logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Disway

Poo Cendana

Lukman Husain by Lukman Husain
Thursday, 17 April 2025
in Disway
0
--

--

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Oleh:
Dahlan Iskan

 

MENINGGAL di Singapura: 7 April 2025.

Jenazah tiba di Mendut: 14 April 2025.

Related Post

Halo Wani

Juara Dunia

Hidup QRIS

Yossi Cohen

Dikremasi: 7 Mei 2025.

Yang menghendaki jenazah pengusaha besar Murdaya Poo dikremasi di dekat candi Borobudur, Magelang, adalah istrinya: Siti Hartati Murdaya. Dia ketua umum Walubi, organisasi umat Buddha se-Indonesia.

Saya mesong ke Mendut, kemarin. “Jenazah Papa tiba di sini tadi malam sekitar pukul 20.30,” ujar Karuna Murdaya, anak bungsu Pak Poo yang menyambut saya.

Jenazah itu diterbangkan dari Singapura ke Jogjakarta. Lalu dinaikkan mobil menuju satu vihara besar di desa Mendut, dekat Borobudur. Hartati yang membangun vihara itu. Jenazah Pak Poo disemayamkan di situ sampai tanggal 7 Mei depan.

Sepanjang jalan menuju vihara itu penuh dengan karangan bunga. Di kanan kiri jalannya. Juga di seputar halaman vihara. Ada dari Pak SBY, Bu Megawati, para menteri, Pramono Anung, Anies Baswedan…

Saya langsung terpana oleh terbelonya. Begitu kecil. Sangat sederhana. Peti mati Pak Poo itu tidak seperti pada umumnya terbelo pengusaha besar Tionghoa. Tidak ada hiasannya apa-apa. Tidak ada bunga. Petinya hanya ditutup kain polosan warna coklat muda.

Dugaan saya: harga peti mati itu hanya sekitar Rp 5 juta. Bukan yang Rp 100 juta, atau Rp 250 juta. Padahal ada peti mati yang harganya sekitar Rp 1 miliar.

Saya pernah melihat peti mati yang harganya segitu. Beberapa bulan lalu: ketika melayat teman baik yang meninggal di Surabaya. Petinya besar sekali, indah sekali, kayunya dari pohon utuh yang amat besar. Hiasan bunganya luar biasa menakjubkan.

Saya menyangka jenazah Pak Poo ditaruh di dalam peti mati mahal seperti itu. Sama sekali tidak. Ini mirip peti matinya orang miskin yang dapat sumbangan peti mati dari lembaga sosial.

Aula vihara itu juga tidak dihias. Kursi-kursinya pun bukan kursi VIP.

Sejak jenazah Pak Poo tiba, selalu ada yang membaca ”tahlil” –doa-doa menurut agama Buddha.

Sekitar 30 orang yang bersamaan membaca doa. Laki perempuan. Campur Tionghoa Jawa. Dari berbagai vihara dan berbagai aliran Buddha.

Begitulah tiap hari. Sepanjang siang dan setengah malam. Sampai tiba hari kremasi nanti.

Pihak keluarga mengira saya akan bermalam di Mendut. Saya disiapkan kamar di kompleks vihara satunya –yang lebih dekat dengan Borobudur. Vihara Padmasambhava. Vihara ini dipercaya ”keagungannya” karena terletak persis di tengah segitiga emas: Candi Borobudur, Candi Mendut, dan Candi Pawon.

Saya memang pernah bermalam di vihara tersebut. Hartati Murdaya juga punya kamar tidurnya sendiri di situ.

Saat saya ngobrol dengan Karuna seseorang melapor: Pak Ahok datang. Terlihat Ahok masuk aula. Disertai Puput, istrinya. Terlihat juga Tenggono dari Wuling. Setelah Ahok berdoa di dekat jenazah, saya lambaikan tangan. Ia pun bergabung di meja kami. Ngobrol banyak hal.

Ahok yang akan bermalam di vihara bersama sang istri.

“Kenapa pilih dikremasi tanggal 7 Mei?”

“Itu hari ulang tahun perkawinan Papa dan Mama,” ujar Karuna. Ulang tahun ke-53. Sekaligus berdekatan dengan hari bakti sosial tanggal 10 Mei dan hari raya Waisak tanggal 12 Mei.

Setiap menjelang Waisak Hartati memang selalu berada di Borobudur. Acara sangat besar dia laksanakan di situ.

Sambil menunggu hari kremasi, pihak keluarga mengurus izin ke kementerian kebudayaan. Sudah dapat. Juga ke instansi lain.

Sekitar 20 tahun lalu pernah juga diizinkan kremasi di dekat Borobudur –tapi bukan di area Borobudur. Yakni ketika seorang ulama besar Buddha meninggal dunia.

Lokasi kremasi Pak Poo nanti juga bukan di area milik Borobudur. Hartati sudah membeli beberapa petak sawah di dekat Borobudur. Salah satunya ada yang luasnya 5.000 meter.

Selama ini sawah-sawah tersebut ditanami padi. Hasilnya diambil oleh penggarap. Ketika Pak Poo meninggal padi di sawah tersebut sudah menguning. Sudah waktunya panen.

Di sawah itulah, menurut rencana, kremasi dilakukan. Di seputar apinya akan didirikan tribun untuk sekitar 1500 pendoa dari berbagai aliran Buddha. Termasuk ratusan orang dari Taiwan dan Thailand.

Doa-doa itu dipanjatkan dalam pengaruh wibawa Borobudur yang terlihat dengan sangat dekatnya.

