logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Disway

Olimpiade Ijazah

Lukman Husain by Lukman Husain
Tuesday, 20 May 2025
in Disway
0
--

--

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Oleh:
Dahlan Iskan

 

SAMBIL menyesali diri kenapa ikut-ikutan membahas Ijazah Jokowi, saya menulis bagaimana rasanya mencoba menjadi orang Beijing. Ikut kehidupan sehari-hari sini: di hari Minggu lalu.

“Kuat?”

Related Post

Halo Wani

Juara Dunia

Hidup QRIS

Yossi Cohen

“Kuat”.

“Ikut yang 10 km atau 5 km?”

“Yang 5 km”.

“Yang lari atau jalan cepat?”

Saya berpikir sejenak. Memang, tahun lalu saya masih berani ikut lari Green Force Run 5 km. Lari konstan. Tidak pernah berhenti. Lulus. Dapat medali. Artinya: masuk golongan yang finis dalam waktu kurang satu jam.

“Ikut jalan cepat saja,” jawab saya. Udara di Beijing mulai panas: 28 derajat. Kering. Bibir ikut kering.

Acara itu dilaksanakan oleh alumnus universitas terkemuka bidang kelistrikan. Lokasi acaranya di hutan kota Beijing. Yakni di sebelah arena Olimpiade Beijing 2008.

Saya boleh ikut meski saya tidak punya ijazah universitas. Diberi seragam lari secara gratis. Saya serasa lulus jurusan listrik dari universitas ternama itu.

Saya pun menuju kawasan bekas arena Olimpiade Beijing. Di sebagian kawasan itu kini sudah dibangun gedung-gedung baru:  kantor pusat Bank Pembangunan Infrastruktur Asia. Yakni bank baru yang dibangun setelah diluncurkannya One Belt One Road (OBOR) oleh Tiongkok.

Di sebelahnya lagi sudah selesai dibangun gedung National Convention Center yang besarnya bisa untuk KTT negara-negara anggota OBOR.

Saya punya teman alumnus universitas tersebut. Saya pernah ke kampusnya di kota Baoding, dekat rencana kota baru bawah tanah di luar kota Beijing.

Kami parkir di belakang convention center. Perlu jalan kaki agak jauh. Harus melewati jalan di antara gedung baru ”bank OBOR” dan National Convention Center.

Begitu mendongak yang terlihat bukan hanya puncak dua gedung itu, tapi juga cantiknya menara obor Olimpiade. Tinggi sekali. Dari atasnya bisa melihat kota Beijing.

Di sekitar menara obor itu dibangun taman pepohonan yang luas. Seluas seluruh taman Monas Jakarta. Pohonnya lebih banyak. Kami menelusuri jalan-jalan yang banyak bersilangan di dalam pepohonan.

Kami tadi memang masuk dari samping. Bukan dari depan. Dari samping menuju gerbang depan. Banyak sekali pengunjung kawasan bekas Olimpiade ini. Gratis. Rekreasi, jalan pagi, jogging, berbagai lomba dan adu lari.

Acara yang saya ikuti itu di depan gerbang kompleks Olimpiade. Di depan gerbang Olimpiade juga taman. Danau. Jalur jogging. Taman Olimpiade bersanding dengan taman kota. Bukan sekadar taman kota, tapi sudah bisa disebut hutan kota.

Rute 10 dan 5 km itu tak lain berada di dalam hutan kota itu. Hebat. Di kota besar Beijing ada hutan besar seluas ini.

Disebut hutan kota karena letaknya memang di kota. Juga karena siapa pun boleh memasukinya: gratis. Yang mau lari 1 km ada jalurnya. Yang 2 km ada jalannya. Sampai yang 10 km. Tinggal atur mau ikut rute yang mana. Asyik sekali olahraga jalan kaki di bawah pohon-pohon di dalam hutan.

Saya menyesal tidak ikut yang 10 km. Udara kering ternyata tidak menghambat. Saya termasuk finis di gelombang pertama. Lalu bisa ngobrol dengan peserta lain. Saya diperkenalkan dengan beberapa alumnus yang sudah jadi pejabat tinggi. Ada yang baru saja pensiun sebagai menteri energi.

Sudah 20 tahun Olimpiade Beijing berlalu. Tidak ada fasilitas yang telantar. Kawasan ini menjadi fasilitas kota yang berharga. Menjadi taman keluarga penduduk Beijing.

