logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
Pemkot Gorontalo

Biomasa
Home Persepsi

Mereka yang “Enak-Enak” di Pemerintahan

Lukman Husain by Lukman Husain
Monday, 24 February 2025
in Persepsi
0
Basri Amin

Basri Amin

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Oleh:
Basri Amin

 

SAMPAI hari ini, kita belum sepenuhnya menyaksikan pemimpin yang sungguh-sungguh punya gagasan jernih dan yang konsisten menggerakkan loncatan kemajuan dan perbaikan di banyak daerah. Demi urusan orang kebanyakan dan untuk masa depan generasi bangsa.

Jabatan dan citranya terlalu sering dirayakan. Pesta demi pesta. Acara ke acara!. Baliho ke baliho! Aroma keluarga, klik kelompok, kongsi proyek, dan perangai “suka enak” dan menikmati kemapanan dengan fasilitas kekuasaan masih terasa dominan di mana-mana.

Related Post

Politik Rangkul Ulama

Menjembatani Visi-Misi Kepala Daerah dan Kerja Birokrasi

Perang, Damai, dan Arsitektur Hegemoni Amerika

Ketika Bandara Mengajar: Make Up School dan Cara Torang Bekeng Bae Kota Gorontalo

Padahal, ketimpangan menganga di muka mata. Peminta-minta membesar disudut-sudut jalan. Anak-anak (sekolah) kita makin “liar” di jalanan. Kelas menengah kita makin hipokrit tabiatnya, lemah daya saing dan dayakerjanya. Kita makin jarang menyaksikan kepemimpinan yang rela berkorban untuk kemajuan bersama. Apa yang disasar lebih banyak berupa “gaya hidup” dan kenyamanan fasilitas di pemerintahan, dari periode ke periode.

Generasi baru di sektor kepemimpinan politik dan publik belum bergerak jauh dari apa-apa yang begitu heroik pertaruhkan di “kotak suara”. Mereka bahkan terjegal oleh rombongan elite (lokal/nasional) yang mapan jaringan kerja, pencitraan publik, dan sebaran pengaruh materi-nya dari periode ke periode.

Elite yang banyak terbentuk adalah elite yang sudah lama keenakan dengan “aspirasi palsu” dari masyarakat, tetapi selalu lihai mendayagunakan “sekian persen” saja dari keuntungan material pribadinya (melalui) kerja-kerja politik, gaji/tunjangan, akses kebijakan, dan fasilitas (negara) yang mengatas-namakan “kerja untuk publik”.

Negeri ini tidak mungkin berdaya-saing jika pemimpinnya berkemampuan alakadarnya. Di berbagai tingkatan, kecenderungan untuk “memberi ruang” bagi para oportunis, penjilat jabatan, dan pecundang cita-cita sepertinya masih terus dibuka. Nyaris belum terbentuk massa kritis yang memiliki daya tahan menolak gejala seperti ini.

Nalar kolektif yang mendeteksi tabiat-tabiat kelompok dan perorangan yang inginnya hanya menikmati kesenangan sepihak di arena kekuasaan pun belum begitu tampak. Keadaan ini sangat jelas akan memberi dampak berupa hilangnya perdebatan dan daya tawar masyarakat dalam memastikan nasibnya, terutama nasib dalam arti yang sangat nyata: layanan dasar buat mereka, ruang publik yang otonom, dan artikulasi sumberdaya insaninya untuk berkarya dan memberi dampak luas bagi keadilan.

Kelas menengah, yang sering dilabeli sebagai kelompok yang relatif terdidik dan mempunyai sumberdaya organisasi, serta dianggap memiliki daya tawar karena nalar masyarakat sipil-nya, tampaknya (masih) terjebak dengan ritual mereka sendiri. Tak jarang mereka membentuk kerumunan organisasional dan virtual yang tanpa arah. Atau, mereka lebih sering memilih budaya “mengapung” di antara kekuatan-kekuatan (ekonomi/politik) yang ada, sambil memproduksi gaya dan wacana yang sok kritis dan sok moral, padahal mereka tak pernah merdeka dari pola “permainan” elite-elite di sekitarnya.

Mereka, kelas menengah-yang pecundang ini, beroleh manfaat berlapis karena cerdik “nempel” kepada sejumlah tokoh yang terlanjur besar (birahi) kuasa-nya di sektor-sektor pemerintahan dan politik. Dengan pengetahuan teknis yang sedang-sedang saja, kelas-menengah yang hipokrit selalu berhasil “menggoda”, tampak otentik “menyodorkan” dan cerdas “melaporkan” kerja-kerja teknis-nya yang artifisial kepada elite lokal/regional yang memang sejak awal tak punya komitmen tinggi dan integritas besar menjadi pembaru kemajuan yang sebenarnya.

Sebagai hasilnya, keadaan kita di alam nyata lebih banyak dimanipulasi oleh pemberitaan sepihak yang tidak teruji secara faktual dan tidak berdampak-besar bagi kemakmuran yang berkelanjutan. Pemberitaan media yang distortif kemudian dilapisi oleh citra baik melaui acara demi acara. Sambut-menyambut dan saling memuji. Selebrasi foto dan parade pemberitaan!

