadap kehidupan politik dan sosial masyarakat. Dengan memahami gejala ini, pembaca dapat lebih kritis menilai apakah demokrasi di suatu negara sungguh memperjuangkan kedaulatan rakyat atau sekadar memperindah tirani yang tersembunyi.

PEMILU, RITUAL LEGITIMASI

Pemilu sering dijadikan barometer utama dalam menilai eksistensi demokrasi di sebuah negara. Di atas kertas, pemilu melambangkan kedaulatan rakyat dan mekanisme akuntabilitas kekuasaan. Namun, dalam konteks demokrasi semu, pemilu justru bertransformasi menjadi ritual legitimasi yang dikontrol ketat oleh penguasa. Kandidat yang maju biasanya telah disaring secara politik, media dikekang untuk menjaga narasi tunggal, dan lembaga pengawas dikooptasi demi memastikan hasil sesuai keinginan rezim.

Menurut Diamond (2002), pseudo-democracy ditandai dengan electoral authoritarianism, yakni kondisi ketika pemilu diselenggarakan secara rutin tetapi tidak memberikan ruang kompetisi yang adil dan bebas. Dalam sistem ini, prosedur demokrasi sekadar dijadikan etalase untuk mempercantik citra politik di mata dunia. Hasil akhirnya bias ditebak, kemenangan mutlak untuk memperkuat legitimasi palsu.

Di berbagai negara, praktik politik uang, intimidasi pemilih, hingga manipulasi daftar hadir sudah menjadi bagian dari strategi sistemik untuk mempertahankan kekuasaan. Indonesia bukan pengecualian. Dalam Pemilu 2019, Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) mencatat lebih dari 1.500 kasus politik uang. Indikator ini menunjukkan lemahnya penegakan hukum terhadap praktik yang merusak esensi demokrasi. Meski partisipasi pemilih mencapai 81%, substansi pemilu masih dikaburkan oleh transaksi politik yang melibatkan elite dan kapital.

Kasus Rusia juga menjadi contoh mencolok. Vladimir Putin, memimpin sejak 2000, secara rutin memenangkan pemilu dengan persentase tinggi. Freedom House (2023) mengklasifikasikan Rusia sebagai “Not Free” dengan skor kebebasan politik 16 dari 100.Terjadi kendali penuh terhadap media, pembatasan calon oposisi, dan kriminalisasi aktivis, seperti dalam kasus Alexei Navalny—tokoh oposisi yang berseberangan dengan Putin, meninggal dalam penjara. Jelas, hal ini memperlihatkan bagaimana pemilu disulap menjadi legitimasi kekuasaan, bukan sarana pergantian pemerintahan.

Demokrasi semu berbahaya karena menipu rakyat melalui prosedur alformalistik sambil mengekang hak sipil. Masyarakat seolah diberi kebebasan memilih, tetapi pilihan mereka disempitkan oleh rekayasa politik. Demokrasi yang seharusnya mendengarkan suara rakyat justru mengabaikan substansi kedaulatan rakyat demi stabilitas semu.

Analisis Schedler (2006) menyebutkan bahwa rezim seperti ini sering menggunakan simbol demokrasi—seperti pemilu, parlemen, atau kebebasan pers terbatas—untuk memoles legitimasi di mata internasional. Padahal, di dalam negeri, kebebasan sipil dan kompetisi politik nyata dikorbankan secarasi stematis.

Kondisi ini tidak hanya melemahkan demokrasi, tetapi menurunkan kepercayaan publik terhadap proses politik. Ketika rakyat merasa aspirasinya tidak diwakili, maka potensi polarisasi, protes, hingga ketidakstabilan sosial akan meningkat.

Demokrasi semu seharusnya diwaspadai dan dilawan bukan hanya dengan prosedur elektoral, tetapi juga dengan penegakan hukum yang kuat, kebebasan pers yang independen, dan perlindungan hak-hak sipil. Tanpa upaya itu, demokrasi hanya akan menjadi panggung sandiwara dan rakyat sekadar menjadi penonton setia.

TERBATASNYA KEBEBASAN SIPIL

Pemilu dan demokrasi, symbol dari kedaulatan rakyat dijalankan melalui prosedur perwakilan. Namun, dalam praktik demokrasi semu, pemilu justru direduksi menjadi sekadar ritual formal untuk mempercantik wajah kekuasaan. Proses yang seharusnya menjamin rotasi kekuasaan dan akuntabilitas public malah berubah menjadi sarana memperpanjang dominasi elite.

Dalam konsepsi demokrasi semu, kerap dibungkus dalam konsep electoral authoritarianism, dimana pemilu tetap digelar secara berkala, tetapi penuh rekayasa dan manipulatif. Kandidat dikontrol ketat, media dibatasi, dan lembaga pengawas dilemahkan. Hasil akhirnya dapat diprediksi sebelum pemungutan suara dimulai.

Skenario praktik politik uang, intimidasi pemilih, manipulasi suara menjadi hal yang biasa. Alih-alih memperkuat partisipasi publik, pemilu justru dimanfaatkan sebagai instrumen mempertahankan legitimasi.

Indonesia sendiri bukan pengecualian. Meski rutin menyelenggarakan pemilu, praktik politik uang tetap marak. Survei LSI (2023) menunjukkan sekitar 30% pemilih masih terpengaruh oleh iming-iming materi. Hal ini menandakan bahwa substansi demokrasi belum sepenuhnya mengakar.