Di tengah hutan itu begitu banyak keluarga yang menggelar “tikar”. Makan-makan. Membiarkan anak mereka bermain dengan anak keluarga lainnya. Tidak terlihat ada yang memproduksi sampah.

Saya juga tidak perlu lagi cek kesehatan di kota Tianjin. Saya sudah punya jalur untuk melakukan itu di Beijing. Beberapa dokter yang dulu merawat saya sudah pindah ke rumah sakit di Beijing ini.

Karena itu meski saya “ngamar” di Beijing serasa di Tianjin. Rumah sakit ini juga punya gedung khusus untuk transplant hati. Suasananya mirip di RS Tianjin yang melakukan transplant hati saya 18 tahun lalu.

Beijing-Tianjin, naik kereta cepat, hanya 29 menit. Mirip Jakarta-Bandung. Tapi dengan bisa check-up di Beijing rasanya lebih dekat.

Tanpa ikut mikir ijazah rasanya hasil check-up akan lebih baik.(*)

Tags: Catatan Harian DahlanDahlan IskanDiswayHarian Dahlanharian diswayTulisan Dahlan

Related Posts

Wani Sabu saat menerima Lifetime Achievement Award di ajang Contact Center World 2025 di Bali.-Instagram Wani Sabu-

Halo Wani

Wednesday, 22 April 2026
Ilustrasi fitur-fitur di Halo BCA.--

Juara Dunia

Tuesday, 21 April 2026
Ilustrasi penggunaan QRIS di Tiongkok yang banyak membantu WNI.-Dibuat dengan bantuan AI-

Hidup QRIS

Monday, 20 April 2026
Salah seorang jurnalis asing mengabadikan gambar sebuah kerusakan akibat serangan udara AS yang menyasar sebuah perkampungan di wilayah Fardis, Barat kota Tehran, Iran.-Vahid Salemi-Association Press

Yossi Cohen

Friday, 17 April 2026
Bupati Tulungagung Gatut Sunu Wibowo terjaring OTT KPK, dengan total kekayaan tercatat Rp20,3 miliar.--Instagram gatutsunu

Tulung Agung

Thursday, 16 April 2026
--

Bertahan Menyerang

Wednesday, 15 April 2026
Next Post
Siswa MAN IC Gorontalo Antusias Ikuti Pelatihan Jurnalistik

Siswa MAN IC Gorontalo Antusias Ikuti Pelatihan Jurnalistik

Discussion about this post

Rekomendasi

AKBP H. Busroni

Pidana Menanti Polisi Terlibat PETI, Janji Kapolres Pohuwato, Termasuk Sanksi Internal

Wednesday, 22 April 2026
Dua orang remaja meninggal dunia setelah menabrak sebuah mobil tronton yang terparkir di jalan Trans Sulawesi, Kecamatan Botumoito, Kabupaten Boalemo.

Tabrak Tronton Dua Remaja Tewas, Hilang Kendali Saat Tronton Terparkir di Tepi Jalan

Monday, 20 April 2026
Basri Amin

Batas-Batas Pengobatan

Monday, 20 April 2026
Wardoyo Pongoliu

Izin Tambang, IPR Dengilo Tunggu Persetujuan Pemkab

Tuesday, 21 April 2026

Pos Populer

  • Dua orang remaja meninggal dunia setelah menabrak sebuah mobil tronton yang terparkir di jalan Trans Sulawesi, Kecamatan Botumoito, Kabupaten Boalemo.

    Tabrak Tronton Dua Remaja Tewas, Hilang Kendali Saat Tronton Terparkir di Tepi Jalan

    185 shares
    Share 74 Tweet 46
  • Oknum ASN Diduga Palsukan Akta Kematian

    181 shares
    Share 72 Tweet 45
  • Epistemologi dan Ontologi Sadaka: Analisis Historis, Teologis, dan Sosiokultural  

    123 shares
    Share 49 Tweet 31
  • Batas-Batas Pengobatan

    83 shares
    Share 33 Tweet 21
  • Viral Siswi SMP di Kabgor Di-bully, Orang Tua Pelaku Justeru Minta Proses Hukum

    76 shares
    Share 30 Tweet 19
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 2 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.