Saya dengar hanya kayu-kayu khusus yang dipakai untuk membakar jenazah Pak Poo. Yakni kayu cendana. Akan sangat harum baunya –akan tercium oleh Candi Borobudur yang memberkatinya.

Di antara banyak orang di aula vihara itu terlihat ada satu yang berwajah India. Bajunya biru. Ia adalah salah satu dari empat perawat Pak Poo selama sekitar delapan bulan sakit di Singapura.

Empat perawat itu satu berdarah India, satu Tionghoa, satu Melayu, dan satunya lagi campuran Tionghoa-Melayu. Mereka sudah seperti keluarga sendiri.

Sehari sebelum meninggal, Pak Poo sudah tahu umurnya hanya tinggal hitungan jam. Menjelang tengah malam, satu perawat yang paling disayang harus pulang. Diganti perawat lain.

Saat si perawat pamit, Pak Poo bilang mungkin segera meninggal. “Tahan,” kata perawat itu, “tunggu sampai saya bertugas lagi besok pagi,” katanyi.

Lewat tengah malam Pak Poo kritis. Empat anaknya dipanggil ke rumah sakit. Tekanan darahnya terus menurun. Obat penahan tekanan darah itu sudah tidak mungkin lagi dinaikkan.

Pak Poo diberi tahu obat untuk menaikkan darah sudah mentok di batas atas. Memang masih bisa dinaikkan tapi akan berakibat fatal: pembuluh darah di otaknya akan pecah semua. Obat untuk menaikkan tekanan darah itu sudah diberikan 40 kali lebih tinggi dari yang semestinya.

Pak Poo pun tahu saatnya tidak lama lagi. Istri dan anak sudah kumpul. Pak Poo pun pingsan. Koma.

Pagi pun menyingsing. Matahari kian tinggi. Si kesayangan sudah kembali bertugas merawat Pak Poo.

Pukul 10.00 dokter memberi tahu: bahwa nyawa Pak Poo masih ada semata hanya karena obat dan alat. Begitu kadar obatnya sedikit saja diturunkan Pak Poo meninggal.

Maka diputuskanlah: keluarga berkumpul lagi. Untuk sembahyang, berdoa dan… setelah itu mempersilakan dokter mencabut alat-alat penahan nyawa.

Sudah banyak nikmat di hidup Pak Poo (lihat Disway 8 April 2025: Poo Makna) selama 84 tahun hidupnya. Pun setelah kematiannya. Amin.(*)

Tags: Catatan Harian DahlanDahlan IskanDiswayHarian Dahlanharian diswayTulisan Dahlan

Related Posts

Wani Sabu saat menerima Lifetime Achievement Award di ajang Contact Center World 2025 di Bali.-Instagram Wani Sabu-

Halo Wani

Wednesday, 22 April 2026
Ilustrasi fitur-fitur di Halo BCA.--

Juara Dunia

Tuesday, 21 April 2026
Ilustrasi penggunaan QRIS di Tiongkok yang banyak membantu WNI.-Dibuat dengan bantuan AI-

Hidup QRIS

Monday, 20 April 2026
Salah seorang jurnalis asing mengabadikan gambar sebuah kerusakan akibat serangan udara AS yang menyasar sebuah perkampungan di wilayah Fardis, Barat kota Tehran, Iran.-Vahid Salemi-Association Press

Yossi Cohen

Friday, 17 April 2026
Bupati Tulungagung Gatut Sunu Wibowo terjaring OTT KPK, dengan total kekayaan tercatat Rp20,3 miliar.--Instagram gatutsunu

Tulung Agung

Thursday, 16 April 2026
--

Bertahan Menyerang

Wednesday, 15 April 2026
Next Post
Dr. Funco Tanipu., ST., M.A

Siapa yang Berpeluang Menang PSU Gorut ?

Discussion about this post

Rekomendasi

Pohuwato The Gold of Celebes

Pohuwato The Gold of Celebes

Monday, 27 February 2023
Empat orang tersangka resmi ditahan oleh Satuan Reskrim Polres Pohuwato, terkait kasus dugaan penganiayaan.

Empat Tersangka Penganiayaan Ditahan, Lokasi Kejadian di Area PETI DAM Pohuwato

Thursday, 23 April 2026
AKBP H. Busroni

Pidana Menanti Polisi Terlibat PETI, Janji Kapolres Pohuwato, Termasuk Sanksi Internal

Wednesday, 22 April 2026
Epistemologi dan Ontologi Sadaka: Analisis Historis, Teologis, dan Sosiokultural   

Epistemologi dan Ontologi Sadaka: Analisis Historis, Teologis, dan Sosiokultural  

Monday, 20 April 2026

Pos Populer

  • Dua orang remaja meninggal dunia setelah menabrak sebuah mobil tronton yang terparkir di jalan Trans Sulawesi, Kecamatan Botumoito, Kabupaten Boalemo.

    Tabrak Tronton Dua Remaja Tewas, Hilang Kendali Saat Tronton Terparkir di Tepi Jalan

    188 shares
    Share 75 Tweet 47
  • Oknum ASN Diduga Palsukan Akta Kematian

    182 shares
    Share 73 Tweet 46
  • Epistemologi dan Ontologi Sadaka: Analisis Historis, Teologis, dan Sosiokultural  

    135 shares
    Share 54 Tweet 34
  • Batas-Batas Pengobatan

    86 shares
    Share 34 Tweet 22
  • Viral Siswi SMP di Kabgor Di-bully, Orang Tua Pelaku Justeru Minta Proses Hukum

    77 shares
    Share 31 Tweet 19
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 2 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.