Kasus di Rusia, mirip dengan di Turki. Presiden Recep Tayyip Erdoğan memperketat kontrol media dan membatasi oposisi, sehingga meskipun pemilu tetap digelar, kompetisinya sangat timpang. Laporan Human Rights Watch (2023) menyebut banyak kandidat oposisi dijegal lewat jalur hokum atau dicabut hak politiknya.

Demokrasi semu yang dibiarkan akan melahirkan masyarakat apatis, memperparah polarisasi, dan membuka ruang otoritarianisme semakin kuat. Demokrasi kehilangan makna substantif, jika hanya sebatas prosedur tanpa kebebasan sipil dan jaminan keadilan politik.

Membangun demokrasi yang sehat bukan sekadar soal menjaga ritual pemilu, tetapi juga memastikan media independen, penegakan hukum yang netral, dan perlindungan kebebasan sipil. Tanpa itu, pemilu hanyalah sandiwara mahal yang menipu rakyat dan dunia internasional.

Demokrasi semu member pelajaran penting bahwa demokrasi sejati tidak bias diukur hanya dari frekuensi pemilu atau kelengkapan prosedur formal. Demokrasi harus menjamin kebebasan berekspresi, kesetaraan di depan hukum, dan perlindungan hak-hak sipil sebagai fondasi utama. Negara yang terjebak dalam pseudo-democracy menciptakan ilusi stabilitas rapuh dan menyimpan bara ketidakpuasan publik dapat meledak sewaktu-waktu.

Jadi, demokrasi sejati memerlukan supremasi hukum dan kebebasan individu yang nyata. Tanpa keduanya, demokrasi hanya menjadi topeng untuk melanggengkan kekuasaan otoritarian. Oleh sebab itu, masyarakat perlu semakin kritis dan berani menuntut substansi, bukan sekadar symbol demokrasi semu. (*)

Penulis adalah Dosen Ilmu Politik, FISIP, Universitas Muhammadiyah Jakarta

Tags: Demokrasi SemuFISIP UMJHamka Hendra NoerpersepsiUniversitas Muhammadiyah Jakarta

Related Posts

Ahmad Zaenuri

Dari Street Justice menuju Digital Justice

Wednesday, 14 January 2026
Menelusuri Jejak Akomodasi Budaya dalam Simbolisme Masyarakat Gorontalo   

Menelusuri Jejak Akomodasi Budaya dalam Simbolisme Masyarakat Gorontalo  

Wednesday, 14 January 2026
Ridwan Monoarfa

Pemilihan Kepala Daerah dan Arah Demokrasi Kita

Monday, 12 January 2026
Basri Amin

Bupati-Bupati Kita

Monday, 12 January 2026
PETI di Boliyohuto Cs Semakin Marak, APH Apa Kabar?

PETI di Boliyohuto Cs Semakin Marak, APH Apa Kabar?

Friday, 9 January 2026
Yusran Lapananda

Tahun Baru, KUHAP Baru & KUHP Baru

Tuesday, 6 January 2026
Next Post
--

Karam Darat

Discussion about this post

Rekomendasi

Tiga pelaku kekerasan seksual di amankan Polres Bone Bolango, Kamis (15/1/2026) Foto: Natharahman/ Gorontalo Post.

Modus Pesta Miras, Tiga Pria di Bone Bolango Tega Rudapaksa Gadis Belia

Friday, 16 January 2026
Personel Brimob Polda Gorontalo dibantu oleh masyarakat sekitar, melakukan perbaikan jembatan yang putus di Dusun Mohulo, Desa Molalahu, Kecamatan Pulubala, Kabupaten Gorontalo.

Gerak Cepat, Brimob Perbaiki Jembatan Putus di Pulubala

Friday, 16 January 2026
New Honda Stylo 160 Glam Black. (foto : dok /daw)

New Honda Stylo 160, Makin Modis Dibanderol Mulai Rp 29 jutaan

Monday, 4 March 2024
Kemendikdasmen Salurkan Laptop untuk Sekolah Dasar Dukung Digitalisasi Pembelajaran

Kemendikdasmen Salurkan Laptop untuk Sekolah Dasar Dukung Digitalisasi Pembelajaran

Saturday, 20 December 2025

Pos Populer

  • Para pejabat pimpinan tinggi pratama di lingkungan Pemprov Gorontalo yang menajalani pelantikan, berlangsung di ruang dulohupa kantor gubernur, Senin (12/1). (foto: tangkapan layar)

    BREAKING NEWS: Gusnar Lantik 25 Pejabat Pemprov, Berikut Nama-namanya

    590 shares
    Share 236 Tweet 148
  • Dukung Program Presiden, Yayasan Kumala Vaza Grup Salurkan CSR ke 20 Sekolah

    79 shares
    Share 32 Tweet 20
  • Kemendikdasmen Salurkan Laptop untuk Sekolah Dasar Dukung Digitalisasi Pembelajaran

    187 shares
    Share 75 Tweet 47
  • Modus Pesta Miras, Tiga Pria di Bone Bolango Tega Rudapaksa Gadis Belia

    46 shares
    Share 18 Tweet 12
  • Bupati-Bupati Kita

    49 shares
    Share 20 Tweet 12
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 2 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.