Pemimpin masa depan haruslah memahami postur-postur pergaulan lintas kelompok dan bagaimana komposisi setiap profesi produktif di masyarakat. Dari sanalah beragam kepentingan dan ketimpangan kelompok dihayati, selanjutnya kebajikan bersama (publik) disusun dan perjuangkan. Memang, tak mungkin semua bisa terterima semua pihak, tapi yang terpenting adalah negosiasi yang konsisten mendorong perbaikan.

Di banyak arena perbaikan, yang dibutuhkan bukanlah kuasa tunggal melainkan “pembagian” kekuasaan dalam aksi nyata di sektor- sektor yang beragam. Jika ini visi kita, berikutnya yang jadi pegangan bersama adalah sikap sadar bahwa “semua orang adalah penting. Semua kelompok adalah penentu perbaikan”. Bagaimana bentuknya? Sangat ditentukan oleh alam nyata yang konsisten kita gerakkan.

Belakangan ini isu nasional dan lokal terlalu banyak yang mengepung percakapan kita. Ini perlu dicermati agar tidak “menutupi” isu besar yang di tingkat lokal/regional. Saya percaya bahwa ketajaman kita melihat kondisi lokal belum sepenuhnya memadai. Terlalu banyak data atau informasi yang kabur di tingkat lokal.

Kita punya tabiat untuk tidak sabar dan sungguh-sungguh bernalar terhadap banyak kasus lokal, baik yang sifatnya laten maupun yang sifatnya rutin. Kita masih terbiasa untuk abai dengan perkara-perkara kecil, padahal di balik itu semua menggambarkan “ledakan” serius dalam jangka panjang. Konflik lahan, tata-kelola sumberdaya alam, hubungan antar kelompok, ketimpangan pendapatan dan pembangunan infrastruktur, bencana, kebocoran anggaran, dst semuanya potensial berujung kepada konflik dan kemiskinan.

Jika kita cermati beberapa tahun terakhir ini, tingkat konflik di masyarakat kita makin  membesar dan meluas. Belum lagi dengan gempuran perilaku menyimpang dan kebebasan yang makin liar. Mudah menyaksikannya: di jalan raya, di perkampungan, di sudut-sudut perkotaan dan di permukiman-permukiman kita. Negeri kita makin terkesan “jalan di tempat” dan makin di pinggiran keteladanan kesehariannya. ***

 

Penulis adalah Parner di Voice-of-HaleHepu
Surel: basriamin@gmail.com

Tags: basri aminHarian Persepsipersepsispektrum sosialTulisan Basritulisan persepsi

Related Posts

Muhammad Makmun Rasyid

Politik Rangkul Ulama

Tuesday, 3 March 2026
Dedy S. Palyama, SE. M.Si

Menjembatani Visi-Misi Kepala Daerah dan Kerja Birokrasi

Tuesday, 3 March 2026
Ridwan Monoarfa

Perang, Damai, dan Arsitektur Hegemoni Amerika

Tuesday, 3 March 2026
Husin Ali

Ketika Bandara Mengajar: Make Up School dan Cara Torang Bekeng Bae Kota Gorontalo

Monday, 2 March 2026
Basri Amin

Jejak “Islam Gorontalo” di Nusantara

Monday, 2 March 2026
Ridwan Monoarfa

Bullshit Jobs, Ilusi Pembangunan, dan Jalan Birokrasi Entrepreneur di Gorontalo

Thursday, 26 February 2026
Next Post
Satpol PP bekerjasama dengan TNI melakukan operasi pekat di Kecamatan Boliyohuto dan Tolangohula.

Satpol PP Amankan Ratusan Botol Miras

Rekomendasi

Dedy S. Palyama, SE. M.Si

Menjembatani Visi-Misi Kepala Daerah dan Kerja Birokrasi

Tuesday, 3 March 2026
BNNK Pohuwato saat melakukan test urine terhadap pimpinan dan karyawan PT LIL dan PT STN Pohuwato.

10 Karyawan Perusahaan di Pohuwato Positif Narkoba

Tuesday, 3 March 2026
Ridwan Monoarfa

Perang, Damai, dan Arsitektur Hegemoni Amerika

Tuesday, 3 March 2026
Buyer Jepang Tinjau Langsung Operasional PT Biomasa Jaya Abadi di Pohuwato

Buyer Jepang Tinjau Langsung Operasional PT Biomasa Jaya Abadi di Pohuwato

Tuesday, 3 March 2026

Pos Populer

  • Dedy S. Palyama, SE. M.Si

    Menjembatani Visi-Misi Kepala Daerah dan Kerja Birokrasi

    49 shares
    Share 20 Tweet 12
  • 10 Karyawan Perusahaan di Pohuwato Positif Narkoba

    29 shares
    Share 12 Tweet 7
  • Kasus PETI Saripi Jadi ‘Bola Pingpong’, Berkas Perkara Dikembalikan Kejati ke Polda

    44 shares
    Share 18 Tweet 11
  • Petir Ngambek

    43 shares
    Share 17 Tweet 11
  • THR PPPK-PW, Dana Cukup, Pemda Boleh Cairkan

    41 shares
    Share 16 Tweet 10
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 2 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.